Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 78. Obat tidur untuk Anin.


__ADS_3

Alex membiarkan telepon Anin berdering dan tak ingin mematikan atau menjawab nya.


Dalam hatinya masih dongkol karena nyatanya ia merasa mempunyai saingan terberat, bagaimana tidak! Seorang Dokter, tampan dan tentunya kekayaan yang melebihinya. Membuat nya benci.


Sebenarnya bukan benci akan sosok orang itu, melainkan benci! mengapa satu orang harus ada cinta lagi selain dirinya.


Harusnya cukup Alex yang mengenal seorang Anin, jangan ada lelaki lagi selain dirinya. Memang terlihat egois tapi terpaksa di lakukan karena apa? Tentunya karena ia tak mau kehilangan orang yang di cintai nya untuk yang kedua kalinya.


Tok.. To..tok.


"Masuk lah." Ucap Alex.


"Bagaimana, apa Anin sudah tidur?" tanya Intan.


"Lihat lah," jawab Alex.


"Bagus, harusnya begitu." Ucap Intan sembari bersandar di daun pintu.


"Apa maksudnya," Alex yang tak mengerti apa maksud dari ucapan Intan.


"Gue sengaja ngasih dia obat tidur, supaya ia beristirahat dengan nyaman tanpa ada gangguan apapun itu."


"Apa tak masalah," Alex kuatir karena ternyata Intan memberikan obat tidur pada Anin.


"Tidak, tenang lah. Jika ingin keluar, keluar lah sembari menunggu Anin bangun." Sergah Intan pada Alex, karena pikir Intan. Anin akan lama bangunnya jadi, ada kesempatan untuk mencari udara di luar dahulu.


"Baik lah kalau begitu, saya keluar." Lantas Alex pamit pada Intan untuk keluar sebentar entah apa yang akan di carinya.


"Eum."


Dan akhirnya Alex berdiri lalu keluar.


Dan saat dirinya akan menyalakan mobil, dering telepon menghentikannya untuk masuk ke dalam mobil.


Ibu, tumben telepon, ada apa memangnya. Batin Alex. Karena yang menghubunginya ternyata Ibunya.


["Assalamualaikum,"] Alex mengangkat telepon dari Ibunya.

__ADS_1


["Waalaikumsalam."] Timpal Bu Lita.


["Ada apa Ibu nelepon, Bu?" tanya Alex pada Bu Lita.


["Gak ada apa-apa, Ibu sekarang ada di rumah Kamu, tapi kamu nya gak ada kemana,"] rentetan pertanyaan dari Ibunya, membuat Alex mengusap kasar wajahnya. Karena ia lupa kalau Ibunya hari ini akan datang ke rumah nya.


["Alex ada di kos Anin Bu, karena Anin sedang sakit makanya Alex ingin tahu keadaannya."] Alex mencoba menjelaskan pada Ibunya.


["Oh iya Bu, maaf ya Alex lupa, kalau hari ini Ibu sudah bilang mau ke rumah tapi Alex, malah pergi."]


["Ya sudah tidak apa-apa, titip salam saja sama Anin dari Ibu."]


["Iya Bu, ya sudah Alex matikan ya, Assalamualaikum."]


["Waalaikumsalam."]


Setelah menerima telepon dari Ibunya, Alex gegas masuk ke dalam mobil untuk mencari sesuatu di minimarket.


Setelah kepergian Alex, Intan setia menemani Anin yang tertidur pulas akibat bubur yang sudah di campur dengan obat tidur.


Nin gue gak tau apa masalah yang elu hadapi saat ini, tapi bisakah elu jujur sama gue, seperti nya tak mungkin. Karena elu bukan tipe orang yang seperti itu. Gumam Intan di dalam hatinya.


Terlihat Anin yang mengerjapkan mata, dan mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu, Anin tidak tahu kalau sekarang sudah sore. Dan nampaknya ia ingin bertanya tapi, seseorang sedang tertidur dan tak ingin ia mengganggu atau sampai membangunkannya.


Anin memutuskan untuk melihat jam di gawai nya, dan ternyata dirinya tidur cukup lama. Bagaimana tidak! Pagi tadi dirinya setelah meminum obat dan memakan bubur perasaanya mengatakan kalau masih pukul delapan pagi, tapi saat ini dirinya terbangun dengan hampir magrib.


