
"Jaga mulut kamu yang kotor itu, jika kamu tak tau apa-apa maka diam lah."
Sudah yang ketiga kalinya ia mendapat tamparan, panas yang tadi belum hilang di tambah oleh tamparan lagi yang ia dapat dari Intan.
Aneh, bukan kah jika wanita bekerja di dunia malam, maka sesuai apa yang ia katakan barusan. namun mengapa Intan juga tak terima jika aku berkata demikian.
"Sudah Mbak Intan, ini bukannya waktu untuk berdebat, mending sekarang kita bawa pulang Mbak Anin nya, takut nanti semakin parah." Ujar pengawal Mami itu.
"Iya bener kamu Pak."
"Saya Ikut."
Namun intan tak bergeming. lantas ia masuk ke dalam mobil sedang kan Anin, dibopong oleh pengawal Mami.
Dan Alex mengikuti dari belakang.
🍀🍀🍀
Sesampainya di Kos, tepat jam sebelas malam, Anin pun masih belum sadar, di tambah suhu badannya semakin tinggi.
Mobil beserta sopirnya telah kembali ke tempat asal, sedangkan di luar kamar.
"Boleh saya bertanya sesuatu,"
"Apa yang ingin lu tanyakan, jika lu bertanya untuk ngehina Anin, sorry lebih baik lu pulang." Kata-kata Intan penuh dengan penekanan, karena dia tak mau seseorang menghina temannya itu lagi.
"Sejak kapan Anin bekerja di tempat itu,"
"Dua tahun lalu, karena dia yang tak tahan atas perlakuan keluarganya, dan Niko, membawa nya ke sini, dan aku yang memberikan pekerjaan itu padanya."
"Siapa Niko, lantas kamu sengaja menjualnya di tempat dunia gelap,"
"Niko, adalah orang yang berarti dalam hidupnya, dan satu yang kau harus tau! jika tak tau apa-apa maka diam lah jangan banyak bicara."
"Anin, adalah gadis yang baik meski kadang dia dingin pada orang, mungkin bawaan dari kecil dan kehidupannya yang tak di anggap hingga ia memilih pergi, sudah cukup pengorbanan yang ia berikan pada keluarga yang tak tau diri itu. Dan tau kah kamu di setiap senyumnya ia menyimpan begitu banyak luka."
Alex terdiam mendengar ucapan yang di berikan oleh Intan, apa semiris itu nasib nya, terlalu banyak luka apa maksudnya.
"Apa maksud semua ini, sungguh aku aku tak mengerti apa yang kamu katakan."
Alex masih belum bisa mencerna kata-kata yang ia dengarkan barusan, dan dia pun berusaha untuk menggali informasi lewat Intan.
__ADS_1
"Aku tak tau awal nya seperti apa namun yang ku dengar dari ceritanya, dia adalah anak yang tak pernah di anggap oleh keluarganya sedang kan Bapaknya sudah meninggal ketika ia masih balita. Anin kecil, sudah menjadi tulang punggung bagi Kakak-kakaknya serta Ibunya, namun itu semua belum cukup."
Intan yang bercerita panjang lebar serta membuka awal kronologinya hingga Anin, berada di kota ini dan bekerja sebagai pelayan di dunia malam, hingga akhirnya mereka menjadi sahabat karena nasib Intan dan Anin, hampir sama. Jika Anin, anak yang tak di inginkan sedangkan Intan harus bekerja keras demi pengobatan sang Ibu, serta nafkah yang harus ia kirim untuk sehari-hari sang Ibu,karena Intan anak tunggal Ayahnya telah lama meninggal akibat kecelakaan. Itulah alasannya ia memilih jalan yang salah dengan berkubang di dunia malam karena lebih muda untuk mendapatkan uang. Dan ia akan berjanji setelah mendapatkan lelaki yang mau menerima kekurangannya maka ia akan berhenti menjadi kupu-kupu malam.
Setelah mendengarkan cerita tentang masa lalu Anin, kini Alex merasa bersalah, dan dalam benaknya dia memberi acungan jempol, karena Anin, mampu menahan diri dari godaan lelaki hidung belang serta tawaran uang yang di rasa cukup untuk memanjakan dirinya, namun ia salah gadis itu sungguh kuat dengan mempertahankan harga dirinya agar tak terjamah oleh siapapun meski ia berada di lembah hitam.
