Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 48. KEDATANGAN EDI


__ADS_3

Sesampainya Alex di kos Anin.


Tok.


Tok.


Tok.


"Iya sebentar!" teriak Anin.


Ceklek.


"Kamu,"


"Bisa kita ngobrol sebentar," ucap Anin.


"Boleh," timpal Anin.


Dan mereka pun duduk di luar kamar.


"Boleh saya tanya sesuatu sama kamu," ucapnya kepada Anin.


"Apa ada yang penting, sepertinya serius," tukas Anin.


"Sedikit," jawab Alex.


"Mau tanya apa?" tanya Anin.


"Apa kamu mengenal Erika Salsabila," ucap Alex.


"Apa elu mengenalnya juga," tanya balik Anin.


"Iya, karena dia dulu yang mau di jodohin sama saya waktu itu, tapi saya menolaknya," terang Alex.


"Gue kenal saat bocil waktu itu, dan Erika dulunya mantan Kak Niko," ujar Anin.


"Terus," lanjut Alex.


"Kak Niko dulu pernah di khianati, karena yang dia tau kalau Kak Niko hanya lah lelaki tanpa kasta."


Lalu Anin pun menceritakan semua kejadian pertama kali bertemu hingga menjadi musuh sampai sekarang.


Dan Anin pun tak menyangka bahwa wanita yang akan di jodohkan dengan Alex ternyata Erika si ulet bulu.


"Jadi gitu ceritanya."


"Terus maksud kamu apa dengan menanyakan soal Erika, dan bagaimana elu tau kalau gue kenal sama dia," ucap Anin lagi. Karena dirinya penasaran apa maksud dari ini semua.

__ADS_1


"Saya tidak sengaja mendengar percakapan dirinya lewat sambungan telepon, sewaktu berada di resto," ujar Alex, yang membeberkan perihal Erika pada Anin.


"Jadi,"


"Iya,"


"Bener-bener keterlaluan" gumam Anin.


Setelah dirinya mendapat informasi lewat Alex, tak sekalipun Anin ingin membalas akan kelakuan yang bisa membahayakan dirinya.


.


.


.


.


.


Saat Anin hendak beristirahat karena badannya benar-benar lelah, akan tetapi suara ketukan membuyarkan nya saat dirinya hendak memejamkan mata.


Tok.


Tok.


Tok.


Dengan helaan nafas yang berat Anin akhirnya bangun untuk membuka pintu.


Ceklek.


Saat pintu sudah terbuka betapa terkejutnya Anin, melihat siapa yang datang.


"A-ada ke-keperluan apa sehingga membuat elu kesini?" tanya Anin pada lelaki yang berada di depannya.


"Apa gue gak boleh kesini," ucapnya.


"Jika hanya modus lebih baik elu pergi, karena di antara sudah tidak ada sambungnya," ucap Anin dengan menahan gejolak yang ada di dadanya.


"Apa kamu menganggap ucapan Ibu serius, sehingga kamu pun menanggapinya," ujarnya.


"Apa kamu buta tak bisa melihat mana yang serius dan mana yang tak serius, jika tak ada yang penting lebih baik pergilah," seru Anin pada Edi Abangnya.


Anin pun tak menyangka bahwa Edi, tiba-tiba datang menemuinya, dan Anin yakin kalau kedatangannya pasti ada maksud terselubung.


"Hye, aku kesini dengan cara baik-baik ya, dengan seenaknya kamu ngusir gue," ucap Edo.

__ADS_1


"Lantas apa yang membawamu kesini, oh ya saya tau. Uang kan yang elu butuhin,"


"Cerdas kau ya,"


"Tapi sayang sepeserpun gue gak akan ngasih, ngerti elu," ucapan la tantang yang di lontarkan Anin, membuat sedikit nyalinya ciut.


Bisa gagal kalau begini caranya, dan Anin bukan lah Anin yang dulu, dirinya sudah berubah total. Ucapnya dalam hati.


"Kenapa elu diam, hah."


"Baik kalau elu kagak mau ngasih,berarti emang yang di bilang Ibuk bener, kalau elu emang lahir dari batu," ucap Edi, dengan cara mencari celah berharap rencananya akan berhasil.


"Gue kagak peduli dengan omong kosong elu,karena bagi gue kalian sudah mati! dengar itu.


Kemarahan Anin yang tak bisa ia bendung, dengan hati yang menahan rasa sakit serta kekecewaan ya ia terima dari orang yang akan melindunginya, namun nyatanya semua hanya sandiwara.


" Baik kalau kamu memang tak menganggap kita mati, setidaknya kamu bisa membantu pengobatan Ibu, dan anggap itu sebagai jasamu sebagai ganti susunya,"


"Jika pun apa yang elu ucapkan memang bener, bukan kah tanggung jawab Ibu ada pada anak lelaki, jadi seharusnya kamu yang harus di andalkan bukan saya,"


Saat Anin dan Edo sedang adu mulut, tiba-tiba seseorang datang menghampiri.


"Maaf anda siapanya Anin ya kalau boleh tau," tanya lelaki itu.


"Saya Abang nya,"


"Tidak, dia bukan saudara saya," sahut Anin.


"Dia seorang benalu yang selalu hinggap di pundak gue," ucap Anin lagi.


Alex, Alex sengaja datang ke kosnya Anin, untuk mengajaknya keluar makan, namu setelah beberapa menit saat dipandanginya ternyata memang ada yang tak beres, dan Akhirnya Alex pun berinisiatif untuk turun dari mobil lalu berjalan kearah mereka berdua.


"Kenalin gue Edo, dan gue kesini baik-baik malah cewek elu ngajak berantem," ucap Edi santai.


"Tutup mulut elu, dan jangan banyak bicara apalagi sok kenal," yah semakin di ladeni maka semakin menjadi.


"Ok, gue akan balik tapi gue minta uang buat naik bus,"


"Gak ada yang nyuruh elu kesini ngapain gue harus repot-repot ngasih uang ke elu," gertak Anin.


"Kalau elu kagak ngasih, maka gue akan berteriak supaya semua orang tau kalau elu anak durhaka, Ibunya sekarat malah elu nya kagak peduli," setiap perkataan yang di lontarkan oleh Edi, seakan ini itu adalah ancaman semua orang membenci Anin.


"Elu ngancem gue,"


"Yah mau gimana lagi dong."


"Sekarang pergilah dan jangan mengganggu Anin, jika kamu masih berani menggangunya maka akan berhadapan dengan saya! Sekalipun kamu Kakaknya." Alex terpaksa memberikan beberapa lembar uang, agar Kakaknya tak akan membuat gaduh di tempat ini.

__ADS_1


"Lekas ini kita bicara." ucap Anin pada Alex, karena dirinya merasa tak enak, demi harga diri Anin, Alex ikut terseret dari masalahnya.


__ADS_2