Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 96. Pertemuan Alex Dan Erika


__ADS_3

Tetaplah tersenyum meski sedikit dipaksakan, karena tanpa kita sadari orang mengira jika kita bahagia. Dan berbagialah dengan hidup yang kamu jalani saat ini..


Agar terlihat baik-baik saja.


Hari demi hari waktu demi waktu begitu cepat berlalu, hingga tidak terasa kalau usia kandungan Anin sudah menginjak di usia 7bulan. Dan kini mereka sama-sama tidak sabar untuk segera menimang bayi yang mereka nanti-nanti.


Untuk kelamin memang pasangan tersebut meminta agar pihak Dokter menyembunyikannya. Biar lah itu di buat kado saat proses melahirkan nanti.


"Sayang, anak ayah baik-baik ya di rumah sama Bunda, jangan nakal." Alex berucap sambil tangannya mengelus lembut perutnya. Sebelum dirinya berangkat kerja, dan menciumi perut Ani yang mulai sudah membuncit.


Tak terasa usia kandungan Anin sudah tujuh bulan. Bahagia menjadi seorang Ibu, tentunya dong. Tak pernah memikirkan calon anaknya perempuan atau lagi laki-laki. Yang mereka butuhkan adalah kesehatan bagi calon anak dan Ibu.


...----------------...


Kini Alex sudah berangkat kerja jadi di rumah hanya ada dirinya saja.


Anin juga sudah memberi tahu Bu Indah, mungkin lusa ia akan datang menemaninya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore hari.


Alex yang hendak pulang lagi-lagi di ganggu oleh Erika. Entah hanya kebetulan atau memang di sengaja.


"Lex, kamu sudah beberapa kali menolak ajakan ku. Tidak kah kamu sedikit saja untuk bisa memberikan waktumu untukku, aku hanya ingin mengajakmu minum tidak lebih."


Alex diam sejenak memikirkan permintaan Erika, bukan dia tidak mau tetapi dirinya benar-benar tak ada waktu untuk meladeninya. Karena menurutnya itu tidak lah penting, saat ini istrinya lah yang jauh lebih penting dari apapun itu.


"Tapi." Belum sempat Alex berkata namun sudah terpotong oleh ucapan Erika.


"Sebentar saja Lex," ucap Erika memohon.


"Baik lah, tapi hanya sebentar." Seru Alex.


Sesampainya di cafe, mereka belum membuka percakapan, hening itulah sekarang.


"Eum Lex, boleh aku ngomong," sura Erika akhirnya memecah keheningan.


"Tinggal ngomong kan." Alex membalas ucapan Erika dengan sedikit malas.


"Kenapa kamu dulu menolak perjodohan kita sewaktu dulu?" Erika bertanya berharap Alex mau menjawab.

__ADS_1


"Apa tidak ada pembahasan lain, sehingga kamu mengungkit masa lalu yang sama sekali tak ada artinya." Alex mulai jengah, dengan apa yang di tanyakan oleh Erika.


"Ya aku cuma pengen tau alasan kamu saja, apa gara-gara Anin kamu menolak."


"Jangan sangkut pautkan dengan nama Anin, karena itu semua tidak ada hubungannya sama sekali mengerti." Alex menekankan kata-kata itu agar Erika tidak lagi menyalahkan sang istri tentang masa lalunya.


Bela saja terus, kalaupun perempuan ja*la*g, memang yang merusak semuanya. Harusnya saya yang menjadi istri Alex bukan wanita itu, baik lah sepertinya aku harus merebutnya mu dari perempuan sampah itu dari kamu. Karena kamu harusnya menjadi milikku Lex, bukan milik perempuan itu. Dalam hati Erika sungguh tidak menerima kekalahannya, dan dia pun berencana akan merebut yang sudah menjadi milik nya harus ia dapatkan lagi.


"Tapi memang kenyataanya begitu kan. Jadi, aku tidak salah."


"Cukup, karena saya memang tidak mencintai kamu. Jadi, jangan pernah kamu menyalah Anin!"


Alex berkata dengan wajah yang sudah di penuhi oleh emosi, namun sebisanya ia menahannya karena dirinya tidak mau terpancing emosi hanya dengan ucapan itu.


"Terimakasih untuk traktirannya, saya pamit." Alex berdiri karena merasa sudah muak dengan sikap Erika yang keterlaluan menurutnya.


