
Malam telah datang, dan waktunya Anin untuk berangkat kerja. Pukul delapan malam Intan dan Anin, sudah siap untuk bekerja.
"Nin, gue duluan ya," ucap Intan.
"Iya, lu hati-hati di jalan," ujar Anin.
"Siap."
Tak berapa lama ojek langganan Anin pun datang.
"Sudah siap Mbak," ucap Bang Heru.
"Udah dong bang," jawab Anin.
Pukul delapan malam. Angin yang berhembus yang lumayan kencang dan semilir angin yang menerpa, membuat Anin sedikit kedinginan karena hembusan angin.
Pikirannya berkelana entah kemana, seakan angin yang membawa semua angan-angan dan mimpinya, hilang sekejap lalu datang lagi namun lagi-lagi meninggalkannya tanpa jejak.
"Mbak, Mbak! sudah sampai," ucap Bang Heru, namun Anin yang di panggil-panggil hanya diam membeku di atas sepeda motor.
"Mbak Anin!" teriak nya lagi berharap kali ini berhasil, dan benar saja teriakan yang kedua kalinya Anin langsung menoleh.
"Kenapa Bang?" tanya Anin heran.
"Mau sampai kapan Mbak Anin, diam di situ," kata Bang Heru pada Anin.
"Kita kan belum sampai," ujar Anin.
"Noh lihat." Sambil telunjuknya mengarah papan tulisan Bang Heru memberi tahu.
"Eh, kita sudah sampai ya Bang?" tanya Anin.
"Sudah sedari tadi kali Mbak," celetuknya pada Anin.
"Masa sih Bang," ucap Anin.
"Yeah, orang Mbak Anin ngelamun mulu, sampai-sampai di panggil kagak denger," mendengar penjelasan dari Bang Heru, membuat Anin merasa bersalah kepadanya.
Hehehe..Maaf ya Bang," lalu Anin pun meminta maaf karena sudah mengabaikan seseorang yang mengantarnya.
"Gak papa Mbak, mungkin saja Mbak Anin lagi banyak masalah makanya enggak fokus," ucap Bang Heru.
"Iya Bang ya sudah makasih ya Bang,"
"Iya Mbak, ya sudah saya jalan lagi ya," pamit nya pada Anin.
"Iya Bang, Hati-hati."
Tanpa menjawab Bang Heru memberikan jempol pada Anin, dan setelah itu kendaraan yang setiap hari mengantarkannya telah melaju dari hadapannya.
Sesampainya di dalam.
"Elu kok lama amat Nin!" teriak Intan.
"Iya ada sedikit kendala," balas Anin.
__ADS_1
"Ya sudah buruan masuk keburu di cari Mami," ujar Intan.
"Siapa sayang?" tanya lelaki yang sedang merangkul pundak Intan.
"Temen saya Om, kenapa memangnya," jawab Intan pada lelaki itu.
"Tidak, tidak ada kok,"
"Oh,"
"Ya sudah yuk." Ajak lelaki itu.
Anin yang kini sudah mengantar kan minuman pada pelanggan di meja ujung. Tetapi pelanggan itu memintanya untuk menemani nya.
"Bisakah kamu menemani saya sebentar, saya butuh teman curhat sebentar," pinta pelanggan itu pada Anin.
"Baik lah saya akan menemani anda sebentar," jawab Anin.
"Mau minum," tawarnya pada Anin.
"Terimakasih, tetapi saya tidak minum minuman ini," tolak Anin halus.
"Baik lah saya akan memesankan kamu minuman lain," ujar lelaki itu.
"Boleh."
"Hye kau!" teriak lelaki asing itu.
"Iya tuan," jawab pelayan teman sekerja Anin.
"Iya," jawabnya.
Tak berapa lama seseorang menghampiri dirinya dengan bergelayut manja kepada lelaki itu, namun di tepisnya tangan perempuan itu, karena sudah berkeliaran kemana-mana setelah menaruh segelas minuman yang di pinta lelaki barusa.
Dan Anin pun menatap dengan rasa jengah kepada dua insan tersebut.
"Enyah lah dari hadapan ku!" teriak lelaki itu, pada perempuan yang menggodanya.
