
Anin sengaja mengabaikan telepon dari sahabatnya Intan, dan menolak panggilan dari Alex mau pun Fadli. Membiarkan jauh lebih baik menurutnya.
Di rumah mewah nan besar, dirinya masuk dengan langkah yang menahan sakit di seluruh tubuh, apalagi di area sensitifnya.
"Mawar," ucap lirih Anin.
Dan untuk sesaat dirinya mendekati bunga itu, lalu menciuminya.
Lelaki itu tersenyum untuk beberapa detik, karena baginya sosok gadis yang ia bawa seperti anak-anak di bawah umur, dan begitu sangat suka akan bunga. Lalu menciuminya.
"Apa kamu akan berdiri di situ, saya ngantuk! Lebih baik kamu menemani saya tidur."
Huff.
Terdengar helaan nafas berat, karena ia yakin jika lelaki tersebut akan menerkamnya hidup-hidup.
Apa aku sedang bersama seorang patung, dingin dan kaku, tak ada senyum sama sekali di wajahnya. Lelaki itu diam-diam memikirkan tentang Anin, yang hampir mirip es balok terlihat dingin dan kaku. Jika yang ada di pikirannya seperti itu, tau kah apa yang ada di dalam hati Anin sekarang. Pasti jawabnya 'tidak' jadi lebih baik diam bukan.
"Nama kamu Anindiyah Qoirunisa bukan," tiba-tiba lelaki itu membuka obrolan terlebih dahulu.
"Eum."
"Panggil saja saya Yuda, Yuda Permana."
"Baik."
"Ya sudah segera lah masuk kamar, saya akan bersih-bersih dulu."
"Eum." Lagi-lagi seperti itu jawabannya.
Tak ada jawaban, yang ada hanyalah bahasa isyarat yang di berikan Anin.
...----------------...
Sedangkan di sisi lain.
Operasi berjalan lancar, kini hanya menunggu Bu Indah siuman saja. Sedang kan Edi bertanya-tanya dari mana Anin mendapatkan uang sebanyak itu, dalam tempo hanya tiga hari, tiga hari bukan lah waktu yang lama. Ingin sekali ia bertanya namun setiap dirinya menghubungi Anin, lagi-lagi hanya ada suara operator.
Dengan setia Edi menunggui Ibunya, dan tak beranjak sama sekali, hingga Bu Indah membuka mata dengan perlahan.
"Alhamdulillah Ibu sudah sadar, operasinya berjalan lancar, dan Ibu sudah enggak ngerasain sakit lagi." Dengan rasa haru Edi mengucap syukur atas kesembuhan Ibunya.
Seakan tau apa yang di pikir kan, Edi pun langsung memberi penjelasan, tentang semua dan tidak ada yang di tutup tutupi.
__ADS_1
"Semua ini Anin yang menanggung, kemarin ia dan teman-temannya mengunjungi Ibu, hingga terpaksa Edi memberi tahu akan keadaan Ibu."
"Dan yang membayar biaya operasi Ibu, juga Anin." Imbuh Edi lagi.
Tanpa menjawab Bu Indah sudah banjir dengan air mata, dalam hatinya ia menyesali perbuatannya yang tak pernah menganggap keberadaan Anin, nyatanya sekarang Anin lah yang menanggung semua nya.
"Boleh kah Ibu bertemu Anin, untuk mengucapkan terimakasih."
"Nanti ya Buk, Anin sedang sibuk jadi. Tak bisa di hubungi," Edi mencoba memberi tahu tentang Anin yang memang sulit di hubungi.
"Ibu mau makan buah,"
"Boleh."
Bu Indah sudah sadar, dan juga sudah mendapatkan pengobatan serta operasinya juga berjalan dengan lancar. Dan Anin saat ini terperangkap di kandang singa, demi sebuah uang dan pengabdiannya sebagai anak. Dan lagi pula hanya ini jalan yang mampu membantunya keluar dari masalah.
...----------------...
Sedangkan Alex dilema, saat dirinya mendapat kabar dari Intan mengenai Anin yang sudah tiga hari tak ada pulang mau pun kabar yang di berikan oleh Anin.
