
Tiga hari sudah mereka berdua berada di rumah sakit, dan untuk acara pernikahan antara Anin dan Niko, terpaksa harus di tunda, dan begitu besar harapan keluarga dari Niko. Untuk kesembuhannya mereka, Karena selama tiga hari pula belum ada tanda-tanda pergerakan dari anggota tubuhnya.
Dan selama beberapa hari juga Anin hanya diam tanpa kata, jika dirinya mau bicara itu hanya dengan Niko.
Sungguh berat jika kita kehilangan sosok seseorang sebagai pelindung kita, sosok yang mampu mengisi hari-hari kita, sosok yang selalu menguatkan kita di saat angin menerpa.
"Nin lu makan ya, sedari pagi itu perut belum di isi apapun." Intan masih setia menunggu sahabatnya yang sudah di anggap saudarinya sendiri.
Anin tak menjawab, tapi air matanya luruh membasahi pipinya, kini ia merasa telah kehilangan sebagian separuh jiwanya. Dan itulah mengapa ia sama sekali tak bersemangat.
"Jika tuhan mengizinkan gue rela menukarnya demi kesembuhan Kak Niko, karena sosok Kak Niko lebih berarti di banding gue Ntan."
Huss.."Elu gak boleh bicara seperti itu."
"Nyatanya memang benar ada nya kan, gak ada sosok keluarga di samping gue, saat raga gue hancur beserta hati dan seluruh hidup gue."
Sejenak Intan terdiam, jika apa yang di katakan Anin memang benar. Sedari tiga hari sekarang tak ada yang menjenguknya meski pihak dari keluarga Niko sudah memberi tahu akan keadaan Anin di rumah sakit.
Betapa berat hidup yang kamu jalani Nin. Batin Intan.
"Harusnya gue yang mati di saat itu, karena mati adalah harapanku, karena percuma gue hidup." Ucap nya lagi.
"Mana Anin yang gue kenal, mana Anin yang tahan banting, dan mana sosok Anin yang begitu kuat, dan mampu menutupi segala masalah, di sini gue tak melihat sosok itu." Akhirnya emosi Intan tak terbendung lagi. Karena merasa jika Anin lemah dan rapuh.
Anin pun menunduk tapi isak tangisnya terdengar walau lirih.
"Bisa Antar gue ke ruangan Kak Niko."
Tanpa berbicara Intan pun mendorong kursi roda yang di duduki Anin, sesuai permintaanya ia akan mengantarkannya ke ruangan Niko.
"Tante Susi, bisa minta tolong buat jagain Anin sebentar," Intan sengaja meminta tolong Bu Susi untuk menjaga Anin sementara sampai dirinya kembali.
"Tenang lah, Tante akan menjaga Anin," terdengar suara tanpa semangat menimpali ucapan Intan.
"Ya sudah Tante saya pamit dulu ya," pamit Intan pada Bu Susi.
"Berhati-hatilah." Ucapan terakhir dari Bu Susi, dan Intan menoleh sebentar lalu mengangguk.
Intan yang membutuhkan bantuan, segera menghubungi Alex.
Tuuut. Panggilan pun terhubung.
["Halo Assalamualaikum, Lex,"]
["Waalaikumsalam, ada apa Ntan?" tanya Alex di sebrang telepon.
["Elu sibuk gak,"] sebelum meminta bantuan, Intan memastikan kalau Alex sedang tak lagi sibuk.
["Enggak kenapa?"] Alex bertanya, dan sepertinya ada hal penting jadi ia berusaha untuk menutupi walau sebenarnya dirinya memang sedikit agak sibuk.
["Jemput gue di RS, secepatnya. Ya sudah kalau begitu gue matiin ya, Assalamualaikum."]
["Waalaikumsalam."]
__ADS_1
Lalu sambungan telepon terputus.
Setelah mendapat telepon dari Intan, Alex pun segera keluar dari ruangannya. Untuk segera menemui Intan yang berada di rumah sakit.
Jalanan tak begitu ramai jadi Alex bisa bernafas lega, karena biasanya di jam-jam segini jalanan padat oleh pengendara.
Jam menunjukkan di angka lima sore, Alex juga sudah sampai di rumah sakit, lalu segera turun dari mobilnya setelah itu menghampiri Intan.
"Assalamualaikum." Terdengar suara lelaki sedang mengucap salam, buru-buru Intan mengangkat kepalanya.
"Waalaikumsalam, Alex."
"Iya, ada apa apa kamu meneleponku?" tanya Alex.
"Mau minta tolong, tolong anterin gue ke rumah seseorang,"
"Ok, baik lah."
Kini mereka berjalan dan menuju ke mobil, untuk mengantarkan Intan kemana tempat yang ia tuju.
