Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 63. Pelangi Setelah Hujan


__ADS_3

Selepas kepergian Keluarga Niko, kini di makam hanya Ada Anin. Dan mereka berdua Intan dan Alex.


"Nin, hujan semakin deras kita pulang saja ya, ingat kondisimu belum pulih total." Intan mencoba membujuk Anin supaya mau di ajak pulang namun sama halnya dengan Alex, perhatiannya di tolak mentah-mentah oleh Anin.


"Kalau elu mau pulang, pulang lah. Gue mau masih di sini nemenin Kak Niko, kasian dia sendirian saat hujan seperti sekarang."


Lagi-lagi Anin menolak, hujan semakin deras, dan tanah pun sudah di penuhi dengan genangan air, tanpa berbicara lagi Intan pergi dan meninggal kan Anin. Bukan pergi untuk pulang melainkan menunggunya di mobil, sampai ia benar-benar puas berada di pusara sang calon suami.


"Kak, Kakak tau semua ini seperti mimpi bagiku, harusnya aku yang berada di sini bukan Kakak, aku lelah Kak. Aku menyerah, tolong bawa aku bersamamu. Jika pun aku hidup tanpamu percuma" Anin terus mengeluarkan semua tentang isi hatinya, di bawah guyuran hujan yang begitu deras. Anin tak perduli dengan keadaannya yang sudah menggigil dan bibir yang mulai membiru akibat terlalu lama terkena air hujan.


Langit pun mulai gelap tapi Anin enggan untuk beranjak, dan suara gemuruh dari petir mulai terdengar di tambah angin yang lumayan kencang.


JEDARRRR.


Aaaaaa.."Kak aku takut Kak"


JEDARRR.


Huaaa.."Kakak"


"Anin, kamu gak papa," entah seberapa lama Alex datang, dan tiba-tiba sudah memeluk Anin.


"Alex, aku takut."


Setelah kedua kali bunyi petir tadi, hujan perlahan terlihat sudah tak sederas tadi.


Anin yang masih berada di pelukan Alex merasakan sedikit kehangatan, namun dirinya masih terisak.


"Nin, apa kamu percaya setelah hujan akan ada pelangi,"


"Tidak!"


"Apa kamu belum pernah melihat pelangi saat hujan reda."


"Tidak pernah, karena aku tak percaya."


"Hidup itu layaknya hujan, setelah hujan maka pelangi akan terlihat untuk menampakkan jika hidup itu berwarna seperti pelangi bermacam warna."


"Lihat lah, indah bukan."


Lalu dengan perlahan Anin melonggarkan pelukan dari Alex, dan melihat arah telunjuk Alex.


"Indah bukan."


"Eum."


"Percayalah hidup mu akan berwarna setelah, banyak nya rintangan yang kamu hadapi."


"Sulit memang mengiklhaskan seseorang yang begitu berarti bagi kita, dan tiba-tiba pergi dengan cara yang tragis, tapi lebih sakit orang yang tak pernah bisa kamu ikhlaskan, Niko pasti tersiksa dengan keadaan yang sekarang,"

__ADS_1


"Aku gak bisa hidup tanpa dia, hanya dia yang bisa memberiku semangat , saat aku terpuruk dan terjatuh."


"Apa kamu tak menganggap saya Intan, kamu tidak sendiri."


Anin terdiam menatap pelangi yang berada di atas langit, sekilas terlihat gambaran Niko, tersenyum padanya dan melambaikan tangannya pada Anin.


"Kamu mau Niko bahagia?"


"Eum."


"Kirimkan doa, jika kamu ingin terus mengenang namanya, sebutlah di setiap doamu."


Anin tertegun saat Alex mengatakan seperti itu, jangankan berdoa sholat saja dia tak bisa.


"Hari akan mulai gelap, biarkan Niko beristirahat dengan tenang, ayo saya akan menggendong kamu."


Kepalaku, kenapa kepalaku semakin pusing, dan mataku...Ahhhhh...


"Nin, kamu kenapa, Anin bangun."


Alex mencoba menggoyangkan badannya tapi nihil, karena Anin sudah tak sadarkan diri di pelukan Alex.


Selepas Anin memegang kepalanya, Anin tak sadarkan diri, di bawah rintik-rintik hujan, Alex dengan pelan membopong badan kurus milik Anin, dan segera membawanya ke rumah sakit.


