
Tak terasa waktu panjang dan jalan terjal sudah di lalui oleh Anindiyah. Setahun sudah Anin Dan Niko telah menunggu saat-saat bahagia untuk segera di genggamnya. Dan mereka berdua sudah merencanakan hari dimana mereka berdua akan pergi ke butik untuk melakukan fitting baju pengantin, karena acara akan di gelar dua minggu lagi.
Anin yang berada di balkon berdiri termenung menatap langit yang di penuhi oleh awan, berdiri, tatapan yang kosong seperti hatinya yang hampa, tanpa ada yang menyinari hidupnya dan hatinya, dan hari-harinya. Berharap saat dirinya duduk di atas pelaminan dirinya di gandeng oleh sosok Ibu, namun semua itu hanyalah mimpi yang selalu menjadi khayalan di sepanjang waktu, namun tak bisa menjadi kenyataan.
Dengan nafas yang tak beraturan serta pikiran yang tak bisa di ungkapkan membuat dirinya dilema, karena tak seperti biasanya Anin merasakan sesuatu yang tak bisa di artikan oleh pikiran yang tak menentu.
"Kenapa dengan perasaan ini, ini perasaan yang tak biasa. Seakan ada sesuatu tapi apa? Atau memang aku hanya terlalu berlebihan dalam mengartikan sesuatu dengan hanya mengandalkan firasat" ucap Anin lirih, karena memang dirinya benar-benar merasa tak tenang akan pikirannya yang melayang layang.
Yah setelah acara pertunangan setahun lalu di laksanakan, Niko memintanya berhenti di dunia malam, karena dirinya tak mau terjadi sesuatu yang akan membahayakan nyawanya, jadilah Anin hanya sesekali membantu pekerjaan Niko Di pabrik, selebihnya ia menyuruh untuk berada di rumah dan menyambut kepulangan calon suaminya, dan meninggalkan semua profesinya dimana dirinya bisa memenuhi semua kebutuhan hidupnya, dan juga meninggalkan sahabat satu-satunya. Meski mereka terpisah semua itu tak membuat hubungan antara Anin dan Intan putus. Karena mereka masih berhubungan lewat sambungan telepon.
"Hye sayang," Anin sangat terkejut karena tiba-tiba saja ada tangan yang melingkar di perutnya, dan menopang kan dagunya di bahu Anin.
"Kakak! Bisa gak gak ngagetin aku, mau ya aku mati karena terkejut," ucap Anin yang sangat kesal, karena menurutnya hampir setiap waktu dirinya di buat terkejut.
"Ssstt..Kamu gak boleh ngomong gitu, teruslah hidup untuk menjalani hari-hari yang penuh kejutan ini,"
"Habisnya Kakak seneng banget ngagetin aku,"
Jika Niko tahu kalau Anin sedang memonyongkan bibirnya, pasti dirinya akan tertawa karena gemas.
"Maaf ya sayang, nanti jika Kakak pergi tak akan ada lagi yang mengejutkan kamu," tanpa sadar Niko berkata seperti itu, dan membuat Anin merasa ada yang aneh, karena Anin teringat akan mimpinya melihat Niko yang tengah melambaikan tangan, seperti seseorang yang akan pergi jauh.
__ADS_1
Ish mikir apa sih gue, dalam hati Anin menggerutu.
"Apa Kakak akan meninggalkan aku," ujar Anin, berharap Jika itu adalah bunga tidur yang mengganggu diri ya saay terjaga dari tidur.
"Eum.. Maksudnya kalau Kakak kerja kan gada yang menjahili kamu kan," ucap Niko pada Anin.
"Tetaplah bahagia dan teruslah tersenyum meski kadang hidup terlalu kejam untuk kita," ucap nya lagi.