"Terus ini kemana?" karena Alex yang tidak tahu akan tujuan Intan, jadilah dirinya bertanya.
"Nanti lurus saja, terus belok kiri," jawab Intan.
Alex pun menurut, dan mengambil pintasan seperti yang di katakan oleh Intan.
Stop.
Alex memberhentikan mobil, tepat di depan rumah, yah bisa di bilang tak layak huni. Karena sebagian atap sudah bolong, dan tembok yang mulai retak. Sedang kan Alex mengernyitkan dahinya. Mungkin dalam hatinya bertanya-tanya ini rumah siapa? kalaupun rumah Intan sepertinya tidak mungkin karena ia tahu selama berada di sini, Intan menginap di rumah Niko.
"Ini rumah orang tuanya Anin." Tiba-tiba Intan bersuara, untuk memberi jawaban yang ada di dalam hati Alex.
"Elu nunggu di sini apa ikut turun,"
"Nanti jika situasinya tidak memungkinkan, saya akan turun."
"Ok."
.
.
.
.
.
Di rumah Bu Indah.
"Permisi."
Tok.
__ADS_1
Tok.
Tok.
"Assalamualaikum." Cukup lama Intan berdiri di ambang pintu, namun belum ada satu orang pun yang menjawab panggilan Intan.
Tak berapa keluarlah seseorang lelaki yang di perkirakan usianya tak jauh beda dengan usia Niko.
"Waalaikumsalam, siapa ya?" tanya seseorang itu.
"Perkenalkan gue Intan sahabat dari Anin."
"Gue Edi, memangnya kenapa Anin, apa dia sengaja mengirim kamu untuk membawa undangan pernikahannya." Ujar Edi, yang ia yakin kalau kedatangan perempuan ini hanya memberi tahu bahwa akan ada acara pernikahan yang di gelar.
"Apa itu yang ada di otak elu," Intan yang merasa geram.
"Bukannya itu memang berita yang terakhir gue dengar setahun lalu,"
Apa elu gak berniat bertanya tentang keadaan Anin." Dengan bersendakap Intan berujar.
"Apa maksud elu!" Edi sedikit menaikkan nada suaranya.
"Apa elu gak pernah punya pikiran tentang Anin, hidup atau mati nya dia, bahagia atau justru hancur berkeping-keping hatinya! apa elu sedetikpun tak merasakan firasat sesama saudara. Oh ya, gue lupa jika kalian sudah tak mengharapkan Anin lagi, meski saat ini ia berjuang hidup sendirian di rumah sakit tanpa ada sanak saudara satupun." Intan yang tak terkendali lagi, dan berteriak kencang hingga membuat Alex terpaksa turun untuk melihat keadaannya, karena mendengar teriakan dari Intan.
Terkejut pasti.
Edi yang tak mampu menahan kakinya akhirnya merosot di sandaran pintu. Betapa tak pantasnya ia menjadi seorang Kakak tanpa ia tahu keadaan Anin yang pernah disakitinya dulu.
"Bagaimana keadaanya sekarang!" Dengan wajah yang memerah menahan sesak, Edi berusaha kuat.
"Harus kah gue memberi tahu elu untuk kedua kalinya!"
Edi bingung karena merasa tak menerima kabar perihal Anin sama sekali. Atau jangan-jangan Ibunya, jika memang benar Ibunya yang sengaja tak memberi tahu dan berbohong, bisa jadi kali ini Edi tak akan tinggal diam.
"Mungkin sudah cukup gue ngasih tau elu, gue pamit Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Edi hanya diam mematung masih memikirkan serangkaian kata demi kata yang di ucapkan oleh Intan. Dan jika Anin di rumah sakit berusaha bertahan hidup! Itu tandanya Anin mengalami hal yang serius. Tanpa ia ketahui, dan Ibunya, Ibunya adalah dalang atas semua ini yang dengan sengaja menyembunyikan keadaan Anin, tanpa memberitahunya.
Intan dan Alex belum pergi, jadi Bu Indah bertanya-tanya itu mobil siapa, setelah dirinya pulang dari warung.
"Ed, i..." Belum selesai Bu Indah bertanya namun sudah di potong oleh Edi.
"Kenapa Ibu tega, jawab aku Bu!" Edi benar-benar murka kepada Ibunya.
"A-apa maksud kamu,"
"Ibu jangan berlaga bodoh, sebenarnya Ibu tau kan tentang Anin, di mana hati nurani Ibu sebagai orang. Huh."
Melihat kedua manusia berantem Membuat Intan puas dan tertawa terbahak-bahak, di dalam mobil, dan Intan berharap jika meraka segera mendapatkan karma tentang apa yang selama ini mereka tanam karena itu pantas.
"Jalan Lex."
__ADS_1
Tanpa berkata Alex bak robot yang siap menerima perintah dari tuannya.