Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 49. RENCANA NIKO.


__ADS_3

"Apa yang ingin ingin bicarakan," ucap Alex pada Alex.


Dan kini mereka keluar dan duduk di teras.


"Apa maksud kamu dengan memberikan uang kepada sosok seorang benalu, apa dengan kamu membantuku lekas aku merasa berhutang budi denganmu, dan akhirnya gue luluh,"


"Apa sebegitu piciknya tentang pikiranmu terhadap saya, ingat saya tak ada bermaksud apa-apa, saya hanya tak mau kamu di permalukan di depan umum," ucap Alex yang mencoba untuk menyakinkan Anin, jika niat nya hanya untuk membantu, dan tak ada yang lain.


"Lantas apa mau kamu di sebut sebagai anak durhaka, dan tega pada orang tuanya yang sedang sakit, apa mau kamu seperti itu! dan membuat semua orang akan membencimu, itukah yang kamu harapkan." ujar Alex lagi, kata-kata yang penuh penekanan.


Apa salah Alex membantu Anin, dengan memberikan beberapa lembar uang. Yah Alex salah, kesempatan yang akan di pergunakan lagi oleh keluarga yang tak tau berterimakasih, karena merasa dirinya telah mendapatkan angin segar dari seorang laki-laki yang bersama Anin sewaktu tadi. Dan Anin yakin suatu saat Edo akan kembali lagi.


Dan kini Anin, hanya terdiam tanpa sepatah kata pun, ada benarnya apa yang di katakan oleh Alex. Anin tak mau jika orang yang dulu pernah di hormati akan membuat rusuh di kosnya. Tetapi ada salahnya juga karena Alex memberikan uang kepada manusia tak berotak itu.


"Kenapa diam!" hardik Alex pada Anin, karena dirinya benar-benar kesal dan tak habis pikir dengan jalan pikiran Anin, karena terlalu menafsirkan pikiran kotor pada seseorang.


"Tapi apa yang kamu lakukan bukan lah ide yang bagus," ucap Anin, dan kini ia mulai menjawab ucapan Alex.


"Apa maksud kamu," ujar Alex pada Anin, karena Alex masih belum bisa mencerna kata-kata yang di ucapkan oleh Anin.


"Suatu saat mereka pasti akan datang kembali, dan aku pun berani menjamin nya, karena mereka pikir ini adalah kesempatan yang tak akan di sia-siakan, karena elu telah memberikan beberapa lembar uang untuk saat ini," kini Alex lah yang terdiam sambil memikirkan apa yang di katakan oleh Anin.


Dan Alex tak mengira bahwa kejadian ini akan semakin rumit dan panjang.


Saking Kasian nya pada Anin, yang terus saja di desak. Tanpa pikir panjang Alex memberikan uang sebesar lima lembar uang seratusan. Dan karena dirinya tanpa memberi peringatan pada Kakaknya Anin, suatu saat akan terjadi seperti ini.


"Maaf," ucapnya lirih, namun Anin pun masih dapat mendengarkan dengan jelas.


"Sudah terjadi apa mau di kata, berapa uang yang harus gue ganti saat elu memberikan uang pada lelaki tak tau diri itu," Anin berbicara tanpa menoleh dan menatap lawan bicaranya, tatapan kosong dan nada suara yang dingin tanpa ekspresi. Membuat Alex bergidik ngeri, karena wajahnya kali ini lebih menakutkan daripada nada bicaranya yang sudah mirip cabe pedes.


"Gak ada yang kamu ganti, karena saya ikhlas," ucap Alex.

__ADS_1


"Tapi gue gak mau ada hutang budi sama elu," tukas Anin pada Alex.


"Ya sudah ganti saja dengan cara menemani saya makan," tawar Alex.


"Apa itu sebuah penawaran untukku," ucap Anin.


"Anggap saja seperti itu, dan segeralah bersiap saya akan menunggu kamu di mobil," jawan Alex.


"Terserah elu."


