
Sedangkan di lain tempat, tepatnya di kediaman Bu Indah.
Kehidupan yang di jalaninya jauh dari kata cukup, mengurus anak yang berkebutuhan khusus, membuat Bu Indah harus ekstra siaga. Sedangkan Edi, Edi bekerja hanya menjadi tukang parkir. Dimana pendapatan yang di peroleh setiap hari hanya cukup untuk makan, dan Bu Indah juga sekarang sudah sering sakit-sakitan.
Setelah pertemuan setahun yang lalu, Edi sudah tak pernah memperlihatkan batang hidungnya dari mata Anin, biarpun mereka tinggal satu kota namun beda daerah.
Uhuk.
Uhuk.
"Bu, Ibu gak papa," ucap Edi yang merasa kasian pada Ibunya.
"Dada Ibu sakit," keluh Bu Indah.
Uhuk.
Uhuk.
Bu Indah terus saja batuk, dan mengeluh karena merasa dadanya teramat sakit.
"Apa Ibu mau di bawa ke puskesmas," ujar Edi, yang menawari Ibunya agar mau di bawa berobat, jika di bawa ke dokter pasti biaya ya nya cukup mahal, tapi tidak dengan puskesmas, puskesmas hanya menebus obat dengan harga yang cukup murah, maka dari itu Edi ingin membawa Bu Indah untuk berobat.
"Cukup belikan Ibu obat warung, nanti akan sembuh sendiri," tolak Bu Indah.
"Baik lah, Ibu tunggu ya," pamit Edi pada Ibunya yang akan keluar untuk membeli obat yang di pinta oleh sang Ibu, dan bergegas Edi menuju ke toko.
Sepertinya Bu Indah telah mendapat teguran dari sang pencipta, akan kah sikap arogan yang di tujukan pada Anin, akan berubah setelah dirinya memanen apa yang ia tanam selama ini. Semoga ucapan pepatah benar, sebesar batu jika terkena ombak maka akan hanyut juga. Begitupun dengan hati Bu Indah, sekeras apapun hatinya maka akan hancur.
Dan untuk Edi, Edi pun berubah karena suatu sebab, hingga ia tak pernah mengusik hidup Anin lagi seperti yang sudah-sudah, bukan tanpa alasan dirinya sekarang menjadi pribadi yang baik, karena selamat dari kecelakaan yang membuat dirinya berubah, karena Edi bersyukur masih di beri nyawa untuk menjalani hidup yang lebih baik lagi. Berniat untuk meminta maaf pada Anin, namun dirinya tak punya nyali untuk melakukan itu. Karena telah merasa gagal menjadi seorang Kakak, menjadikannya tak punya muka jika harus berhadapan dengan Anin, adik kandung yang selama ini di sia-siakan.
__ADS_1
Dan Entah sampai kapan Ibunya menutup rapat pintu hatinya untuk Anin, karena selama ini Bu Indah pun tak pernah sekalipun membahas soal Anin.
Sesampainya Edi dari toko, segera bergegas menuju dapur untuk mengambil air putih untuk di buat meminum obat.
"Bu, cepat lah minum agar batuk Ibu bisa berkurang," ucap Edi pada Ibunya.
"Eum," jawab Ibunya.
Dalam hati Edi.
Maaf ya Bu, Edi belum bisa menjadi sosok pengganti Bapak, dan menjadi anak yang bisa di andalkan.
Nin, Abang minta maaf. Karena selama ini abang belum bisa menjadi Abang yang baik, Abang yang tak bisa menjaga dan melindungi kamu. Andai waktu bisa ku putar ulang, maka Abang berjanji akan terus melindungi mu. Tapi! Tapi semuanya sudah terlambat bahkan saat ini pun kamu membenciku setengah mati.
Aku gagal, aku gagal menjadi sosok Bapak, aku gagal menjadi sosok Kakak, aku gagal dalam melakukan amanat yang pernah Bapak ucapkan sebelum Tuhan mengambilnya.
