
Setelah pertemuannya dengan Ibunya Alex, Anin pun merasa bahwa salah dalam mengambil keputusan, bagaimana tidak! Anin dan Alex di harus kan segera menikah karena usia Alex pun sudah matang. Dan entah nasibnya bakal seperti apa, karena antara Alex dan Anin, hanyalah sebuah pekerjaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan selanjutnya setelah Anin mendapat kabar bahwa Niko sakit, kini ia akan meminta Intan untuk menemani ke kampung halaman.
Seperti malam ini.
Intan dan Anin tengah duduk berdua di depan kamar, karena Intan pun sudah meminta ijin pada Mami begitu pula dengan Anin.
"Gue ngucapin makasih ya sama elu Ntan, karena lu udah banyak bantuin gue termasuk sekarang ini."
"Sama-sama, inget Nin gue selalu ada buat lu karena kita adalah teman."
Anin merasa bersyukur mempunyai teman seperti Intan, meski di buang oleh keluarganya nyatanya masih ada yang memungutnya.
"Ya sudah yuk berangkat keburu kemaleman." usul Intan.
.
.
.
.
6 Jam sudah perjalanan mereka untuk menuju ke rumah Niko, dan tepat pukul satu dini hari mereka sudah di depan kediaman Niko.
Tok..tok..tok..
"Assalamualaikum Bu, Bu Susi!"
sengaja Anin berteriak supaya ada yang membuka kan pintu untuknya.
"Iya sebentar!" suara teriakan dari dalam.
"Syukur lah Nin, ternyata ada orang yang mendengar kan kita." Ucap Intan.
"Iya."
Ceklek..
"Waalaikumsalam, akhirnya kalian datang juga Ayo masuk." Pinta bu Susi yang meminta kami berdua untuk masuk, dan kami mengikutinya dari belakang.
"Nin, kamu langsung lihat Niko kan,"
"Iya Bu, dan Ibu istirahatlah soalnya kelihatan kalau Ibu, terlihat capek."
"Ya memang Ibu Capek karena nungguin Niko, kalau begitu Ibu tinggal gak papa kan,"
"Gak papa Bu."
Baru beberapa langka Bu Susi berjalan namun sepertinya ia teringat akan sesuatu, hingga ia membalik kan badan lalu memanggil Anin.
"Anin tunggu!"
__ADS_1
Anin yang sudah menaiki tangga bersama Intan sontak berhenti kala terdengar Bu Susi memanggil.
"Iya Bu, kenapa?"
"Ibu baru ingat kalau kamu tak datang sendiri."
"Iya ini teman Anin Bu, Intan namanya."
"Makasih nak Intan ya sudah mau menemani Anin,"
"Iya Tante sama-sama, ya sudah kami mau lihat Niko dulu ya tan." Ucap Intan pada Ibunya Niko.
"Iya silahkan."
setelah melewati anak tangga dan mereka pun sudah berada di kamar milik Niko.
Tanpa mengetuk pintu mereka langsung membuka pintu.
Ceklek..
"Kak Niko, ini aku sudah datang," ucap Anin dengan suara lirih namun masih bisa di dengar.
"Anin, kamu datang."
"Iya Kak, aku datang sama Intan."
Terlihat sangat pucat dan terlihat pula kantong mata yang agak kehitaman di wajah Niko, entah sakit apa sampai tak tega Anin, melihatnya.
"Bisa sakit juga lu kodok congek,"
"Gue manusia bukan Tuhan, jadi wajar lah gue sakit." dengan suara yang serak Niko membalas ucapan Intan.
"Bisa temani, biar Intan tidur di kamar tamu."
"Intan lu tidur sendiri ya, gue mau nemenin Kak Niko, takut kalau butuh apa-apa."
"Ya udah cepet anterin gue ke kamar karena ini mata udah ngantuk banget." Intan tak menolak dan berusaha menerima, karena memang wajah Niko terlihat sangat pucat hingga ia membiarkan Anin menemaninya.
"Sebenernya di sebelah juga ada kamar milik adik gue, lu bisa pakai ketimbang harus turun tangga." Ujar Niko, karena sang adik berada di negri orang untuk melanjutkan kuliah, dan jarang pulang juga jadilah kamarnya kosong.
"Boleh lah dari pada gue turun tangga capek." ucap Intan.
