
"Halo kakak tiriku. Halo kakak iparku. Apa kabar kalian?" sapanya ceria membuat jantung kedua orang yang disapa itu mencelos dengan wajah pucat pasi.
"A-Ayu? Kamu ... benar-benar Ayu?" ucap Marwan dengan mata berbinar dan bibir bergetar.
"Hmmm ... aku Ayu. Kenapa? Kalian terkejut aku masih hidup?" desis Ayu sambil menyeringai dan mengalihkan tatapannya pada Liliana yang wajahnya sudah benar-benar pucat pasi.
"Mama mengenal wanita itu?" tanya Saskia yang merasa penasaran melihat keberadaan Ayu. Tadi Ayu berada di atas panggung, lalu kini ia menghampiri mereka. Bahkan Refano pun bertanya-tanya, apa hubungan Ayu dengan kedua orang tuanya. Namun mengingat Ayu yang memanggil ibunya sebagai kakak tiri, lalu ayahnya sebagai kakak ipar, apa wanita itu merupakan adik tiri sang ibu? Tapi ibunya tidak pernah menceritakan apapun padanya.
"Dia ... " Nafas Liliana tercekat. Apalagi saat Ayu menatapnya tajam dengan seringai di bibirnya.
"Tentu ... dia sangat kenal denganku. Ternyata mertua dan menantu sama saja ya, suka merebut milik orang lain. Ku pikir, seiring bertambahnya umurmu, kau akan berubah kakakku sayang. Namun ternyata tidak sama sekali. Bahkan lebih parah," cibir Ayu dengan ekspresi mencemooh. Saskia tertegun di tempatnya, pun Refano. Refano jadi berpikir, apa mungkin wanita ini sebenarnya memiliki hubungan dengan ayahnya. Apalagi saat ia melihat ekspresi sang ayah yang tampak memandang Ayu dengan binar kerinduan yang mendalam.
"Kau ... jangan sembarang bicara. Aku tidak pernah merebut milik orang lain," kilah Liliana tak mau dirinya dinilai negatif oleh orang lain, termasuk anak dan menantunya. Meskipun anaknya sudah tahu keburukannya, tapi cukup sampai disitu saja.
Mendengar Liliana berkilah atas tudingannya tak pelak membuatnya tergelak.
"Hahaha ... kau sangat lucu kak. Setelah segalanya kau ambil, bahkan hampir merenggut nyawaku dan anakku, ternyata kau masih bisa hidup berbahagia. Enak sekali."
"Apa maksudmu dengan hampir merenggut nyawamu?" tanya Marwan dengan dahi berkerut membuat sorot mata Ayu seketika menajam.
"Kau tanyakan saja pada istrimu tercinta ini, apa yang sudah dilakukannya padaku dan calon anakku?" Satu sudut bibir Ayu terangkat, membuat Liliana makin gemetar.
"Kau ... jangan menuduhku sembarangan. Kapan aku mencoba mencelakakan mu? Kita bahkan tidak pernah bertemu lagi setelah kau pergi dari rumah. Mas, jangan percaya ucapannya. Dia bohong. Dia hanya ingin mengadu domba kita agar saling bertengkar. Ia hanya masih tidak terima kau menikah denganku. Jangan coba-coba memfitnahku wanita sialan!" sentak Liliana dengan nafas tersengal dan jantung bergemuruh.
"Aku ... memfitnahmu?" desis Ayu dengan jari telunjuk terangkat mengarah kepada dirinya sendiri. "Terserah orang mau percaya atau tidak, tapi yakinlah, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Begitu pula dirimu, aku yakin segala kebusukan dan kejahatanmu pasti akan segera terkuak." Ucap Ayu tenang, tapi sorot matanya begitu tajam menusuk membuat tubuh Liliana seketika panas dingin dan gemetar.
"Bunda, ayo kita foto-foto bareng. Baby Zafran juga sudah tak sabar foto bareng keluarga besarnya," ucap Alvian yang tiba-tiba telah berdiri di samping Ayu.
__ADS_1
Sorot mata tajam tadi seketika berubah menjadi teduh. Lalu ia meraih baby Zafran yang berada dalam gendongan Alvian. Baby Zafran seketika tersenyum lucu saat berada di gendongan Ayu membuat keempat orang di hadapan Ayu seketika seperti terhipnotis. Wajah Baby Zafran yang begitu tampan, lucu, dan menggemaskan. Pipinya bulat berisi berwarna kemerah-merahan, hidung bangir, bibir tipis merah seperti buah Cherry, alis tebal dan rapi, bulu mata tebal, bola mata bulat dengan netra hitam pekat, sangat-sangat lucu dan menggemaskan. Apalagi saat baby Zafran tertawa renyah membuat Refano tanpa sadar mengulurkan tangannya ingin menyentuh, tapi dengan secepat mungkin Ayu memundurkan tubuhnya.
"Ah, ya, aku lupa mengenalkan cucuku, dia ... Muhammad Zafran Altakendra, putra dari Alvian Altakendra. Salam kenal," ucap Ayu santai. Kemudian dengan langkah acuh tak acuh, Ayu kembali lagi ke atas panggung bersama Alvian.
