
Menempuh perjalanan yang cukup lama, membuat Anin terasa bosan. Karena sepanjang jalan mereka saling diam dan tak ada yang berbicara.
Dalam pikirnya Anin sadar jika dirinya tak pantas untuk lelaki sebaik Niko.
Jadi saat dirinya mendengar ucapan Niko sewaktu tadi, Anin sama sekali tak terkejut, karena sebelumnya dirinya sudah menyiapkan mental jika suatu hari ia harus merelakan sesuatu yang tak mungkin ia gapai.
"Ekhem," Anin masih acuh terhadap Niko.
"Hem..Ekhem." Untuk yang kedua kalinya, Niko masih di abaikan.
Tatapan Anin terfokus ke arah luar jendela menatap pepohonan yang berdiri di pinggir jalan yang saling berjejer. Ia hanya terdiam membisu dan tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Sampai kapan kamu akan mengabaikan Kakak sayang," ucap Niko pada Anin
"Sampai semua berakhir Kak," jawab Anin, masih dengan raut wajah yang tak bersemangat.
"Apa kamu ingin makan," tawar Niko.
"Tidak! karena masih kenyang," tolak Anin, dengan nada yang ketus.
Sabar sayang besok adalah hari bahagia kita, jadi maaf untuk saat ini Kakak ngebuat kamu sakit hati, batin Niko, sesungguhnya ia pun tak tega dan tak sampai hati jika harus membuat Anin sedih, tapi ini semua terpaksa ia lakukan demi sebuah kebahagiaan yang akan di sambutnya besok.
Ada rasa sesak di hati ku saat, Kak Niko berucap jika besok adalah hari bahagia untuknya, tapi semua ku tepis karena aku sadar aku bukan lah siapa-siapa. Tapi mengapa Kak Niko begitu tega terhadapku.
Jika memang dia tak benar-benar mencintai aku, mengapa ia menawarkan janji manis padaku, seperti bunga mawar cantik namun berduri. Yang setiap saat bisa menusuk.
Dalam diam Anin menghela nafas dalam-dalam mencoba berdamai dengan rasa sakit yang ia rasakan.
Sepanjang jalan mereka seperti seorang musuh tak ada kata dan canda.
Ayo Anin, pasti kamu bisa, semangat karena hidupmu masih butuh perjuangan lagi, ingat kamu bukan cewek lemah,dalam hatinya Anin menyemangati diri sendiri.
Waktu bergulir dengan cepat, tepat tengah malam mereka berdua sudah berada di halaman rumah, namun niat hati ingin membangunkan Anin, tapi di urungkan nya karena Niko tak tega jika harus membangunkannya.
Dipandanginya wajah Anin yang terlelap dengan rasa damai, lalu di belai lembut rambutnya, pelan tapi pasti Niko mendaratkan ciuman di keningnya. Lalu Niko keluar dari dalam mobil dan membuka pintu mobil sebelah, dengan pelan di gendong lah tubuh ramping Anin untuk memasuki rumah tersebut.
.
.
.
.
.
pagi telah menjelma dan jam dinding pun menunjukkan di angka 5:00 pagi.
Betapa terkejutnya Anin saat melihat di sekelilingnya ternyata bukan di mobil melainkan di suatu tempat, yang baginya tak asing lagi. Setelah dirinya membuka mata dengan perlahan.
"Bukanya ini kamar Kak Niko ya" Ucap nya pada diri sendiri.
__ADS_1
"Iya aku tak salah lagi, ini memang kamar milik Kak Niko" Sambil menautkan alis, Anin mencoba lebih meneliti kamar yang ia pakai sekarang.
"Tunggu apa ini" ucapnya lirih.
Anin melirik dimana perutnya seperti terdapat beban yang ia rasakan.
Kak Niko, ini benarkan kan Kak Niko, kalau memang dirinya akan membuat hari bahagia tapi mengapa, mengapa ia menemani ku tidur , apa maksud dari semua ini.
Ada rasa senang dan juga rasa sedih yang menyelimuti hatinya saat ini
Senang karena Niko menemaninya tidur, dan dipandanginya wajah lelaki yang berada di sebelahnya, karena sekian lama ia tak pernah berubah sedikitpun walau Akhir-akhir ini ada yang beda dari biasanya.
Dan rasa sedih itu hinggap di karenakan dirinya ternyata bukan satu-satunya, dan nanti. Nanti ia akan di minta menjadi saksi atas kebahagiaan yang di laksanakan hari ini.
Tanpa sadar dirinya membelai pipi mulus lelaki yang selama ini telah memberikan seluruh cinta serta kasih sayang.