Dan tanpa ia sadari Anin, mendengarkan apa yang di obrolkan oleh dua insan itu, dan sejak kapan Anin, terbangun mereka pun tak tau.
Dan dengan derai air mata merasa hidupnya sudah di ujung jurang yang terjal, jika ia mengingat masa-masa itu.
"Gue masuk dulu ya mau lihat keadaan Anin," ucap Intan pada Alex.
Dan Alex hanya mengangguk, kini pikirannya tertuju dengan sosok gadis yang sempat di hina nya, dengan mengatakan kata-kata yang kotor.
Alex yang dingin, dan Alex yang Angkuh kini berubah menjadi anak kucing setelah melihat Anin, rasa bersalah yang masih menyelimuti serta rasa yang tak bisa di ungkap kan dengan kata-kata membuat ia di lema karena sosok yang bernama Anindiyah mampu meluluhkan keangkuhannya.
"Anin! lu sudah sadar, apa yang lu rasain apa ada yang sakit mana gue lihat."
"Diam!" belum selesai Intan berbicara karena terlalu kuatir dengan sahabat, tapi nyatanya Intan malah mendapat bentakan dan membuat ia langsung terdiam.
"Lu bentak gue Nin,"
"Kan gue kuatir sama elu,"
"Iya makasih lu udah kuatir sama gue, tapi gak sebawel itu kali, kuping gue panas tau liat lu ngoceh mulu dah mirip burung saja tau gak."
Hehehe.. Intan hanya bisa tertawa sambil menggaruk kepalanya, karena ia sadar bahwa ia memang cerewet.
"Kenapa lu bisa pingsan, setahuku lu adalah wanita kuat."
"Apa ada sejarahnya sebesar-besarnya batu besar jika terkena lahar ia masih bisa berada di tempat."
Intan menggelengkan kepalanya bahwa ia setuju apa yang di katakan nya.
"Begitupun dengan aku! karena aku hanya manusia biasa terlihat kuat namun di sini rapuh," sambil menepuk dada Anin, menjelaskan.
"Maaf."
"Sudah lah."
Tadi di waktu Intan pamit untuk mengecek keadaan Anin, Alex pun keluar untuk mencari makanan untuk di berikan pada Anin.
__ADS_1
Tok..tok..tok..
"Masuk lah, Anin sudah siuman jika ada yang kamu mau sampaikan kepadanya lekas lah utarakan." Yang disahuti oleh Intan, berharap Alex, mau meminta maaf pada Anin, karena ia sudah sangat keterlaluan.
"Eum, ini saya bawa makanan untuk."
"Apa kamu berniat menyogok ku dengan sekantong makanan."
Belum juga ia melanjutkan kata-katanya namun terpotong oleh Anin.
"Apa kamu sangat marah terhadap saya!"
"Menurut kamu."
"Saya hanya meminta maaf, tapi mengapa kamu seakan sulit untuk menerima maafku."
"Apa ini ada kaitannya dengan kehidupan ku yang teramat miris, hingga kamu sengaja meminta maaf karena merasa kasihan terhadap nasibku."
"Tidak ada ini murni dari lubuk hati saya, saya meminta maaf karena kata-kataku telah membuat kamu terluka,"
"Apa ada yang kamu ingin sampaikan lagi! jika tidak ada, maka pulanglah."
"Apa kau mengusirku, aku sengaja menunggu kamu sampai sadar, supaya aku bisa meminta maaf denganmu."
"Aku sudah bangun bukan, jadi kamu mau menunggu apa, ini hampir pagi jadi pulang lah."
"Ekhem ."
"Apa kau tersedak biji kedondong Ntan, hingga lu pun tak berani bicara."
Eh.." bukan gitu Nin."
Orang sakit saja dia masih seperti singa, gimana kalau gak sakit ya. Batin Alex, karena sedari tadi ia kalah jika sudah bersilat lidah dengan Anin.
"Eum begini, apa perlu gue kasih tau Niko, tentang kamu," ujarnya pada Anin.
"Jangan dan tak perlu kamu memberi tahu tentang keadaan ku, aku gak mau dia kuatir hingga dengan terburu-buru datang kesini."
"Baik lah kalau itu mau kamu."
Di relung hati Alex yang terdalam, entah mengapa ada rasa sesak jika ia membahas lelaki lain, padahal Anin hanya pacar kontrak. Tapi mengapa ada perasaan yang mengganjal di hatinya.
__ADS_1