
Karena terlalu fokus menghadapi pemimpin gerombolan begal itu, tanpa ia sadari salah satu rekan mereka hendak memukul Merlyn dari belakang dengan balok kayu. Hingga ...
"Awaaaas ... "
Brakkkk ....
Mendengar suara benda terjatuh pun, Merlyn reflek menoleh. Matanya terbelalak saat melihat sosok yang dijumpainya di kantor Alvian tengah membantunya menghadapi para berandal begal yang hendak mengeroyoknya. Seorang laki-laki sudah terkapar tak berdaya setelah mendapatkan hantaman teh chiang (menendang ke atas dalam bentuk segitiga memotong di bawah lengan dan rusuk dalam seni bela diri mua Thai).
"Mas hot Daddy?" seru Merlyn dengan mata berkilat bahagia. Tiba-tiba Merlyn seakan mendapat suplai tenaga baru. Semangatnya meningkat drastis. Pun tenaganya jadi meningkat berkali lipat.
Ia arahkan lagi perhatiannya pada pemimpin gerombolan begal itu. Lalu ia mulai melayangkan tangan maupun kakinya sekuat dan segesit mungkin untuk menjatuhkan lawan. Pemimpin begal berwajah sangar itupun akhirnya roboh, berikut kelima pengikutnya. Saat salah seorang pengikutnya hendak bangkit dan melarikan diri, Refano langsung mencegahnya dan melakukan teep atau jab kaki membuat laki-laki itu tersungkur sambil terbatuk-batuk yang mengeluarkan darah.
Makin besar saja ke kekaguman Merlyn pada sosok Refano yang ternyata menguasai kemampuan bela diri mua Thai asal Thailand tersebut. Di saat bersamaan, terdengar sirine polisi yang beriringan dengan mobil milik Restu, sahabat Merlyn.
"Mas hot Daddy, makasih ya udah mau bantuin, Lyn!" ucap Merlyn sungguh-sungguh dengan mata berbinar-binar.
"Tidak ... "
"Lyn, are you okay?" seru Restu yang langsung berhambur menuju Merlyn.
"I'm okay. Thanks ya. Gue pikir loe nggak bakal datang. Orang udah terkapar semua, loe baru nongol. Untung aja ada mamas hot daddy yang bantuin gue," ucap Merlyn seraya menyindir.
"Sorry. Jalanan di depan sana agak macet. Ada kecelakaan. Eh tapi, apa maksud kamu tadi malas hot daddy?" Lalu Restu mengikuti arah pandangan Merlyn. "Dia ... siapa?" tanya Restu sambil memperhatikan Refano yang tampak sedang berbincang dengan petugas polisi.
"Dia ... ekhem ... mamas hot daddy. Doain dia jadi bakal calon imamku ya, Res." Ucap Merlyn tanpa percaya diri membuat Restu mendengkus kesal.
"Yang benar aja deh, Lyn, loe suka sama om-om kayak gitu? Gue nggak habis pikir sama loe, Lyn, tempo hari yang masih wajar lah ya loe suka sama Bang Al. Lah ini ... keliatan banget dia jauh lebih tua dari elo." Omel Restu tak suka.
"Dih, suka-suka gue dong. Masalah hati, siapa yang bisa mencegah jatuhnya sama siapa."
"Kalau tuh om-om udah punya bini kayak gimana? Loe mau dicap sebagai jadi pelakor?"
"Reres, jangan doain kayak gitu deh! Doain yang baik-baik kek. Nggak kasihan apa loe sama gue yang jomblo seumur hidup. Baru aja bisa move on ke cowok lain, eh udah dipotekin. Kamu kejam banget tau nggak!" Merlyn mencebik kesal.
"Cup cup cup, Lyn cantik jangan sedih ya! Entar Abang Restu traktir bakso deh."
"Dih, bujukannya nggak mempan. Gue udah terlanjur sebel sama loe." Sentak Merlyn kesal.
__ADS_1
"Sorry, Lyn, sorry. Gue bukannya mau doa yang jelek-jelek. Gie justru mau yang terbaik buat loe. Se-."
Belum selesai Restu bicara, sebuah tangan sudah menarik atensi Merlyn untuk menoleh.
"Tangan kamu terluka. Kenapa malah masih berdiri di sini?" ucap Refano datar. Tanpa ekspresi sama sekali. Namun bukan itu masalahnya. Merlyn justru merasa jedag-jedug sebab tangan Refano tengah memegang lengannya yang ternyata tanpa ia sadari terluka. Luka itu terletak di lengan atas bagian belakang karena itu Merlyn tak sadar. Jangankan Merlyn, Restu saja tidak menyadarinya bila Refano tidak menghampiri mereka. Menyadari luka itu cukup besar bahkan mengeluarkan cukup banyak darah, barulah Merlyn meringis sakit. Begitulah sebuah luka, baru terasa sakit saat disadari. Bila belum disadari, maka kita akan merasa biasa saja.
"Ah, aku ... "
Belum sempat Merlyn menjawab, Refano sudah menarik lengan Merlyn untuk duduk di dalam mobilnya. Lalu ia segera mengambil kotak obat dan membersihkannya dengan hati-hati membuat hati Merlyn jadi berbunga-bunga.
