Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 64. Menjadi Sasaranmu Dan Perubahanmu Membuat Ku Bingung


__ADS_3

Selepas kepergian kedua orang itu, Anin membuka matanya secara perlahan. Dan butiran kristal kini telah lolos membasahi pipinya.


Namun dengan kasar ia mengusap kembali air mata itu, sakit yang di rasakan selama hidupnya tak sebanding dengan kehilangan Niko, jadi buat ia menangis.


Harusnya Anin sudah sadar dari setengah jam lalu, namun dirinya mendengar sepasang kaki berjalan ke arahnya Anin memastikan siapa yang datang menjenguknya karena merasa asing akan kehadirannya jadilah ia kembali memejamkan mata.


Tanpa di sangka ternyata orang itu yang telah membuangnya dan pernah juga memutuskan ikatan terhadapnya. Namun sekarang, sekarang ia harus di perlihatkan dengan sosok yang membuatnya kehilangan arah dan tujuan. Kehilangan akan arti keluarga membuat Anin tak percaya jika keluarga itu benar-benar ada.


Kini pikirannya kosong, dan tak lagi memikirkan akan hal-hal yang seharusnya tak di pikirkan.


Jika dulu ia teramat bodoh, ya bisa di bilang begitu karena dulu Anin membutuhkan sosok pelindung dari keluarga, nyatanya semua itu palsu. Di perjuangkan namun tak pernah di anggap membuat Anin lama kelamaan sadar, jika dirinya hanya di perlukan untuk mengisi perut mereka bukan di perlukan sebagai keluarga.


Jika sekarang ia dengan susah payah untuk tak mengingat tetapi, alam begitu senang mempermainkannya.


Di usapnya air mata yang jatuh, mencoba berdamai dengan keadaan. Meski dirinya rapuh dan mudah patah.


Ceklek.


Anin melirik kearah pintu untuk melihat siapa yang sedang masuk.


"Apa elu baik-baik saja," Intan begitu kuatir atas kesehatan Anin, di tambah lagi seseorang tengah menghampirinya, dan berharap saat dua orang itu masuk Anin tak akan mengetahui kedatangannya.


"Menurut lu."


Intan di buat tercengang dengan keadaan yang menurutnya sangat berbalik dari kemarin-kemarin.


"Yah aku harap elu baik-baik saja."


"Tak perlu kuatir, gue udah cukup baik kok." Lagi-lagi Intan di buat melongo, dengan senyuman yang mengembang, Intan berpikir kalau dirinya sedang setres berat.


Apa Anin kerasukan hantu di makam tadi, apa di jaman yang hampir maju masih ada demit. Semua seakan menari di atas kepala Intan, karena menurutnya ini bukan lah Anin, yang seperti biasa.


"Apa kamu tadi di makam melihat setan," ucapan Intan sontak membuat Anin tertawa.


Hahahaha.."Memangnya kamu percaya jika ada setan."


"Tidak hanya saja."


"Sudah lah aku waras dan sedang tidak lagi ketempelan, bukannya elu bilang kalau gue harus tegar."


"I-ya tapi ini bukan lah Anin yang gue kenal."


"Sini lu." Dengan perlahan Intan mendekati Anin, dan."


Peletak..


"Brengsek lu ya, di kira kagak sakit apa." Umpat Intan.

__ADS_1


"Biar otak lu encer."


Intan yang telah menerima sentilan di kening, kini dirinya mendengus kesal, dan sepertinya setelah Anin sadar dari pingsannya jadi berubah.


"Apa kau sedang gila karena eum, itu tadi." Intan yang tak enak jika berterus terang rupanya Anin tahu maksud dari ucapannya itu.


"Apa menurut elo orang kek mereka pantes bust diratapi," dengan senyuman yang sedikit di paksakan, membuat Intan merasa bersalah karena membahas yang menurut Anin dua orang yang tak penting.


"Maaf."


Anin menautkan kedua alisnya, saat kata maaf lolos dari bibir Intan.


"Untuk apa,"


"Yang barusan.x


" Sudah lah, tak penting bagiku dan jangan membahas orang-orang yang tak penting di hadapanku."


