Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 68 . Apa yang Di Tanam Itu lah yang kalian tuai


__ADS_3

Aduh mampus gue.


Lantas lelaki itu pun keluar.


Brak.


Terdengar suara pintu mobil cukup keras karena pria itu menutup sangat keras.


Sedangkan Intan, yang merasa ketakutan hingga tanpa si sadari keringat yang mulai bercucuran membasahi pelipisnya.


"Lho itu kan Intan, jadi yang sampah tadi ulahnya" Gumam lelaki tadi.


Sedangkan Intan menutup mukanya dengan kedua tangannya, jadi dirinya tak tau siapa lelaki yang saat ini menghampirinya.


"Hye, buka muka kamu." Seru lelaki itu.


"Ma-maf."


"Kenapa malam-malam jalan sendirian?" tanya lelaki itu.


Seperti pernah mendengar suara lelaki yang berada di hadapannya, lalu Intan mendongakkan kepalanya agar sejajar dengan lelaki tersebut.


"Dokter,"


Intan membungkam mulutnya sendiri, sepertinya ini adalah sebuah mimpi namun menjadi nyata.


"Kita cari tempat untuk mengobrol," usul Lelaku itu yang tak lain adalah Dokter Fadlan.


"Boleh."


Lalu mereka berdua mencari duduk yang berada di taman tersebut.


"Kenapa Dokter bisa sampai di kota ini," Intan yang penasaran akhirnya bertanya.


"Saya memang bertugas di sini, hampir sebulan juga saya di kota ini." Jelas Dokter itu, dan Intan hanya mangut-mangut.


"Lantas mengapa kamu sendirian, dan saya sudah bertanya untuk yang kedua kalinya lho."


"Ah, iya maaf. Habis pulang dari kerja tadinya sih sama Anin, tapi kebetulan dia ada acara jadi lah saya pulang sendiri."


Jika dulu Intan seperti badut, untuk sekarang tidak! Karena Anin yang mengubah semuanya mulai dari sikap dandanan semua Anin yang telah mengubahnya. Dan sekarang Intan juga bisa tampil natural akan dorongan Anin yang menyuruhnya agar tak berlebihan dalam menggunakan apapun termasuk soal dandanan yang sudah seperti badut.


Dan bagi Intan, banyak perubahan semenjak dirinya berteman dengan Anin, itu lah mengapa saat temannya terpuruk Intan sebagai teman dan saudara berusaha untuk membangkitkan rasa semangat lagi untuk tetap kuat dan harus bisa melewati ujian yang di hadiahkan oleh tuhan.


"Baik lah saya akan mengantarkan kamu."

__ADS_1


"Tidak terimakasih."


"Ini sudah malam, jadi biarkan saya mengantarkan kamu, lagi pula tidak baik bagi perempuan malam-malam jika sendirian." Sebuah ucapan yang membuatnya mengembangkan senyuman, bukan karena apa? Jika Fadli tahu tentang jati dirinya bisa di pastikan Dokter Fadli seketika akan menjauhinya sekarang.


"Baik lah kalau Dokter memaksa."


"sekarang kita bukan berada di rumah sakit, jadi jika memanggil namaku jangan ada lagi kata embel-embel."


"Baik lah saya minta maaf."


"Baik lah ayo naik."


Lalu mereka berdua menaiki mobil yang di kendarai oleh Fadli dan mengantarkan Intan menuju ke kosannya.


Di dalam mobil mereka tak ada yang bertegur sapa dan tak ada yang memulai percakapan, karena Intan larut dengan pikirannya.


"Apa ada lelaki yang baik, mau menerima kekurangannya, dan apakah ada lelaki yang bersedia di ajak nikah.


Tuhan hidup ini terlalu rumit, jika memang ada lelaki yang aku harapkan maka berikan lah aku jodoh yang baik dan yang mau menerima aku apa adanya, apalagi aku bukan lah wanita baik-baik apa aku bisa meminta itu semua. Dalam hatinya ia berkeluh kesah tentang apa yang di rasakan sekarang.


"Ekhem, apa kamu ada masalah,"


"Jika pun ada tak perlu kamu tahu apa yang sekarang saya pikirkan."


