Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB. 81. Meminta Restu


__ADS_3

Kau hadir membawa cinta dan menawarkan kebahagiaan padaku. Penantian berujung penyesalan tapi, itu sesaat.


Retnosari...


Pagi telah datang suara burung saling bersahutan, dan begitu pula dengan suara ayam jantan yang berkokok.


Pukul 6:00.


Anin sengaja tak bangun karena dirinya masih di landa oleh rasa canggung yang menyelimuti.


Hanya Bu Indah saja yang berada di dapur untuk memasak yang akan di buat sarapan pagi ini, meski begitu. Bu Indah terlihat bahagia dengan pekerjaan rumah.


Sedangkan di dalam kamar, Anin masih setia dengan selimutnya.


Kamar ini sama sekali tak berubah, dan masih menyisakan luka yang teramat pedih.


Cukup bosan dirinya harus berdiam di kamar, dan membuat bertambah jenuh. Saat dirinya akan bangun terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Iya sebentar." Teriak Anin.


Lalu Anin menyibakkan selimutnya dan turun untuk membuka pintu tersebut.


Ceklek.


"Nin." Sapa Bu Indah.


"Maaf baru bangun." Anin sengaja berbohong jika dirinya baru saja bangun, nyatanya dirinya bangun sedari pagi tadi. Hanya saja Anin enggan untuk bangun.


"Tidak Apa-apa, Ibu cuma bilang, bangunkan nak Alex Ibu sudah membuatkannya cemilan pagi." Bu Indah berujar sambil keluar dari kamar Anin.


Anin tak menjawab, tapi dirinya menuruti perkataan Ibunya untuk membangunkan Alex.


"Lex, bangun!" Anin mengguncang tubuh kekar Alex, namun Alex masih enggan untuk membuka mata.


"Lex, oh ayo lah bangun." Untuk yang kedua kalinya Anin membangunkan, namun nihil.


"Tidur udah mirip kek orang mati saja, di bangunin gak bangun-bangun." Sungut Anin yang merasa kesal untuk kesekian kalinya Alex masih belum ingin meninggal kan dunia mimpinya.

__ADS_1


Ah, gue ada ide. Dengan senyuman yang menyingrai lalu Anin memencet hidung Alex, lebih tepat nya untuk di buat mainan.


Setelah hidung, kini tangganya beralih ke kakinya yang kebetulan Alex menggunakan celana pendek.


"Auh, sakit sayang. Itu bulu bukan mainan." Alex berkata dan memperlihatkan wajah kesalnya pada Anin.


Pengen di bangunin dengan cara di cium atau di panggil sayang, eh ini malah buat mainan hidung sama bulu kaki di cabut, udah mirip kek ayam saja main cabut. Gerutu Alex dalam hatinya.


"Makanya kalau orang bangunin itu, buruan bangun bukan malah pura-pura gak denger." Anin sengaja melakukan itu, karena ia tau kalau Alex sedang berpura-pura untuk tetap memejamkan mata.


"Iya, iya sayang, gitu saja ngambek ini uda bangun kok." Niat ingin dapat panggilan romantis malah yang ada dirinya sendiri yang kena batunya.


Setelah di kerjain Anin, pun melengos pergi meninggal kan dirinya yang masih termenung karena telah membuat Anin marah.


Baru juga dirinya akan berdiri, tapi dirinya sudah di suguhkan dengan pemandangan yang tak pernah di alaminya. Pasalnya Anin keluar lagi dengan membawa sepiring pisang goreng dan secangkir kopi hitam yang masih mengepul bertanda bahwa kopi baru saja di buat.


"Eh kirain kamu marah sama aku lho sayang," ucap Alex lembut.


"Tadinya iya, berhubung Ibu nyuruh buat nganter ini makanan jadi terpaksa aku lakukan." Sungut Anin yang masih dengan nada ketus nya.


"Sayang kapan kita kembali, aku ada kerjaan," Alex mencoba bertanya kira-kira berapa hari di sini dan kapan akan kembali, sekarang. Alex menunggu jawaban dari Anin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


DI MAKAM.