Intan yang mengetahui keadaan di luar, Dengan pelan membukakan pintu mobil.


"Iya, Anin pingsan Ntan, sekarang kita menuju ke RS, biar mendapat perawatan instensif, karena Anin sedang tidak dengan keadaan baik-baik saja." Intan pun hanya mengangguk karena apa yang di katakan Alex memang benar Adanya.


Sekitar satu jam,sampailah mereka di rumah sakit.


"Suster tolong teman saya," Intan keluar dan memanggil beberapa perawat untuk melihat keadaan Anin.


"Di mana Mbak pasiennya."


"Di mobil sus."


Akhirnya bantuan datang dan Anin pun di bawa ke ruangannya setelah di gantikan pakaiannya oleh perawat.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Di rumah Bu Indah, setelah perdebatan yang memakan waktu cukup banyak, akhirnya Edi beserta Ibunya akan berkunjung ke rumah sakit untuk melihat keadaan Anin, yang saat ini terbaring lemas tak berdaya.


"Bu, lebih baik tanya suster." Usul Edi pada Ibunya.


Tanpa menjawab Bu Indah langsung ke meja resepsionis, untuk bertanya akan Anin yang di rawat di ruangan mana.


Akan kah Bu Indah Sudah luluh dan mau menganggap keberadaan Anin, setelah beberapa tahun silam. Karena keegoisannya membuat Anin hilang arah.


"Sus pasien atas nama Anindiyah Qoirunisa di rawat di kamar mana ya kalau boleh tau."


Bu Indah bertanya, dan setelah itu menuju sesuai petunjuk yang di berikan oleh perawat itu.


"Makasih ya sus."


"Sama-sama Bu." Timpal suster itu.


Beberapa saat sampailah mereka berdua di ruangan yang akan mereka masuki, dan pandangannya tertuju pada dua manusia yang di kenal oleh Edi.


"Bu, itu temannya Anin, berarti Anin di rawat di kamar itu." Ujar Edi pada Ibunya.


"Bagaimana keadaan Anin?" Tanya Edi pada Intan yang kebetulan dirinya sedang duduk.


"Ternyata kamu masih ingat kalau masih punya saudara." Sungut Intan.


"Gue gak mau berantem, gue cuma nanya keadaan Anin bagaimana," seru Edi pada Intan.


"Masuk lah jika elu pengen tahu keadaannya." Ucap Intan.


Dan akhirnya mereka berdua masuk kedalam kamar di mana Anin terbaring tak berdaya, dan berjuang melawan sakit walau sesungguhnya ia merasakan, namun karena rasa cintanya pada Niko, mampu membuat ia menghilangkan rasa sakit itu, namun sekarang bukan lagi seluruh tubuhnya yang sakit hatinya pun tak kalah sakit dan tercabik-cabik atas kepergian Niko.


"Anin, maaf Abang, yang sudah zalim sama elu, dan ikut memusuhi elu." Dengan deraian air mata, Edi meminta maaf sesekali mengelus pucuk kepala adiknya yang pernah di sakitinya.


"Nin, Ibu minta maaf, karena ego yang teramat besar hingga membuat hati Ibu tertutup oleh kebencian, tolong maafkan kesalahan Ibu selama ini."


Bu Indah tak kalah sedihnya saat melihat tubuh Anin yang bertambah kurus.


Di luar kamar.


"Apa mereka benar-benar mengakui kesalahannya dan bertobat," ujar Alex.


"Semoga saja, mereka memang menyesali semua perbuatannya." Jawab Intan.


"Iya aku berharap mereka sadar dengan kesalahan mereka selama ini, kasian Anin, jika harus menerima perlakuan tak adil lagi, di saat orang tercintanya pergi meninggalkannya beserta kenangan sepanjang perjalanan hidupnya." Sambung Intan lagi.


"Iya, lantas apa kamu tahu, langkah apa sekarang yang nantinya di ambil oleh Anin,"


"Yang pastinya dia akan kembali ke kota S, dan untuk pekerjaan aku tak tahu. Dia akan kembali lagi atau gak."


Namun dalam batin Alex, berharap jika Anin tak akan pernah kembali bekerja di dunia malam.

__ADS_1


__ADS_2