
Hoam...
Anin terbangun tapi dirinya tak melihat suaminya, bukan kah ini baru jam enam pagi, jikalau pun Alex akan bepergian akan pamit padanya, dan jam segini pun bukan lah waktu untuk kerja. Ah iya lagipula mereka kan pengantin baru jadi, mereka masih di masa cuti bukan.
Ani menelisik semua ruangan, lalu ke kamar mandi, tapi tak ada.
Lalu setelah dirinya cuci muka, ia bergegas untuk turun ke bawah. Siapa tahu Alex berada di dapur.
Tak.
Tak.
Tak.
Anin menuruni anak tangga satu demi satu tapi ruangan ini teramat sepi baginya.
Lalu dirinya menyusuri di setiap ruangan.
"Tidak ada." Gumam nya.
Namun hidungnya mencium bau yang sangat harum, bau masakan yang ia kenal.
Tanpa pikir panjang langkahnya langsung menuju ke pusat bau itu berada.
"Alex, rupanya di sini." Gumam Anin lagi.
"Mas, sedang apa?" tanya Anin saat melihat Alex memakai celemek. Dan berhadapan dengan kompor.
"Bikin sarapan buat kita dong sayang." Ucap Adi, dengan tangan masih memegang spatula.
"Itu kan tugas ku harusnya, Mas."
"Mas, tidak akan memberatkan kamu untuk pekerjaan seperti ini, ingat mas menikahi mu sebagai istri mas, teman hidup Mas, dan menjadikan mu seorang Ibu, bagi anak-anak ku kelak. Bukan sebagai pembantu." Sungguh idaman para wanita bukan, sedangkan Anin menunduk karena tersipu malu.
"Aduh, aduh. Yang pagi-pagi sudah main romantis-romantisan, serasa dunia milik kalian berdua saja."
"Ibu, sejak kapan Ibu sudah berada di situ?" tanya Alex. Karena tiba-tiba saja terdengar suara Ibunya yang sudah duduk manis di meja makan.
"Yang jelas dari kamu ngomong, mau jadiin Anin Ibu dari anak-anak kamu, terus udah proses belum."
Proses ya, bikin saja belum, gak tau apa kalau semalem aku di tinggal tidur sama Anin.
__ADS_1
Anin yang merasa terganggu dengan ucapan mertuanya sehingga ia harus mengalihkan perhatian nya, agar tak membahas anak lagi. Bukan tidak mau memiliki tapi itu kan tergantung tuhan yang ingin memberikan atau tidak! Dan parahnya baru nikah dapat satu hari mereka sudah di tuntut untuk segera mempunyai momongan, memangnya segampang itu prosesnya. Apa hanya dengan mengaduk-aduk terus jadi, memangnya pisang goreng apa.
"Bu, Ibu mau di buatkan teh, kopi atau.."
"Kopi susu saja." Sahut Bu Lita.
Lalu dengan segera Ia membuat kan kopi susu sesuai permintaan mertuanya.
"Mas, kamu mau juga," tak lupa Anin juga menawari suaminya tersebut.
"Boleh sayang, kopi hitam saja ya." Jawab Alex.
Nasi goreng jawa, dan telor mata sapi sudah tersaji di meja makan.
"Ini Bu kopinya susunya," Lalu Anin memberikan secangkir kopi panas dan meletakkan di depan Bu Lita.
"Makasih ya Nin."
"Sudah sepantasnya Bu." Dengan senyuman yang terukir di bibirnya Anin menimpali.
"Oh iya, nanti siang Ibu pulang."
"Lho kok uda mau pulang saja Ibu?" Anin bertanya sembari menuangkan segelas air putih untuk Ibu mertuanya.
"Iya Ibu ini, masa cuma 3 hari di sini." Alex ikut menimpali percakapan antara mertua dan menantu.
"Makanya cepet di jadiin itu junior kamu, jadi kan Ibu bisa sering nginep di sini."
"Iya Bu, nanti Alex bakal berusaha buat bikin junior." Ucap Alex dengan nada lesu.
