Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
106


__ADS_3

Setelah mengantarkan Regina dan Refina pulang ke rumah Alvian, Refano pun segera memacu mobilnya menuju ke rumah sakit untuk mengurus kepulangan Baby Reza.


Setibanya di rumah sakit, Refano sudah menemukan Saskia yang sedang memperhatikan buah hati mereka di dalam sebuah box khusus bayi. Alat-alat medis yang kemarin menempel di tubuhnya telah dilepas. Refano harap, anaknya tetap bisa tumbuh dengan baik meskipun kemungkinan itu sangatlah kecil karena kondisi fisiknya yang berbeda dari anak-anak lainnya.


"Sas, kau sudah lama tiba di sini?"


"Ah, mas Refan. Belum kok. Mungkin baru sekitar 15 menit lah," jawabnya kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke arah bayinya. "Reza sangat lucu ya, mas." Ucap Saskia lirih.


"Hmmm ... bayi yang tampan." Jawab Refano singkat.


"Mas, boleh aku minta satu hal padamu?" Kini Saskia mengalihkan atensinya sepenuhnya pada Refano.


"Apa itu?" Dahi Refano mengernyit. Benaknya bertanya-tanya apa yang calon mantan istrinya itu inginkan.


"Mas, kau tahu bukan, aku sudah tidak memiliki kemungkinan untuk memiliki keturunan lagi. Aku ... aku sadar, mana ada laki-laki yang mau menerima perempuan cacat sepertiku," lirih Saskia dengan kepala tertunduk. Ia menghela nafas panjang, kemudian melanjutkan kata-katanya. "Mas, kau juga tahu, Reza membutuhkan ASI ku. Dia alergi terhadap susu formula."


"To the point saja. Jangan bertele-tele!" ucap Refano datar dengan alis yang sudah menyatu.


"Mas, biarkan Reza ikut denganku. Aku mohon. Aku berjanji, akan merawat dan menjaganya dengan baik. Aku mohon, mas. Tolong!" Ucap Saskia lirih penuh harap. Matanya bahkan telah memerah. Ia ingin merawat anaknya dengan kedua tangannya sendiri. Berharap dengan itu, ia bisa menghapus rasa bersalahnya sebab ia merasa berkat andilnya lah apa yang menimpa putra tunggalnya itu. Sejak menyadari segala kesalahan dan kekeliruannya selama ini, Saskia pun ikut menyesali setiap kata-kata yang pernah terlontar dari bibir terhadap anak-anak Zafira. Karena itulah, ia bermaksud menebus segala kesalahannya dengan merawat baby Reza.


Refano diam tercenung. Ia bingung. Ia ingin merawat Reza, tapi ia sadar, anak itu lebih membutuhkan ibunya dibandingkan dirinya. Apalagi Reza tidak bisa meminum susu formula. Reza membutuhkan ASI ibunya untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Refano tak bisa bersikap egois. Kesehatan anaknya jauh lebih penting untuk saat ini. Apalagi dengan kondisi fisik Reza yang berbeda membuatnya membutuhkan perhatian ekstra.


Refano menghela nafas panjang, kemudian ia mengangguk. Semoga ini yang terbaik pikirnya.


"Baiklah. Aku percayakan Reza padamu. Aku akan mengirimkan uang bulanan untuk kebutuhannya. Setiap bulan kita harus melakukan check up kesehatan Reza jadi aku akan mengantarkan kalian ke rumah sakit. Sesekali aku akan mengajak Reza menginap denganku dan kakak-kakaknya, aku harap kau tidak melarang keinginanku."


"Tentu saja tidak, mas," jawab Saskia cepat dengan mata berbinar. "Aku tidak akan merecoki keinginanmu. Lagian itu hakmu sebagai ayah. Aku tidak akan melarangmu, mas. Terima kasih karena kau sudah mau mempercayakan Reza padaku, mas. Aku pasti takkan menyia-nyiakan kepercayaan yang telah kau beri," ucap Saskia sungguh-sungguh.


...***...

__ADS_1


"Wah, anak-anak papa ternyata udah pulang! Papa kangen banget. Padahal baru juga semalam pergi, tapi papa udah kangen banget," ucap Alvian dengan senyum merekah sempurna. Wajah lelahnya berganti ceria. Keberadaan istri dan anak-anaknya memang mood booster baginya. Lelahnya langsung lenyap seketika saat melihat senyum di wajah-wajah orang-orang kesayangannya.


"Kakak sama Regi juga kangen papa, ya nggak dek?" balas Regina yang diangguki Refina.


"Lefi juga kangen papa. Papa, liat boneka Lefi, lucu kan?" ucap Refina sambil mengangkat sebuah boneka sapi berwarna hitam putih yang lucu.


"Wah, iya! Refi dibeliin papa Refan ya?" tanya Alvian yang sudah berjongkok di hadapan kedua putrinya yang sedang duduk lesehan sembari main berdua.


Refina menggeleng, "bukan, pa, tapi Lefi dapat dali mesin capit, pa. Lefi sama kak Legi dapat banyak. Papa mainnya pintel," ujar Refina girang.


"Wah, pasti kalian senang sekali bisa jalan-jalan sama papa. Kapan-kapan kita jalan bareng papa Al sama mama dan dedek Zafran juga, mau?"


"Mau, pa, mau," seru keduanya kompak.


"Oh ya, mama mana sayang? Kok papa nggak liat?" tanya Alvian saat celingak-celinguk tidak menemukan keberadaan istrinya. Tidak biasanya seperti ini sebab biasanya sepulangnya dari kantor, Zafira telah berdiri di ambang pintu untuk menyambut kepulangannya.