"Ya sudah buruan tidur katanya ngantuk."
Intan pun bergegas keluar kamar dan menuju ke kamar sebelah ia merasa capek dan ngantuk.
Di kamar.
"Kakak sakit apa, kok gak mau di bawa ke dokter?" tanya Anin, pada Niko.
"Gak sakit apa-apa kok."
"Kalau gak sakit kenapa itu muka pucat sekali sudah mirip hantu."
"Besok juga sembuh kalau ada kamu di sisi Kakak,"
__ADS_1
"Orang sakit saja masih bisa gombal,"
"Ya sudah Kakak tidur ya aku pijitin,"
"Boleh."
Dan kini Anin duduk di kursi tepat di sebelah Niko, yang terbaring sakit. Dan di urut pelan-pelan pundak serta tangannya, berharap Niko akan segera tidur.
Tak berapa lama dengkuran halus terdengar di telinga Anin, bertanda bahwa Niko sudah tertidur dengan pulsanya, dan kini giliran Anin, yang sedari tadi menguap rasa kantuk yang melanda sudah tak tertahankan lagi, hingga tanpa sadar kepala Anin berada di dada bidang milik Niko.
Keesokan harinya.
Niko terbangun dan merasa dadanya tertindih sesuatu, saat matanya melirik ke bawah ternyata kepala milik Anin.
"Maafin Kakak ya sudah merepotkan kamu" gumam Niko sambil mengelus lembut rambut milik Anin.
Dan sakit yang di rasakan seakan terobati dengan kehadiran Anin, yang kini bersamanya.
"Semoga Tuhan selalu membuat kita bersama selamanya" dalam gumamnya Niko berdoa, kepada Tuhan agar selalu bisa selamanya bersatu dengan wanita yang ia cintai.
Persahabatan yang menumbuhkan benih-benih cinta, di antara mereka.
Dan rasa ingin memiliki satu sama lain, membuat mereka tak ingin berpisah.
"Niko!" suara keras Ibunya membuat Niko, seketika menempelkan telunjuknya ke bibir untuk memberi kode kepada sang Ibu, agar tak bersuara lagi.
Sttt..
Seketika Bu Susi, menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dan dia menutup pintunya lagi dan tak ingin mengganggu Anin, tertidur dengan cara duduk.
Saat Bu Susi akan menuruni tangga ternyata berpapasan dengan Intan.
"Tante, Anin sudah bangun belum?" tanya Intan, karena ia yakin kalau Bu Susi selesai dari kamar Niko.
"Gak jadi karena Anin masih tidur, mungkin ia capek sampai-sampai tertidur dengan cara duduk." Bu Susi yang me jelaskan perihal apa yang di lihatnya di kamar Niko, hingga beliau tak tega jika harus membangunkannya.
"Bisa jadi tan, karena kecapean akhirnya tanpa sadar Anin tertidur."
"Ya sudah lah, kalau begitu mau gak kamu bantuin tante buat bikin sarapan,"
"Boleh tante, biar aku bantu."
Dan mereka pun turun bersama dan akan memasak untuk sarapan."
Sedang di kamar.
Niko masih setia mengelus kepalanya dengan sesekali tersenyum, rasa bahagia terpancar jelas dari wajahnya.
Dan Anin, adalah obat penawar rindu baginya, Karena dari semalam Niko tidur dengan sangat pulas karena merasa nyaman berada di dekatnya.
Sedikit terusik hingga akhirnya Anin terbangun, dengan nafas yang memburu Anin mencoba mengumpulkan nyawanya serta kesadarannya.
Perasaan Anin.
Perasaan apa ini, dulu sebelum kita melangkah untuk memutuskan menjalin kasih, tak ada rasa gugup, tak ada rasa suka mau pun cinta, apa aku terlalu munafik hingga baru menyadari kalau aku juga menyimpan rasa untuk Niko.
__ADS_1
Entah lah rasa itu tiba-tiba datang, dan Aku pun tak tau sejak kapan Niko juga suka padaku. Berharap kekasih pertama dan terakhirku saat kami akan memutuskan melangkah
dan semoga Tuhan menjabah di setiap doaku, untuk mendapatkan lelaki yang baik, mau menerima kekurangan ku, selebihnya ku titipkan pada sang illahi.