
Dua hari sudah Anin menginap di rumah Niko, dan hari ini ia akan kembali lagi ke kota S, karena Mami sudah menelpon agar ia segara kembali lagi untuk bekerja.
"Kamu jadi kembali hari ini Nin, kenapa gak cari kerja di sini saja to, atau bisa juga bantuin Ibu, di gudang." Usulnya pada Anin, dan memintanya untuk kembali bekerja di tempat dulu saat-saat awal pertemanan mereka semakin akrab hingga saat ini.
"Gak Bu, saya ingin mencari pengalaman di kota S, dan mencari jati diri yang sesungguhnya." Maaf ya Bu, terpaksa saya berbohong dan tak mungkin saya berkata jujur tentang pekerjaan yang selama ini saya lakukan, dan maaf karena saya belum bisa menjadi wanita yang baik di depan Ibu.
dalam keheningan ,Anin mencoba tak menangis karena kebohongan yang selama ini ia simpan. Dan keluarga yang ia perjuangkan kini sudah tak ada lagi ibarat setitik debu yang diterpa Angin hilang seketika, dan demi rasa hormatnya pada sang Ibu , hingga ia harus rela menjadi tumpukan sampah sampai ada yang memungutnya.
"Ya sudah Ibu hanya bisa mendoakan kamu, baik-baik lah di sana. Dan jangan lah memberatkan pikiranmu terhadap keluargamu yang selama ini tak pernah menganggap kamu ada."
"Dan ingat Nin, Ibu selalu ada untuk kamu, jadi jangan sungkan jika kamu membutuhkan sesuatu dan anggaplah Ibu sebagai orang tua kamu ya Nak." Tambahnya lagi.
Anin pun tak kuasa menahan tangis, dengan linangan air mata ia langsung memeluk perempuan paruh baya di hadapannya dengan di iringi isak tangis ia pun memeluk erat tubuh Ibu Susi.
Lantas Bu Susi pun, mengelus rambut hitam milik Anin, dengan begitu penuh perasaan.
"Menangis lah jika itu bisa mengurangi rasa sesak di hati kamu, keluarkan air matamu hingga kau pun tak bisa mengeluarkannya lagi.
Huhuhu.. "kenapa Bu! kenapa aku yang harus menjalani hidup seperti ini."
"Percaya lah Nak, selepas hujan akan ada pelangi yang memberi warna di kehidupan kita."
Hiks..hiks..hiks..Tangis Anin pun semakin pecah. Berharap ia akan mempunyai orang tua yang begitu menyayanginya serta memberi seluruh kasih sayang kepadanya, namun nyatanya itu hanyalah semu, dan harapan yang tak pernah terjadi sekarang maupun nanti.
"Nin, ada aku sama Ibu, jangan lah kamu berkecil hati. ada kami yang sayang sama kamu dan kamu tak sendiri jadi kamu jangan sedih ya." Niko, berusaha menenangkan Anin yang kini merasa terpukul atas kejadian yang menimpanya.
Sedari tadi Niko hanya diam sesekali menyimak obrolan mereka berdua, namun nampaknya setiap kata yang mereka bicarakan membuat Anin, bertambah terpukul.
Ibunya Niko pun melepaskan pelukannya dari Anin, dan mengusap air mata yang sedang membasahi pipi milik gadis ayu itu.
"Sudah ya, jangan bersedih lagi, Ibu yakin kalau kamu adalah perempuan kuat, terus lah kejar apa yang kamu impikan hingga itu semua terwujud."
__ADS_1
"Ingat Nin, balas lah rasa sakit hatimu dengan menjadi orang sukses, dan jangan lah kamu membalas dengan cara yang sama juga, ngerti kan kamu maksud Ibu." Imbuhnya lagi.
Aku pun langsung mendongakkan kepala ku agar sejajar dengan beliau. dan aku pun menyimak apa yang di ucapkan nya barusan.