Dengan rasa kesal yang menyelimutinya, perempuan itu lantas pergi meninggal kan lelaki yang akan menjadi mangsanya namun terhalang oleh kedatangan Anin.
Dengan senyum yang menyingrai wanita itu lantas berjalan ke arah belakang.
"Sudah tidak ada yang mengganggu, silahkan di minum," ucap lelaki itu.
Tanpa punya pikiran yang berlebihan Anin pun meminum minuman yang di pesan kan oleh lelaki yang berada di depannya saat ini.
Tak berselang lama. Obrolan yang tak jelas arahnya membuat Anin menguap terus menerus tanpa henti. Tak lama kemudian Bruk.. Anin tak sadarkan diri dan kepalanya berada di atas meja.
Senyuman yang penuh nafsu tercetak jelas wajah lelaki itu, melihat perempuan yang di hadapannya tak berdaya.
Dan lelaki itu buru-buru mengangkat tubuhnya, untuk di bawanya naik ke atas menuju kamar. Dengan langkah yang tertatih karena menahan keseimbangan agar tak jatuh, pelan-pelan lelaki itu menaiki anak tangga satu persatu.
"Hye, berhenti!" Tanpa di duga ada lelaki yang yang tak sengaja membuntutinya dari belakang setelah ia benar-benar yakin, bahwa yang tuntun oleh lelaki breng*ek itu adalah sosok yang dikenalinya.
"Kenapa kamu memberhentikan saya?" tanya lelaki itu.
__ADS_1
"Dasar pria brengsek! Lepas gadis itu," seru Lelaki yang melihat Anin tak berdaya.
"Siapa kamu, enak saja mau mengganggu kesenangan saya,"
Tanpa basa-basi lelaki yang meninju pria yang telah membawa Anin.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
"Sialan lu ya," sambil mengusap darah yang berada di bibirnya akibat bogeman yang di berikan oleh lelaki yang menolong Anin saat ini.
Dan.
Bug.
Pria itu membalas bogeman pada lelaki yang bernama Alex.
Bogeman mentah mengenai pipi Alex, dengan segera Alex berdiri dan memberi pelajaran lagi kepada pria itu.
"Rasakan ini."
Bugh.
Pakh.
"Woi jangan kabur lu!" teriaknya pada lelaki bre*gsek itu.
Niat hati ingin mengejar lelaki itu dan menanyakan siapa yang sudah berani menjebak Anin. Namun buru-buru di urungkan nya karena melihat Anin tergeletak tak berdaya di depan pintu kamar.
[" Halo Intan, bisa kami kesini sebentar, saya ada di depan kamar deket tangga."] Alex mencoba menghubungi Anin, untuk meminta bantuan mengangkat tubuh Anin.
["Iya gue kesitu sekarang."] Jawab Intan.
Dan buru-buru Intan meninggalkan tempat duduknya dan segera berjalan kearah anak tangga tersebut.
"Alex! apa yang sedang terjadi sama Anin," teriak Intan penuh dengan rasa kuatir.
"Tadi sengaja ada yang mau menjebaknya, setelah aku tau bahwa yang di bawa adalah Anin, makanya saya buru-buru buat nyelametin dia. Dan belum sempat bertanya semua ini atas perintah siapa tapi lelaki itu sudah melarikan diri," Alex mencoba menjelaskan semuanya apa yang sedang terjadi saat ini.
"Ya sudah lu bawa pulang ke kosnya saja, gue masih ada kerjaan gak mungkin gue tinggalin," ucap Intan.
"Ya sudah tolong bantu saya buat buka pintu mobil," pinta Alex pada Intan.
Akhirnya mereka berdua keluar dari Club.
"Tolong jaga Anin buat gue ya Lex," ucap Intan.
"Tanpa kamu minta pun gue akan selalu menjaga Anin, makasih ya udah mau bantuin saya," ucap Alex.
Tanpa di minta pun aku bakal selalu menjaga dan melindungi Anin, karena dengan cara ini lah aku bisa bersama nya. Walau tanpa memiliki. Batin Alex di dalam hati.
"Ya sudah gue masuk dulu ya," pamit Intan.
__ADS_1
Dan Alex pun mengangguk.