Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 25 . KEJADIAN YANG TAK TERDUGA


__ADS_3

Tak terasa sore pun berganti dengan malam, dan malam pun kian bertambah larut, tepat pukul tujuh malam mereka pun baru saja sampai di tempat kos milik Anin. Dan Niko sudah berencana akan menginap di kamar kos milik Anin juga.


"Jadi nginep di sini?" tanya Anin pada Niko, bukannya Anin tak memperbolehkan ia tidur di sini, keadaan yang tak memungkin kan karena Anin, hanya punya kasur kecil yang hanya cukup di tiduri oleh satu orang saja.


"Iya jadi dong."


"Kakak tau sendiri kan, kasur nya kecil mana muat Kak, sedang kan kemaren itu ya, badanku pada remuk semua gara-gara berbagi ranjang."


"Kamu ada karpet gak," tanya nya pada Anin.


Tiba-tiba saja jawaban Niko membuat ia langsung menoleh kepada lawan bicaranya.


"Untuk apa?" Anin pun heran karena tiba-tiba saja Niko bertanya apakah ada karpet atau tidak, lantas untuk apa dan di gunakan apa.


"Ada memang buat apa?" tanyaku lagi karena masih penasaran perihal karpet.


"Buat tidur, nanti kamu tidur di atas biar Kakak tidur di bawah."


Tumben ini orang agak waras biasanya juga gak mau tau. batin Anin dalam hati, karena tak seperti biasanya.


"Udah ngumpatnya!"


"Eh, Eng-engak kok."


"Uda kebaca kali tuh liat muka kayak orang bingung."


"Apa! apa dia punya ilmu kebatinan ya hingga tau kalau aku sedang mengumpatnya" gumam ku dan semoga tak terdengar olehnya.


Tak berapa lama aku mengangkat bokongku dan segera berdiri untuk mengambil apa yang di minta Niko barusan.


"Aish kok susah amat sih" gerutu ku.


"Makanya jadi orang itu yang tinggian dikit kenapa? gitu tuh, kalau orang pendek kan gak nyampe." Sambil di iringi tawa Niko mengejek Anin, yang tengah mengambil barang di atas lemari untuk di turunkan namun ia tak sampai untuk meraihnya sekalipun ia berjinjit.


"Tawa sana terus!" sambil melemparkan bantal tepat ke arah Niko, karena merasa ejekannya mematahkan semangat untuk meraih karpet, dan itu sukses membuat Niko terdiam.


"Dasar cewek bar-bar."


"Bodoh."


Merasa kasihan terhadap Anin, akhirnya Niko berdiri dan membantu untuk mengambil barang yang berada di atas lemari itu. Anin pun masih melompat-lompat tanpa ia menyadari bahwa ada Niko di belakangnya.


BUGH..Tanpa sengaja Anin terjatuh akibat salah satu dari kakinya tak bisa menahan, saat ia melompat tadi. Dan alhasil tubuh ramping miliknya menimpa tepat di atas badan milik lelaki yang berada di belakangnya saat itu.

__ADS_1


Kini wajah mereka saling bertatapan dan terdengar suara Dag..Dig Dug. Alias jantung mereka saling bergetar satu sama lain.


"Baru kali ini, jantung gue berpacu seperti kuda, saking cepetnya kalau lari sampai Deg-degan. Batin Niko yang masih di posisi di bawah.


"Ini jantung kenapa yah? berasa di kejar guk-guk gemetar dan Deg-deg kan, apa gue ada penyakit jantung perasaan gak deh. Anin yang semenjak tadi terus diam sambil memikirkan jantungnya yang sedang kembang kempis, dan sesekali menggelengkan kepalanya".


"Ekhem, udah belum liatnya, kalau udah bisa turun gak! keburu singkongnya berdiri," Anin yang mendapat bisikin dari Niko sontak terlonjak, karena memang ia merasa sesuatu yang aneh.


Aaaaaa..


Di rasa ada yang mengganjal tanpa pikir panjang Anin pun meraba yang menurutnya ada hal aneh, namun setelah memegangnya ia lantas berteriak sekencang-kencangnya. dan dengan terpaksa Niko membungkam bibir Anin dengan kelima jemarinya.


