Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Menemukan keberadaan Refani


__ADS_3

Setelah selesai, mereka pun berbincang-bincang sejenak. Tiba-tiba ponsel Luthfi berdering. Luthfi pun meminta izin untuk mengangkat panggilan tersebut. Tak lama kemudian, Luthfi pun kembali lagi dengan wajah berseri membuat Alvian penasaran.


"Pak bos, aku dapat kabar baik," ucap Luthfi sumringah.


"Kabar apa?"


"Orang-orang kita sudah berhasil menemukan jejak keberadaan nona Refani," ujar Luthfi bersemangat.


"Apa? Benarkah?" seru Alvian tak kalah bersemangat. Entah apa alasannya, apa karena merasa senang berhasil membantu Refano atau karena ia merasa memiliki darah yang sama. Meskipun ia tak pernah berharap apalagi berbangga hati memiliki darah yang sama dengan darah Marwan, tapi ia tak dapat menampik, menyadari ia memiliki seorang saudara meskipun berbeda ibu, ia sedikit merasa senang. Apalagi ia tahu, nasib sang adik tak kalah mengenaskan dari dirinya. Tentu ada rasa sedih bercokol dalam dada, tak terima atas perlakuan yang adiknya terima dari wanita yang pernah berniat melenyapkan ibunya beserta dirinya.


"Apa benar yang kau katakan barusan?" Seru Refano yang sudah terlonjak berdiri dengan tatapan penuh harapan.


"Itu benar pak bos, tuan Refano. Nona Refani ternyata di rawat di sebuah klinik kecil di tempat yang cukup terpencil. Oleh sebab itu, keberadaannya sulit terendus orang-orang suruhan Anda. Ditambah ternyata ada orang suruhan Anda ya h berkhianat demi mendapatkan tambahan uang yang lebih besar," ucap Luthfi menjelaskan.


Sontak saja raut wajah Alvian dan Refano pun ikut berbinar cerah mendapatkan kabar baik tersebut. Namun Refano sedikit merasa tersentak, wajar saja ia kesulitan menemukan keberadaan Refani selama ini. Ternyata pertemuannya dengan Alvian merupakan sebuah berkah. Yah, dia memang masih bersedih karena kehilangan orang-orang yang dicintainya tanpa bisa menunjukkan cintanya sama sekali. Seandainya ia lebih dulu mengenal Alvian, mungkin masalahnya tidak akan sampai sebesar ini. Namun menyesal pun tiada guna. Yang ia harap, setelah ini ia bisa menjemput bahagianya meskipun bukan bersama wanita yang dicintainya lagi. Pun tidak bersama anak-anaknya. Bisa melihat mereka dari jauh saja sudah sedikit mengobati kerinduannya. Yang pasti, ia akan selalu memastikan anak-anak serta mantan istrinya akan selalu berbahagia. Ia tak peduli akan bagaimana nasibnya kelak, yang terpenting orang-orang yang ia kasihi bisa hidup tentram, damai, aman, dan bahagia.


Mata Refano tampak berkaca-kaca. Ia merasa benar-benar bahagia. Meskipun ia belum bisa melihat sang adik secara langsung, tapi mengetahui keberadaannya kini telah mereka temukan cukup memberikan angin segar bagi jiwanya yang rapuh.


"Terima kasih. Terima kasih, pak Al, pak Luthfi. Tanpa bantuan kalian, aku ... aku mungkin takkan pernah bisa menemukan adikku lagi," ucap Refano tulus. Alvian dapat merasakan kalau Refano begitu menyayangi adik berbeda ibunya itu. Refano saja bisa menyayangi adiknya dengan tulus meskipun berbeda ibu, kenapa ia tidak bisa pikirnya. Apalagi mengetahui kedua saudara beda ibunya itupun memiliki nasib tak berbeda jauh dengannya. Setidaknya dirinya memiliki seorang ibu berhati malaikat yang tetap menyayangi, mencintai, dan melindunginya dengan segenap jiwa dan raganya, sedangkan mereka, yang satu memiliki orang tua lengkap, tapi tak acuh. Bahkan bersikap diktator pada anaknya. Lalu yang satunya lagi, sudah tak memiliki ibu kandung, ibu sambung yang ia pikir ibu kandung justru bukan hanya menekannya agar mengikuti kemauannya, tapi kini menyembunyikannya dan membuat seolah-olah ia telah meninggal. Sungguh kejam. Sedangkan sang ayah, terlalu sibuk bekerja jadi abai akan anak-anaknya.


'Mungkinkah aku harus mulai menerimanya sebagai kakakku?' batin Alvian bermonolog.

__ADS_1


Setelah mengatur berbagai hal, Alvian lantas menugaskan Luthfi untuk menemani Refano menuju lokasi yang ternyata terletak di luar pulau. Pantas saja selama ini Refano sulit menemukan adiknya itu, selain karena ada yang berkhianat, selama ini juga orang-orang Refano fokus ke rumah sakit besar dan klinik-klinik cukup besar. Tidak tahunya, Refani justru disembunyikan di klinik kecil. Klinik tersebut bersedia menerima merawat Refani, sebab Liliana bersedia memberikan dana yang cukup besar untuk menjaganya. Sebenarnya Liliana tidak butuh tenaga medis di sana sebab ia telah menyediakan tenaga medis pribadi yang ditugaskan khusus untuk mengurus Refani. Jadi di sana ia hanya membutuhkan tempat saja.


Keesokan paginya, Refano pun izin dengan orang tuanya untuk menemui klien di luar kota sekaligus menenangkan diri.


