
Flashback on
"Luthfi," teriak seorang perempuan cantik sambil berlarian menyusul Luthfi yang baru saja masuk ke dalam lift eksekutif. Sontak saja Luthfi membulatkan matanya saat gadis cantik itu tiba-tiba saja menubruk tubuhnya kemudian menangis tersedu dalam dekapannya.
"Merlyn?" beo Luthfi saat menyadari gadis yang tiba-tiba berhambur ke pelukannya adalah Merlyn. Salah satu teman dekatnya dan Alvian. Mereka bisa dekat karena orang tua Merlyn pernah bertetangga dengan Bu Ayu. Sebelum akhirnya mereka pindah. Lalu ia dan Merlyn dipertemukan saat menempuh pendidikan di universitas yang sama. Suatu hari, saat ia dan Alvian sedang nongkrong di cafe, Merlyn menghampirinya dari sanalah Merlyn terus mencoba mendekati Alvian yang masih sangat ia ingat kalau mereka pernah bertetangga. Berkat itu pula, orang tua Merlyn kembali menjalin komunikasi dengan Bu Ayu.
"Luthfi, kok kamu nggak kasi tau sih kalau Alvian nikah? Kamu jahat tau nggak sih? Padahal kamu tahu aku suka banget sama Alvian, dari kecil malah, tapi kok kamu bukannya bantu aku deketin Al? Kamu malah dukung dia nikah sama janda itu? Otak kamu dimana sih, Fi? Itu juga si Al, apa kurangnya aku sih? Kok malah mau sama janda? Anak tiga lagi. Padahal ada aku yang jelas-jelas setelan." Raung Merlyn dalam pelukan Luthfi. Luthfi sampai melongo dan tak mampu merespon kata-kata Merlyn yang panjangnya melebihi lintasan kereta dan kecepatannya hampir menyamai kecepatan cahaya.
"Kalau ngomong itu satu-satu bisa?" Omel Luthfi. Bukannya iba, malah jengah. Ia bahkan mendorong pundak Merlyn agar menjauh. Tapi Merlyn justru kian mencengkram sisi kiri dan kanan kemejanya dengan kuat. Ia menempel nak lintah yang keenakan menghisap darah.
"Heh, lepas! Baju gue kotor, begok!" sentak Luthfi membuat Merlyn terpaksa melepaskan pelukannya. Kemudian ia mengambil tisu dan mengelap pipinya yang basah pun membuang isi hidungnya yang menyumbat.
"Kamu kok tega banget sih, Fi? Orang lagi sedih juga, bukannya dihibur, malah dimarahin." Merlyn terisak-isak dengan mata dan hidung memerah.
"Tuh kan, kemeja aku jadi basah. Mana ada bekas lipstiknya. Mana nggak bawa baju ganti juga padahal siang ini mau ajak Ayang Fani makan siang bareng. Entar dia jadi salah paham gimana?" gerutu Luthfi kesal. Bukannya menanggapi omelan Merlyn, Luthfi justru sibuk mengkhawatirkan kemejanya yang basah terkena air mata Merlyn dan noda lipstiknya.
"Tuh, kamu juga udah punya pacar ya? Terus aku gimana? Aku nggak mau dipaksa nikah, Fi. Pikirku kalo aku nggak bisa nikah sama Al, aku bisa minta bantu kamu nikah sama aku. Tapi kamu tau-tau udah punya pacar. Ah, pokoknya aku harus temui Al. Aku akan maksa dia nikahin aku. Nggak papa deh jadi yang kedua yang penting aku jadi istrinya. Lagian biasanya istri kedua itu merupakan istri yang paling disayang jadi nggak masalah jadi istri kedua," gumam Merlyn dengan pikiran yang sudah melayang kemana-mana.
__ADS_1
"Dasar gila. Loe mau merusak pernikahan Al dan istrinya? Jangan aneh-aneh deh, Lyn! Loe nggak mau kan dicap pelakor oleh orang-orang," seru Luthfi memberikan peringatan pada Merlyn membuat gadis itu mencebikkan bibirnya.
"Tapi kan aku yang lebih dulu kenal Al, Fi, dari janda itu, tapi kenapa justru Al lebih milih janda itu sih? Mana anak 3 lagi. Sehebat apa sih dia sampai Al bisa kepincut sama janda itu? Aku aja bertahun-tahun berusaha meluluhkan hatinya, susah banget," geram Merlyn. Dia sudah bersabar bertahun-tahun, tapi kesabarannya kini sudah mencapai puncaknya. Padahal ia baru pergi selama 2 tahun untuk melanjutkan studinya sesuai dengan pekerjaan yang ia geluti, tapi di saat-saat terakhirnya menempuh pendidikan di Aussie, ibunya justru mengabarkan pernikahan Alvian. Sebenarnya setelah mengetahui berita itu, Merlyn rasanya ingin langsung terbang ke Indonesia untuk menggagalkan pernikahan Alvian. Namun sayangnya, saat itu ia sedang menyusun tesis. Mana mungkin ia tinggalkan pendidikannya hanya untuk menggagalkan pernikahan Alvian.