"Tapi Lex," ucap Erika.


"Stop, jangan pernah mengganggu saya lagi."


Lalu Alex pergi meninggalkan Erika di cafe tersebut, tanpa pamit dirinya langsung keluar meninggalkannya seorang diri.


"Awas saja, aku pastikan kamu jatuh di pelukan ku Lex." Umpat Erika.


Sedangkan Alex, Alex tidak habis pikir dengan jalan pikiran Erika, yang tak bisa melupakan kejadian yang sudah lama terjadi. Sedangkan dirinya saja sudah tidak ingat akan kejadian dimana dirinya dan Erika pernah akan di jodohkan.


Tanpa terasa Alex sudah ada di pelataran rumah, dan ia pun bergegas masuk untuk melihat keadaan sang istri.


Ceklek.


Alex membuka pintu, dan tiba-tiba saja hidungnya mencium bau harum dari masakan tersebut. Sehingga membuatnya melupakan kejadian sejenak akan pertemuannya dengan Erika, yang membuatnya sedikit menahan emosi karenanya.


"Assalamualaikum, sayang." Alex mengucap salam sedangkan Anin sibuk dengan alat dapur.


"Waalaikumsalam Lex, kamu udah pulang?" tanya Anin, karena ia merasa bingung tumben-tumbenan suaminya pulang sedikit telat dari jam biasanya.


"Iya sayang," ucap Alex.


"Mau dibuatkan kopi," tawar Anin


"Boleh." jawab Alex, lalu dirinya duduk di kursi yang terdapat di meja makan.

__ADS_1


"Kenapa kamu menatapku seperti itu." Karena Anin merasa ditatap hingga membuatnya risih.


"Apa tidak boleh?" tanya Alex.


"Iya tapi aku risih, kamu nya natap seperti itu." Ujar Anin, dengan tangan memegang cangkir.


"Kamu tambah cantik," celetuk Alex.


"Iya kan aku perempuan," jawab Anin.


"Aish, di mana-mana itu ya kalau suami sedang memuji istrinya, sang istri bakal malu-malu gitu, lah kamu." Alex hanya bisa menggelengkan kepalanya karena sikap Anin tak pernah berubah.


"Sudah lah, jangan memuji." Ucap Anin, lalu memberikan cangkir yang berisikan kopi kepada sang suami.


"Makasih sayang," ucap Alex."


"Sama-sama."


Anin melanjutkan acara memasaknya, kali ini dirinya memasak ayam bakar manis madu, tongseng kangkung, dan capcay.


"Kamu mau mandi dulu, atau makan dulu?" Anin bertanya pada Alex yang masih asik dengan laptopnya.


"Mas, sepertinya mandi dulu." Setelah Alex mengatakan itu, lalu dirinya beranjak dari duduknya untuk segera mandi.


Tak berselang lama, Alex sudah berganti pakaian santai, dan kini dirinya sedang menikmati masakan sang istri dengan penuh kenikmatan.


Saat mereka berdua larut dalam kenikmatan, suara Alex membuyarkan keheningan yang tercipta diantara mereka berdua.


"Sayang, kapan mau beli perlengkapan buat baby kita nanti?" tanya Alex pada Anin.


Anin menghentikan suapannya, dan matanya beralih menatap sang suami.


"Kata Ibu pamali mas, kalau belinya sekarang. Jadi, nunggu satu bulan lagi untuk membelinya." Setelah berkata Anin melanjutkan suapannya yang sempat tertunda demi menjawab pertanyaan sang suami.


"Ya sudah kalau begitu." Tanpa menoleh Alex berucap.


Anin saat menerima telepon dari sang Ibu waktu kemarin, dan Ibunya bilang jika ingin membeli sesuatu Anin disuruh menunggu untuk menunda sampai usia kandungan menginjak delapan bulan, jadi Anin hanya menurutinya tanpa membantah.


Malam semakin larut dan sekarang jam yang bertengger di dinding, sudah menunjukkan angka 22:00 malam. Mereka berdua sudah masuk ke dalam kamar dan sudah siap untuk pergi ke dunia mimpi.


Anin pun semakin menyembunyikan kepalanya di dada bidang milik Alex, dan Alex pun memeluknya dengan erat, seakan takut kehilangan sosok sang istri yang sangat di cintainya.

__ADS_1


__ADS_2