Kata-kata itulah yang membuat Hati Anin luluh dan menerima Niko dari yang sahabat menjadi kekasih, dan dua minggu kedepan sematan kekasih itu berubah menjadi istri, yah istri di usianya yang ke 21 tahun. Karena baginya Niko bukan lah sekedar sosok sebagai kekasih, tapi Niko juga mampu membuat Anin, menerima segala takdir yang di beri tuhan untuknya. Dengan sabar dan penuh ketelatenan, Niko membawa Anin jauh berpikir lebih dewasa, dan tak sekalipun dirinya dibutakan oleh dendam, karena ketidak adilan yang di terimanya.
Lekas Anin berbalik dan memeluk tubuh Niko dengan sangat erat, seperti seorang anak yang tak mau di tinggal oleh orang tuanya.
"Jangan pernah meninggal kan aku, kerena aku tak akan sanggup kehilangan Kakak," Anin yang sudah banjir dengan air mata di pelukan Niko. Perlahan tangan Niko membelai rambutnya, dan satu tangannya memegang erat punggungnya.
Di balkon seakan mereka yang terpisah selama bertahun-tahun dan menuangkan segala isi hati dan kerinduan dalam pelukan.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Sedang kan di lain tempat.
Setelah kepergian Anin, serasa ada yang hilang dari dalam diri Alex. Rasa tak semangat dalam melakoni hidup, membuat Ibunya sangat kuatir terhadap putra satu-satunya itu. Karena semenjak Anin berpamitan untuk meninggalkan kota S. Alex sering kali murung dan dan saat itu juga Alex tak pernah merawat diri, dengan rambut yang gondrong serta wajah yang sudah di penuhi bulu-bulu membuat orang mengira jika itu bukan lah sosok Alex yang di puja-puja oleh kaum hawa.
"Nin, sampai kapan pun aku selalu mencintai kamu, dan tak akan pernah berhenti untuk mendapatkan kamu" gumamnya.
Kasian Alex kehilangan perempuan yang sangat dicintainya, membuat dirinya tak karuan. Batin Bu Susi yang tengah menatap Alex dengan perasaan pilu.
Perlahan Bu Susi menghampiri anaknya yang berada taman belakang yang di beri kolam ikan, dan Alex duduk di pinggiran kolam, pikirannya kacau, hatinya benar-benar merasa tercabik-cabik jika teringat Anin yang memilih Niko sebagai suaminya. Diam dan tatapan kosong namun jiwanya terus mengingat satu nama yakni Anindiyah.
"Lex, apa kamu ingin sesuatu untuk kamu makan atau kamu minum," suara Ibunya membuat Alex seketika menoleh ke belakang.
"Tidak Bu, makasih," tolak Alex Halus.
"Nak lupakan masa lalu mu, dan mulai lah hidup yang lebih baik lagi, dulu Ibu memang tak menyukai Anin, karena sudah tega membohongi Ibu, dan mau kamu ajak menjadi pacar pura-puramu demi membuat hati Ibu senang, kamu melakukan perjanjian dengannya dan dari situlah Ibu menyimpulkan jika Anin bukan lah perempuan baik, tetapi kamu pun lebih mengetahui tentangnya daripada Ibu." Bu Susi berkata dengan panjang lebar sambil sesekali mengusap air matanya.
"Anin memang gadis baik Bu, dan aku tak salah dalam mengenalnya, meski Alex juga bersalah dalam melakukan sandiwara yang pernah kami perbuat," ucap Alex dengan wajah yang menunduk.
__ADS_1
"Tapi..Doa Ibu rupanya terkabul untuk kami tak bisa bersatu, saat Ibu mengetahui kebohongan kami,"
"Maaf Ibu nak, Ibu mau kamu kembali seperti Dulu lagi, Alex yang hangat, Alex yang ceria, bukan ini yang Ibu mau nak! Jika Tuhan masih mau mendengarkan doa Ibu, maka ucapan lalu akan Ibu cabut, dan meminta semoga kamu di pertemukan dengan perempuan yang kamu cintai." Bu Susi tak kuat menahan tangisannya.