Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 31 .DIAM DIAM MENCURI PANDANGAN


__ADS_3

Keesokan harinya.


Badan Anin, menggigil mungkin di akibatkan oleh kemaren malam ia terkena air hujan yang mengguyurnya. dan setelah perdebatan mereka bertiga akhirnya Anin pasrah, dan membiarkan Alex, menginap di kosnya Anin, dan Intan. Intan yang memilih menemani sahabatnya di kamar Anin, sedang Alex tidur di kamar Intan.


Eum.. "Jam berapa ini kok kelihatannya udah siang banget ya" gumam Intan karena sang mentari sudah berada di atas sana.


Dan kini netra nya melirik ke arah Anin, yang masih anteng, namun ada yang aneh.


"Ya Tuhan Nin, kamu panas banget" gumam Intan. karena ia saat melihat wajah milik Anin, memang terlihat sangat pucat, hingga akhirnya dia mengecek suhunya dengan cara tangannya ditaruhnya di atas kening, dan benar saja Anin, demam.


Lantas ia berlari ke arah kamarnya yang saat ini di buat tidur oleh laki-laki berwajah angkuh dan dingin.


Tok..tok..tok..


Lex, Alex! buka pintunya buruan."


"Alex yang mendengar seseorang mengetuk pintu berusaha mengumpulkan kesadarannya sebelum memutuskan untuk berdiri dan membuka pintu.


"Lex buruan, Anin demam."


Seketika Alex terlonjak dari tempat tidur dengan sedikit berlari ia membuka pintu.


"Maaf, tadi belum genap nyawa saya! Anin, beneran demam."


"Apa ada tampang bohong di wajah gue!" seru Intan pada Alex yang tak percaya jika Anin, memang benar-benar sakit.


"Ya sudah kita lihat yuk," ujar Alex.


Lantas mereka menuju kamar di mana Anin, terbaring sakit, namun belum sempat ia menuju kamar tapi sudah di cekal oleh Mbak Weni.


"Intan kenapa buru-buru?" tanya Weni dengan tangan yang masih memegang pergelangan Intan.


"Anu Mbak, Anin sakit." kok bisa bukannya ia selama kos di sini tak pernah sakit ya."


"Mungkin karena kemaren malam ia habis terkena hujan Mbak, makanya sekarang ia demam," jelas Intan.


"Lantas Ini."


"Oh ini, ini Alex Mbak, kemaren malem kan hujan deras Anin, memaksa pulang dengan menerobos derasnya hujan jadi dia pingsan di jalan Mbak, dan ini Alex, yang kemaren menolong Anin."


"Ya sudah kami mau ngecek Anin, dulu ya Mbak."


Setelah Cekalan di lepas oleh Weni, mereka berdua buru-buru masuk kamar, dan Weni hanya mengangguk,setelah itu lekas ia masuk kedalam kamar untuk mengambil obat penurun panas yang akan di berikan pada tetangga sebelah nya itu, karena ia merasa prihatin atas musibah yang menimpanya.

__ADS_1


"Intan!" panggil Weni.


"Iya Mbak,"


"Ini obat penurun panas berikan pada Anin, dan ini bubur sebelum meminum obat usahakan ia makan terlebih dulu."


"Iya Mbak, makasih ya,"


"Sama-sama, kalau gitu Mbak pergi dulu salam buat Anin." Setelah pamit pada Intan, Weni pun langsung bergegas keluar karena akan membeli sarapan lagi, karena bubur ayam yang ia beli untuk di buat sarapan ia berikan pada Anin.


"Nin, kita periksa ya," usul Intan.


"Gue gak papa, cuma demam biasa ngapain sih pakai periksa segala." Anin menolak tawaran yang ia ajukan padanya.


"Tapi lu pucet banget,"


"Udahlah gue gak papa pasti sembuh nanti di minumin obat juga, pasti enakan."


"Ya sudah lu makan ini dikit ya terus minum ini obat, kasian kalau gak kamu minum sama makan karena ini pemberian dari Mbak Weni, karena udah bela-belain ngasih ini buat kamu." Intan pun memaksa Anin, untuk memakan bubur yang di berikan oleh Weni, sekaligus obat penurun panas.


