Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 69 Masa Lalu Anin.


__ADS_3

"Nin, apa elu gak ada niat buat nengok emak lu di kampung."


"Apa itu penting." Intan tercekat saat mendengar jawaban yang di berikan oleh Anin.


"Menurut elu yang bagaimana?"


"Gue enggak tau."


"ish, jawaban macam apa itu."


"Kenapa elu tiba-tiba nanya itu, gak ada yang elu sembunyiin kan dari gue."


"Maaf." Intan menunduk. Akan dirinya berhasil membujuk Anin supaya mau melihat keadaan Ibunya yang sedang sakit.


"Kemarin Abang kamu telepon gue, dan katanya Emak lu lagi sakit."


Hufff.


Terdengar helaan yang cukup berat, Anin bingung di satu sisi dirinya ingin tapi di sisi lain dirinya tak bisa berbohong atas luka yang selama ini masih membekas dan sulit untuk di sembuhkan.


"Nin, gue tau kalau elu bukan tipe mendendam, ikuti kata hati elu, dan jangan biarkan ego menguasai otak dan pikiran kamu."


Anin terdiam, dan bukan kah selama ini, ini yang di harapkan. Bukan kah dirinya haus akan kasih sayang dan cinta serta perhatian, tapi mengapa saat kesempatan itu datang dirinya malah menjauhinya? Ternyata tak semanis bibir yang terucap tapi empedu yang ada di hatinya.


"Akan aku pikirkan untuk langkah selanjutnya."


"Baik lah, ku harap elu bisa mengambil keputusan yang tepat." Seru Intan.


Setelah berucap kini Anin kembali ke kamar nya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur yang berukuran kecil.


Bayangan masa lalunya membuat dirinya teringat akan kepingan demi kepingan yang terkumpul menjadi sebuah memori, di mana dirinya saat kecil harus bisa hidup tanpa orang tuanya dan harus bisa mencari makan sendiri jika ia tak mau kelaparan. Anin kecil harus di suguhkan akan kerasnya alam di saat semua anak berkumpul bermain dan bersekolah, namun dirinya harus di hadapkan dengan panasnya terik matahari demi sesuap nasi.


Dan Anin kecil, dengan segala usaha serta upaya agar bisa membawa uang untuk di nikmati satu keluarga namun nyatanya apa! Pengorbanannya tak pernah di hargai, keberadaanya tak sekalipun di anggap.


Dan keluarganya tak pernah bertanya akan Anin.


Kamu kemana.


Bekerja apa.


Dapat uang dari mana.


Sudah makan kah.

__ADS_1


Atau permintaan maaf Ibunya kepada dirinya, jika selama ini dirinya belum bisa hidup dengan berkecukupan, meski Anin tak mengharapkan itu, bukan kah seorang Ibu sudah sepantasnya tak membebankan semua padanya.


Apakah di usia yang saat itu baru 13 tahun, Ibunya tak kuatir dirinya mendapat kan upah dari mana, ah tentu tidak! Karena Ibunya Abangnya semua tak ada yang perduli.


Yah, demi menyambung hidup dirinya rela jadi gadis penggoda, hingga sering juga terpergok anggota dari lelaki itu sendiri, hingga kata-kata umpatan kerap kali ia dengar dan kata-kata perempuan murahan sudah melekat ibarat baju yang menempel di badannya, maka julukan itu tak pernah hilang.


Di usianya yang terbilang muda dirinya sudah menjadi teman para lelaki hidung belang. Dosa yang ia perbuat dan menyakiti hati banyak para perempuan dan dirinya menjadikan yang haram menjadi halal, supaya keluarganya tetap makan, namun tanpa di duga hanya masalah dirinya yang tak mau di nikahkan hingga memutuskan ikatan darah, namun sekarang, sekarang mereka sampai memohon-mohon supaya dirinya mau kembali untuk mereka.


Entah lah, dirinya belum bisa untuk melupakan, dan masih di bayangi oleh rasa perih yang membekas.


