
Anin, sudah sembuh dari sakit demamnya dalam beberapa hari kemarin, dan ia pun sudah melakukan aktifitas seperti biasa juga.
Dan dua minggu sudah Anin, terikat kontrak dengan Alex.
.
.
.
.
Tinggal beberapa minggu lagi Anin lepas dari ikatan kontrak dengan Alex, seperti pagi ini Alex menghubungi nya untuk bersiap untuk nanti sore, karena Ibunya menyuruh membawa gadis itu sebagai bukti bahwa Alex benar-benar menepati janji jika benar adanya sudah mempunyai kekasih, dan bukan akal-akalan sang anak agar tak terjadi perjodohan.
Pukul delapan pagi, matahari sudah tak nampak malu-malu untuk memperlihatkan dirinya yang berada di atas sana pada dunia. sedang Anin sudah berkutat di dapur, karena memang tempat kos miliknya tersedia dapur juga untuk anak-anak yang ingin memasak.
"Nin, masak apa kamu," tegur tetangga kos sebelah.
"Ini Mbak lagi pengen masak sayur asem dan tongkol bumbu rujak." Jawab Anin, pada seseorang yang menegurnya barusan.
"Wah enak itu Nin,"
"Iya Mbak, mumpung nganggur jadi sesekali pengen masak." Ujar Anin.
"Iya lah Nin, jangan beli mulu gak baik soalnya."
"Gak baik di saku ya Mbak." Sambil tersenyum manis Anin, menjawab.
"Nah itu tahu, Hahaha." Sedang kan Mbak Rina tertawa lepas karena memang perkataan Anin, 100% benar.
"Ya sudah di lanjutin masaknya, entar kalau mateng Boleh lah icipin sedikit," sambil menyungging kan senyum Rina berkata, dan sesudah itu ia berlalu untuk kembali ke kamar.
"Beres Mbak." Sambil mengangkat jempol Anin, menyanggupi.
Tak berapa lama masakan yang di buatnya sudah siap untuk di santap, tak lupa ia memberi satu mangkuk sayur asem beserta lauknya pada Mbak Rina, dan setelah itu ia akan memanggil Intan untuk di ajaknya makan bareng.
Tok..tok..tok..
"Mbak Rina!" teriak Anin yang sekarang sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Iya sebentar." Sahut si empunya
"Ini Mbak sesuai janjiku tapi sedikit gak papa yah,"
"Oalah aku tadi cuma bercanda loh Nin, kenapa jadi beneran to."
"Gak papa Terima saja Mbak."
"Yo wes makasih loh ya, nanti kalau Mas Herman pulang bisa di buat sarapan."
"Ya sudah kalau gitu saya ke kamar dulu ya." Pamit Anin, pada Rina setelah memberi sayur padanya, dan kini giliran menuju ke kamar Intan.
"Intan, Ntan lu masih ngorok ya."
"Kenapa Nin, baru saja bangun ini mau beli sarapan kamu mau ikut."
"Ogah."
"Lah terus ngapain kemari lu?"
"Mau ajakin lu sarapan." Semua itu membuat Intan bingung, bukannya ia tadi menawarkan untuk keluar cari makan namun di tolak, sekarang malah ngajak sarapan. Dengan rasa bingungnya Intan sesekali mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Kalau gak beli dulu mana bisa makan dodol." sanggah Intan.
"Gue udah masak, makanya gue mau ajak lu makan bareng."
Seketika senyuman nya merekah saat Anin, menawarkan untuk makan bareng.
Tapi Intan masih belum yakin akan ajakannya kepada dirinya.
"Emang ada tampang bohong di muka gue." cetus Anin.
"Maaf deh, dan ayuk katanya mau makan cacing gue udah pada berontak nih."
Mereka berdua masuk ke dalam kamar Anin, dan segera mengisi perut untuk cacing-cacing mereka.
🍀🍀🍀
Tak terasa waktu bergulir dengan cepat dan jam pun sekarang berada di angka empat sore.
Anin masih enggan untuk turun dari ranjangnya, padahal ia harus segera bersiap untuk menemui orang tua Alex.
