
Semenjak Anin kembali dari kota M, sekarang lebih banyak diam. Karena pikirannya sangat kalut dan kacau.
Di kamar tepatnya dirinya duduk di dekat jendela yang mengarah keluar. Pikirannya hanya tertuju untuk bisa mendapatkan uang dengan cara kilat.
Dan kini tujuannya mengarah ke mami, ya hanya mami yang bisa mencarikan orang untuk dirinya.
Dan dengan segera ia beranjak dari duduknya, sendiri! Dirinya tak memerlukan teman karena baginya itu semua akan menyulitkannya. Tak berapa lama dirinya sudah bersiap untuk pergi dan dengan segera ia mengunci pintu.
Tak membutuhkan banyak waktu Anin sampai pada tempat yang di tujuh, dan kini dirinya masuk dengan langkah yang sedikit terburu-buru. Tempat yang masih sepi karena sekarang bukan lah waktu untuk buka, tepatnya saat ini masi pukul sepuluh pagi.
"Mami, Mi, di mana Mami." Anin mencari-cari sosok yang di panggilnya, dan kini dirinya naik ke atas menuju ke kamarnya.
Tok.
Tok.
Tok.
"Mi, apa Mami di dalam."
"Siapa yang berani masuk ke tempat ini, selain Intan dan Anin mereka tak punya kunci nya kan" Di dalam kamar Mami bergumam, tentang siapa yang berani masuk, dan sekarang mereka malah berani mengganggunya di saat Mami sedang tidur.
Ceklek.
"Anin."
Mami terkejut akan kedatangan Anin yang tiba-tiba.
"Iya Mi, ini Anin."
"Ada keperluan apa! Sehingga membuat kamu datang kesini," dengan mulut yang menghisap rokok, Mami berdiri dan bersandar di daun pintu, dangan sesekali mengeluarkan kepulan asap dari dalam mulutnya.
"Mi, mendekat lah. Dan jauhkan rokok itu dari ku dulu."
"Mami pun menuruti perkataan Anin, lalu dirinya mendekat dan Anin tengah membisikkan sesuatu."
"Apa kau benar-benar waras,"
"Menurut Mami, aku harus apa! Di saat aku terjepit dengan keadaan."
"Apa kau serius,"
"Jika aku tak serius mana mungkin aku sekarang berdiri di sini."
"Kau sungguh tak menyesal setelah ini,"
"Menyesal ya, apa aku harus mengatakan bahwa aku tak menyesal. Pertanyaan bodoh macam apa ini."
"Berapa yang kamu mau?" tanya Mami, meski dirinya agak ragu tapi semampunya ia menyanggupi permintaan Anin.
__ADS_1
Anin membentuk jari nya dengan nominal yang akan di berikan pada yang mau memakai jasanya.
"Apa bisa Mi," meski Anin agak ragu juga tapi dirinya yakin, jika akan ada yang mau.
"Baik, akan Mami carikan seseorang yang kaya raya untuk memakai jasamu."
"Makasih ya Mi,"
"Sama-sama, ya sudah Mami mau melanjutkan tidur jadi pulang lah, jika ada nanti akan Mami hubungi segera mungkin."
"Baik Mi, kalau gitu aku keluar dulu."
"Hum, berhati-hati lah."
Anin mengangguk, dan setelah itu dirinya keluar dari tempat di mana dirinya dulu berjuang demi keluarganya. Di sini di tempat ini lagi, lagi dan lagi harus berakhir di sini.
Tuhan kenapa takdir yang aku jalani tak seindah yang ku bayangkan, wahai sang angin apa kamu mendengar jeritan hatiku sekarang, jika kamu mendengar bawalah seluruh kesakitan ini, dan berikan aku sedikit ketengan, kebahagian, serta kehidupan yang aku inginkan. Selama Anin berjalan dirinya terus melamun dan meluapkan segalanya lewat isi hatinya.
"Awaaaaa."
Aaaaaaa. Ciiiiiit.
"Hey cewek gila, jika kamu ingin mati jangan menyangkutkan saya." Teriak lantang dari pemilik mobil yang hampir menabraknya.