"Apa yang gue lakukan sekarang,Tuhan apa aku berdosa membiarkan mereka dan mengabaikan mereka, jika iya. Maka bukan kah mereka juga berdosa pada ku karena sangat begitu tega terhadap ku" Dalam renungan malam dan menatap cahaya lamu Anin bergumam.


Kring..


Kring..


Kring..


Dering gawai membuyarkan nya. Dan ia segera bangkit untuk melihat siapa malam-malam meneleponnya.


"Dokter Fadlan, mau apa dia" Gumam nya.


["Halo, iya kenapa?"] tanpa basa-basi Anin bertanya.


["Iya kamu, mengganggu dan membuyarkan saya, di saat saya lagi bernostalgia dengan kenangan saya."]


Hehehe.


["Maaf ya,"]


["Tak masalah."]


["Saya hanya ingin tau keadaan kamu saja,"]


["Apa kamu sedang memberi perhatian kecil terhadapku?"]


["Yah bisa di bilang begitu,"]


["Oh, ayo lah Dokter Fadlan yang terhormat, berhenti lah berlaku seperti itu."]


["Ayo lah gadis kuat, kenapa harus tak boleh, apa kau takut suka padaku,"]


["Mana mungkin, jangan mimpi ya kamu! Carilah perempuan yang sebanding dengan mu, karena kualitas itu penting."]

__ADS_1


["Lantas saya harus membuka segelnya dong supaya tau kualitasnya bagus atau tidak."]


[" Aish menyebalkan."]


["Ya sudah tidurlah gadis kuat ini sudah larut malam, ingat kesehatanmu jauh lebih berharga termasuk di..."]


Ucapan terhenti, entah apa yang ingin di katakan nya. Namun terlihat murung.


["Apa ada yang ingin kamu lanjutkan tentang ucapan yang terhenti."]


["Tidak! Ya sudah cepat lah tidur,"]


["Baik lah."]


Sambungan telepon pun terputus.


Pukul 22:00 malam.


Anin tak kunjung bisa memejamkan mata, karena dirinya harus berusaha menutup luka di hatinya untuk bisa berdamai dengan keadaan yang sekarang.


Bagaimana pun dirinya terlahir dari perempuan yang sudah menelantarkannya dan tak pernah perduli akan dirinya, siksa batin jauh lebih sakit daripada luka di sekujur tubuh.


Hingga pukul satu dini hari ia masih gelisah, dan tak bisa tidur sama sekali. Apa ini tanda jika dirinya masih peduli dengan orang-orang yang pernah menyakitinya serta memberi luka pada hatinya.


Dan apa ini tandanya jika dirinya tak bisa memungkiri kalau dirinya masih berharap akan mereka yang memberikan kasih sayangnya padanya. Semuanya membuatnya dilema.


Sedangkan di sisi lain.


Fadli sama halnya dengan Anin, sama-sama tak bisa memejamkan mata. Jika Anin memikirkan dan menimbang matang-matang, justru ini sebaliknya.


Fadli tak bisa berhenti memikirkan gadis yang bernama Anindiyah, gadis yang pernah menjadi pasiennya. Namun pesona gadis itu membuat jantungnya berdetak begitu cepat.


Apa itu tandanya dirinya sedang merasakan jatuh cinta 'Cinta' membuat orang buta termasuk dirinya. Kira-kira seperti itulah.


Nin apa saya jatuh cinta sama kamu, tiap kali mengingat wajah kamu, mengapa hati ini berdebar, atau mungkin kah saya punya kelainan jantung, sepertinya tidak! Wajahmu begitu dingin saat di pandang, dingin sedingin es batu, tapi aku yakin suatu saat akan mencair, bila terkena sinar matahari.


"Maaf, diam-diam saya mengambil gambar kamu" gumamnya.


'Cantik' satu kata yang lolos dari bibir seksinya.


Lagian siapa yang tidak terpesona oleh wajah tampan milik Dokter Fadli, tinggi putih hidung mancung serta badan yang tegap mampu menyihir para kaum hawa, jika di bandingkan dengan Alex maka nilainya 12 12.


Sama-sama rupawan, dan kaya.

__ADS_1


Membuat Anin sadar diri jika dirinya terlalu tak pantas jika bersanding dengan keduanya.


__ADS_2