
Tak butuh waktu lama, Alvian kini telah tiba di rumah sakit. Alvian memasang wajah penuh semangat sambil melintasi koridor menuju ruang perawatan Regina. Sebenarnya ia sudah sangat lelah, tapi mengingat ia akan segera bertemu dengan Zafira membuat ia mampu menepis rasa lelahnya. Bahkan rasa kantuk ya g tadi sempat menggelayut, perlahan menyingkir berganti menjadi seulas senyum bahagia.
Namun saat ingatan cerita Nova mengenai penderitaan Zafira melintas di benaknya, api amarah itu kembali berkobar. Ia paling benci saat ada perempuan disakiti, apalagi yang menyakiti adalah suami dan mertuanya sendiri. Orang-orang yang seharusnya melindungi justru menciptakan neraka untuk Zafira dan anak-anaknya. Sungguh kejam. Tak terbayangkan betapa hancur hati Zafira saat mengalami kekejian tersebut. Tapi ia bersyukur, Zafira dan anak-anaknya kini telah terbebas dari neraka berkedok rumah tangga itu. Mungkin ini memang jalannya untuk menjadi penyelamat bagi calon janda dan anak-anaknya tersebut.
Alvian kini telah berdiri di depan pintu ruang perawatan Regina. Dengan perlahan ia mengetuk pintu dan membukanya pelan-pelan hingga sepasang mata bulat nan cantik pun menyambutnya.
"Assalamu'alaikum," ucapnya.
"Wa'alaikum salam. Pak Alvian, kenapa kembali ke mari? Anda pasti lelah setelah pagi tadi diambil darah lalu mengurus banyak pekerjaan," tukas Zafira yang kini telah berdiri berhadapan dengan Alvian yang hanya mengulas senyum dan menatapnya penuh kehangatan membuat Zafira sampai salah tingkah sendiri.
"Hai cantik, bagaimana keadaanmu?" bukannya menjawab cecaran Zafira, Alvian justru menghampiri Regina yang ternyata telah membuka matanya setelah terlebih dahulu meletakkan beberapa kantong yang ia bawa.
Mata Regina mengerjap, ia merasa asing dengan sosok Alvian. Alvian lantas mengulurkan tangannya, "perkenalan, nama Om, Om Alvian. Om ini bos mama kamu," ujarnya sambil tersenyum jenaka.
Regina yang masih lemas pun hanya bisa mengulas senyum tipis.
"Halo Om, aku Regina." Jawabnya lemah.
Alvian lantas mengusap sayang puncak kepala Regina dengan sebelah tangannya.
"Bagaimana keadaan kamu, cantik?"
"Kepala Regi masih sakit, Om."
"Uh, kasihannya. Kamu yang sabar ya, harus banyak istirahat biar cepat sembuh." Ucapnya membuat Regina mengangguk pelan. Kemudian Regina pun menguap. Mungkin pengaruh obat yang belum lama diminumnya.
"Regi bobok dulu ya, biar cepat pulih!" Ucap Zafira yang telah kembali duduk di samping Regina. Kemudian ia mengusap pelan bagian kepala yang tidak terluka. Karena luka Regina berada di bagian belakang, alhasil Regina pun berbaring dengan posisi miring. Tak lama kemudian, terdengar helaan nafas teratur dari bibir Regina, ternyata ia telah tertidur pulas. Alvian yang melihatnya lantas membenarkan selimut Regina.
"Kamu udah makan?" tanya Alvian dan Zafira pun menggeleng.
__ADS_1
"Pak Al sudah makan? Perlu saya pesankan makan malam?" tanya Zafira malah memasang mode sekretaris.
"Kita bukan lagi di kantor kali Ra, nggak perlu panggil pak lah, kayak tua banget aku tau. Padahal aku masih muda. Malah aku lebih muda dari kamu. Tapi untuk memanggil kamu mbak, i say so sorry, nggak mau. Aku mau panggil nama aja, biar bisa lebih akrab gitu," tukas Alvian panjang lebar membuat Zafira sampai melongo. Bukan tanpa alasan, telinganya telah hafal dengan nada ketus sang bos meskipun akhir-akhir ini ia terkesan lebih lembut dan ramah, tapi tidak dengan karyawan yang lain. Namun malam ini bosnya itu justru berbicara santai, bahkan memintanya tidak memanggilnya pak lagi agar bisa lebih akrab katanya.
"Jadi ... saya harus panggil apa?" beo Zafira yang justru bingung harus memanggil atasannya itu dengan panggilan apa.
"Emmm ... apa ya? Mas, Abang, aa', akang, mama yang bagus ya? Atau sayang aja?" goda Alvian sambil mengerlingkan sebelah matanya membuat mata Zafira membulat.
"Sa-sayang?" beo Zafira.
"Iya," Alvian mengangguk cepat.
"Ngaco'." Zafira mencebikkan bibirnya membuat Alvian terkekeh geli. "Masa' saya panggil sayang ke bos sih, entar orang ngira kita ada affair lagi, nggak mau lah."
"Lah, emang kenapa? Nggak masalah kan?"
"Masalah lah kan aku masih menjadi ... " Zafira terdiam. Bingung ingin melanjutkan kalimatnya atau tidak.