"Kak maaf lama gak gak datang menjenguk Kakak, ku harap kakak tidak marah." Ucap Anin sambil mengelus nisan yang ada di depannya ia berkata panjang lebar.


"Oh iya Kak, restui aku dengan Alex seperti yang Kakak mau, sekarang aku menjalin hubungan dengan Alex." Anin lantas memegang tangan Alex dan meminta restu pada nisan yang terdapat nama Niko.


Jadi selama ini, Niko ingin saya dengan Anin, dan baru sekarang Anin berkata jujur di depan ku. Batin Alex di dalam hatinya, karena ia sangat terkejut bahwa dirinya mendengar rahasia yang di simpan rapat oleh Anin.


"Nik, kami kesini meminta restu sama kamu, dan saya berjanji kalau akan membuat Anin bahagia dan tak akan pernah saya menyakitinya maupun meninggalkannya." Kini giliran Alex yang berbicara.


"Ya udah Kak, Anin sama Alex pulang dulu ya." Akhirnya mereka berdiri makam Niko, dan segera berjalan menuju ke mobil.


Alex membukakan pintu mobil untuk Anin, dan setelah itu membuka pintu mobil untuk dirinya juga.

__ADS_1


"Nin boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Alex pada Anin.


"Mau tanya tentang apa." Timpal Anin.


"Soal barusan saat kita berada di makam." Ujar Alex.


"Yang mana," jawab Anin.


"Jangan bilang kalau kamu lupa." Ucap Alex dengan sedikit menekuk wajahnya.


"Aku memang sedang lupa Lex." Timpal Anin lagi.


"Menyebalkan." Alex ingin sekali bertanya tetapi dengan Anin keadaan lupa membuat nya tak bisa berbuat apa-apa.


Tak terasa mereka berdua sudah sampai di rumah Bu Indah.


"Kalian sudah pulang." Saat mereka turun ternyata Bu Indah sudan menyambut Alex dan Anin.


"Iya Bu, karena memang kita gak kemana-mana kok." Anin mencoba menghilangkan kecanggungan itu tersebut dengan cara berantraksi dengan Ibu nya.


"Oh iya Bu, hari ini kami akan kembali di karenakan Alex sedang ada pekerjaan dan benar-benar tidak bisa di tinggalkan." Ujar Dia lagi, sekalian ia menyampaikan tentang kembalinya mereka untuk ke kota S, lagi.


"Lho bukannya kalian bilang akan menginap untuk beberapa ke depan." Seakan Bu Indah tak rela jika Anin keluar dari rumah tersebut.


"Nanti kapan-kapan kalau kami ada waktu senggang, kami akan berkunjung lagi kesini Bu, jadi Ibu jangan kuatir." Alex mencoba memberi penjelasan pada Bu Indah, dan berharap beliau akan mengerti.


"Baik lah, tapi kalian harus janji untuk sering-sering kesini." Bu Indah meminta kepada mereka agar sering mengunjunginya.


"Pasti Bu." Jawab Alex.


"Ya sudah sekarang waktunya makan, segera lah bersih-bersih karena kalian sehabis dari makam dan lekas makan siang." Bu Indah menyuruh keduanya untuk bersih-bersih karena baru pulang dari makam.


Tak berapa lama kemudian kini keduanya sudah bersih dan mereka tengah berada di meja makan.


"Bu, sebenernya tujuan kami kesini untuk meminta restu. Karena kami ingin ke jenjang pernikahan dan membangun rumah tangga yang bahagia." Akhirnya Alex menyampaikan tentang tujuannya pada Ibunya Anin, dan tentunya meminta izin untuk menikahinya.


"Ibu merestui kalian, dan semoga kalian di beri kebahagiaan selalu." Ujar Bu Indah, dan tentunya beliau turut bahagia mendengar berita tersebut.

__ADS_1


"Terimakasih ya Bu, Ibu sudah memberikan Anin pada saya." Ibunya Hanya tersenyum, dan sesekali melirik ke arah putrinya, Anin. Yang tak kalah senangnya saat Alex dengan gamblang meminta restu untuk menikahinya.


__ADS_2