"Apa kamu ada keluarga yang lain selain di kota ini?" ujarnya lagi.
"Punya Bu, tapi aku tak berharap lebih dari mereka, setelah Bapak Meninggal Tak ada yang ingat akan."
"Sudah jangan di teruskan, Ibu tau apa yang hendak kamu katakan. Ya sudah berangkat lah nanti keburu malam sampai sana, dan kamu pun tak bisa istirahat nantinya sebelum melanjutkan aktivitas."
"Makasih ya Bu, udah mau jadi orang tua pengganti yang baik dan mau menerima kekurangan saya."
"Tak perlu berkata seperti itu, karena itu sebagian dari kewajiban orang tua." Dan kini wajah Bu Susi beralih kearah Niko.
"Niko, berhati-hati lah kamu dalam berkendara,"
"Baik Bu, kami pamit dulu." Pamitnya Niko pada Ibunya.
"Iya kalian juga hati-hati, dan apa kamu gak sebaiknya bawa mobil saja dari pada naik motor," usulnya pada Niko.
"Ya sudah kalau mau kamu, yang penting hati-hati." Ucapnya lagi.
Dan kini mereka berdua sudah keluar dari dalam rumah, dan bersiap akan berangkat menuju kota S, dimana Anin yang selama ini berjuang untuk mengais rejeki.
"Bu kami pamit ya, assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam." Jawab Bu Susi.
Di kendaraan tak ada yang pembicaraan hanya ada keheningan, dan semilir angin membawa kami larut dengan pikiran masing-masing.
Bugh.." Auw sakit Kak!" teriakku pada lelaki yang saat ini tengah membonceng ku.
__ADS_1
"Kamu juga gak ada pegangan, giliran kejedot nyalain orang."
Lah aku yang kejedot kenapa situ yang marah sungutnya dalam hati.
Salah sendiri orang dari tadi di anggurin, gak ada romantis-romantisnya pula huh. Makinya dalam hati karena merasa di abaikan jadilah Niko usil dengan cara begitu.
"Lah ini juga udah pegangan," jawabnya enteng.
"Mana orang kagak kerasa gitu." Serunya pada Anin.
"Ini kan udah nih, nih udah kan."
"Di kira gue tukang ojek apa! lu pegangan pundak gue!" sergahnya.
"Yeah.. Lu kok sewot sih, emang lu ngerasa jadi tukang ojek emang." Lah mereka kok jadi berantem yah, hanya karena Anin gak mau pegangan.
Dasar Cowok resek! lu yang salah kenapa gue yang di marahin, dasar ogeb. gerutu ku dalam hati, karena masih kesal akibat ulah Niko.
"Kenapa lu diam jangan bilang kalau lu lagi ngumpat gue."
"Awas!"
Bugh.
"Aish, kalau lagi nyetir fokus kenapa kejalan! ini yang kedua kalinya, mau kalau aku gagar otak gara-gara kepentok sama helem lagi." Saat Anin di buat kesal dan memarahinya karena tanpa sengaja saat mereka berdebat, Niko bukannya pelan saat melewati polisi yang sedang berbaring di tengah jalan eh, malah melewatinya dengan kasar. Andai kata polisi tidur itu bisa berkata bisa jadi kita dapat olokan dengan kata sukur..
"Lagian Kakak juga pengen kali ngerasain pacaran kek kebanyakan orang."
" Mohon mangap nih ya, sejak kapan aku nerima Kakak jadi Pacar, dan maksud Kakak, pengen ngerasain pacaran kek kebanyakan orang." Pertanyaan beruntun di lontarkan pada Niko, hingga ia mati kutu di buatnya.
Kini mereka berhenti di pinggir jalan karena merasa Niko, perlu menjelaskan akan statusnya yang ingin di akui Anin sebagai kekasihnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akan kah sebentar lagi Anin akan menemui kebahagiaan bersama dengan Niko.