
Tidak selamanya roda itu di atas. Akan ada masanya roda berada di bawah. Oleh sebab itu, janganlah kita bersikap sombong sebab segala apa yang ada di muka bumi ini adalah milik Allah dan semuanya akan kembali kepada Allah.
Dan janganlah kita bersikap serakah sebab serakah itu dapat menghancurkan. Syukuri segala nikmat yang diberikan sang pencipta, dengan begitu hidup pun akan jadi lebih indah, damai, menenangkan, dan menyenangkan.
Marwan dan Liliana tidak pernah menyangka, mereka akan merasakan di titik terendah dalam hidup mereka. Tak ada hidup yang selalu bergelimang. Sebab semua telah habis. Rumah, mobil, dan beberapa properti mereka harus dijual untuk membayar sisa gaji pegawai yang masih menjadi tanggung jawabnya. Alhasil, mereka pun terpuruk.
Akibat terlalu shock, Marwan terkena serangan jantung. Bahkan ia mengalami stroke dan tak bisa bangkit dari tempat tidur. Sedangkan Liliana mulai berhalusinasi.
Di sebuah rumah minimalis, tampak Liliana sedang memandang ke arah taman. Tatapannya kosong. Hanya duduk melamun dari atas kursi rodanya. Tak ada gairah hidup.
"Hai kakak tiriku, apa kabar?" Tiba-tiba sesosok yang begitu Liliana kenal telah berdiri di hadapannya. Entah kapan datangnya, tapi tiba-tiba ia telah berdiri menjulang di hadapan Liliana dengan tatapan mengejeknya.
"Kau ... kau mau apa kemari, hah?" sentak Liliana dengan suara menggelegar. Ayu terkekeh geli membuat Liliana kian merah padam karena murka.
"Kenapa? Wah, wah, wah, kakak tiriku, ku pikir makin tua kau makin ingat umur, minimal kurangi kegalakanmu, tapi nyatanya nggak. Kamu malah makin garang. Uuu ... takut," ejek Ayu pura-pura ketakutan kemudian tergelak.
"Heh, perempuan sialan! Puas kau? Puas kau menghancurkan aku, hah? Gara-gara kau aku jatuh miskin. Gara-gara kau kakiku cacat, puas kau?" teriak Liliana dengan nafas menggebu.
__ADS_1
"Puas? Oooh tentu saja belum. Ini masih belum apa-apa kakak tiriku, sayang. Ini belum apa-apa dengan apa yang aku alami selama ini. Kau ... mengambil kekasihku, kau merebut kasih sayang ayahku, kau membuatku diusir ayahku dari rumahku sendiri, kau mengambil seluruh harta yang seharusnya jadi milikku, kau membuatku terlunta-lunta di jalanan, kau membuatku harus hamil seorang diri, kau membuatku hampir kehilangan nyawa, kau membuatku hampir kehilangan anakku, kau membuat seorang anak tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah, kau membuat hidupku hancur, kau adalah sumber malapetaka untukku, kau tahu itu? Dan kau bertanya aku sudah puas? Tentu saja belum karena apa yang kau alami belum sebanding dengan apa yang aku alami, kau tahu itu!" Sentak Ayu dengan mata berapi-api. Dari matanya, tersirat kebencian, amarah, dan dendam yang berkobar-kobar membuat nyali Liliana seketika kecut. Apalagi saat Ayu melangkahkan kakinya kian mendekat pada Liliana membuat wanita tua itu mendorong kursi rodanya mundur ke belakang dengan tubuh yang bergetar.
"Kenapa mundur? Kau takut, heh? Kemana keberanianmu selama ini? Bahkan kau tega membunuh madumu sendiri? Kau membuat anak perempuamu hidup seakan mati. Kau membuat anak laki-lakimu bagai kerbau yang dicocok hidung karena keegoisan dan kekejamanmu. Kau menghancurkan hidup kedua anakmu dengan sifat egois dan keserakahan mu. Dasar manusia tak punya hati. Manusia tak berperasaan. Manusia berhati iblis. Kau pantas hidup menderita. Kau pantas mendapatkannya," ucap Ayu sambil tertawa lebar.
"Pergi, pergi kau perempuan sialan! Pergi kau ... PERGIIIIII ... " Teriak Liliana sambil menjerit dan mengamuk. Tangannya bergerak kesana-kemari kemudian menjambak rambutnya sendiri.
