
Waktu terus bergulir, tak terasa kehamilan Zafira kini sudah menginjak bulan ke-7. Memasuki bulan ketujuh kehamilannya, Zafira lantas mengadakan selamatan dengan mendatangi panti asuhan dan membagikan nasi berkat serta bingkisan untuk anak-anak di panti asuhan tersebut.
"Sayang, kamu kenapa sih masih suka dekat-dekat sama kak Refan?" protes Alvian setelah menarik tangan Zafira menjauh dari kerumunan anak-anak dan membawanya ke bawah pohon yang rindang.
"Apa, bang? Dekat-dekat mas Refan? Kapan?" gumam Zafira yang tidak sadar sejak tadi ia selalu berdekatan dengan Refano. Sebenarnya bukan maunya berdekatan dengan mantan suaminya itu, tapi semua kebetulan saja. Zafira sedang mengajak anak-anak itu bercerita. Lalu mereka Regina menawarkan diri untuk bernyanyi yang disambut bahagia anak-anak tersebut. Di saat bersamaan, anak laki-laki yang tadinya bermain bola dengan Refano menarik laki-laki tersebut mendekat ke arahnya untuk menemani mereka menonton Regina bernyanyi. Karena kebetulan mereka duduk berdekatan, Refano pun mengajak Zafira mengobrol. Kalian bisa tebak, siapa yang menjadi topik pembicaraan?
Merlyn. Ya, Merlyn yang menjadi bahan perbincangan mereka. Atau yang lebih tepatnya, jadi bahan pertanyaan Refano sebab akhir-akhir ini sikap Merlyn berubah. Ia jadi lebih pendiam. Bahkan tak ada lagi sapaan aneh yang keluar dari mulutnya yang sukses membuat Refano bertanya-tanya.
Refano sendiri merasa aneh dengan dirinya sendiri. Saat gadis itu tampak memberikan perhatian bahkan sering menyapanya, ia selalu saja kesal dan merasa terganggu. Namun, saat gadis itu menjaga jarak, ia justru merasa lebih terganggu. Seakan ada yang hilang. Refano sampai bertanya-tanya, apakah sikapnya selama ini terlalu berlebihan sehingga gadis itu menjaga jarak dan seakan menghindarinya.
'Acara pertunangannya gagal. Calonnya pergi begitu saja tepat satu jam sebelum acara di mulai.'
Itu yang Zafira katakan pada Refano. Namun untuk alasannya apa, Zafira tak tahu. Setahunya, Merlyn memang tidak menginginkan pertunangan ini. Seharusnya Merlyn merasa lega, tapi entah apa alasannya Merlyn tiba-tiba berubah total. Seperti ada sesuatu yang ia pendam sehingga membuatnya tertekan. Hanya itu saja yang ia sampaikan pada Refano. Zafira pun merasa aneh tiba-tiba saja Refano menanyakan perihal Merlyn. Merlyn memang telah tahu masa lalu Refano dan dirinya. Ia tidak mempermasalahkan masa lalu Refano dan terus berusaha mendekati Refano, tapi semenjak pertunangannya gagal, ia berubah drastis. Zafira tak bisa mengorek lebih. Ia tak mau terlalu ikut campur urusan orang lain. Bila orang lain mau bercerita, ia mau mendengarkan, tapi ia tak mau mengorek-ngorek masalah orang lain sebab itu merupakan privasi mereka.
"Ck ... nggak usah berkelit. Abang liat sendiri kok kalian kayaknya ngobrol serius banget sampai Abang lewat mondar-mandir pun kamu nggak tahu," delik Alvian dengan wajah ditekuk masam.
Zafira menganga kemudian terkekeh kecil, "Abang cemburu?" goda Zafira.
"Siapa? Ngapain cemburu sama dia? Dia hanyalah mantan dan Abang adalah pemenangnya." Kilah Alvian dengan wajah memerah.
"Nah, tuh tahu udah jadi pemenangnya, terus kenapa mas ngomel-ngomel? Udah kayak ibu-ibu, tau."
"Ya, Abang nggak suka aja. Kamu kan ... istri Abang. Terus dia itu ... mantan kamu. Apalagi dia kayaknya masih ada rasa sama kamu, wajar kan Abang nggak suka."
"Kata siapa dia masih ada rasa sama Fira?"
__ADS_1
Alvian terdiam, "ya ... dari gelagatnya lah."
"Abang salah."
"Salah? Apa yang salah?"
"Ya, salah besar. Mas Refano udah berhasil move on lho."
"Iya kah? Kata siapa?"
"Kata Fira lah. Abang tau nggak, kami tadi ngobrolin apa?" Alvian menggeleng karena memang tak bisa menerka apa yang mereka bicarakan.
