
Terobati sudah rasa rindu yang ia tahan, lewat telepon Anin, dan Niko, sama-sama melepaskan rindu yang tertahan. Karena sudah lebih dari sebulan tak ada kabar darinya.
🍀🍀🍀🍀
Baru saja mata Anin terpejam namun sudah terdengar panggilan dari arah masjid untuk para umatnya.
Entah apa yang ia pikirkan sehingga tak dapat tidur dengan nyenyak. Pagi telah menjelang dan sang mentari sudah mulai menampakkan diri, rasa kantuk yang mulai menguasai tak akan ia sia-siakan lalu Anin memejamkan matanya dan akhirnya hilang sudah ke alam bawah sadarnya.
Samar-samar terdengar seseorang yang sedang mengetuk pintu, membuat dirinya terkejut.
Tok..tok..tok..
"Ampun siapa sih pagi-pagi ketok pintu gerutunya.
Tok..tok..
Sumpah ya, siapa sih itu orang! gak tau apa orang lagi tidur di gangguin, bener-bener perlu di kasih nih orang. umpatnya dalam hati.
Tok..tok..
" Woi bentar ngapa, jadi orang kagak sabaran!" saking kesalnya Anin pun terpaksa berteriak, agar tak mengetuk pintu lagi.
Ceklek..Sesaat Anin pun tercengang melihat siapa yang bertamu pagi-pagi begini.
"Elu ngapain sih pagi-pagi ada di depan kamar gue, mau minta sumbangan ya." Dengan muka yang di Tekuk, Anin memarahi lelaki yang berada di depannya.
"Eh neng, lu habis mabok ya?"
"Siapa yang mabok,"
"Kamu."
"Enak saja, jaga itu mulut! jangan asal ngomong."
"Habisnya kamu bilang ini masih pagi kan," Alex berbicara sambil menggelengkan kepalanya, dan Alex yakin kalau Anin sehabis meneguk minuman haram.
"Lah iya, memang Ini masih pagi." Anin pun menjawab penuh dengan rasa bingung, bukannya dirinya baru saja memejamkan mata.
"Kalau punya jam, lebih baik lihat lah sebentar."
Apa maksudnya coba, kok di suruh lihat jam segala, batin Anin.
Lantas Anin, masuk kedalam kamar lagi dan melihat jam sesuai instruksi dari Alex.
"Astaga ternyata sudah jam sepuluh"
"Sudah di lihat belum."
__ADS_1
Hehehe.."Iya ternyata sudah siang." Sambil menggaruk kepalanya, Anin keluar lagi.
"Ku rasa kamu semalam habis minum, makanya agak ngawur."
"Kamu itu yang ngawur."
"Terus kamu kesini ngapain?" tanya Anin lagi.
"Mau renang."
"Apa di rumah mu gak ada kolam renang sehingga kesini,"
"Iya."
"Dasar edan."
"Memangnya saya gak boleh ya kesini,"
"Iya terus kesini ngapain."
"Mau main."
"Ngapa gak di taman kanak-kanak saja," ucap Anin.
"Maunya main di sini."
Mereka berdua masih di ambang pintu, dan tak ada tawaran untuk menyuruh duduk kepada Alex, dan Anin, Anin masih dengan rambut acak-acakan masih setia berdiri dengan cara melipat kedua tangannya.
"Ehem, saya gak di suruh duduk ini," ucap Alex.
"Lha kan tinggal duduk," jawab Anin.
"kan saya menghormati tuan rumahnya, jadi saya meminta izin dulu," ujar Alex.
"Emang kamu mau sampai berapa lama, kalau gak gue suruh duduk,"
Seketika wajah canggungnya memenuhi pandangan Anin.
"Nah kan gak bisa jawab." Ucap Anin lagi.
"Ini,"
"Apa ini?" tanya Intan. Karena Alex memberikan kantong berwarna biru pada Anin.
"Somay, tapi kalau tidak suka bisa di buang kok," kata Alex.
"Kalau gitu duduk lah, jika kamu masih kuat silahkan berdiri." Ucapan Anin, seketika membuat Alex seperti orang yang sedang menahan malu, lantas setelahnya Alex menjatuhkan bokongnya di kursi kayu yang terdapat di sebelahnya.
__ADS_1
Dan setelah Anin, menyuruh duduk, ia pun masuk kedalam kamar dengan membawa makanan yang di berikan oleh Alex.
Apa makanan receh itu di buang sama Anin, sungguh malu aku jika tau begini aku tadi beli makanan yang lain, ucap Alex dalam hati.
"Akhirnya aku bisa makan somay" gumam Anin, dengan di iringi rasa sumringah karena ia bisa makan makanan yang sedari kemaren di inginkan nya.
Tak lama kemudian, Anin keluar menemui Alex dengan membawa piring yang sudah berisi makan khas bandung itu.
Apa! jadi aku sudah salah sangka karena mengira makanan yang ku berikan di buang, tapi ternyata dia malah menaruhnya di piring dan memakannya.
Sungguh malu karena sempat Alex berpikir buruk pada Anin, tentang makanan yang di bawanya ke dalam kamar. Alex mengira bahwa makanan receh itu di buangnya ke dalam tempat sampah, nyatanya ia malah lahap.
"Ngomong-ngomong makasih ya buat somay nya, akhirnya bisa makan juga,"
"Kamu suka sama itu makanan?" tanya Alex.
"Suka." Jawab Anin.
"Kirain,"
Alex yang melihat Anin memakan dengan begitu lahap, dan terasa jika makanan yang di belinya tadi pagi terasa nikmat.
Glek.
Suara Alex sedang menelan ludah, terdengar sampai ke telinga Anin.
"Akk.."
Sesaat Alex merasakan canggung, bagaimana tidak! kini di depan mulutnya terdapat sendok yang berisikan somay, dan Anin menyuapinya.
"Kenapa diam, enak kok coba saja," ucap Anin.
Akhirnya Alex pun membuka mulut, dan mengunyahnya, dengan hati yang berdebar dan rasa bahagia karena merasa di awang-awang, tanpa di duga Anin, menyuapi dirinya dan berharap suatu saat Anin akan jatuh di pelukannya juga.
"Ekhem, Cie..Cie.."
"Ada yang lagi sepiring berdua nih."
"Diam."
Hahaha.
Suara tawa yang nyaring membuat Anin, langsung melempar sendalnya ke arah suara barusan berasal, karena merasa kesal di buat.
Pukh..
"Dasar Somplak."
__ADS_1
"Masa bodoh." Lagian siapa suruh orang lagi makan di godain, rasain kapok gak tuh sendal gue pagi-pagi udah nemu mangsa.