Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 62 . Kepergian Mu Adalah Lukaku


__ADS_3

Sang fajar telah tiba, dan matahari pun mulai menampkkan sinarnya, dan mulai memberikan setitik harapan bagi semua insan untuk menjalani aktivitas seperti biasanya.


Di dalam kamar ICU, hanya ada mereka berdua, Anin dan Niko.


Kini Anin sudah sadar sepenuhnya dari tidurnya, dan kini ia merasa kan sesuatu yang tak biasa.


Di luar, Di luar hujan rintik-rintik membasahi pepohonan dan jalanan.


Aneh, tadi pagi matahari yang sangat cerah kini berubah mendung, dan langit pun menangis.


"Kak, bangun Kak."


Masih tak bergeming.


"Kak Niko, bangun! Apa kau semalaman tertidur dengan posisi yang masih sama dengan semalam" anin berbicara sendiri karena ia merasa kasihan dengan posisi Niko yang miring, dan tangan pun masih menggenggam erat jemarinya.


"Kak, kenapa Kakak tangannya Dingin banget, apa Kakak semalam tak memakai selimut" Gumam Anin lagi.


Lagi-lagi Niko tak merespon dan masih di posisi semula.


Merasa ada yang aneh, lalu Anin mengguncang tubuhnya, alhasil tubuh tegap milik Niko, terlentang tanpa nafas.


"Enggak mungkin, ini enggak mungkin. Kakak jangan becanda, bangun Kak, aku mohon bangun" Anin mencoba membangunkan dengan dengan di penuhi air mata yang tak tertahan. Berharap ini hanyalah mimpi.


Bukankah semalam Niko sudah sadar.


Dan bukankah Niko juga sudah bisa membuka mata dan berbicara dengannya. Lantas permainan apa ini sekarang.


Hiks..


Hiks..


"Bangun Kak, bangun"


Dengan baju berwarna khusus bagi pasien ICU, Anin keluar dengan kursi rodanya untuk memanggil Bu Susi.


"Ibu. Huhuhu, Kak Niko Bu, Kak Niko,"


"Kenapa sayang dengan Niko, bukannya kamu harus senang karena Niko sudah sadar." Namun yang di ajak bicara malah menangis tersedu-sedu. Membuat Bu Susi tak berpikir lama Akhirnya masuk, dan kebetulan Seorang perawat dan dokter menuju ke ruangan.


"Dokter."


"Jangan masuk dulu, saya akan memeriksanya terlebih dulu,"


"Dokter," Anin memanggil dengan suara yang serak dan mencegah dokter untuk memeriksanya, dan itu pun percuma karena baginya Niko tak bernafas.


"Anin, biarkan saya memeriksa," Dokter muda itu pun sedikit memberi penjelasan.


"Kak Niko, Kak Niko pergi Dok. Kak Niko ninggalin aku."

__ADS_1


"Apa itu artinya."


Anin mengangguk, dan membuat sang dokter langsung bernafas berat.


"Ya sudah kalian masuk." Ujar dokter muda itu.


Niko.....


"Bangun sayang bangun, jangan tinggalin Ibu nak. Huhuhu."


Bu Susi pun tak kalah histerisnya saat melihat putra satu-satunya sudah tak memiliki nafas.


Ruangan ini semkin berputar-putar, gelap, kenapa semua menjadi gelap gulita. Hingga Anin tak sadarkan diri.


"Sus rupanya Anin, pingsan segera bawa dia ke kamarnya." Titah dokter itu pada perawatnya.


Sedangkan Ayah serta Adik Niko sudah berkumpul untuk mengurus Jenasah Niko, agar segera di kebumikan.


Sakit, begitu sakit. Saat kita kehilangan seseorang yang teramat berharga.


Tak menyangka kepergian Niko, membawa luka yang dalam. Termasuk Anin.


Disaat dirinya di janjikan kebahagiaan nyatanya tuhan tak adil, dengan membawa Niko pergi meninggalkan sakit.


Sakit kehilangan.


Sakit, atas kepergiannya.


Sakit, dirinya pergi dengan cara seperti ini.


Tetapi Niko sudah tak merasakan sakit lagi, selama hampir dua minggu berada di RS.


Di kamar inap di mana Anin masih belum membuka mata, sedangkan kedua temannya setia menunggu walau mereka sudah tau kabar buruk yang menimpa Niko.


