Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Papa


__ADS_3

Selesai melakukan ritual sore pertama, Zafira dan Alvian pun bergegas mandi. Sebenarnya tadi Alvian menyarankan istrinya agar beristirahat terlebih dahulu, tapi Zafira menolak sebab menurut artikel yang pernah ia baca, tidur sore tidak baik untuk kesehatan. Terutama di masa tua, dampaknya bisa membuat seseorang lebih cepat pikun dan Zafira tidak menginginkan itu.


"Sayang, kamu cantik banget deh. Jadi pingin kayak gini terus," ucap Alvian di sisi telinga kanan Zafira. Saat ini Zafira baru saja mengeringkan rambutnya, sedangkan Alvian tengah memeluknya dari belakang.


"Mau kayak gini terus? Nggak kerja dong? Aku juga nggak bisa masak dong, urus anak-anak, belanja, dan lain-lain."


Alvian terkekeh lalu mencium pipi Zafira gemas.


"Udah selesai?" tanya Alvian sambil menatap lekat wajah sang istri dari pantulan cermin di hadapan mereka. Mereka tengah bersiap untuk menemui anak-anak mereka yang kini sedang bermain di taman hotel bersama Bu Ayu dan Bu Mayang serta 2 orang yang dipekerjakan sebagai baby sitter baby Zafran dan pendamping Regina saat akan ada kegiatan di luar.


"Udah," jawab Zafira sambil tersenyum. Ia lantas berdiri menghadap Alvian yang juga telah menegakkan badannya.


"Emmm ... kayaknya ada yang kurang deh, Ra Sayang," ucap Alvian sambil memegang dagunya dengan tatapan terpusat pada wajah cantik sang istri.


Mendengar hal itu, Zafira meletakkan kedua telapak tangannya di pipi.


"Apa? Ada make up aku yang kurang atau terlalu berlebihan?" tanya Zafira. Baru saja ia hendak berbalik menghadap cermin kembali, tapi Alvian justru menahan pundaknya agar tetap fokus menatapnya.


"Bukan. Bukan itu." Jawab Alvian cepat.


"Lantas?" beo Zafira dengan dahi berkerut. Lalu Alvian mengikis jarak dan mempertemukan bibir mereka membuat Zafira membelalakkan matanya. Alvian tersenyum kecil tanpa melepaskan cumbuannya. Ia mengecup bibir atas dan bawah Zafira secara bergantian dan melu matnya sebentar sebelum melepaskannya.


"Sudah," ujar Alvian sambil tersenyum geli saat melihat Zafira mengerucutkan bibirnya.


"Masih kurang aja. Emang yang tadi belum cukup?"

__ADS_1


"Ya belum dong, kan baru sekali. Kayaknya ... seumur hidup pun tetap takkan pernah cukup. Soalnya udah kepalang candu. Tapi nggak papa kan?"


"Nggak papa sih, sama istri sendiri juga. Asal bukan sama cewek lain apalagi istri orang," sahut Zafira seraya tersenyum manis.


"Ya nggak lah. Pas masih single aja nggak mau, apalagi udah punya kekasih halal secantik ini, mana mungkin aku bisa berpaling."


"Gombal."


"Aku serius, Ra sayang. Kok dikira gombal sih."


"Ya untuk saat ini karena masih baru iya, tapi nanti setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun kemudian, siapa yang tahu. Bisa aja kamu merasa bosan terus ... "


"Ssst ... " Alvian meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Zafira agar Zafira tidak meneruskan kata-katanya.


"Percaya sama aku. Aku bukan laki-laki pengumbar syahwat yang begitu mudahnya bergonta-ganti pasangan. Aku tak ingin menjadi laki-laki brengsekkk yang biasanya menyakiti hati perempuan. Kau pikir kenapa baru kali ini aku mau mendekati seorang perempuan? Itu karena aku ingin menemukan orang yang tepat, cukup satu, tapi mampu mendampingi ku dan menerima segala lebih kurang ku tanpa terkecuali. Aku memiliki seorang ibu yang memiliki masa lalu kelam. Hatinya pernah hancur karena seseorang. Aku sangat tahu bagaimana bunda bertahan selama ini. Di balik senyum merekahnya, ada luka menganga yang tak kunjung sembuh. Atas dasar itulah, aku tak ingin menjadi laki-laki brengsekkk yang hanya bisa melukai perasaan perempuan. Terlebih perempuan itu adalah orang yang aku cintai. Jadi aku mohon jangan pernah ragu ataupun takut, aku berjanji, sampai kapanpun hanya kamu satu untuk selamanya." Ucap Alvian penuh kesungguhan.