Stttt.."Diam! kalau kamu gak cepetan turun entar yang ada tambah makin tegak." Ucapan Niko mampu membuat Anin langsung bangun dan berdiri, namun Niko masih tergeletak di bawah karena merasa nafasnya Naik turun karena sesuatu di dalamnya begitu sesak.


Lantas Niko berdiri tepat di hadapan Anin, sembari berkata atas kejadian ini, dan itu semua salahnya.


"Ini semua gara-gara kamu tau gak, tanggung jawab kamu!" seru Niko pada Anin.


"Kok jadi nyalahin aku, orang gak ada yang luka juga." jawabnya.


"Tanggung jawab gak!"


"Ogah! mana gak ada yang luka minta tanggung jawab." Bantahnya.


Hayo jangan sampai traveling ya kalian, cukup diam di sini, maaf bukan niat mencuci isi kepala kalian, karena nulisnya sesuai judul doang.


Niko semakin dekat dan semakin mendekat kearah wajah milik gadis Ayu itu. Dan hap..


Tanpa Aba-aba Niko langsung melahap habis bibir mungil milik Anin, dan sang pemilik bibir itupun hanya bisa diam dan tercengang akan aksi yang di lakukan lelaki di hadapannya saat ini.


Sedetik dua detik Anin pun ikut larut dalam permainan dosa yang di rasa nikmat itu, dan Niko pun semakin menjadi dengan melingkarkan kedua tangannya di perut ramping milik Anin. Dan entah sudah berapa menit mereka saling menukar slavia hingga terdengar suara ketukan, dan membuat mereka langsung menghentikan dan mematikan kompor yang terdapat wajan di atasnya yang sudah mulai mengepul dan teramat panas itu.


Tok..tok..tok.


"Nin! Anin, kamu sudah tidur ya." Terdengar suara panggilan dari luar membuat mereka agak kelabakan. Karena sengatan yang di peroleh dari sang ubur-ubur, mampu membuat seluruh tubuh mereka melemas walau hanya pemanasan saja.


"Iya bentar, sambil merapihkan pakaian Anin berjalan hendak membukakan pintu dari sahabatnya, karena iya hafal betul dari pemilik sang suara cempreng itu.


Ceklek.." Ada apa sih malam-malam gini ganggu orang lu,"


"Gimana soal."


Sttt.." Diem! kita keluar jangan di sini." bisik nya pada Intan.

__ADS_1


Mereka pun sudah berada di luar kamar dan agak sedikit menjauh dari tempat kos.


"Maaf gue lupa mau ngabarin lu." Ujar Anin.


"Terus."


"Berapa tarifnya?" tanya Anin pada Intan, karena mereka berdua saat ini tengah membahas pekerjaan yang cukup banyak menghasilkan uang.


Lantas Intan pun membisikkan berapa nominal yang ia Terima nantinya, dan seketika membuat mata Anin terbalak lebar.


"Ok, jam berapa besok?"


"Jam nya nanti gue tanyain lagi ya, bisa jadi kisaran jam delapan mungkin bisa gak lu."


"Bisa tenang aja, itu mah kecil."


"Ok deal ya kita."


"Sip."


Begitu bahagianya aku saat mendapat tawaran seperti ini, yah mau bagaimana lagi hidup ini keras! jika tak bisa mencari sesuap nasi apa lah kita bisa bertahan hidup, tidak! mungkin ini sudah menjadi kehendak ku, meski begitu terkadang tersirat rasa iri yang merajai hati serta pikiran ku kala melihat mereka yang berduit serta kemewahan yang mereka miliki.


Rasa iri itu Manusiawi bukan.


Boleh kah aku bermimpi menjadi mereka.


Boleh kah aku berharap sedemikian rupa.


...


Hanya harapan.


Semua itu hanya mimpi.


Tetapi semua orang punya mimpi bukan.


Tapi tidak termasuk aku.


Aku tak punya Impian serta cita-cita yang bisa di banggakan.


Kalau kata orang Jawa bilang.


Ojo ngarep petek blorok ngendok.

__ADS_1


Aku tak ingin tidur terus menerus dan bermimpi yang tak pasti, lantas aku segera bangun dari tidurku dan Jalani.. Jalani..Serta jalani hidup.


__ADS_2