Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 70, Sepertinya Perlu Sedikit Paksaan


__ADS_3

Dua hari sudah Anin memikirkan langkah apa yang akan di ambilnya, dan setelah menimbang-nimbang segalanya. Akhirnya dirinya ingin berdamai dengan keadaan dan mulai melupakan sakit hatinya.


"Hye Nin, gimana? udah ada keputusan yang bakalan elu ambil,"


"Iyah, gue udah mikirin mateng-mateng."


"Jadi?"


"Lusa elu temenin gue ya,"


Intan tersenyum, akhirnya selesai juga tugasnya untuk menyatukan keluarga yang retak, dan sudah di tambal sulam saat ini


"Tenang saja, inget kita adalah keluarga. Jadi udah sepatutnya gue selalu ada buat elu."


"Ouh, Makasih ya banyak ya."


"Santai saja, Yuk lah berangkat."


"Di rasa sudah saatnya untuk berangkat kerja, jadi mereka berdua berhenti untuk bernostalgia.


Sedangkan di lain tempat.


"Yah, Ibu kangen sama Anin,"


Terlihat Bu Susi sedang murung, karena semenjak kepergian anaknya. Dirinya tak sekalipun tau akan keadaan Anin, entah ia masih terpuruk atau sedang bahagia atau malah hari-harinya dikuasi rasa bersalah seperti satu tahun lalu yang pernah terucap bibirnya.


"Ibu bisa meneleponnya kan, suruh itu anak kesini! Masa sudah satu tahun dia gak ada nengok." Ucap suami dari Bu Susi.


Memang yang di katakan nya adalah benar, semenjak kematian Niko, Anin sudah tak terlihat lagi dan dirinya menghilang tanpa pamit bak di telan bumi.


"Nomornya enggak bisa di hubungi Yah,"


"Atau itu anak ganti nomor."


"Sepertinya."


"Lihat lah saja, jika bertemu biar ayah beri pelajaran, mentang-mentang anak kita udah gak ada eh, malah kita di lupain."


Suami Bu Susi marah bukan karena benci, itu semua semata-mata dirinya sayang pada Anin, lepas itu mereka tak ada masalah tentang anaknya yang meninggal, mereka hanya kesal sudah setahun lamanya Anin tak pernah datang atau sekedar menanyakan kabar.


Beberapa hari kemudian.


Terlihat Alex sudah datang di siang hari ini dan hanya untuk bisa mengantarkan sang pujaan hati.


"Nin izinkan saya mengantarmu,"


"Apa itu tak membuat elu keberatan."


"Tidak sama sekali."


"Terus pekerjaan elu bagaimana?" Karena Anin kuatir jika Alex ikut dengannya pekerjaannya akan terbengkalai.


"Kamu tenang saja, sudah saya serahin sama orang kepercayaan saya, dan ada Ibu juga yang menghandle pekerjaannya."


"Terserah elu."


"Eh tunggu!" Anin teringat akan sesuatu hingga akhirnya memanggilnya lagi.


"Ada apa," Alex menoleh dan menyahuti panggilan tersebut. Sedang Intan, Intan hanya menggelengkan kepalanya saat kedua insan itu sepertinya sedang terjadi sesuatu, karena biasanya Anin menolak keras! Kini dirinya tak menolak saat Alex menawarkan bantuan.


"Jika masih ada waktu, potong lah rambut mu dan rapikan kumis mu! Karena gue gak mau jalan sama berandalan, meski penampilan gue kek gini paling elu jangan ikut-ikutan."

__ADS_1


Apa ada sesuatu yang gue gak tau. Batin Intan, karena ini adalah momen langkah untuknya, Anin memberikan perhatian kecil pada Alex, apa itu tandanya Anin mulai membuka kembali hatinya untuk di masuki sosok yang bernama Alex.


"Apa kamu sedang memberi perhatian terhadap saya, dengan penampilan saya sekarang."


Terlihat pipi Anin bersemu merah karena menahan malu, karena Alex berucap demikian akan dirinya yang mulai perhatian dengan penampilan Alex yang sekarang, karena dulunya ia sama sekali tak begitu jeli terhadap penampilan Alex.


"Sudah lah, menurut atau tidak sama sekali,"


"Apa ada yang gue kagak tau," Intan tiba-tiba menyahuti percakapan mereka berdua.