Brukkk ...
"Mama," pekik Saskia dan Refano saat Liliana tiba-tiba saja pingsan saat Ayu telah membalikan badannya.
"Fan ... "
"Papa," pekik Refano yang makin terkejut saat melihat Marwan tampak meremat bagian dadanya.
...***...
"Bang, bunda kenal mereka?" tanya Zafira saat baru saja masuk ke dalam kamar hotel tempat mereka menginap.
Alvian yang paham siapa yang dimaksud pun mengangguk.
"Hubungan? Konflik? Hubungan seperti apa dan konflik yang bagaimana? Jadi mereka nggak akur gitu ya, bang?" tanya Zafira sambil melepaskan satu persatu aksesoris yang menempel di rambutnya.
"Ya, seperti itulah." Jawabnya lagi sambil membuka satu persatu kancing kemejanya dan berjalan mendekat ke arah Zafira hingga kini ia telah berdiri tepat di belakang Zafira. Perasaan Zafira yang tadinya santai seketika menjadi gugup. Apalagi saat ia melihat Alvian memamerkan dada bidangnya membuat Zafira menunduk. "Berceritanya nanti aja ya. Pasti lain kali aku bakal cerita, tapi bukan saat ini. Ini bukan waktu yang tepat. Ada hal yang lebih penting untuk kita lakukan," bisik Alvian yang sudah mencondongkan tubuhnya sambil memeluk tubuh Zafira dari belakang. Nafas Alvian berhembus mengenai rongga telinga dan leher Zafira, membuat tubuh wanita itu kian menegang dengan bulu-bulu halus di sekujur tubuhnya yang berdiri.
"Ha-hal apa? Apa kamu ada pekerjaan lain?" tanya Zafira gugup setengah mati.
"Iya, ada hal yang harus kita kerjakan dan sangat penting." Jawab Alvian mencoba untuk santai. Padahal sebenarnya jantungnya pun sudah jedag-jedug tidak karuan. Apalagi saat aroma tubuh Zafira menguar dan menusuk rongga hidungnya membuatnya tanpa sadar mengecup leher Zafira.
"B-bang, sebentar lagi waktunya shalat Ashar," cicit Zafira seraya menahan ******* yang hampir saja keluar karena bibir Alvian yang sedang kecup-kecup manja di lehernya.
__ADS_1
"Lantas?" bisiknya sensual di telinga Zafira. Sengaja ia meniup-niup telinga itu membuat Zafira kian merinding disko.
"Seben-thar lagi sore." Disela keterbuaiannya, Zafira masih mencoba mengurai akal sehatnya.
"Lalu?" Lanjut Alvian sambil menyeringai.
"A-bhang mandi dulu, terus kita sholat bareng."
"Oke!" Ucapnya santai sambil melepaskan rengkuhannya di pinggang Zafira membuat wanita itu bernafas lega. "Tapi ... "
"Tapi apa?" tanya Zafira dengan netra membulat. Ia benar-benar gugup sekarang.
"Ck ... sok polos banget sih istriku ini. Udah tahu, nanya. Udah sholat, kita ritual ya! " ucap Alvian santai membuat pipi Zafira memerah. Tentu ia tahu apa yang dimaksud.
"Tapi ... ini kan masih sore. Melakukan itu kan biasanya malam hari karena itu disebut malam pertama."
"Memangnya ada larangan melakukannya sore hari? Nggak kan? Sebut aja itu sore pertama kita. Malamnya baru kita melakukan lagi, malam pertama. Lalu esok paginya kita melakukan lagi, pagi pertama, terus siangnya juga, siang pertama, bagaimana? Kamu ... " ucap Alvian sambil memainkan alisnya membuat Zafira bergidik sendiri.
"Abang, ish, belum-belum udah mikir ke sana, mesyum banget sih!" Protes Zafira membuat Alvian tergelak.
"Itu bukan mesyum, sayang. Aku tuh udah kebelet banget, pingin ngerasain yang asikasik gitu sama istri tercinta, apa salah? Nggak dong, pahala iya? Benar kan? Ya udah daripada kita sibuk berdebat, mending kita mandi bareng aja yuk! Yuk, mandi bareng, yuk!"
"Abang!" pekik Zafira sambil menutup wajahnya yang telah memerah dengan kedua telapak tangannya membuat Alvian menyemburkan tawanya.
"Sore pertama, yeay, yeay, sore pertama, yeay. Akhirnya aku bisa kawin juga, yeay," sorak Alvian sambil masuk ke dalam kamar mandi dan bersiul girang.
"Astaga, Alvian Altakendra, bisa diem nggak!" teriak Zafira dengan pipi yang sudah sangat merona membuat Alvian makin meledakkan tawanya. Hari ini adalah hari paling membahagiakan bagi laki-laki itu. Akhirnya, ia bisa bebas mengekspresikan diri tanpa batas pada wanitanya. Akhirnya, sebentar lagi, wanita pujaan hatinya akan jadi miliknya seutuhnya.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...