Namun bunga-bunga yang baru saja hendak mekar itu seketika layu saat Merlyn menangkap sebuah bingkai foto berukuran 5R tergeletak di atas dashboard mobil Refano. Sebuah foto yang menampakkan seorang perempuan yang sangat ia kenali sedang tertawa bahagia dengan 2 orang anak perempuan yang cantik.
'Bukannya itu mbak Fira? Tapi kok fotonya ada di sana? Bukannya mbak Fira istri Al sekarang? Eh, tunggu-tunggu, bukankah Al menikahi seorang janda anak 3. Apa itu mbak Fira dan kedua anaknya? Lalu mana satu anaknya lagi? Dan ... apakah mamas hot daddy ini mantan suami mbak Fira? Kalau iya, kenapa mereka pisah? Melihat ada foto mbak Fira dan anak-anaknya di sini, aku yakin kalau sebenarnya mamas hot Daddy ini masih mencintai mbak Fira, tapi ... '
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Merlyn sampai tak sadar kalau lukanya telah dibersihkan dan dibalut perban oleh Refano.
"Sampai kapan kau mau melamun? Sudah ada temanmu, bukan? Kalau begitu, kau minta antarkan dia saja pulang ke rumah. Jangan menyetir sendiri. Takutnya kau tidak bisa konsentrasi karena lukamu itu," ucap Refano yang hanya bisa diangguki Merlyn dengan mulut terbungkam.
"Lyn, ayo aku antar pulang!" Restu menarik pelan tangan Merlyn agar segera keluar dari dalam mobil Refano. Saat Merlyn turun, Refano langsung saja menutup pintu mobilnya. Ia harus segera menjemput Regina dan Refina. Ia takut kedua anak perempuannya itu kelamaan menunggu dan ketiduran. Namun yang lebih membuat khawatir Refano adalah Regina dan Refina marah dan tak mau bertemu dengannya lagi.
Merlyn hanya bisa melongo saat Refano mengemudikan mobilnya tanpa berbasa-basi lagi dengannya.
"Dasar ice man. Nyebelin banget sih. Basa-basi dulu kek mau pergi. Pake ngeloyor gitu aja," omel Merlyn membuat Restu mendengkus keras.
"Udah malam, ayo pulang," ketus Restu sambil menggandeng Merlyn masuk ke dalam mobilnya.
"Kalau loe yang nyetir, gimana dengan mobil loe, Res?" tanya Merlyn heran sebab bukankah Restu kemari membawa mobilnya sendiri.
"Gampang. Tuh, ada sepupu gue yang bawa balik."
Merlyn menoleh. Ternyata di dalam mobil Restu memang ada laki-laki lain yang diakui Restu sebagai sepupunya.
"Sepupu loe beneran?"
"Iyalah, emang loe pikir dia siapa?"
"Siapa tau dia partner loe main pedang-pedangan," seloroh Merlyn hendak menghilangkan kegabutannya.
__ADS_1
"Apa loe bilang? Heh, jangan sembarang bicara ya! Gue cowok normal. Sukanya membajak sawah, bukannya main pedang-pedangan. Perlu gue bukti keperkasaan gue?" balas Restu membuat Merlyn tergelak.
"Ogah. Loe bukan laki gue."
"Ya udah, kita nikah aja biar gue bisa sah jadi laki loe. Setelahnya baru kita main membajak sawah."
"Ogah. Wekkk ... " Merlyn menjulurkan lidahnya ke arah Restu membuat laki-laki itu tergelak.
...***...
"Papa," seru Regina dan Refina riang saat melihat kedatangan Refano.
"Ya, sayang. Maafin papa yang agak telat. Tadi ada masalah di jalan soalnya."
"Nggak papa kok, pa. Yang penting papa nggak ingkar janji," ucap Regina riang.
"Iya, pa. Ayok pa, Lefi mau ke lumah papa? Ental kita tidul baleng kan, pa?"
"Iya, dong. Sekarang, pamit dulu sama mama, papa Al, Oma, dan nenek."
Dengan patuh, Regina dan Refina pun melakukan sesuai perintah sang ayah. Setelahnya, mereka pun bergegas pergi ke rumah Refano.
"Ini lumah papa?" tanya Refina setibanya di rumah Refano.
Refano mengangguk sambil tersenyum sendu, "iya. Kenapa, sayang? Rumah papa kecil ya?"
"Nggak kok, pa. Nggak papa. Lefi pikil papa ajak Kakak sama Lefi ke lumah Oma."
"Kalian mau kembali ke rumah itu?"
Regina dan Refina menggeleng cepat, "nggak mau, pa. Bagusan rumah papa yang ini, iya kan dek?" tanya Regina pada Refina.
"Iya kak. Apalagi di sini kita bisa bobok sama papa. Kalau lumah Oma, kita nggak bisa bobok sama papa. Papa juga ndak mau bicala sama kakak, sama Lefi juga. Jadi enakan di sini."
Refano tak dapat membendung rasa haru yang tiba-tiba saja menyeruak di rongga dadanya. Ia pikir, setelah terbiasa tinggal di rumah besar milik Alvian, anak-anaknya akan merasa enggan tidur di rumahnya yang minimalis. Tapi ternyata itu tidak terbukti. Anak-anaknya justru bahagia terlebih mereka bilang di sini mereka bisa tidur dengannya.
'Terima kasih ya Allah atas kesempatan yang engkau berikan sehingga aku masih bisa merasakan kebersamaan dengan anak-anakku.'
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...