Di kamar, sejurus mata memandang langit-langit atap, namun pandangannya sayangnya kosong, karena Edi tengah memikirkan cara untuk bisa meninta maaf pada Adiknya, yang pernah disakitinya. Berharap dirinya mendapat kata maaf dan memperbaiki kesalahan di masa lalu, dan memulai hidup dengan benar di masa mendatang.
Di ruang tengah saat Bu Indah sedang menjahit daster sobek, agar bisa gunakan nya lagi. Di balik pintu Edi menatap Ibunya dengan sendu, karena daster berulang kali sobek, dan berulang kali di jahit tangan olehnya.
Dengan perlahan Edi berjalan menghampiri Ibunya.
"Semoga Ibu mau menghapus masa lalunya, dan mau berbaikan dengan Anin" gumam Edi. Karena dirinya berharap jika Ibunya melupakan akan sakit hatinya untuk Anin, di mana Anin yang kerap menjadi pelampiasannya jika Bu Indah teringat masa lalu.
"Bu," tegur Edi.
"Hem." jawab Ibunya.
Semoga ini waktu yang tepat untuk aku mengungkap kan keinginanku. Karena aku ingin nantinya akan berakhir indah dan bahagia, ucap Edi dalam hatinya.
__ADS_1
Dengan rasa yang bergetar Edi mencoba untuk memberanikan diri, tentang ungkapan yang ada di hatinya.
"Eum..Bu, apa Ibu tak ingin memulai dari awal lagi," ujar Edi pada Ibunya.
Daster pun di letakkan di sebelahnya begitu pula dengan jarum yang di tusukkan di kain yang terdapat banyak jahitan itu. Dengan sesekali beliau mengerutkan keningnya, bahwa memang yang tak mengerti apa yang di katakan oleh Edi.
"Maksud kamu apa!"
"Apa Ibu tak ingin berkumpul dan memiliki keluarga yang bahagia," dengan suara lirih Edi berkata, dan berharap Ibunya mau mendengarkan apa yan dikatakannya..
"Jangan lah bertele-tele jika bicara," ucap Bu Indah karena dirinya masih bingung akan pembicaraan yang arahnya kemana.
Dengan perasaan antara ragu dan takut, mencoba menguasai hati dan pikiran Edi, namun dengan sedikit ragu ia mencoba mengungkapkan kepada Ibunya, dan berharap Bu Indah juga bersedia membangun sebuah ikatan keluarga yang bahagia, seperti orang-orang yang berada di luar sana.
"Maaf Bu jika aku lancang soal ini, eum.." sesaat Edi pun berhenti dan tak melanjutkan untuk beberapa detik.
"Alangkah bahagia keluarga kita Bu, jika semua berkumpul seperti orang-orang yang berada di luaran sana,"
"Sungguh aku tak mengerti apa yang kamu bicarakan, lagian kita kan sudah berkumpul," ucap Bu Indah dengan sesekali memijat keningnya.
"Masih ada yang kurang Bu,"
"Kenapa kau terlihat bodoh setelah kejadian kecelakaan itu," ujar Bu Indah yang mengatai Edi dengan sebutan bodoh.
"Yah, karena kecelakaan setahun lalu, mungkin itu semua balasan yang aku dapat karena aku sudah menzolimi adikku sendiri," dengan mata yang berkaca-kaca Edi mencoba tak menangis, karena sering dihantui oleh rasa bersalah pada Anin.
"Apa kau akan mendoakan Ibu juga, agar mendapat karma, dan apa kau juga akan menjadi anak durhaka setelah bocah sial itu," ucap Ibunya dengan memperlihatkan ketidak sukanya dengan Anin, karena semua itu terlihat jelas di wajah Bu Indah.
Dengan mengusap kasar rambutnya, karena Edi merasa suasana menjadi panas. Karena membicarakan Anin. Ternyata membuat Ibu nya bertambah murka.
__ADS_1
Jika di pikir Anin, tak pernah salah, jika harus di salahkan itu adalah Almarhum Bapaknya, karena kehadiran Anin membuat cinta dan kasih sayang yang ia terima dari Bapaknya berkurang.
Akhirnya Edi pun tak melanjutkan dan memilih pergi meninggal kan Ibunya, dengan perasaan yang dongkol.