"Mas, aku ikut," rajuk Saskia yang sudah berhambur mengejar Refano yang sudah melangkahkan kakinya menuju garasi untuk mengambil mobilnya.


"Kamu kan harus mengontrol keadaan Reza. Ingat, sampai saat ini kondisinya belum benar-benar pulih. Meskipun di rumah sakit ada yang jaga, tetap saja sebagai orang tuanya kita harus mengontrol keadaannya. Selain itu, kau harus selalu menyetok asimu. Sudahlah, tidak perlu ikut. Aku juga tidak akan lama. Bila urusanku selesai, aku akan segera kembali," ucap Refano datar, tapi tersirat perhatian pada bayinya. Baginya bayi kecil itu tak bersalah. Merekalah yang salah karena membuatnya hadir di dunia dengan cara yang kurang baik. Setelah mengatakan itu, Refano kembali melanjutkan tujuannya.


"Ck ... nyebelin banget sih. Nggak tahu apa aku bosan dikurung di rumah melulu. Mana Mak Lampir itu makin beringas aja semenjak ketahuan berliannya palsu," omel Saskia sebelum beranjak dari sana.


3 jam kemudian, akhirnya Luthfi, Refano, dan beberapa anak buahnya telah tiba di klinik tempat dimana Refani disembunyikan. Dengan memakai masker, mereka pun menerobos masuk ke dalam klinik itu. Karena klinik tersebut hanyalah klinik kecil di tempat terpencil, jadi tiada penjagaan yang berarti di sana. Hanya ada beberapa petugas medis saja yang tampak kebingungan melihat kedatangan beberapa orang laki-laki ke sana.


"Maaf tuan, kalian siapa? Apa tujuan kalian datang kemari?" tanya salah seorang perawat yang pagi itu bertugas.


"Refani? Di sini tidak ada yang namanya Refani," ujar perawat itu dengan dahi yang mengernyit.


Tentu saja Luthfi dan Refano membulatkan matanya, bagaimana bisa, pikirnya.


Namun anak buah Luthfi justru tersenyum, "ada. Pihak klinik ini telah menyembunyikannya. Cepat, panggil pemilik klinik ini. Jangan sampai kami melaporkan kalian ke pihak yang berwajib karena telah menyembunyikan seorang dari keluarganya," ancam anak buah Luthfi tersebut.


Sontak saja, perawat itu menegang. Ia memang tidak tahu apapun tentang pasien atas nama Refani Putri Prayoga tersebut. Lantas ia segera memanggil dokter yang ada sebab pemilik klinik memang belum datang.

__ADS_1


Setelahnya, terjadi sedikit perdebatan antara dokter dan anak buah Luthfi. Mereka kekeuh tidak ingin mengakui kalau ada pasien atas nama Refani di sana hingga akhirnya Luthfi pun angkat bicara.


"Jadi Anda tidak ingin mengakui bahwa ada pasien bernama Refani di sini? Baiklah. Semuanya, periksa semua kamar di klinik ini. Pastikan tidak terlewat satupun. Bila kalian menemukannya, segera laporkan padaku. Aku akan segera melaporkan hal tersebut sebagai kasus malpraktek karena telah menyembunyikan pasien yang merupakan anggota keluarga kami sehingga klinik ini akan segera ditutup dan izin praktek Anda pun akan segera dicabut," Ucap Luthfi tegas membuat mata dokter itu membulat tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"Baik tuan," seru kelima anak buah Luthfi.


"Baiklah, baik. Akan saya tunjukkan kamar pasien. Tapi saya mohon, jangan buat laporan seperti itu. Menjadi dokter adalah cita-cita saya. Maaf, saya melakukan ini hanya ingin melindungi pasien sesuai permintaan orang yang menitipkannya. Tidak lebih," ujarnya membuat Luthfi diam-diam menyeringai dari balik maskernya.


Tak lama kemudian, mereka pun segera ditunjukkan jalan menuju kamar Refani. Saat mereka membuka pintu, mata mereka membulat sempurna sebab ada seorang pria berpakaian dokter tengah memegang bantal hendak mendekap wajah Refani agar kesulitan bernapas.


"Hentikan!" seru Refano murka. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung maju dan menarik kerah snelli yang dipakainya kemudian melepaskan pukulan yang cukup keras di wajah orang tersebut. Orang tersebut panik dan hendak melarikan diri, tapi Refano yang sudah kalap, tak tinggal diam. Ia segera menerjang punggung orang itu hingga terjengkang kemudian menginjak punggungnya dengan kasar.


"Katakan, siapa yang menyuruhmu menghabisi nyawanya?" tanya Refano dengan suara meninggi. Ia dapat menebak siapa yang menyuruhnya kalau bukan ibu kandungnya sendiri. Namun belum luasa rasanya bila tidak mendengarkan dengan telinganya sendiri.


"Nyo-nyonya Li-liana. Dia ... yang memintaku menghabisi nyawa gadis itu bila ... bila ada yang menemukan keberadaannya," ucap orang itu terbata membuat Refano kian murka.


"Wajahnya sangat pucat. Denyut nadinya juga melemah. Sepertinya dia tidak baik-baik saja. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit yang lebih besar," ucap dokter yang menunjukkan jalan tadi.


Tak mau membuang waktu, Luthfi pun segera menggendong Refani dan berjalan cepat menuju mobil mereka. Setelah meminta anak buah Luthfi menangkap orang yang hendak melenyapkan nyawa Refani tadi, Refano pun bergegas menyusul Luthfi dan adiknya untuk membawa Refani ke rumah sakit yang lebih besar.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2