
Dokter berkata jika dalam waktu dekat ini Anin akan melahirkan, dan itu tinggal menunggu hari, jadi Alex memilih membawa pekerjaannya ke rumah, dan bekerja dari rumah. Karena ia juga harus mengawasi istrinya, meski di rumah ada mertuanya yang selalu menjaga Anin. Namun tetap saja Alex belum merasakan kelegaan dalam hati jika belum benar-benar melihat keadaan sang istri dengan baik.
"Hye anak Ayah, baik-baik yah di dalam sini." Alex mengajak bicara calon anaknya yang masih berada dalam kandungan.
"Berhentilah Lex, aku geli. Lihat lah anak kamu terus saja bergerak," Anin yang sesekali meringis karena anak yang ada dalam perutnya terus saja bergerak-gerak, menandakan jika si baby aktif.
"Baiklah sayang, maaf ya." Ucap Alex, dan setelah itu dirinya mencium perut buncit Anin.
"Anak Ayah, jangan nakal ya." Untuk yang terakhir Alex mengajak bicara baby di dalam perut Anin.
"Tentu Ayah, aku tidak akan nakal di dalam sini." Anin menirukan gaya anak kecil yang sedang diajak berbicara.
"Sayang kamu, Mas buatin susu ya." Ucap Alex, tanpa menjawab Anin mengangguk.
Saat Alex akan keluar, ternyata sedang berpapasan dengan mertuanya.
"Lex, ajak istrimu sarapan. Ibu sudah memasak makanan yang kalian suka," ujar Bu Indah, yang ternyata ingin memanggil sepasang suami istri itu untuk sarapan.
"Iya Bu, sebentar ya." Alex menimpali karena dirinya sudah berkata jika tadi ingin membuatkan susu untuk sang istri.
"Ya sudah, Ibu tinggal ke kamar mandi."
Alex mengangguk saat Bu Indah pamit untuk ke kamar mandi.
Tak berapa lama segelas susu telah siap untuk diberikan pada Anin.
"Sayang, ingin minum susu atau sarapan dulu?" Alex menghampiri Anin yang sedang berada di balkon untuk menikmati hawa sejuk di pagi hari.
"Aku lapar, jadi sarapan dulu ya." ucap Anin.
"Ya sudah yuk." Alex menggandeng tangan Anin untuk turun kebawah untuk sarapan.
Sesampainya di meja makan, mata Anin berbinar-binar saat melihat menu kesukaannya sudah tersaji di atas meja.
"Bu, makasih udah di buatin makanan ini." Ujar Anin, pada Ibunya.
__ADS_1
"Sama-sama sayang, ya sudah buruan makan nanti keburu dingin." Bu Indah menyuruh Anin untuk segera makan.
Akhirnya mereka bertiga sarapan dengan penuh hikmat, menikmati setiap masakan yang sudah diberi oleh tuhan dengan semua anggota keluarga.
...----------------...
Anin bersyukur dengan dirinya menikah dengan Alex, karena tanpa di nikahi oleh sosok lelaki terebut. Anin bisa di pastikan masih tersesat di lembah hitam. Alex bagaikan malaikat penolong baginya karena tanpanya dirinya tetap dipandang hina oleh orang, karena pekerjaannya, hidupnya, dan semua hal tentangnya.
Bersyukur setelah Bu Susi dan Almarhum Niko yang selama itu telah menolongnya, baik padanya, dan mau mengulurkan tangannya untuk merangkul Anin.
Bersyukur di kelilingi oleh baik, seperti Bu Lita , Alex, dan Intan sahabat satu-satunya yang ia miliki mau perduli dengannya di saat Anin terpuruk dan terjatuh berkali-kali.
Terlepas dari itu semua, Anin ikhlas dengan takdir yang ia jalani selama bertahun-tahun hingga dirinya menemukan setitik cahaya di kehidupannya yang sekarang.
Orang dulu pernah membuangnya dan tak pernah menganggapnya ada, kini orang itu hadir di tengah-tengah kehidupan Anin, dengan sikap yang berbeda.