"Mama lagi temenin nenek, pa. Nenek sakit."


Sementara itu, di kamar Bu Mayang, tampak Zafira tengah memijit kaki sang ibu. Sejak pagi ibunya mengeluh tak enak badan. Zafira pun merasa khawatir sebab ibunya selama ini jarang sakit. Wajah ibunya pun tampak pucat. Tubuhnya tidak panas, melainkan sedikit dingin membuat jantung Zafira terus berpacu cemas.


Oleh sebab itu, sejak pagi, ia tak mau jauh-jauh dari ibunya. Bahkan ia membaringkan Baby 6di samping ibunya agar bila bayinya itu terbangun dan ingin menyusu, ia bisa langsung menyusui di sana. Beruntung, kedua putrinya sudah mulai mandiri. Hanya Regina saja yang masih membutuhkan bantuan misalnya saat ingin mengenakan pakaian. Untung saja, Alvian mempekerjakan Sinta dan Caca untuk mengurus buah hatinya, jadi ia tidak begitu kerepotan apalagi di saat seperti ini.


"Ibu nggak papa toh nduk. Jangan terlalu khawatir seperti ini. Liat, ini udah sore, pasti suamimu udah pulang kerja. Kasihan dia pulang capek-capek pas liat istrinya nggak ada." Ucap Bu Mayang mencoba menenangkan Zafira agar tidak terlalu cemas. Namun entah mengapa, hati Zafira tetap saja tak bisa tenang setelah mendengarnya.


"Tapi Bu ..."


"Zafira ... kamu tahu nak, ibu itu bangga banget sama kamu. Meskipun ditimpa berjuta masalah tapi kamu tetap tegar dan mampu menerima dengan ikhlas. Kamu juga mampu memaafkan orang-orang yang menyakiti kamu. Ibu dan bapak bangga sekali sama kamu, nak. Ibu juga bahagia, kamu telah menemukan laki-laki yang tepat untuk menjadi pendamping hidupmu. Ibu juga bangga sama suami kamu. Dia bukan hanya mau menerima mu apa adanya, tapi juga menerima anak-anakmu, serta mampu menjadi imam yang baik untuk keluarga kecilmu. Terus seperti ini ya, nduk. Jadilah istri dan ibu yang baik. Jadi istri yang berbakti dan setia. Ibu bahagia sekali melihatmu dan cucu-cucu ibu akhirnya menemukan kebahagiaan kalian. Bapak pun pasti ikut bahagia di sana," ucap Bu Mayang lirih.


"Iya, Bu. Nasihat ibu akan Fira ingat selalu. Ibu nggak perlu khawatir, Fira akan selalu jadi anak baik kesayangan ibu." Balas Zafira yang langsung berhambur ke pelukan sang ibu. Bu Mayang mengelus punggung Zafira dengan sayang.

__ADS_1


tok tok tok ...


Terdengar suara diketuk. Zafira pun melepaskan pelukan ibunya dan membukakan pintu.


"Bang."


"Ibu kenapa, sayang?" tanya Alvian yang juga mencemaskan sang ibu mertua.


"Ibu lagi nggak enak badan, bang. Makan juga nggak mau. Udah berapa hari ini emang ibu susah banget makannya. Fira sampai harus siapin baru ibu mau makan, itupun sedikit." Adu Zafira pada sang suami.


Bu Mayang tersenyum kecil melihat tingkah putrinya yang sedikit manja dengan sang suami. Justru pemandangan itu membuat Bu Mayang bahagia sampai berkaca-kaca karena terharu.


Mendengar penuturan sang istri, Alvian pun meminta izin masuk kemudian berjongkok di samping ranjang. Disentuhnya tangan sang ibu mertua kemudian menggenggamnya.


"Ibu kenapa? Kok nggak bilang Al kalau lagi sakit? Kan kita bisa periksa ke dokter," tutur Alvian lembut.


"Ibu nggak papa kok, nak. Ibu cuma nggak enak badan jadi bawaannya lemas. Mungkin karena berapa hari ini ibu malas makan. Kamu nggak usah khawatir. Fira aja cemasnya berlebihan padahal ibu nggak papa. Demam juga nggak kan?" sahut Bu Mayang lembut.


"Tapi ibu nggak boleh menyepelekan kesehatan ibu. Kami itu sayang banget sama ibu jadi liat ibu sakit kayak gini rasanya kayak ada yang kurang. Sedih, cemas, khawatir, gitu Bu. Ibu mau ya periksa ke dokter?" bujuk Alvian.


"Nggak usah, nak. Ibu nggak papa kok. Ibu cuma butuh istirahat aja," ucap Bu Mayang lembut. "Ra, ajak suamimu istirahat aja dulu sana. Buatin minum apa. Suamimu pasti haus. Ibu mau sendiri dulu." Ucap Bu Mayang mengusir secara halus.


"Tapi Bu ... "


"Zafira ... " Tekan Bu Mayang membuat Zafira terpaksa menurut.


"Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, panggil aja Fira yang, Bu. Fira juga mau mandiin Baby Zafran."


"Iya, iya. Bawel," seloroh Bu Mayang sambil tertawa kecil. Setelahnya, mereka pun segera keluar dari dalam kamar itu meninggalkan sang ibu yang tersenyum lembut sambil memandangi punggung Zafira uang mulai menghilang dari ambang pintu.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2