"Eumm...Sayang, rupanya kamu sudah bangun ya, ucap Niko.
" Maaf," hanya ucapan itu yang di lontarkan oleh Anin.
Perlahan tangannya di angkat dari wajah Niko, namun tanpa di duga Niko malah menahannya.
"Biarkan begini, karena Kakak ingin kamu membelai wajah Kakak lebih lama lagi," pintanya pada Anin.
Sesaat Anin menautkan kedua alisnya dan merasa aneh akan sikap Niko, yang terbilang lebih manja dari sebelumnya.
Sesaat Niko berdiri dari tempat di mana dirinya memejamkan mata semalam, namun dikira Anin, Niko akan keluar nyatanya pikirannya salah, Niko malah naik ke atas ranjang dan berbaring lalu kepalanya di taruh di paha Anin.
"Aish dasar anak muda jaman sekarang" ucapnya pelan.
Tapi Ibu bahagia melihat kalian bahagia, semoga Allah selalu melimpahkan kebahagiaan untuk kalian selalu, doanya dalam hati.
Setelah itu Bu Susi menutup pintunya dengan pelan, dan melangkahkan kakinya ke arah keluar, meninggalkan kamar mereka.
"Apa Kakak akan menjadi layaknya bocah yang ingin di manja oleh Ibunya," ejek Anin pada Niko, karena sedari tadi dirinya enggan untuk menyudahi.
"Ah, baik lah, kamu mandi lah dulu setelah itu kamu turun. Karena Kakak akan kebawah terlebih dahulu," ucap Anin.
"Baik lah, sekarang keluarlah." titah Anin, yang masih tanpa ekspresi.
Niko pun sudah keluar, dan kini tinggallah Anin.
Kenapa semua seakan menjadi rumit. Agh..Aku sama sekali tak bisa berpikir kalau begini caranya, ada apa sebetulnya ini. Rutuk Anin dalam hati.
Karena ia masih tak bisa mencerna dengan akal waras, semua seakan-akan menjadi benang yang tak bisa di gulung.
Lama memikirkan hingga suara ketukan berulang kali tak di dengar olehnya.
Tok.
Tok.
__ADS_1
"Anin, cepat buka pintu."
Suara keras dari arah luar, membuat ia langsung tersadar dari pikirannya.
Ceklek.
Anin pun membuka pintu, dan suara itu adalah milik Niko.
"Maaf, baru keluar dari kamar mandi," bohong Anin.
"Ya sudah tak apa, sekarang ganti lah bajumu dengan ini," ucap Niko, dengan memberikan paper bag, yang berada di tangannya.
"Apa ini sangat-sangat penting," ucap Anin tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Sangat penting dan sangat berarti, karena ini momen kebahagiaan ku. Jadi kamu jangan sampai merusaknya," Niko pun memberikan peringatan pada Anin.
Ada rasa sakit di hati namun tak berdarah, yang ada di otaknya sekarang. Mereka semua sama saja dengan keluarganya, sama-sama penghianat.
Tanpa berkata, Niko pun keluar dari kamar setelah memberikan gaun untuk di gunakan nanti.
"Bedebah semuanya, kenapa gue mau saja di bawa kesini, jika harus berakhir menyedihkan" umpatnya.
Tanpa di sadari tangisannya pecah, tak mampu untuk membendung perasaan yang teramat sakit.
Sekuat hati, ia menguatkan agar tetap tegar dan tak terlihat cengeng di hadapan mereka.
Satu demi satu di pijak lah anak tangga itu, dan Anin berjalan menuruni setiap tangga.
Tak.
Tak.
Tak.
Suara langkah kaki Anin, membuat semua mata tertuju kepadanya, namun Anin merasa risih akan tatapan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Dan ada satu orang yang tak lepas dari pandangannya, Niko, Niko menatap gadis yang berada di anak tangga dengan rasa penuh kekaguman. Long dress yang kini melekat di tubuh Anin, begitu sangat pas dan cocok, sehingga menambah aura kecantikannya dengan di padukan makeup natural.
"Anin, sini nak," panggil Ibu Susi.
"Iya, Bu," jawab Anin.
" Kamu cantik sekali nak," puji Bu Susi.
"Makasih Bu," ucap Anin singkat.
"Bapak Andrian," Anin yang menegur Ayahnya Niko, lalu dirinya mencium tangan lelaki paruh baya itu dengan takzim.
"Gimana kabar kamu Nin," ucap Ayahnya Niko.
"Baik Pak." jawab Anin.
__ADS_1
Setelah selesai bertegur sapa, kini mereka semua fokus pada pokok inti acara yang di gelar cukup hanya dengan keluarga. Tanpa melibatkan orang lain.