
Dengan hati yang dongkol mau tak mau Anin pun ikut makan juga, namun dalam
hatinya ia terus menerus mengumpat Alex yang semaunya sendiri.
Karena badan Anin kecil dan porsi makannya hanya sedikit, ia memilih menyerah.
...🍀🍀🍀🍀🍀...
Tak terasa waktu bergulir dengan cepat, hari-hari pun berlalu, antara Anin dan Alex sudah tak ada ikatan kontrak kerja, dan sudah selesai sandiwara yang di perankan mereka berdua.
Dan kini di usianya yang ke 20 tahun, membuat ia semakin giat dalam bekerja, demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah karena ia nantinya akan berhenti bekerja saat ia nanti di per istri Niko. Hubungan antara keduanya semakin hari semakin dekat Dan Niko pun memutuskan menikahi Anin di tahun 2011 nanti, karena menunggu Adik dan sang ayah pulang dan berkumpul.
Keluarga yang bahagia bukan.
Namun satu yang membuat Anin, merasa sedih, di karenakan jika nanti ia menikah membutuhkan seorang wali.
Pikirannya kacau hatinya sedih, menahan nafas yang seakan berhenti di tengah tenggorokan.
Tak mungkin ia mengemis pada keluarganya karena ia telah di buang begitu saja, sungguh ia tak tau harus berbuat apa, jika saja di depan matanya terdapat pilihan, maka ia akan memilih sebagai anak yatim piatu.
Karena baginya mempunyai orang tua serta saudara tapi merasa tak punya.
"Akh, kenapa hidup gue harus begini" rutuknya.
"Udah lah mending gue cari duit, mumpung dapat mangsa" ujarnya lagi.
Saat lagi asik berjalan tanpa sengaja ia bertemu dan Erika, dan Rika pun langsung menghentikannya.
"Apa sih mau lu itu!" teriak Anin pada perempuan yang tiba-tiba memberhentikannya.
"Eh elu kagak usah nyolot,"
"Terus ngapain elu main cegat gue."
"Mau balas lu, mau ngapain lagi coba."
"Elu yang bikin masalah ngapa elu yang juga yang sakit ati sampai-sampai mau ngebalas gue."
"Dasar lu wanita murahan, dasar J*la*g." Rika terus saja mengumpat Anin, dan mengatai yang tidak-tidak, namun itu semua tak membuat Anin, di landa emosi.
Dan dengan tenang ia siap menghadapi perempuan yang baginya tak ada apa-apanya.
"Terus saja lu teriak, terus dengan elu teriak gue bakal memohon-mohon sama elu agar lu gak ngatain gue, gue rasa otak lu udah gesrek makanya teriak kagak jelas."
Entah lah kenapa ini hari gue apes banget, pikiran gue udah penuh masih saja harus di pertemukan dengan mahluk Tuhan yang satu ini.
"Eh j*al**g lu inget ya, gue bakal terus kasih lu pelajaran sebelum itu ngaca dulu, apa lu gak punya kaca sehingga lu gak sadar siapa lu siapa Niko.
" Oh jadi ceritanya lu sakit ati, gara-gara Niko ya, uluh-uluh kasian amat." Anin, bukannya marah malah menggoda dengan suara yang di buat-buat.
"Eh lu itu bukan siapa-siapa sedangkan Niko, Niko orang kaya keluarganya pengusaha lu itu gak pantes untuk mereka!"
"Terus yang pantes siapa dong, ouh gue tau jangan-jangan lu ya yang lebih pantes di tengah-tengah mereka."
__ADS_1
Pertengkaran mereka mengundang beberapa orang pejalan kaki, karena memang jalan yang di lewati cukup rame, dan kini mereka berdua dikerumuni oleh orang-orang.
"Secara gue kan kaya, bukan orang anak melarat kek elu."
"Iya gue tau, terus kalau elu orang kaya mau apa."
"Ya jelas gue lah yang pantes jadi istri Niko bukan kamu, yang hanya seorang J*l**g rendahan."
"Maka kau pun sama tak ada bedanya dengan seekor a*j*ng,"
"Apa maksud kamu."
"Sudah lah gue capek, jadi jangan ganggu gue lagi,"
Saat Anin akan melangkah melewati Erika, namun lagi-lagi di hentikan dan.