"Merlyn. Mas Refan nanyain sikap Merlyn yang berubah. Abang tahu kan berapa bulan ini Merlyn selalu berusaha untuk mendekati mas Refan, tapi Mas Refannya cuek-cuek aja. Nah, sekarang kebalikan, sikap Merlyn yang berubah. Dia kayak menjauh dan terus menghindar setiap ada mas Refan. Mas Refan sampai bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi. Seingat Fira sih sikap Merlyn berubah sejak malam pertunangannya yang gagal itu. Jadi ya Fira cerita itu deh. Kayaknya Mas Refan patah hati deh," ujar Zafira seraya terkekeh. "Tapi Fira juga bingung dengan sikap Merlyn. Kan dia udah jelasin, dia terpaksa menerima pertunangan ini, tapi kenapa dia justru berubah setelahnya. Apa ada yang telah terjadi tanpa sepengetahuan kita?" beo Zafira tampak berpikir.
"Udah, nggak terlalu kamu pikirkan. Cukup pikirkan our twins di dalam sini. Biar itu jadi urusan mereka. Kecuali mereka minta bantuan kita, baru deh kita bantu." Ucap Alvian seraya mengulas senyum dengan telapak tangan mengusap perut Zafira.
...***...
Hari ini di sebuah ballroom hotel tengah diadakan sebuah acara penggalangan dana untuk anak-anak penyintas kanker. Acara ini diselenggarakan pihak Star TV dengan mengundang para pejabat dan pengusaha agar mau ikut berpartisipasi membantu anak-anak malang itu agar bersemangat untuk kesembuhan mereka. Para artis dan aktivis yang memiliki jiwa solidaritas yang tinggi pun ikut berpartisipasi untuk menyukseskan acara tersebut.
Diantara para tamu itu pun terdapat Alvian dan Refano. Mereka menyimak acara dengan antusias sambil berbincang dengan sesama rekan mereka yang turut hadir di sana.
"Mau kemana kak?" tanya Alvian saat melihat Refano berdiri. Ia datang ke sana berdua saja dengan Refano. Acara ini diselenggarakan di malam hari, tentu ia tak tega untuk mengajak istrinya yang tengah hamil besar. Jadilah ia hanya datang berdua saja ke sana.
"Ke toilet." Ucap Refano singkat yang diangguki Alvian. Lantas ia kembali menyimak acara yang berlangsung di depan sana.
__ADS_1
Saat berjalan menuju ke toilet, ia melihat Merlyn yang sedang berjalan seorang diri. Tanpa sadar, Refano mengikuti langkah kaki gadis tersebut yang ternyata menuju ke taman samping hotel. Tampak gadis itu bersandar di dinding sambil memejamkan matanya. Entah apa yang mengganggu pikiran gadis itu, membuat Refano penasaran. Seberat apa permasalahannya sampai-sampai bisa membuat gadis ceria itu berubah drastis.
"Hai," sapa Refano membuat gadis itu tersentak hingga hampir saja terjatuh kalau tidak Refano menahan lengannya.
Dengan cepat Merlyn menepis tangan Refano. Tidak seperti biasanya yang sangat suka menggoda dan menantang tatapannya, Merlyn kini justru begitu kentara menghindari tatapannya.
"Ada masalah?" tanya Refano.
"Bukan urusanmu." Ketus Merlyn membuat Refano terhenyak. Baru kali ini ia mendengar kata-kata ketus dari gadis yang kerap bersikap aneh padanya itu.
"Kau kenapa? Apa aku ada salah padamu?" tanya Refano tak habis pikir. Entah mengapa ia merasa terganggu dengan sikap Merlyn yang sangat berbeda.
"Tidak. Kau tidak ada salah apapun." Ucapnya datar. "Minggir! Aku harus segera kembali ke dalam," imbuhnya dengan raut wajah datar.
Bukannya menghindar, Refano justru mendorong tubuh Merlyn hingga bersandar di dinding. Lalu ia mengungkung gadis itu dengan kedua tangannya yang telah menempel di dinding.
"Kau kenapa? Kenapa kau tiba-tiba berubah? Sebelum-sebelumnya kau selalu menggodaku? Menggangguku meskipun aku tak suka. Mengatakan kalau aku adalah jodohmu. Tapi kau ... justru ingin bertunangan dengan orang lain. Dan kini kau melampiaskan kekesalan mu pada semua orang karena kegagalan pertunanganmu. Sebenarnya apa maumu, hah? Kenapa kau bersikap semaumu seperti ini? Apa karena menurutmu aku layak untuk kau permainkan? Setelah aku telah belajar ingin membuka hati, kau justru hendak membuang ku begitu saja? Brengsekkk!" sentak Refano kesal.
Bahkan tanpa sadar ia telah menghantamkan tinjunya ke di dinding tepat di samping kepala Merlyn membuat wajah gadis itu pucat pasi dan perlahan, air matanya pun jatuh berderai membuat Refano tak tega kemudian menariknya ke dalam pelukannya.
...***...
Ada yang bisa nebak kenapa Merlyn tiba-tiba begitu?
Eh, benar lagi end. Tinggal berapa bab lagi nih. Jangan lupa dukungannya ya! Seperti biasa, ada hadiah pulsa untuk 3 top fans. 😉
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...