Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 41 . KEMBALINYA ALEX


__ADS_3

Seketika pelukan itu kini terlepas, dan mereka berdua merasa kikuk seperti seseorang yang sudah tertangkap basah.


"Kalian mengapa bisa di sini, dan kamu! kamu kalau tak salah Alex kan."


"Iya saya Alex, gimana kabar kamu,"


"Baik." ucap Intan.


"Terus kenapa kalian bisa berada di sini, dan.."


Sejenak ia tak melanjutkan ucapannya dan menggantung.


"Ka-kamu jangan salah paham dulu, bisa gue jelasin," kata Anin, karena takut jika Intan akan salah paham dengan apa yang di lihatnya.


"Ok.. Sekarang jelaskan!" suara yang di keluarkan Intan cukup bernada tinggi, dan kini ia mencoba untuk mendengarkan penjelasan orang-orang yang berada di depannya.


"Saya tadi tidak sengaja bertemu Anin di sini, karena saya jenuh berada di rumah memutuskan untuk pergi ke taman ini, dan melihat Anin menangis." Ucap Alex yang mencoba menjelaskan awal mulanya.


"Tapi kenapa sampai kalian berpelukan."


"Itu..itu karena eum, saya kangen iya kangen! betul kan Anin." Alex pun mengelak tentang apa yang sebenarnya terjadi dan tak mau seseorang tau akan dirinya yang memeluk Anin.


"Iyah Intan begitu ceritanya." Sahut Anin, dan mencoba mengikuti jawaban yang di ucapkan Alex pada Intan.


"Tidak ada yang kalian sembunyikan, kan dari saya!"


"Tidak Ada." Mereka menjawab dengan jawaban yang sama, sehingga membuat Intan semakin yakin jika mereka tengah menyembunyikan sesuatu.


"Kalian yakin."


"Yakin." Jawab mereka bersamaan.


"Ku rasa tidak, tapi ya sudah lah itu urusan kalian! dan ku harap kalian tak mempersulit keadaan masing-masing."


"Dan kamu Anin, sedari sore aku kelimpungan mencari lu, ternyata lu ada sama lelaki ini," Intan sungguh kesal karena Anin, sedari sore ia mencari kesana-kemari nyatanya ia berada di taman berduaan dengan lelaki berwajah datar itu.


"Maaf gue gak bilang ke elu kalau mau pergi." Anin akhirnya meminta maaf pada sahabatnya karena sudah membuat Intan mengkuatirkan dirinya.


"Ya sudah lain kali jangan di ulangi." Ucap Intan.


🍀🍀🍀🍀


Sedang kan di kediaman Bu Susi.


"Apa kamu gak sebaiknya berkata jujur pada Anin, soal ini Nik," ucap Ibunya.


"Jangan Dulu Bu, aku tidak mau Anin semakin kuatir kepadaku." Jawabnya pada Bu Susi.


"Tapi lebih kasian lagi jika tak ada kabar sama sekali kan!"


"Nanti kalau sudah waktunya aku akan mengatakannya Bu." Tukas Niko.

__ADS_1


"Terserah kamu saja, tapi ingat lebih cepat lebih baik, karena bisa jadi dia menunggu kabar dari kamu,"


"Iya nanti ya Bu, karena aku tak mau membuat sedih dirinya karena sudah terlalu banyak beban yang ia pukul sendiri sedari kecil."


"Ya sudah kamu istirahat lah, Ibu mau turun dulu." Percakapan terakhir antara Niko, dan Ibunya Sebelum Bu Susi turun dan meninggalkan kamar anaknya tersebut.


"Nin, maaf jika kamu menunggu kabar dari Kakak, dan maaf sudah menyembunyikan ini semua dari kamu, bukan niatku tak berkata jujur namun aku tak mau membuat kamu bertambah sedih" ucapan lirih yang di tujukan untuk sang kekasih.


Bu Susi berharap Niko agar segera memberi tahu tentang keadaannya yang sekarang, ingin rasanya Bu Susi memberi tahu akan semua ini namun Niko mencegahnya, agar Ibunya tak memberitahunya tentang apa yang terjadi pada dirinya.


Lepas itu Bu Susi hanya pasrah, dan ia memohon di setiap sujud nya agar anaknya bisa beraktivitas seperti semula.