"Mau siapa yang kenal duluan atau belakangan, kalau nggak jodoh ya mau gimana lagi, Lyn. Mau loe mengejarnya bertahun-tahun sampai loe encok pegelinu juga kalau nggak jodoh ya tetap aja nggak jodoh. Mungkin mbak Fira emang jodoh pak bos, jadi nggak usah loe usik-usik lagi. Artinya pak bos tidak berjodoh dengan loe. Siapa tau setelah ini, loe bakal nemuin cowok yang lebih segalanya dari pak bos. Ikhlas, Lyn. Kayak gue, ikhlas. Gue juga sempat naksir Bu bos, tapi setelah tahu pak bos cinta sama Bu bos terus Bu bos pun merespon pak bos, gue ikhlas. Dan sebagai gantinya, gue pun ketemu cewek yang berhasil menggetarkan hati gue. Siapa tau setelah ini, loe juga kayak gitu. Asal loe ikhlas. Dan satu lagi, dia itu punya nama, namanya Zafira. Nggak etis banget nyebut-nyebut dia janda. Lha dia aja dah laku sekarang. Udah sah punya laki, bukan janda lagi. Jadi jangan panggil dia janda lagi. Loe orang berpendidikan kan? Loe seharusnya punya attitude, jangan seenaknya nyablak." Omel Luthfi panjang kali lebar membuat Merlyn mencebikkan bibirnya. Bersamaan itu, pintu lift terbuka, mereka pun keluar bersamaan. Namun Luthfi langsung berbelok menuju kamar mandi untuk membersihkan noda bekas lipstik di kemejanya. Jangan sampai Refani salah sangka, pikirnya terus langsung menolaknya begitu saja. Sebab Refani belum menjawab ajakannya. Ia masih meminta waktu untuk berpikir. Menikah bukanlah keputusan yang bisa diambil seenaknya, tanpa pemikiran panjang. Ia harus benar-benar memikirkannya sebab pernikahan adalah ibadah terpanjang seorang manusia.
...***...
Setibanya di depan meja sekretaris, Merlyn menanyakan keberadaan Alvian. Karena Merlyn mengatakan kalau dia adalah sahabat atasannya, sekretaris baru Alvian pun mempersilahkan Merlyn untuk menemui Alvian. Awalnya Alvian terkejut, tapi ia tetap memperlakukan tamu dengan baik dengan mempersilahkannya duduk di dalam. Ia juga meminta Meta, sekretarisnya membuatkan Merlyn minum.
Alvian menghela nafasnya, ia memang tahu Merlyn memiliki rasa padanya, tapi Alvian tak pernah menggubrisnya. Ia hanya menganggap Merlyn tak lebih dari teman kecil, mantan tetangga yang sudah seperti adik baginya. Tak lebih.
"Tolong jaga ucapanmu, Lyn! Dia bukan lagi janda. Dia adalah Zafira. Istriku. Istri yang kucintai." Tegas Alvian tak suka bila ada yang menyebut Zafira janda. "Kamu tanya kenapa aku menikahinya? Itu karena aku mencintainya. Sangat cinta. Lagipula kenapa kalau dia janda? Yang penting dia bukan istri orang lagi."
"Tapi apa kamu nggak merasa curiga, Al? Bagaimana bisa kamu jatuh cinta sama janda anak 3? Hebatnya apa sih? Bisa jadi dia itu pake pelet, Al. Jangan mudah luluh gitu aja kenapa sih?" sentak Merlyn masih belum terima kenyataan.
"Kau jangan sembarang fitnah, Lyn. Istriku tidak mungkin melakukan itu. Kalau kau hanya ingin membuat keributan di kantorku, lebih baik kau pulang sekarang juga. Aku masih banyak pekerjaan," ketus Alvian yang berdiri sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
Merlyn yang merasa diusir pun ikut berdiri. Air matanya sudah berdesakan-desakan keluar dari pelupuk matanya. Merlyn benar-benar kecewa dengan sikap Alvian yang kini kian jauh setelah menikah.
"Al ... aaaakh ... " Karena perasaannya yang sedang hancur lebur, kaki Merlyn tiba-tiba lunglai membuatnya tak mampu menjaga keseimbangan tubuh sehingga nyaris terjatuh kalau tidak Alvian segera menangkap tubuhnya. Di saat bersamaan, pintu ruangan Alvian terbuka. Dari baliknya, muncul sosok yang menjadi sumber perdebatan mereka. Siapa lagi kalau bukan Zafira.
"Sayang," pekik Alvian terkejut melihat kedatangan sang istri.
Zafira yang terlalu terkejut dan pengaruh kehamilannya juga membuat otak Zafira seketika blank. Ia justru menangkap lain apa yang ia lihat. Di matanya, Alvian tampak sedang memeluk tubuh Merlyn. Jantungnya seketika bergemuruh. Matanya berkabut membuat Alvian seketika panik hingga mendorong tubuh Merlyn hingga nyaris jatuh.
"Sayang, aku bisa jelasin. Ini ... ini tidak seperti yang kau pikiran. Aku ... "
Zafira mengangkat tangannya memberikan isyarat agar Alvian mengehentikan penjelasannya. Nafas Alvian tercekat. Ia benar-benar khawatir sekarang. Bagaimana kalau Zafira tiba-tiba ingin pergi meninggalkannya?
Flashback off
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1