Akh.. Sakit sialan, lepas gak!"
Sebelum Anin melewatinya tadi, Rika sudah bersiap akan memberi tamparan padanya, namun sayang sebelum Erika menampar pipinya, Anin memelintir tangan Rika dan di putar lah tubuhnya hingga kedua tangannya berada di genggaman Anin.
"Inget gue sedari kecil, sudah berkeliaran di jalan jadi jangan coba-coba menyentuh anggota tubuh gue paham!"
Hore.
Sukurin.
Rasain kamu.
Makan tuh sakit.
"Auh..Auh. Iya lepasin tangan gue sakit. rengek Rika pada Anin.
"Ok, gue lepasin sekali lagi lu ganggu gue bisa-bisa patah kedua tangan lu." Ancam Anin pada Rika, karena kerap mendapat peringatan sayangnya tak di gubris dan kali ini, ia benar-benar muak akibat perbuatan Rika.
"Ish sakit banget" gumam Rika, namun bisa di dengar kan oleh Anin.
"Itu belum seberapa, jadi jangan macam-macam."
Setelah lepas dari cengkraman Anin, Rika buru-buru menaiki kendaraan dan merosot meninggal kan Anin, dan orang-orang pun sudah bubar karena bentakan Anin.
"Mimpi apa sih semalam hingga gue apes banget ini hari" ucap Anin sambil terus berjalan menyusuri jalanan yang begitu ramai.
.
.
.
Sedang kan Erika akan membalas rasa sakitnya dan rasa malu yang di perbuat Anin padanya.
Dan kali ini ia tak turun tangan sendiri melainkan akan menyuruh orang untuk menghajarnya.
"Lihat saja nanti apa yang bakal gue perbuat sama lu p*la*cur, kali ini lu gak bakal lepas dari gue" sambil tertawa jahat Rika telah menyusun rencana untuk membalas Anin.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀
30 menit kemudian sampai lah Anin di tempat ia janjian, dan di lihatnya lelaki sekitar umur 40 lebih sedang menunggu.
"Hye Om, maaf menunggu lama."
"Tak masalah."
"Siap untuk kita bersenang-senang," ucap lelaki dengan senyum yang menggoda serta mata yang di kedipkan."
"Siap Dong." Jawab Anin.
Dan kini mereka sudah berada di mobil dan menuju ke suatu tempat dimana mereka akan bersenang-senang.
Sesampainya di tempat mereka berada kini.
"Om, masuk duluan ya saya mau beli sesuatu dulu."
"Baik, jangan lama-lama."
Anin pun menaikan jempolnya pada laki-laki itu, dan yang kini sudah di penuhi oleh hasrat.
Ya Anin, telah menyiapkan sesuatu untuk mereka minum, dan tak lupa mencampurkan bubuk serbuk kedalam minuman yang nantinya akan di berikan pada lelaki itu.
Tok..tok..tok..
"Om Ini saya,"
"Masuk saja."
Terlihat pria dewasa itu sudah siap dengan menyalurkan nafsunya karena dia sudah melepaskan semua bajunya dan yang tersisa hanya lah kolor dengan gambar seponbob kuning bersama teman-temannya, dan ini lah waktunya Anin beraksi.
Anin pun risih di buatnya karena lelaki dewasa itu terus saja menghujam nya dengan ciuman yang bertubi-tubi saat ia di minta duduk di sebelahnya.
Aaaa.."saya sudah tak tahan." Ucap lelaki itu karena dia sudah merasa di puncak gunung dan ingin segera menuntaskan yang ia tahan.
"Tunggu!" cegah Anin.
"Ada apa lagi."
"Pemanasan dulu Om, gak enak jika tak melakukan pemanasan gitu." Dengan nada yang menggoda Anin berusaha menyakinkan lelaki yang saat ini berada di atas tempat tidur.
lalu Anin menyodorkan minuman bersoda dengan merek bintang.
Glek..glek..glek..
"Sudah ini Om habis kan karena kelamaan."
Dalam hati Anin, kini ia tersenyum puas Dan, Satu dua tiga.
Bruk..
Ish..Ish.."Sudah mirip b*bi saja suara dengkurannya" ucap Anin sambil di iringi tawa jahat.
__ADS_1
Akhirnya lelaki itu tertidur pulas tanpa bisa mencumbu Anin.