Dan mereka sengaja menunggu Anin siuman, setelah itu mereka akan datang ke rumah milik keluarga Niko.


"Sayang cepat lah bangun, apa kamu tak ingin memandangi ku untuk saat ini,"


Di dalam mimpi Niko membelai halus pipi Anin, saat matanya terpejam.


Dan berusaha membangunkan, tak lama kemudian Anin terbangun dan memandangi wajah lelakinya itu.


"Sayang cepat lah bangun, aku harap kamu akan menemukan lelaki yang jauh lebih baik dari aku."


"Gak ada yang lebih baik dari Kakak."


"Ada! Lelaki yang bersamamu saat ini, dan teruslah bahagia dan jangan putus asa, Kakak yakin suatu saat kebahagian itu datang menghampirimu."


"Kakak pamit, Kakak Ikhlas jika kamu bersama."

__ADS_1


Apa itu artinya Niko mau kalau Anin bersama Alex! Entah lah.


Saat dirinya akan menyebutkan lelaki yang di maksud nampaknya Niko perlahan menjadi kepulan asap dan menghilang dengan perlahan.


ALEX..


Setelah terbangun, tanpa sadar mulutnya memanggil nama lelaki yang di maksud Niko.


"Aku di sini, kamu yang tenang ya." Merasa terpanggil Alex pun mendekat dan menenangkan Anin, tang di landa kehancuran.


"Apa Kak Niko sudah di makamkan." Dengan deraian air mata, Anin masih sangat berat untuk bisa menerima segala takdir yang tuhan berikan.


"Sudah hampir satu jam yang lalu Jenasah di bawa pulang." Ucap Alex.


"Gue mau ke sana,"


"Tapi Elu masih lemas Nin."


"Gue kuat Ntan."


"Ta.." Perkataan Intan tak di gubris, Anin bersikeras untuk tetap datang kerumahnya Alex.


"Gue mau ke sana! Apa kalian gak denger."


"Ok, kita ke sana! Tapi usahakan kamu yang tenang dan harus kuat, janji." ucap Intan, karena Intan tak mau jika nantinya kenapa napa dengan sahabatnya itu.


"Ya sudah aku bantu ya, dan kita akan naik ke mobil saya." Alex menawarkan bantuan untuk menggendong Anin, dan di bawanya ke dalam mobil, sedangkan Intan bertugas membawa kursi roda.


Ternyata sesampainya mereka bertiga ke kediaman Niko, hanya ada sebagian pelayat. Karena ternyata Niko sudah di bawa ketempat peristirahatan terakhirnya.


Dan mereka pun menuju ke makam, di mana Niko di tempatkan.


Satu kata yang ada di hati Anin 'Sakit' dan teramat sakit. kebahagian yang semula datang kini pergi seakan tak mau mendekatinya.


Sesampainya Di makam.


"Anin, sayang. Ikhlaskan kepergian Niko ya sayang." Bu Indah berjalan ke arah Anin lalu memeluknya begitu erat.


"Apa Ibu dan yang lainnya akan menyalahkan saya."


"Tidak sayang, karena ini semua sudah menjadi jalannya."


"Semua ini sudah takdir Nin, siapapun akan kembali juga pada sang maha kuasa, kecelakaan ini hanya semata-mata perantara."


Ucap suami dari Bu Susi, kuat tapi rapuh.


Mencoba tegar sejatinya dia adalah pohon yang tua, jika terkena terpaan angin maka akan tumbang. Sama halnya dengan Anin.


"ingat Kak, aku pun bersedih atas kepergian Kak Niko, apalagi dengan cara seperti ini, tapi aku berusaha kuat, meski di hati ini menangis pilu. Jika kita semua bersedih kasihan Kak Niko. Karena yang ia butuhkan bukanlah kesedihan dari kita, namun doa lah yang ia tunggu."

__ADS_1


Kata-kata yang terlontar dari mulut bakal calon adik iparnya, seperti pisau yang menusuk begitu dalam langsung mengenai jantungnya.


Dan ada benarnya juga apa yang di katakan Nisa, jika semua orang bersedih walau sangat kehilangan, hanya Doa lah yang jadi pengantar agar beliau beristirahat dengan tenang.


__ADS_2