"PERGIIII ... PERGI KAU ... PERGI ... "
Mendengar suara teriakan dari arah arah taman belakang. Bik Minah yang masih dipekerjakan Refano untuk menjaga sang ibu pun bergegas berlari ke belakang sekeluarnya dari kamar mandi. Di sana ia lihat, Liliana telah terkapar di lantai sambil meraung-raung dan menjerit-jerit seorang diri. Bik Minah mencoba menenangkan tapi tak bisa. Ia yang kebingungan lantas segera menghubungi Refano untuk mengabarkan keadaan ibunya. Refano yang sedang melihat keadaan putranya dengan Saskia di rumah sakit pun bergegas pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, ia justru mendapati rumahnya telah didatangi oleh beberapa orang pria berseragam aparat kepolisian. Refano menghela nafas, dua hari yang lalu memang ia telah menyerahkan dokter gadungan yang menyekap Refani selama ini ke kantor polisi. Saat interogasi, pria itu menuturkan kalau semua yang ia lakukan atas perintah Liliana. Pihak polisi juga telah menemukan bukti-bukti keterlibatan Liliana sebagai dalang penyekapan Refani. Alvian juga telah menyerahkan bukti-bukti kasus percobaan pembunuhan ibunya dulu melalui pengacaranya. Dan hari ini pihak kepolisian akhirnya datang untuk menjemput Liliana.
Setelah kepergian aparat kepolisian tersebut, Refano bergegas masuk ke dalam kamar. Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi tengkurap. Ia benamkan wajahnya di atas bantal. Tak lama kemudian, terdengar suara isakan dari bibir Refano. Suara itu terdengar bergetar dan memilukan. Refano menangis seorang diri. Satu persatu keluarganya pergi meninggalkannya. Ayahnya masih di rumah sakit karena mengalami stroke, ibunya ditahan pihak kepolisian dan kemungkinan sebentar lagi ia akan menjadi pasien rumah sakit jiwa, Refani masih di rumah sakit karena sakit gagal ginjalnya yang harus mendapatkan perawatan intensif, bayinya karena kondisinya belum stabil, masih sering kejang jadi masih tetap harus menjalani perawatan intensif, dan Saskia, ia memilih pulang ke rumah orang tuanya untuk menenangkan diri. Di rumah minimalis yang Refano beli beberapa hari yang lalu itu, kini hanya dihuni dirinya dan bik Minah saja.
Bik Minah yang berdiri di balik pintu, ikut terisak. Ia dapat merasakan kesedihan majikannya itu. Ia tak menyangka, di balik sikap dinginnya, ternyata Refano lelaki yang rapuh. Tak ada tempat mengeluh. Tak ada tempat mengadu. Menghadapi segalanya sendirian.
"Den Refan," panggil Bik Yang memberanikan diri masuk ke kamar Refano.
__ADS_1
"Bik," lirih Refano tanpa menyembunyikan kesedihannya.
"Den Refan yang sabar ya. Den Refano hebat. Insya Allah, den Refano kuat. Badai pasti berlalu, den," ucap Bik Minah sambil mengusap punggung Refano.
"Tapi sekarang Refano sendiri, bik. Semua sudah pergi. Semua ninggalin Refan. Semua hancur, bik. Refan ... hiks ... hiks ... hiks ... "
"Den Refan nggak sendiri, den. Ada bibik. Ada Gusti Allah Yang Agung. Den Refan tinggal mendekatkan diri pada Allah, sholat, zikir, insya Allah, hari den Refan akan lebih tenang. Insya Allah, den Refan akan menemukan kebahagiaan Den Refan. Jangan merasa sendiri, den. Hanya orang-orang yang jauh dari Allah yang merasa dirinya sendirian. Ayo, Den Refan kembali mendekatkan diri pada Gusti Allah, insya Allah den Refan sanggup dan kuat hadapi semua," ucap Bik Minah memberikan petuahnya.
"Tapi apa Allah bersedia mendekat dengan Refan, bik? Apa sholat Refan akan diterima? Dosa Refan sudah terlalu banyak, bik. Refan sudah terlalu jauh dari Allah. Refan sudah terlalu melalaikan kewajiban Refan. Kewajiban Refan pada Allah, kewajiban Refan pada Fira dan anak-anak, Refan lalai bik. Apa masih pantas Refan menyebut nama Allah dan meminta pertolongannya, sedangkan Refan selama ini sudah lalai?" Refano merasa sangsi dengan dirinya sendiri. Ia merasa tak pantas menghadap Allah dan memohon pada-Nya. Sudah bertahun-tahun ia tidak menyembah Tuhan-Nya. Ia masih ingat, terakhir kali ia sholat saat mendiang kakeknya masih ada. Setelah sang kakek pergi, ia tak pernah lagi melakukannya. Ia terlalu sibuk dengan pikiran dan dunianya sendiri hingga akhirnya ia lalai.
"Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, juga Maha Pengampun, den. Asal den Refan tulus memohon ampun dan berpasrah sepenuh hati pada Gusti Allah, tak ada yang tak mungkin. Percayalah den, yakinlah, Allah adalah sebaik-baiknya tempat meminta dan mengadu." Tukas Bik Minah berusaha meyakinkan Refano agar mempercayakan segalanya pada Rabb-Nya. Yakinlah, tak ada yang tak mungkin di dunia ini asal kita percaya dan yakin pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
...***...
Ya Allah, yang wajah othor banjir ngetik bab ini. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...