
Lalu mereka bertiga larut dalam obrolan, entah apa yang mereka bertiga bahas. Sehingga semua tertawa begitu bagia.
Tak terasa sore telah lenyap dan di gantikan oleh sang malam saat ini, dan rumah pun sepi karena sekarang sudah jam 21:00 malam.
Tengah malam Anin yang gelisah karena tidak dapat tidur dengan nyenyak.
"Sayang, kamu kenapa?" Alex yang melihat tingkah istrinya akhirnya ikut bangun juga.
"Gak tau, tapi semua badan berasa sakit." Anin sudah berkaca-kaca karena sebenarnya dirinya mengantuk tapi tidak bisa tidur.
"Perut kamu sakit?" tanya Alex sedikit kuatir.
"Sedikit," Anin mengusap air matanya yang sempat terjatuh.
"Kita ke rumah sakit ya, siapa tahu itu tanda-tanda kalau kamu akan melahirkan." Alex mengajak sang istri untuk coba memeriksakan kehamilannya, namun Anin menolak karena belum Ada tanda-tanda jika dirinya akan melahirkan..
"Aku hanya ingin tidur Lex, bukan ingin melahirkan." Ucap Anin dengan wajah kesal nya.
"Cup... Cup.. Jangan nangis dong istrinya, Mas." Alex menenangkan Anin yang semakin menjadi.
"Habisnya kamu menyebalkan," Anin dengan muka yang sudah basah oleh air mata, masih bisa di ajak bicara, namun raut wajahnya menggambarkan kekesalan.
"Ya sudah, Mas pijitin ya." Alex mencoba menawari untuk memijat, agar Anin bisa segera tidur.
Kasian sekali kamu sayang. Batin Alex.
"Ya sudah kamu baringan saja, biar Mas pijitin."
Tanpa berkata Anin pun merebahkan badan buncit nya, lalu tangan kekar Alex sudah berada di atas kaki, untuk memijitnya.
Sedangkan Alex dengan pelan-pelan memijat kaki Anin, mulai dari kaki, dan lengan.
Namun tetap saja itu tak membuat Anin tertidur, karena semakin bertambah gelisah.
Ada kemungkinan itu rasa gelisah di sebabkan oleh baby yang ada di dalam perut Anin, telah memberi sinyal cinta untuk segera ingin keluar melihat dunia. Karena rasa gelisah dan rasa tak nyaman di perut terus saja mengganggu Anin, yang ingin tidur.
"Lex, perutku rasanya tidak nyaman." Anin terus saja mengeluh karena rasa yang terus saja di rasakan nya.
"Ya sudah, Mas panggil Ibu sebentar ya." Tak tega dengan istrinya yang merasa sudah tak nyaman, apalagi Alex melihat wajah Anin semakin pucat. Akhirnya dirinya memutuskan untuk memanggil Bu Indah.
Alex buru-buru turun dari tangga dan tentunya dengan terpaksa membangunkan Bu Indah, yang sudah terlelap di alam mimpi.
Tok.
Tok.
Tok.
__ADS_1
"Bu," Alex mengetuk pintu kamar Bun Indah berkali-kali.
Sedangkan di dalam kamar, Bu Indah samar-samar mendengar suara orang mengetuk pintu dan memanggilnya.
Seperti suara Alex ya. Bu Indah membatin, lalu dengan sedikit mengumpulkan nyawa. Beliau bangun untuk membuka pintu, dan melihat apakah benar dugaannya.
Ceklek..
"Bu maaf ganggu, Anin merasakan tidak nyaman di perutnya jadi Alex terpaksa membangunkan Ibu."
"Ya sudah, ayo kita lihat ke sana." Bu Indah menyeret Alex untuk segera melihat Anin, karena Bu Indah sangat kuatir.
Bu Indah dan Alex buru-buru masuk ke dalam kamar.
"Sayang, perut kamu masih tidak enak?" Alex menghampiri Anin lalu di usapnya lembut perut buncit itu.
"Masih." Terdengar suara lirih dari mulut nya, dan Alex semakin kuatir.
"Nak Alex, di bawa ke rumah sakit saja." Bu Indah memberi usul untuk membawa Anin ke rumah sakit, agar segera di tangani.
"Iya Bu, saya juga mikirnya seperti itu." Alex setuju dengan usul yang di berikan oleh Bu Indah.
Setelah mereka memutuskan untuk membawa Anin ke rumah sakit, lalu Alex menggendong anin.
"Lex Aku berat," ucap Anin yang sudah berada di gendongan Alex.