"Udah lah bodoh amat sama itu orang" gumam Anin, di saat ia malas untuk beranjak dari tempat tidurnya suara gawai miliknya terus saja bunyi.
["Iya halo, kenapa?"] tanya Anin, di sebrang sana.
["Kamu masih bertanya kenapa! kamu gak lupa kan dengan hari ini,"] crocos Alex, pada Anin.
["Gak, terus,"]
["Eh bener-bener ya kamu, saya sedari siang belum makan demi jemput kamu, kamu malah enak-enakan di dalam kamar keluar gak kamu."]
Memang sedari tadi Alex menunggu Anin, di depan kamar kalau-kalau ia sudah siap untuk berangkat, ternyata Anin belum terlihat keluar jadilah Alex menelponnya.
Dengan rasa malas akhirnya Anin, membuka pintu.
Hehehe..
"Salam damai dan jangan marah-marah, gue lagi males ini hari tau kenapa." Ungkap Anin.
"Apa kamu lagi tak enak badan?" tanya Alex.
"Tidak."
"Lantas,"
"Entah lah, rasanya lemes banget."
"Ya sudah cepat buruan mandi keburu sore nanti," tugas Alex.
"Eh, eh bentar berhenti." Anin yang hendak masuk untuk mengambil keperluan mandi, namun tertahan karena suara Alex membuat ia langsung memutar balik.
"Kenapa lagi!"
"Kamu ada makanan gak, saya lapar."
ucapnya.
Ketimbang nanti ke buang lebih baik ada yang makan kan, to itu juga makanan sisa tadi pagi, pikir Anin.
Sedang kan Alex, dengan rasa yang tergesa-gesa karena rasa lapar yang melilit perutnya membuat ia gegas untuk mengambil piring dan segera makan.
"Lihat saja di bawah tudung itu."
__ADS_1
Ketimbang di buang kan sayang, jadi Anin, tak masalah jika makanan yang ia masak tadi pagi di habiskan maka lebih baik begitu, pikirnya.
"Ada makan saja tapi sebelumya ambil dulu piringnya di sana." Jelas Anin.
Sedang Alex dengan rasa yang tergesa-gesa ia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk yang berada di bawah tudung.
Dan dengan lahapnya hingga tak terasa dia sudah memakan begitu banyak.
Ah kenyang, sungguh enak makanan ini, apa ini masakan dia atau ah sudah lah.batin Alex.
"Masakannya tak enak, apa kau memasaknya sendiri,"
Anin yang sedang menyisir rambut panjang nya tiba-tiba saja di kaget kan oleh suara Alex, yang berkata bahwa masakannya tak enak.
"Jika tak enak jangan di makan, dan buang saja." Timpal Anin.
"Keburu lapar jadi ya di makan saja."
"Jadi jangan bicara tak enak jika masih kamu makan."
Alex yang merasa terpojok akan jawaban yang di berikan Anin, membuat ia bungkam seketika.
"Ya terpaksa dari pada kelaparan."
"Maka diam lah jangan banyak protes." jawaban yang menohok bukan.
Sebetulnya masakan yang di makan olehnya begitu enak dan terasa pas pada bumbunya, hanya saja ia gengsi mengakui bahwa masakannya begitu lezat.
"Apa kamu akan menghabiskan nasinya juga, hingga belum berdiri dari duduk kamu."
Alex seketika terkejut dengan ucapan si gadis bermulut cabe itu.
"Orang tinggal nasinya suruh makan."
"Jadi."
"Dasar mulut cabe" gumam nya.
"Kamu bilang apa!"
"Saya tak bilang apa-apa."
"Bohong."
"Di kira gue budeg apa,"
"Kan cabe nya keluar" ucapnya lirih.
"Gue denger dasar wajah kulkas."
"Mulut cabe,"
"Muka kulkas."
"Si*lan."
"Apa!"
"Tidak, tidak apa-apa."
Mereka terus saja berantem padahal ini sudah jam lima, bukan kah mereka akan menemui Ibu Lita, untuk memastikan bahwa anaknya sudah punya kekasih, namun nyatanya mereka berdua masih bertengkar dan saling menghina.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di larang keras memberikan Bom like. Author menerima kritik dan saran untuk kalian🥰🥰🥰