"Udah lah mending elu diem, ini urusan gue sama Si muka datar."


"Aish menyebalkan."


"Intan merajuk bak anak kecil, dengan menghentakkan kakinya ia berjalan menuju ke kamarnya."


"Sepertinya teman kamu marah,"


"Sudah lah jangan di pikir, nanti juga itu anak nongol lagi."


Mereka berdua tertawa, seakan tak ada beban yang mereka pikul.


"Jadi sekarang pergilah, jangan lupa pesan ku yang barusan."


"Yang mana,"


"Tau kah elu, elu itu sama-sama menyebalkan dengan Intan."


"Eets gak boleh marah."


Ck..ck...


"Ok, ok," tapi jika nanti kamu jatuh cinta padaku jangan salah kan saya ya."


"Ah, iya kah, tingkat kepedan saya hanya dengan kamu."


"Bodoh amat."


"Baik lah, saya pergi dulu ya, ah ada satu lagi."


"Apa!" Anin tak habis pikir, dengan kelakuan si muka datar itu, yah panggilan selama bertahun-tahun yang sempat hilang, tetapi panggilan itu tiba-tiba saja lolos dari bibirnya.


"Apa ada kamu mau bawa, makanan atau lain sebagainya," Alex mencoba menawarkan sesuatu pada Intan.


"Boleh, bawa makanan ringan untuk cemilan di mobil."


"Ok."


Setelah itu Alex pun pergi.


Di mobil dirinya memikirkan sesuatu.


"Apa sudah saat nya saya merubah penampilan saya, demi mendapatkan cinta Anin" Gumamnya dengan sesekali dirinya bercermin yang terletak di depan kemudi.


Yah sepertinya memang saya harus memperlihatkan penampilan saya yang selama bertahun-tahun bersembunyi di bali rambut gondrong serta muka yang sudah brewok.


Tak lama kemudian.


Turunlah sesosok laki-laki yang bertubuh tegap serta otot-otot yang terlihat wajah yang rupawan serta muka yang teramat tampan.


Kini langkahnya berjalan menuju ke kamar milik perempuan yang di cintai nya dengan diam. Meski begitu dirinya tak akan menyerah sampai perempuan itu jatuh di pelukannya.

__ADS_1


Tok.


Tok.


Tok.


Ceklek.


Anin seketika ternganga siapa yang datang saat ini. Terkejut di buat nya, seakan tak percaya bahwa lelaki yang siang tadi datang kini menjelma bak pangeran, dan wajah ini, wajah ini terlihat sangat-sangat tampan di banding beberapa tahun silam.


"Awas itu jigong entar netes lho,"


Anin langsung mengusap mulutnya takutnya kalau-kalau memang yang di katakan Alex benar.


"Gimana?"


"Tampan."


"Apa kamu sedang memuji saya."


"Eum, sedikit."


"Kenapa tidak di full kan."


"Memangnya sedang isi bensin apa!" sungut Anin.


"Apa yang kurang dari saya,"


"Istri."


"Jadi, mau kah kamu menjadi tulang rusukku,"


"Aih, elu tak pandai berkata romantis jadi berhentilah Alex."


"Tidak! Seorang Alex tidak akan menyerah demi meluluhkan hatimu."


"Kenapa kau sangat keras kepala,"


"Kamu pun tahu jika saya seorang yang keras kepala, jadi tak akan mundur sedikit pun demi mendapatkan cintakmu."


"Kau..."


"Apa!"


"Sungguh menyebalkan."


"Karena kamu pun tak bisa di ajak secara halus, jadi menurutku kamu perlu sedikit di paksa bukan begitu."


"Mengapa elu jadi pemaksa sekarang."


"Itu semua karena kamu, jadi.. Jangan salahkan saya jika saya memaksa."


"Kalau gue tetep gak mau,"


"Akan saya buat mau."


"Tapi sayangnya gue menolak."


"Tetap saya akan membuat kamu tak akan bisa menolak, mau sekeras apapun itu! Jadi, jangan harap kamu akan lari dari saya."


"Tau kamu sebuah paksaan tak akan membuat dua orang tak bahagia dan jatuhnya terluka."

__ADS_1


Sesaat Alex terdiam karena dirinya kalah telak.


__ADS_2