"Harus dong, memang gak kasian apa sama Ibu, umur Ibu udah 50 tahun, jadi wajar dong kalau Ibu berharap junior kecil."
Seketika hati Anin terenyuh mendengar mertuanya berkata seperti itu, dan nampaknya beliau memang benar-benar mengharap seorang cucu darinya.
"Do'ain ya Bu, supaya cepet jadi." Anin memegang tangan Bu Lita, dan memberi harapan untuknya.
Tak terasa makan sambil membahas junior kecil, nasi goreng yang berada di piring masing-masing pun habis tanpa tersisa.
Lalu Anin berdiri untuk membersihkan bekas piring kotor dan mencucinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Tak terasa sebulan Sudah Anin berstatus istri orang, hari-hari yang di jalaninya begitu bahagia dan tentunya sangat-sangat bersyukur karena mendapatkan lelaki yang begitu baik dan pengertian.
Posisi Anin sekarang sudah di cafe, menjalani rutinitas seperti biasa, karena dirinya belum ada tanda-tanda akan kehadiran malaikat kecil, jadi dirinya menyibukkan diri dengan berada di cafe tersebut.
Untuk sesaat.
Prok..
Prok..
Prok..
"Wah..Wah..Wah."
"Ada nyonya Alex Nih." Anin menoleh karena ingin tahu siapa yang baru saja berbicara.
"Erika!" betapa terkejut Anin di buatnya, Sudah lebih dari empat tahun dirinya menghilang, tapi kini dirinya tiba-tiba muncul di hadapannya. Entah apa yang di inginkan olwh sosok perempuan cantik, tapi tidak dengan sikapnya.
"Wah, ternya kamu masih ingat juga ya." Ujar Erika masih dengan posisi berkecak pinggang.
"Seharusnya sudah lupa, tapi tiba-tiba saja ada yang ingin mencari gara-gara sama gue." Sergah Anin pada Erika, dan Erika pun sudah salah tingkah karena pikirannya bisa di baca oleh Anin.
"Oh iya, satu lagi. Jika kedatangan elu tidak ada yang penting maka pintu keluar pun sudah di buka." Tukas Anin dengan tangan yang mempersilahkan.
"Kau mengusirku."
"Tentu jika hama itu merusak rumah tanggaku, jadi bisa kan jalan ke arah luar." Dengan senyuman mengejek Anin berkata.
"Lihat apa yang akan aku lakukan karena kamu berani mengambil Alex dari tangan ku."
"Oh ya, silahkan gue enggak peduli dengan semua itu." Anin berkata tanpa takut sedikit pun. Karena ia yakin jika ada sesuatu yang membuatnya datang ke sini.
Dengan hati yang dongkol serta mata yang sudah di kuasai oleh dendam akhirnya, Erika pergi dengan kaki yang di hentakkan.
"Siapa Nin, sepertinya dia dendam banget sama elu," ucap Yuda, yang diam-diam mencuri pandang terhadap mereka berdua, dan dirinya baru menghampiri Anin setelah perempuan itu pergi.
"Ulet bulu, uda dari jaman gue masih bocah, itu anak memang gak suka banget sama gue, entah alasannya apa? Gue enggak tahu dan enggak ingin tahu." Anin menjelaskan soal Erika dan dirinya mengapa bisa sampai menjadi musuh bebuyutan hingga sekarang.
"Jadi maksud kamu, dulunya perempuan tadi yang sempet akan di jodohkan Alex, namun Alex menolak karena memang Alex tidak mencintainya."
"Iya, dan sebelum Erika akan di jodohkan dengan Alex, dulunya juga mantan Almarhum Kak Niko."
__ADS_1
"Jadi masalahnya di mana, toh bukan kamu yang membuat Alex dan itu cewek gak jadi di jodohkan."
"Sekalipun gak suka tetep saja jalan ceritanya akan begitu Yud." Yuda hanya manggut-manggut saat Anin menjelaskan.