Aneh, sungguh aneh, dengan menggaruk kepala ingin mencari sesuatu di wajah sahabatnya, namun keadaan berbalik dengan begitu cepat, sekarang, sekarang tak ada lagi Anin yang bersedih, Anin yang menangis histeris. Sungguh tanpa di duga kedatangan kedua parasit itu membuat Anin berubah di seperkian detik.


"Apa lu mau makan," Intan mencoba menawarinya makan, karena semenjak ia di rawat di rumah sakit dirinya enggan untuk makan biarpun itu hanya memandangi nya saja.


"Boleh." Dengan senyuman yang merekah di bibir Intan, akhirnya Anin pun mau makan. Dengan kilat Intan menawari makanan apa yang ia mau.


"Mau makan apa," ucap Intan yang sedang mempertanyakan kalau-kalau ada yang ingin di makannya.


.


.


.


.


.


.


.


"Kenapa secepat itu Anin berubah, atau saat dirinya pingsan sempat terbentur. Ahhh, membuatku pusing saja" pekiknya, sambil berjalan keluar kamar di mana Anin di rawat.


"Apa kamu baik-baik saja," Alex yang bingung dengan sikap Intan akhirnya bertanya.


"Bukan aku yang aneh, tapi si anin noh."


"Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Baru sadar dari pingsannya, ada yang kongslet, di bagian otaknya."


"Saya gak paham apa yang kamu katakan."


"Anin tak seperti yang kemaren-kemaren."


"Ya bagus dong, itu tandanya ia bisa dengan ikhlas menerima takdirnya."


"Dasar bodoh!" Sergah Intan pada Alex.


"Ini itu tidak seperti yang Anin gue kenal tau gak, yang ini menurut gue, gak ada muka sedih meski wajahnya datar, dan tau gak elu. Sedari tadi gue di jadiin pelampiasan mulu sama itu anak." Ucap Intan lagi.


Alex bukan simpati kepada Intan, malah tertawa terbahak-bahak."


" Terus kenapa keluar, dengan wajah yang jutek."


"Ini tadi, Anin minta di beliin bakso."


Setelah Intan menjelaskan untuk apa keluar, Alex pun merogoh saku dan mengambil dompet, lalu memberikan uang sebesar seratus ribu kepada Intan.


Intan pun dengan tampang bodohnya hanya membolak balikkan uang yang baru saja di terimanya.


"Itu untuk beli bakso, beli sesuai anggota yang berada di sini, karena saya juga lapar," tukas Alex.


"Nah gitu dong, dari tadi itu di jelasin, emang tanpa elu ngasih tau gue, gue bakal tau maksud elu memberikan ini uang."


"Ya Maaf, ingat punya saya pedas." Alex lupa memberi tahu Intan terlebih dulu, jadilah dirinya berteriak dan syukurnya lagi ternyata Intan mendengar.


Setelah kepergian Intan, kini Alex masuk kedalam kamar untuk melihat keadaan Anin.


Ceklek.


Anin langsung menoleh kearah pintu.


"Nin, apa sudah agak baikan." Ujar Alex pada Anin.


"Seperti yang kamu lihat, jauh lebih baik."


Padahal Alex tau bahwa dirinya terluka, tapi apa ini, Anin tersenyum di balik rasa sakit yang ia rasakan.


"Bagus."


Setelah itu tak ada lagi obrolan di antara mereka berdua, dan yang ada hanya rasa canggung yang di dapat.


Tanpa di sadari Alex melirik ke gadis yang teramat dicintainya dengan diam.


Ini adalah awal perjuanganku demi mendapatkan hatimu Nin, semoga kamu pun mau membuka hatimu untukku sedikit saja, walau bagimu masih berat untuk melupakan sosok Niko yang teramat berarti untukmu.

__ADS_1


Aku janji bahwa aku akan selalu ada untukmu dan selalu akan menjagamu di setiap langkahmu, karena bagiku saat ini adalah memberikan sedikit keterangan untuk mu berjalan, karena aku lah sang lentera itu.


__ADS_2