Kuatir jelas sangat-sangat kuatir, takut jika wanita yang di cintai nya serta di puja dengan diam terjadi sesuatu yang tidak di ingin kan.
Tut.
Tut.
Tut.
Nin, kamu di mana? Tau kah kamu jika saya sangat kuatir, kuatir jika jika kamu kenapa-napa, dan kemana lagi saya harus mencari kamu! Sedang kan semua orang yang berhubungan dengan kamu sudah saya hubungi namun hasilnya nihil. Matanya memandangi bulan yang menerangi malam, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya redup tanpa ada lentera yang meneranginya, seperti hidupnya sepi tanpa sosok Anin.
Seakan dunianya hancur, saat Alex menerima kabar jika Anin tiba-tiba menghilang.
"Tunggu, ada satu yang belum saya hubungi." Alex bergumam seraya memastikan bahwa ada orang yang tahu akan keberadaannya.
Mami. Batin Alex lagi.
Dengan segera ia berlalu dari gazebo, dan mendatangi tempat di mana Anin dulu berada.
Tak membutuh kan waktu lama, sekitar setengah jam. Dirinya sudah sampai berada di club, suara musik bercampur para pengunjung yang sedang menikmati hidup nya di tempat ini, Alex mencari sosok yang kerap di panggil dengan sebutan 'Mami' dan akhirnya netra nya menemukan sosok paruh baya itu namun masih terlihat fresh.
"Mami!" teriak Alex.
Merasa di panggil, dangan memakai bahasa isyarat, karena dentuman musik sehingga tak mungkin juga dirinya menimpali dengan sebuah teriakan juga.
__ADS_1
"Mi, saya mau bertanya boleh,"
"Apa yang kamu tanyakan pada saya,"
"Kita bicara di atas, sepertinya penting." Ujar Mami lagi.
Alex menuruti ucapan Mami, dan mengangguk serta langkahnya mengikuti langkah wanita yang ada di depannya.
"Apa yang ingin kamu cari di tempat ini," setelah sampai di atas, Mami mempertanyakan keberadaan Anin. Wanita yang di cintai nya.
"Anin."
Sedikit terkejut, itu lah yang terlihat saat Alex menyebut nama yang mungkin tak asing di telinganya.
"Dia tak ada datang kemari sama sekali." Sedikit berbohong karena sebuah permintaan, dan kini dirinya lah yang menjadi target pencarian hilangnya Anin.
"Apa anda sedang tidak berbohong," Alex mencoba menelisik kebohongan di wajah seorang Mami, nyatanya dirinya tak menemukan.
"Untuk apa, jika ada di sini maka cari lah."
"Baik lah, jika anda melihat Anin, beritahu saya."
"Tentu."
Mereka berdua sama-sama berdiri untuk turun.
Sedang kan Alex begitu bingung kemana lagi dirinya mencari Anin.
Lima hari sudah, Anin menghilang dengan tiba-tiba, semua orang bingung mencari keberadaannya namun lagi-lagi hal yang sama, nomor tidak aktif Alex frustasi, begitu pula dengan Intan, karena teman satu-satunya yang ia punya sekali lagi tak memberikan kabar kepadanya, dan Alex masih berusaha mencari bersama Intan.
"Lex, kemana lagi kita harus mencari," ucap Intan dengan wajah yang kusut.
"Apa kamu tau selain tempat yang pernah di singgahi nya ada di man lagi,"
"Tidak, semua sudah kita susuri bukan,"
"Siapa tahu ada tempat lain."
"Tidak ada, dan Bang Edi juga mencari keberadaannya, jadi. Tak mungkin Anin pulang, dan katanya Bang Edi juga sudah memantau di makam Niko, siapa tahu Anin ke sana nyatanya tak ada juga. Cuma kemarin waktu telepon bersamaan dengan hilangnya Anin, Bang Edi menerima sebuah transferan sebesar 60 juta, yang di kirim oleh Intan."
Intan mencoba mengorek informasi, awal hilangnya temannya, dengan bersamaan keluarga dari Anin menerima uang senilai 50 juta.
Alex mematung saat Intan memberi tahu kejadian sebelum Anin menghilang.
__ADS_1