
Kepergian Niko setahun sudah, namun Anin belum juga membuka hatinya lagi, karena nama Niko yang sempat terpatri di hatinya. Membuatnya sulit untuk melepaskan belenggu itu.
"Nin yuk pulang," ajak Intan pada Anin, dan Anin hanya mengangguk tanpa menyahutinya.
"Tunggu!" Seseorang tengah memberhentikannya.
"Apa!" Sahut Intan, dan lagi-lagi Anin hanya menoleh dengan memasang wajah dinginnya.
"Biar aku antar,"
Intan pun melihat jika Alex memberikan kode padanya, agar memberikan ruang untuk bisa bersama Anin.
"Ah iya Nin, gue lupa lu di anter Alex aja ya, soalnya gue ada perlu darurat."
"Tapi Ntan."
"Bye."
Belum juga Anin berucap namun Intan sudah melambaikan tangan.
"Ya sudah kamu saya antar ya."
suara helaan nafas terdengar di telinga Alex. Dan kini dirinya harap-harap cemas agar Anin tak menolak lagi.
Huff.."Baik lah."
Setelah mendapat jawaban Akhirnya, Alek membukakan pintu untuk Anin dan mempersilahkan naik.
"Nin,"
"Iya,"
"Apa kamu belum bisa membuka hati kamu."
"Kenapa?"
"Aku butuh jawaban kamu, atau jangan-jangan kamu menyukai Fadli ya," Alex tak menyerah demi bisa mendapatkan hatinya.
"Jangan sangkut pautkan masalah ini dengan orang lain, karena aku dan Dokter fadli tak ada hubungan."
"Lantas mengapa kamu menolak ku,"
"Maaf, itu karena aku terlalu mencintai..." Ucapan itu menggantung jika dirinya tak bisa memungkiri kalau masih mengingat Niko.
"Maaf, bukan maksudku untuk mengingatkan."
"Jika elu jadi gue mungkin pada akhirnya sama kek yang gue lakuin. Terlalu menyakitkan jika kehilangan secara tiba-tiba dan terlalu sulit untuk melupakan."
"Maaf aku terlalu buru-buru, mungkin kedepannya aku akan sabar."
__ADS_1
"Lihat lah usiamu semakin tua, apa kau ingin jadi perjaka tua hanya demi gadis miskin dan rendahan seperti aku."
"Apa ada masalah dengan itu semua, menurutku tidak! berarti laki-laki itu benar-benar mencintai kamu bukan."
"Terimakasih untuk cinta yang elu berikan, tapi apa elu yakin, jika ingin menunggu gue sampai bisa benar-benar melupakan sosok Niko."
"Saya gak menyuruh kamu untuk melupakan, tetap kenang lah, karena biar bagaimana pun dia telah tiadanya, dan aku. Aku lah sang pemilik cinta selanjutnya."
"Meski cinta kalian tidak bersatu namun kisah kalian belum selesai jadi, saya tak mempermasalahkan."
"Elu terlalu PD,"
"Ibu ingin kamu mengunjunginya, bagaimana kalau kita mampir sebentar."
"Boleh."
Selanjutnya tak ada percakapan di antara,mereka berdua. Karena ternyata Anin tertidur, dan Alek melirik sebentar lalu tersenyum.
Apa kamu masih ingin menolak ku setelah setahun lamanya saya menunggu, tidak! Tidak akan saya membiarkan itu terjadi lagi untuk lebih lama menunggu kamu Nin, dan bisa di pastikan saya memiliki kamu dan seluruh cinta kamu. Dalam diam Alex bergumam dalam hatinya. Dan tentunya dirinya tak akan mengulur waktu untuk lebih lama lagi.
Tak terasa mobil mereka kini sudah berada di kediaman Ibunda Alex.
"Ini nih gimana coba, mau di bangunin kasian tapi kalau gak di bangunin juga ntar yang ada kelamaan nunggu" Alex bergumam karena tak tahu apa yang di perbuat, memilih membiarkan atau mengangkat.
Pada akhirnya Alex memilih membiarkan Anin melanjutkan mimpinya. Dan terlihat Ibunya sedang membuka pintu karena terdengar suara mobil, jadilah beliau keluar untuk memastikan, dan ternyata benar jika pemilik mobil itu adalah anaknya, Alex.