"Anin yang berjongkok sambil menutup telinganya, padahal dirinya berharap dia akan celaka dengan begitu ia bisa menjual ginjalnya untuk biaya operasi Ibunya.
" Hye, berdiri!" teriak orang itu lagi.
"Apa menurut mu kamu sudah berada di surga." ternyata lelaki itu mendengar apa yang di bicarakan Anin.
Dengan perlahan Anin mendongak kan kepalanya untuk melihat wajah si pria tersebut.
"Jika kamu mau mati, lebih baik terjun lah ke jurang." Suara cemohan membuat Anin sedikit kesal.
"Kalau gue nyemplung ke jurang sia-sia dong gue, karena gak akan pernah dapat apa yang gue inginkan kan." Setelah mengatakan itu, Anin berjalan meninggal kan lelaki arogan itu.
"Sial, perempuan gila emang ya" Umpat Lelaki itu, lalu dirinya masuk ke dalam mobil lagi dan melanjutkan perjalanannya.
Huf..
"Kenapa hidup gue selalu kek gini" Ucap Anin pada dirinya sendiri.
...----------------...
Di kos.
Di kos Intan mencari Anin ke penjuru ruangan namun tidak menemukannya, dan di telepon pun hanya ada suara operator, dan gak biasanya Anin pergi tanpanya, dan tentunya tanpa pamit padanya. Dan itu membuat Intan sangat kuatir.
Seperti saat ini, Intan mondar mandir memikirkan Anin yang tak tahu keberadaannya.
__ADS_1
"Duh Nin, sebetulnya elu di mana sih. Apa elu kagak tau kalau gue takut elu kenapa-napa" Intan terus saja uring-uringan karena sampai jam dua siang Anin belum juga pulang.
Dari kejauhan terlihat Anin berjalan, dengan muka yang tak bisa di artikan Intan yakin kalau sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.
"Anin," tegur Intan.
"Eum."
"Elu dari mana seharian ini,"
"Cari angin, dan gak perlu kuatir juga sama gue,"
"Ah, syukur lah."
"Gimana gue gak kuatir, elu satu-satunya orang yang gue punya."
Sedetik, dua detik, tiga detik, Anin masih memandangi wajah Intan.
"Kenapa! Apa ada masalah?" Intan seratus persen yakin kalau Anin sedang ada masalah namun lagi-lagi Anin bukan lah orang yang suka membuka dan bercerita tentang masalah yang ia hadapi walau seberat apa pun itu.
"Jika punya berbagilah dengan ku, jangan memikul masalah sendiri." Tambah Intan lagi.
"Tidak! Kamu tenang saja gue bisa ngatasinya," tolak Anin.
"Apa elu gak anggap gue." Ini lah senjata paling ampuh, untuk melumpuhkan Anin.
"Aku baik, dan ini masalah gak terlalu berat, jadi kamu gak perlu kuatir." Dengan senyum yang di paksakan Anin mencoba menyakinkan sahabatnya.
"Ya sudah, eum elu uda makan belum," ucap Intan.
"Belum, kenapa?" tanya balik Anin.
"Gue tadi beli sate ayam, yuk makan. Habis ini berangkat kerja, pasti Alex nungguin kita karena terpaksa gue minta ijin setengah hari."
"Boleh, kebetulan gue lapar! Harusnya elu tadi berangkat gak usah nungguin gue," ujar Anin sambil berjalan menuju kamarnya untuk meletakkan sling bag.
"Gue tadi udah telepon Alex, dan dia bilang gue suruh nungguin elu karena Alex pun sama kek gue, dan jauh lebih kuatir sama elu yang gak pulang-pulang."
Anin terdiam, kini pikirannya tertuju pada sosok laki-laki yang bernama Alex, dirinya merasa telah memberi harapan palsu kepadanya namun tal sekalipun Alex menyerah demi mendapatkan hatinya.
Drttt..
Drttt...
Drttt.
"Nin Hp elu bunyi, angkat dulu."
Lalu dengan cepat Anin menyambar gawai lalu melihatnya.
__ADS_1
Deg.