"Apa maksudmu tadi dengan bunda memiliki masa lalu kelam? Apa bunda pernah disakiti seseorang?" tanya Zafira. Sebenarnya banyak yang belum Zafira ketahui tentang Alvian, termasuk dimana sang ayah. Sebab selama mengenalnya, ia tidak pernah melihatnya. Entah dia masih hidup atau sudah mati sebab Alvian tak pernah sekalipun membahasnya.


Alvian tersenyum sendu, "maaf untuk sementara ini aku belum bisa cerita. Mungkin lain kali. Lagipula bukankah ini hari bahagia kita? Jadi kita jangan bahas yang lain dulu ya. Bahas tentang kita dan anak-anak aja. Ayo, kita susul anak-anak sekarang. Aku udah kangen sama mereka," tutur Alvian sambil meraih telapak tangan Zafira dan menggandengnya keluar dari dalam kamar.


...***...


"Papa," teriak Refina membuat Regina yang sedang meminta difoto dengan Caca, sepupu Nova di taman bunga hotel tempat mereka menginap ikut menoleh.


Melihat Refina sudah bergelayut manja digendongan Alvian membuat Regina cemberut.

__ADS_1


"Om papa, Regi mau digendong juga," ujar Regina yang sudah lama ingin merasakan digendong oleh seorang ayah.


"Kok masih Om sih? Ayo, panggil papa juga kayak Refi baru deh papa gendong." Ucap Alvian sambil tersenyum ke arah Regina yang tampak mengerutkan keningnya lalu menoleh ke arah Zafira yang kini sudah mengambil alih baby Zafran dari tangan baby sitternya, Sinta.


Zafira mengangguk, "ayo, panggil papa!"


"Papa ... Regi boleh minta gendong kayak Refi nggak?" tanya Regina malu-malu membuat Alvian gemas. Lalu dengan tangan kanannya, ia meraih Regina ke dalam gendongannya jadi kedua bocah perempuan itu ada di tangan kanan dan kirinya.


"Bang, jangan gendong langsung dua gitu. Satu-satu aja." Zafira terpekik khawatir saat melihat Alvian menggendong keduanya secara langsung.


"Nggak papa kok, mama. Papa kan kuat, ya kan sayang?" ucap Alvian santai sambil melirik kedua bocah yang sudah tersenyum girang. "Kalian mau naik ayunan itu? Nanti papa dorong deh, mau?" tawar Alvian saat melihat ayunan tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Mau, papa. Regi, Lefi mau," pekik mereka kompak membuat Zafira tak mampu menutupi rasa harunya.


"Akhirnya mereka bisa merasakan kasih sayang seorang ayah juga ya, nak. Ibu sangat bersyukur kamu dipertemukan laki-laki seperti nak Al yang bisa mengayomi mereka seperti ayah mereka sendiri. Memberikan rasa cinta, kasih sayang, dan perhatian yang tak pernah mereka dapatkan dari ayah kandungnya sendiri," ucap Bu Mayang yang entah sejak kapan telah berdiri di samping Zafira.


Zafira menganggukkan, mengiyakan dengan tersenyum.


"Ibu benar, Fira pun sangat bersyukur dipertemukan dengan Bang Al," ucapnya.


Namun tiba-tiba Zafira mengingat sorot mata sendu Refano saat menatapnya di pesta tadi. Entah mengapa, ia bisa melihat kesedihan di netra hitam pekat itu. Tidak mungkin kan ia merasa sedih melihat ia menikah lagi apalagi melihat anak-anaknya yang berbahagia dengan orang lain. Saat di pesta pernikahannya tadi, ia sempat tanpa sengaja bersirobok dengan netra Refano yang menatapnya dengan sendu. Bahkan mata itu tampak berkaca-kaca. Seakan ada luka yang tak kasat mata.


'Ah, kenapa aku jadi teringat mas Refano sih! Sudahlah, mereka bukan urusanku agi. Bukankah mereka sudah berbahagia sekarang. Sepertinya Saskia juga sudah melahirkan. Mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan jadi aku tak perlu memikirkan mereka lagi. Lebih baik aku fokus dengan keluarga baruku. Terima kasih ya Allah atas anugerah-Mu yang telah mempertemukan ku dengan sosok seperti Alvian dan bunda Ayu. Mereka bukan hanya baik, tapi mau menerima ku dan anak-anakku serta menyayangi mereka dengan begitu tulus.' Lirih Zafira dalam hati.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2