Sedang Alex hanya diam sambil memandangi wajah Ayu milik Anin, dan saat ini ia seperti orang bodoh yang tak jelas.


Ekhem.. Hem..


Intan sengaja memainkan suaranya karena melihat Alex, yang terus saja memandangi Anin, dan tak tau apa yang sedang di pikirkan olehnya.


"Eh, kodok congek lu di sini mau nengokin Anin, apa mau curi-curi pandang."


"Huh, eng-enggak s-saya lagi gak liatin, ya sudah saya pamit pulang."


Duh kenapa bisa ketahuan sih kalau saya sedang ngelihatin itu cewek."


Merasa malu karena sudah kepergok oleh Intan, lantas Alex pun pamit untuk pulang.


🍀🍀🍀🍀


Sedang di kediaman Bu Lita.


Karena dari dua hari Alex yang tak kunjung pulang, di telepon pun hanya suara operator yang menjawab karena nomor yang di gunakan nya sedang tidak aktif.


"Kemana sih itu anak bisa-bisanya dua hari gak ada pulang" gerutu Bu Lita sambil mondar mandir memikirkan Anak lelakinya yang tak kunjung pulang.


.

__ADS_1


.


.


Tak berapa lama Alex pun sudah berada di rumahnya, saat ia akan membuka pintu.


Ceklek..


"Nah ini dia."


Bu Lita, yang geram akhirnya menjewer telinga putranya hingga ia berteriak karena kesakitan.


"Aduh, duh Bu, sakit tolong lepasin."


"Gak sampai Ibu puas ngerti kamu!" mungkin saking geramnya Bu Lita masih enggan untuk melepaskannya.


"Ampun sakit Bu, nanti di jelasin, tapi tolong sakit Bu lepasin kenapa." rengek Alex, dan memohon supaya di lepaskan dari jeweran sang Ibu.


"Mau jelasin apa coba! terus kemana HP kamu! sampai-sampai suara perempuan yang menjawab."


"Wanita yang mana lagi Bu! aku tak berselingkuh,"


"Nyatanya ada suara perempuan yang menjawab telepon Ibu, lantas kamu kemana bersama siapa sedang melakukan apa."


Alex pun di buat tercengang oleh ucapan sang Ibu bagaimana bisa Ibunya punya pikiran seperti itu, lantas tak ada telepon yang masuk dari HP nya. lalu siapa yang ia maksud apa mungkin Bu Lita, salah nomor! bisa jadi begitu.


"Mungkin Ibu salah nomor, makanya lepasin dulu Bu, sakit ini kuping kalau terus-terusan kena tarik, ntar kalau patah Ibu sendiri kan yang rugi, mau punya anak cacat."


Alex berusaha membuat Ibunya melepaskan jeweran yang sudah teramat sakit di tambah panas pula. dan seketika tangan Bu Indah lepas dari telinga sang anak karena merasa ngeri jika membayangkan anak sulungnya itu tak punya telinga.


Huuu.. Hu..hu.. "panas Bu, tega amat sama anak sendiri," dan rasanya sampai tak bisa di ungkap kan dengan kata-kata.


"Alah lebay kamu."


Meski Alex punya sifat paket lengkap yakni, angkuh, sombong, dan teramat dingin pada lawan bicaranya, namun tidak dengan Ibunya, meski di usianya yang sudah terbilang cukup tua yakni 30 tahun, dan semua itu tak membuat serta merta ia bersikap angkuh juga pada Bu Lita, ia akan berubah menjadi Anak kucing yang manja dan takut jika sudah berada di rumah.


"Jawab kamu dengan siapa semalam."


"Sampai Ibu capek menelpon kamu, namun yang Ibu, dengar lagi-lagi suara perempuan."


"Sumpah Bu, gak ada yang megang Handphone saya, Ibu jangan ngarang deh ah,"


"Bentar-bentar."

__ADS_1


Alex yang penasaran akhirnya memutuskan untuk memeriksa telepon genggam miliknya karena ia merasa semua orang tak ada yang menghubunginya. Lantas ia merogoh saku dan di ambilnya benda pipih itu dan.


"Ibu! Ya Tuhan Mimpi apa semalam mendapat orang tua seperti beliau.


__ADS_2