Setelah Anin berdiri dan berjalan menuju kamar untuk bersiap-siap, lantas Alex pun berjalan menuju mobilnya sembari menunggu Anin.


🍀🍀🍀🍀🍀


Sedangkan di lain tempat, tepatnya di kediaman Niko.


"Nik, apa kamu sudah memberi tahu Anin?" tanya Bu Susi, pada Niko.


"Gimana mau gak," ucap Bu Susi.


"Mau kok Bu," ujar Niko.


"Syukurlah kalau begitu, Ibu sudah kangen sama itu anak," senyum bahagia tercetak jelas di wajah perempuan paruh baya itu, meski usianya sudah tak muda lagi namun wajahnya masih terlihat segar, tanpa ada keriputan yang menghiasi di setiap inci dari wajahnya.


"Apa lagi Niko, uda mentok kangennya," sambil menjawab Niko tersenyum tipis, karena memang tak di pungkiri kalau dirinya pun juga sangat merindukan kekasih hatinya.


Nin sebentar lagi kita akan menjadi pasangan yang serasi, dan kamu akan menjadi satu-satunya ratu di hatiku, gumam Niko di dalam hatinya.


Peletak.


"Auh sakit Bu," keluh Niko pada Ibunya karena keningnya me jadi landasan jemari Ibunya.

__ADS_1


"Habisnya sudah seperti yang tidak waras saja, senyum-senyum sendiri," ujar Bu Susi.


Bu Susi sengaja menyentil kening Niko, karena beliau sudah tak tahan melihat anaknya yang sudah mirip seperti orang yang tak waras.


Ck..ck.." Ibu ini mengganggu saja," sungut Niko. Dengan berdecak dan memonyongkan bibirnya terlihat seperti anak kecil yang sedang marah, Niko pun pergi meninggalkan Ibunya yang berada di ruang keluarga.


"Dasar sontoloyo, di kira Ibu tak pernah muda apa, uda kebaca kali Nik," teriak Bu susi pada Niko yang berjalan menaiki anak tangga, untuk menuju ke kamarnya.


Di dalam kamar.


Niko berada di balkon menikmati semilirnya angin sore. Di hirup nya dalam-dalam hembusan angin yang menerpanya, rasa damai yang menenangkan pikirannya. Membawanya ke puncak khayalan, langit yang begitu cerah seakan terlihat jelas wajah cantik Anin, yang sedang tersenyum padanya. Tak ada kata-kata yang diucapkannya, Niko hanya diam merasakan kedamaian serta bayangan wajah kekasihnya.


Hari yang mulai gelap, membuat Niko masih enggan untuk beranjak dari duduknya, entah sudah berapa lama dirinya berdiam di tempat, masih dengan tatapan yang menjurus ke langit, seakan dirinya tak mau meninggalkan bayangan yang ia buat.


Berharap cinta yang ia tanam akan subur selamanya, dan cinta yang ia berikan pada Anin, akan menjadi cinta yang terakhir di pelabuhan hatinya.


Seperti terhipnotis oleh bayangan kekasih yang sangat dicintainya, sampai-sampai Ibunya berteriak memanggil namanya. Niko pun masih acuh, entah di sengaja atau memang dirinya tak mendengar suara Ibunya.


"Ya Allah gusti, ini anak bener-bener di panggil kagak ada jawaban" gerutu Bu Susi.


"Nah itu anak, lagi ngelamunin apaan sih sampai segitunya Ibunya sampai di abaikan" gumamnya lagi.


"Niko!" teriak Ibunya tepat di sebelah badannya.


"Astagfirullah Ibu! kenapa sih teriak-teriak gitu, gendang telingaku masih normal kali Bu," jawab Niko pada Ibunya.


"Buruan turun semua orang pada nungguin, eh kamu nya lagi asik berkelana di dunia khayal,"


"Kok Ibu tau," tanya Niko.


"Ya tau lah, Ibu juga pernah muda. Jadi pasti tau,"

__ADS_1


"Kenapa kagak tahan ya, pengen cepet-cepet," goda Bu susi, kepada Niko.


__ADS_2