.


.


.


Sedang kan di lain tempat, tepatnya di kos.


Anin kini sedang berada di kamar Intan, tatapan menjurus ke depan namun kosong! sedari tadi Intan yang lelah memanggil nya namun Anin masih asik di dunia khayalan yang membawanya ke dalam lorong gelap.


Pada Akhirnya Intan membiarkan sang sahabat dengan pikirannya sendiri.


Meski kini mereka berada dalam satu kamar namun tak ada obrolan di antara mereka berdua, entah lah.


Suara dering gawai yang di hadapannya membuat ia tersadar, dan di liriknya siapa nama yang terpampang di layar ponsel, dan berharap jika yang menelepon itu adalah Niko, namun sayang dugaannya salah! ternyata yang menghubunginya adalah Alex.


Dengan mendengus kesal Anin pun mengangkat telepon itu.


["Segeralah keluar,"] balas Alex.


Akhirnya panggilan di akhiri oleh Alex, dan kini dirinya melangkah tanpa menoleh kepada Intan, padahal Intan berharap Anin, memberi tahu apa yang sedang terjadi, dan seakan-akan Anin tak melihat jika ia berada di sampingnya.


"Ada apa?" tanya Anin.


"Hanya mau mengantarkan ini," jawab Alex.


"apa itu,"


"Ayam panggang ada dua kotak yang satu bisa kamu kasihkan pada teman itu." Lantas Alex menyodorkan nasi kotak yang ia bawa dari rumah makan.


"ini terlalu mahal,"


"Sudah lah jangan berpikir tentang harganya, makanlah untuk penambah energi agar lebih kuat dalam menghadapi kenyataan hidup."


"Tapi sekarang waktunya gue berangkat kerja."


"Isilah perutmu dulu, setelah ini saya akan mengantarkan mu."


"Ya sudah makasih untuk makanannya."

__ADS_1


Setelah bercakap dengan Alex, Anin pun masuk lagi ke dalam kamar Intan.


"Ntan,"


"Iya kenapa,"


"Ini nasi segeralah makan lekas itu kita berangkat kerja."


"Siapa yang ngasih ini Nin,"


"Noh orangnya di depan samperin kalau mau tau," ujar Anin.


"Alah paling juga si muka datar."


"Kamu ada teh gak," tanya Anin pada Intan.


"Ada,"


"Gue minta ya."


Intan tak menjawab namun menganggukkan kepala.


Teh yang baru saja di buat tinggal di suguhkan, dan Anin pun keluar membawa cangkir yang berisikan teh yang di buat barusan.


"Teh minumlah,"


"Iya makasih." Dan Alex pun menerima cangkir yang di berikan Anin padanya.


Biarpun Anin menolak ku, namun aku merasa bahagia dengan perlakuannya terhadap ku, apa mungkin masih ada secarik harapan untuk aku mendapatkan hatinya. Batin Alex sambil menyesap teh yang di buatkan oleh Anin.


"Nin, apa ini tak berlebihan," seru Intan pada Anin.


"Kenapa memangnya!" ucap Anin.


"Lihat lah."


Lalu Anin melihat isi kotak pemberian Alex.


Satu ekor ayam, berada di sisi nasi jika orang tak mampu manalah sanggup membeli satu ekor ayam.


Jangan kan membeli makan saja tak pernah dan tak ada sejarahnya di kehidupan Anin.


"Anggap saja itu rejeki kamu." Ucap Anin datar.


Sekilas ia memikirkan akan Alex yang mencintainya, apa jangan-jangan semua makanan ada hubungannya dengan perasaan.


Dengan menyogok makanan serta kebaikan di balik lelaki itu kepadanya apa ada yang di mau. Itulah yang berada di otak Anin, dan pikiran itu seakan-akan menari mengitari isi kepalanya yang hampir meledak.


Dan Anin pun ingin tau sejauh mana lelaki itu mengejarnya demi mendapatkan hati dan cintanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Warning di larang keras memberikan bom like, jika tak suka dengan karya ini bisa di skip.


Dan jika suka mohon dukungannya dengan meninggalkan jejak seperti like komen rating dan vote. salam cinta untuk kalian semua.


__ADS_2