Pukul 11 malam, meraka sudah berada di rumah sakit.
"Sus tolong istri saya. perutnya sedang sakit," ujar Alex.
"Baik Pak, Bapak tunggu di sini." Ujar suster tersebut.
"Tapi sus,"
"Kami ingin memeriksa dan ingin memastikan saja Pak, jika Bu Anin akan melahirkan Bapak boleh menemani." Setelah berkata suster itu masuk.
Di dalam ruangan.
Dokter dan suster sudah memeriksa keadaan Anin, terdengar helaan nafas berat dari Dokter, entah apa penyebabnya.
"Sus, tolong pasang infus dulu, saya mau keluar." Ujar Dokter kandungan itu.
Ceklek..
Ternyata keluarnya Dokter kandungan sudah di nanti-nanti oleh kedua orang tersebut, yakni Alex, dan Ibunya. Bu indah.
"Bagaimana Dok, keadaan istri saya?" Alex bertanya kepada Dokter yang menanganinya. Berharap jika sang istri baik-baik saja.
__ADS_1
"Iya Bu Dokter, anak saya baik-baik saja kan."
Bu Indah menyahut.
Lalu Dokter itu menjelaskan perihal keadaan Anin, untuk sekarang.
"Bagaimana Pak? karena Bu Anin harus segera di operasi," ucap sang Dokter tersebut.
"Lakukan Dok." Ujar Alex.
Iyah akhirnya Anin di operasi sesuai saran Dokter, karena kehabisan air ketuban. Hingga Anin tak bisa melahirkan secara normal, HPL. Atau di sebut hari perkiraan lahir, masih di tanggal 20 seminggu lagi. Tapi ternyata proses melahirkan dengan cara normal pun sudah tak ada jalan. Akhirnya Dokter memutuskan untuk mengambil tindakan Cesar besok.
"Kalau gitu saya permisi, Bapak boleh menemani istrinya di dalam." Setelah sang Dokter berkata lalu pergi.
"Sayang, kamu yang kuat ya." Alex berkata dengan tangan yang membelai lembut rambut Anin.
"Hye kamu lupa, jika aku perempuan kuat." Dengan menahan sedikit rasa sakit yang ada di bawah perut nya, Anin mencoba tersenyum agar suaminya tidak kuatir yang berlebihan.
"Ya sudah kamu di sini sama Ibu ya, Mas mau telepon Ibu buat ngabari jika besok pagi kamu ada jadwal operasi Cesar."
"Tunggu Lex," Anin mencoba meminta penjelasan pada suaminya. Mengapa bisa, dirinya harus melakukan Cesar bukan normal saja.
"Ketuban kamu habis sayang, jadi kamu enggak bisa normal." Setelah mengatakan itu, terlihat Anin muram.
Seakan tahu apa yang ada di dalam pikiran Anin, Alex pun mencoba menenangkannya.
"Denger sayang, meski kamu tidak bisa melahirkan secara normal, tidak berarti kamu menjadi seorang Istri yang tidak sempurna. Tetap saja, biarpun itu kamu adalah istri yang sempurna, istri yang hebat, terimakasih perjuangan mu selama ini."
Setelah mendengarkan Alex bicara, Anin sedikit lega dan tidak terlihat murung seperti tadi.
KEESOKAN PAGINYA.
Hari yang sudah di nanti-nanti untuk bisa melihat sang anak terlahir ke dunia, dan Anin pun sudah menjalani Cesar seperti saran Dokter, sedangkan di luar. Bu Indah dan Bu Lita, tak henti-hentinya berdoa, untuk keselamatan anak serta cucu nya.
Oe... Oe... Oe...
Terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan, membuat orang yang ada di luar sujud syukur.
Tak berapa lama, Alex di panggil untuk melihat sang anak dan mengadzani nya juga.
"Selamat ya Pak, anak Bapak berjenis perempuan yang sangat imut dan sangat cantik." Suster telah menyerahkan bidadari mungil tersebut kepada Alex.
*Terimakasih tuhan, kini lengkap sudah keluarga kecil kami, dengan kehadiran bidadari kecil ini. Rumah tangga kami akan bertambah bahagia.
Anin sayang, terimakasih kamu sudah mau menjadi Ibu dari anak-anakku, terimakasih kamu sudah berjuang demi bisa melahirkan keturunan untukku, meski itu dengan jalan Cesar, tapi aku tetap bangga dengan mu sayang.
BERSAMBUNG*.
__ADS_1