"Tuhan terimakasih untuk kenikmatan yang engkau beri, meski aku harus merasakan pahit terlebih dulu. Tapi, aku percaya jika engkau ada zat yang maha membolak balikkan kehidupan." Anin menikmati angin sore di atas balkon, mengingat kepingan demi kepingan di mana dirinya berjuang sendiri, dan menanggung beban yang cukup berat. Dari yang Anin kecil sudah menjadi gadis teman Om-om, hingga bekerja menjadi pelayan bar, sampai ia harus rela menjual kesuciannya, hanya untuk pengabdiannya pada orang yang pernah melahirkan. Meski dirinya berkali-kali tak di anggap.
"Sayang, kamu kenapa?" Alex menghampiri Anin, dan melihat jika sang istri menangis.
"Aku bahagia Lex, akhirnya aku menemukan titik kebahagiaanku bersama kamu." Anin mengusap air mata yang jatuh di pipi.
"Terimakasih sudah memberi warna dalam hidupku," ucap Anin sambil tersenyum.
"Tidak ada kata terimakasih, karena memang tuhan sudah menunjukkan jika kamu adalah jodoh, Mas." Alex tersenyum bahagia akhirnya penantiannya tidak sia-sia.
Berharap jika rumah tangganya, akan berakhir sampai kematian memisahkan mereka. Dan harapan untuk keduanya tak akan ada yang saling menyakiti.
Saat Anin melihat ke bawah, melihat Bu Indah sedang menyirami bunga.
"Lihat lah Lex, wajah yang dulu sangar sering memarahiku sering tak memberiku makan, sekarang wajah itu sudah termakan usia."
Jika mengingat masa lalu, dirinya hanya bisa tersenyum kecut.
"Sekarang, tidak lagi. Bukan," ucap Alex.
__ADS_1
"Eum."
"Ya sudah yuk turun, kasihan Ibu dari tadi sendirian di bawah." Alex mengajak Anin untuk turun ke bawah, karena hampir seharian ia berada di kamar.
"Boleh, tapi aku pengen minum coklat panas." Alex seakan peka dengan arah pembicaraan Anin, hingga dirinya langsung menyimpulkan kalau Anin mau Alex yang membuat.
"Iya, nanti Mas buatin." Alex menanggapinya dengan senyuman.
"Makasih sayang," ucap Anin pada Alex, karena Alex tahu apa yang di mau oleh Anin.
"Sama-sama, sayang."
Akhirnya mereka berdua keluar dari kamar, dan segera menuruni anak tangga satu demi satu, hingga sampailah keduanya di ruang keluarga.
"Nin," tegur Ibunya saat masuk ke dalam, seusai menyirami bunga dari pelataran depan.
"Iya Bu." Anin menimpali.
"Mau dibuatkan minum?" tanya Bu Indah.
"Mas Alex barusan ke dapur mau bikin Bu," ucap Anin.
Bu Indah yang semula berdiri, kini ikut menempatkan bokongnya di sofa yang berada di depan TV.
Baru saja Bu Indah duduk, terlihat Alex yang membawa nampan berisikan tiga cangkir minuman.
"Lex, kenapa gak panggil Ibu kamu." Bu Indah merasa tidak enak, jika dirinya berdiam tanpa membantu di rumah milik Alex, karena semua fasilitas yang menanggung adalah menantunya. Jadi ada rasa sungkan yang hinggap di hatinya.
Karena memang semenjak Anin resmi menjadi istri Alex, semua kebutuhan Bu Indah yang menanggung Alex, dan untuk Abang nya Anin, Alex memberikan modal untuk di buat usaha. Dan usaha itu adalah toko kelontong yang di kelola oleh Edi dan Ibu nya.
"Gak papa Bu, orang cuma minuman." Ucap Alex.
"Ini teh, buat Ibu." Imbuh Alex lagi, dan setelah itu Alex meletakkan cangkir di depan Bu Indah.
"Sayang, pesenan kamu." Ujar Alex.
__ADS_1
"Makasih sayang," ucap Anin pada sang suami.
"Sama-sama."