Ah sudah lah, mungkin gue saja yang pules sampai tidak tau kalau sekarang sudah sore, malah hampir menjelang malam. Gumam nya dalam hati.


Dalam diam Anin memandangi wajah teduh itu, wajah yang tak pernah sekalipun meninggalkannya, namun untuk mengharap cinta nya apa kah mungkin. Setelah ia mengatakan apa yang sesungguhnya, berharap cinta nya tak akan pernah pudar, dan tetap menjadi lentera untuknya.


"Apa saya terlalu tampan hingga kamu tak berpaling dari pandangan kamu ke saya," ternyata Alex tau dan sengaja untuk tetap memejamkan mata, untuk melihat Anin yang terus saja melihat nya.


"Ck..ck..Kamu terlalu PD." Anin menyangkal walau sebetulnya ia.


"Tapi kenyataannya seperti itu, lihat lah, mata kamu tidak bisa berbohong meski mulut kamu berbohong." Tekan Alex.


"Sudah lah, memang aku gak ngeliat kamu, cuma iba. Apa salahnya," ucap Anin.

__ADS_1


"Salahnya kamu membuat saya semakin gila, karena hati ku kamu gantung. Tanpa kepastian." Keluh Alex, yang memang selama ini dirinya terus menanti cinta untuk berpihak kepadanya.


"Apa kamu akan tetap mencintai ku apapun keadaannya?" Anin mengajukan pertanyaan untuk Alex.


"Apapun itu, tidak akan bisa menggoyahkan rasa cinta ku sama kamu, karena entah mengapa hatiku sudah terpaut nama kamu, dan pikiran ku sudah di penuhi oleh wajah kamu." Tutur Alex.


"Apa itu sebuah rayuan." Anin masih memalingkan wajahnya untuk tak menatapnya.


"Tidak, dan apa sebegitu jijik kah diriku. Hingga kamu tak mau menatap wajahku."


"Sudah lah, jangan menambah obrolan yang tidak penting," seru Dia.


"Apa aku juga tidak penting bagimu," ujar Alex.


"Oh, ayo lah Lex, aku tak ingin terus menerus berdebat dengan mu, kamu tau? Dengan begini kamu udah bikin kepalaku sakit lagi." Ucap kesal Anin, karena Alex terus saja memojokkannya.


"Maaf."


"Baik lah, jika kamu benar-benar mencintai aku, apa kamu siap dengan apa yang aku katakan."


"Memangnya apa yang akan kamu katakan."


Dia tak menjawab, karena tiba-tiba saja. Kepingan yang terkumpul di memori nya mengingatkan akan dirinya yang menjadi budak nafsu. Saat itu, di mana dirinya terjepit dan tak bisa bergerak hingga akhirnya dirinya terjebak dalam situasi yang teramat rumit.


"Jika saja aku sudah tak suci lagi, apa kamu akan mundur, atau sebaliknya." Dengan suara yang gemetar ia mencoba mengungkapkan akan dirinya yang sebenarnya.


"Aku tak perduli, jika aku mendapat kan kesucian itu sendiri. Apakah aku juga bisa mendapatkan hatinya, tentu saja tidak."


Lagi-lagi Dia diam tak bersuara, saat Alex tak mempermasalahkan tentang kehormatannya.


"Tapi jika ini nyata apa kamu masih bisa mengatakan itu lagi,"


"Sudah aku bilang, bahwa aku tak peduli dengan itu semua."


"Apa kamu yakin," Anin menekan kan kata 'yakin' pada Alex, dan berharap jika semua itu benar, dan Alex masih bisa berlapang dada.


Ani menunduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca, dan dirinya sudah tak kuasa untuk tidak menangis.

__ADS_1


"Apa itu kamu orang nya Nin, dan jawab pertanyaan ku dengan jujur," Alex yang tak tahan dan dirundung oleh ke piluan akhirnya bertanya untuk memastikan saja.


Anin tak bergeming, diam dan diam tak ada kata untuk di lontarkan lagi. Karena Alex lah yang membuat seperti ini sekarang.


__ADS_2