"Terimakasih untuk tawarannya, tapi saya bukan tipe orang yang bisa membuka masalah saya kepada orang lain, selain orang terdekat saya."


"Maaf,"


"Tak perlu minta maaf, ini hanya soal waktu saja, nanti di gang depan berhenti karena saya ngekos di situ." Ucap Intan, dengan wajah yang datar, mungkin jika Anin sudah pulang maka durinya akan bercerita pada sahabatnya itu.


"Di sini,"


"Iya, makasih atas tumpangannya."


"Iya sama-sama."


Lalu Fadli putar balik untuk dirinya pulang juga, karena badannya juga gerah.


Kenapa dua sekawan itu sama-sama menyebalkan, Anin dan Intan sama saja, sama-sama membuat orang terlihat terdakwa saja. Batin Fadli sambil menggelengkan kepalanya karena merasa aneh dengan sikap Anin atau pun Intan.


...----------------...


Sedang kan di tempat lain.


"Bu, Ibu minum obat nya ya biar dadanya sakitnya berkurang," Edo dengan setia merawat Ibunya, sedangkan Adiknya yang berkebutuhan khusus empat bulan lalu telah pergi untuk selama-lamanya, karena ada pembuluh darah yang pecah.

__ADS_1


"Ed, gimana kabar Adik kamu, apa Ibu akan selamanya tersiksa seperti ini," dengan suara lirih Bu Indah berucap sambil menahan dadanya yang teramat sakit.


"Nanti di tanyain lagi ya, biar Ibu tahu keadaannya, tapi yakin lah Bu jika anak itu baik-baik saja." Edi mencoba menenangkan Ibunya.


Apa jadinya jika mental kita yang menahan sakit, pasti lebih sakit bukan di bandingkan sakitnya fisik sama sekali tak ada apa-apanya.


Luka hati sulit untuk terobati berbeda dengan luka di sekujur badan, mungkin itu yang kini di rasakan Anin, hingga setahun ini dirinya sama sekali tak menghiraukan Bu Indah yang memintanya untuk menengok.


"Sekarang minum lah obatnya agar Ibu tak merasa kesakitan."


Akhirnya Bu Indah menurut dan mengambil obat yabg berada di tangan Edi, lalu menelannya dan tak lupa meneguk segelas air, agar obat itu tak berhenti di tenggorokan.


"Bu aku tinggal masuk ya."


Ibunya mengangguk.


Ternyata begini ya sakitnya, namun tak berdarah. Apa ini yang kamu rasakan Nin, saat Ibu menyiksamu dengan menorehkan sejuta luka yang teramat dalam. Maaf, kesalahan Ibu terlalu besar hingga mengabaikan mu dan tak pernah menoleh ke arahmu sama sekali, memang Ibu pantas di hukum seperti ini. Tapi percayalah Ibu dan Abang mu benar-benar sudah menyesal dan ingin memperbaiki semuanya dari awal. Dalam diam Bu Indah menangis dan hanya berucap dalam hati, tentang dirinya dan semua kesalahannya.


Sedangkan Edi, Edi mencoba menghubungi Intan karena dirinya tak punya nomor Anin.


Tuut


Panggilan terhubung.


["Halo Assalamualaikum."]


["waalaikumsalam, iya ada apa Bang?"] tanya Intan di sebrang telepon.


["Cuma mau tanya kabarnya Anin,"] ujar Edi.


["Alhamdulillah dia baik-baik saja, memangnya kenapa,"]


["Ibu katanya kangen sama Anin, kamu mau gak tolongin Abang supaya ngebujuk Anin."]


["Dan Ibu juga sedang sakit, kamu tau kan kau kami benar-benar sudah berubah."] Imbuh Edi lagi.


["Abang yang sabar ya, mungkin luka hatinya belum sembuh total Bang, makanya dia tak peduli lagi, tapi aku yakin kalau sebenarnya Anin sayang dengan kalian."]


["Semoga apa yang kamu ucapkan benar adanya, oh ya, Abang minta tolong beneran ya."]


["Iya Bang, nanti coba di sampaikan semoga hatinya luluh dan mau menemui kalian."]


["Ya sudah kalau gitu aku tutup ya, Assalamualaikum."]


["Waalaikumsalam."

__ADS_1


__ADS_2