Alex yang tengah bersandar dan menatap lurus buru-buru keluar untuk menemui Ibunya.
"Lho Lex kenapa enggak masuk nak," ucap Ibunya penasaran mengapa Alex bukannya masuk malah berdiam di bawah mobil.
"Anin tidur Bu, gak tega buat bangunin." Jawab Alex pelan.
"Kasian lagi kalau di biarin, nanti yang ada badannya pegel-pegel. Ya sudah biar Ibu saja yang bangunin."
"Tapi Bu,"
"Sudahlah, kanu nurut saja."
Akhirnya Alex pun diam, dan membiarkan Ibunya membangunkan Anin yang sedang tertidur pulas.
"Anin sayang, bangun nak."
Eummm..
Terlihat Anin sedang menggeliatkan tubuhnya, dan Bu Lita mencoba membangunkannya lagi.
"Anin nak bangun."
Dengan perlahan matanya mulai di buka secara perlahan, dan dirinya mengedarkan pandangannya ternyata dirinya sudah berada di kediaman Alex, dan parahnya lagi dirinya ketiduran di dalam mobil, hingga Ibunya Alex terpaksa membangunkan dirinya.
__ADS_1
"Maaf Bu saya ketiduran,"
"santai saja sayang, tadinya Alex ingin membangunkan kamu tapi dianya takut."
"Ibu nih apaan sih." Keluh Alex.
"Ya sudah sekarang kita masuk ya soalnya Ibu sudah masak banyak untuk kalian."
"Iya Bu." Ucap Anin.
Lalu mereka bertiga masuk kedalam rumah yang luas dan mewah tentunya, dalam hati Intan terus saja berkata.
Apakah dirinya pantas, mendapat cinta Alex, secara dirinya mapan dan tentunya kaya, dengan bergelimpangan banyak harta membuat berpikir lebih jauh lagi.
Sedangkan di lain tempat.
"Dokter, Dokter,"
"Iya Nin kenapa,"
"Maaf Dok say Naila."
"Ah maaf saya salah sebut."
"Iya gak papa, saya pulang dulu ya Dok,"
"Iya hati-hati."
Di ruangan di mana Dokter Fadli berada, dan kini dirinya duduk di meja di ruangan kerjanya dengan menopang kan dagunya di kedua tangannya, pikirannya hanya terisi bayangan Anin yang sedang tersenyum 'Cantik' satu kata yang lolos dari mulutnya.
Entah mengapa dirinya tiba-tiba mengagumi gadis berusia 21 tahun. Yang pernah di rawatnya sewaktu sakit.
"Apa aku benar-benar suka dengan gadis itu, atau aku hanya mengagumi saja, atau kah hanya merasa kasihan terhadapnya, ah entah lah karena rumit jika sudah urusan hati" Gumam Dokter Fadlan.
"Sesungguhnya aku pun gak bisa memungkiri jika Anin memang cantik namun terlihat dingin"
Ah, sudah lah lebih baik aku segera pulang. Batin Dokter fadli, lalu dirinya segera menata meja yang berantakan akibat ulahnya, dan tak lupa melepaskan baju kebesarannya di tempat gantungan baju tersebut dan setelah itu dirinya bersiap untuk segera pulang.
Di jalan.
Di jalan, berjalan Intan seorang diri dan hanya berteman kan sepi. Hari ini pikirannya kacau dan tak tau berbuat apa? Ibunya sudah tua dan ingin segera melihat Intan menjali kodratnya sebagai perempuan, namun di usianya yang ke 26 tahun dirinya belum juga menemukan jodohnya.
Apa ada yang salah dengan perempuan di umur segitu? Harusnya tidak kan, apa hanya dirinya belum menikah dan tak punya pasangan hingga dirinya di sebut perawan tua, menyebalkan bukan.
Prang.
Ups..
Intan membungkam mulutnya dengan kedua tangannya karena bekas minuman kaleng yang berada di kakinya dia tendang hingga mengenai mobil yang melintas, dan sekita mobil itu pun berhenti.
__ADS_1
"Sialan siapa si yang melempar sampah di mobilku, bener-bener ini orang! Perlu di kasih pelajaran sepertinya" Seseorang yang berada di dalam mobil itu terus saja mengumpat.
"Woi, siapa yang melakukan ini!"