"Pak Alvian tau kalau saya ... "
"Yah, aku sudah tahu."
"Bagaimana mungkin?"
"Apa yang nggak mungkin? Kamu nggak suka aku tahu mengenai rahasia kamu?"
"Bu-bujan begitu. Saya hanya takut ... "
"Tenang aja, aku nggak akan memecat kamu karena merahasiakan identitas kamu. Kita makan dulu ya! Aku sudah lapar sekali," ucap Alvian seraya mengelus perutnya. "Ini ... bunda yang tadi bawain." Alvian menyodorkan kantong berisi makan malam yang ibunya bawakan. Ada beberapa kotak makan di dalamnya yang terdiri atas nasi, lauk-pauk, sayur, dan buah-buahan. Lalu ia memberikan satu kantong lagi berlogo salah satu minimarket yang cukup terkenal di seantero negeri karena dapat kita jumpai hampir di setiap sudut kota dan kabupaten. Zafira lantas menerimanya dengan ekspresi bingung. Matanya membulat saat melihat isinya merupakan susu ibu hamil instan botolan.
__ADS_1
"Ini ... "
"Kamu itu lagi hamil, Ra, jangan karena terlalu fokus dengan Regina kamu jadi melupakan anak yang ada di dalam kandunganmu. Dia pun berhak untuk mendapatkan perhatian dari ibunya. Ayo kita makan dulu, setelah itu baru kamu minum susunya. Apa kau tidak kasihan dengan bosmu yang ganteng ini yang sudah kelaparan dari tadi," seloroh Alvian namun penuh dengan perhatian membuat Zafira sampai berkaca-kaca.
Bukan tanpa alasan, tapi ini merupakan pertama kalinya ia mendapatkan perhatian dari seseorang berjenis kelamin laki-laki. Bagaimana ia tidak terharu. Selama 7 tahun menikah saja, Refano tak pernah sekalipun memberikan perhatiannya pada dirinya. Ia hanya bersikap lembut saat menggaulinya saja. Saat membutuhkan dirinya untuk menuntaskan hasrat biologisnya, tapi setelah ia hamil, ia tak pernah mempedulikannya.
Zafira memang tahu, laki-laki bisa menyentuh perempuan tanpa ada perasaan cinta sama sekali. Namun ia pikir, setelah benihnya tumbuh menjadi seorang calon anak, ia pikir Refano dapat sedikit saja memberikan perhatiannya. Tapi itu tidak terjadi sama sekali. Ia pun hanya mau menemaninya memeriksakan kehamilannya pada bulan keempat untuk mengetahui jenis kelamin calon anaknya, tapi setelah mengetahui anak yang ia kandung adalah seorang perempuan, maka ia takkan pernah lagi menemaninya. Ia akan makin acuh tak acuh. Bahkan ia tak pernah memenuhi keinginan mengidamnya sama sekali. Refano hanya pernah menunjukkan kepeduliannya beberapa kali, yaitu saat ia tak bisa mengontrol rasa mualnya hingga muntah-muntah. Alhasil, meskipun dengan memasang wajah enggan, ia mau mengurut tengkuknya hingga rasa mual itu sedikit mereda. Namun, untuk hal lainnya tak pernah. Membelikannya susu kehamilan pun tidak pernah. Ia hanya bisa pasrah, beginilah nasib istri yang tak dicintai pikirnya.
Melihat mata Zafira yang berkaca-kaca, sontak Alvian menjadi panik. Ia pun segera beranjak dan berdiri di hadapan Zafira. Tangannya ingin sekali merengkuh pundaknya, tapi sayang ia tak seberani itu.
"Lho, lho, lho, kamu kok nangis? Aku ... aku ada salah ya? Atau kamu nggak suka sama susu itu. Kalau kamu nggak mau, sini aku ... "
"Bukan, pak, bukan itu. Maaf membuat Anda cemas. Saya ... saya hanya terharu. Terima kasih ya, pak. Anda sungguh baik sekali," ujar Zafira gelagapan membuat Alvian tersenyum.
Beberapa saat kemudian, mereka pun mulai makan malam. Zafira mengambilkan Alvian nasi dan lauk pauknya membuat Alvian tersenyum. Dalam hati ia sampai bergumam, 'begini toh rasanya dilayani seorang istri. Eh, ralat, masih jadi istri orang. Terus jadi istri akunya kapan?'
Selesai makan malam, Zafira pun segera membereskan piring kotor dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
"Pak Al nggak pulang? Ini udah malam banget," ujar Zafira merasa heran saat melihat Alvian justru tampak santai-santai saja di sofa.
"Kamu kalau ngantuk tidur aja, Ra. Aku nggak pulang, mau temenin kamu. Tenang aja, aku nggak akan macam-macam kok. Kamu rebahan aja di sini, biar aku yang jaga Regina," ujar Alvian seraya beranjak menuju kursi yang ada di samping brankar.
Tapi pak ... "
"Pak? Saya? Huh, bandel banget sih! Disuruh ubah biar lebih santai aja susah bener," ketus Alvian membuat Zafira meringis. "Mau aku ingetin berapa kali, kamu itu lagi hamil Zafira. Harus banyak istirahat dan makan makanan bergizi jadi ... please nurut. Tidur di sana! Aku nggak menerima penolakan, ingat itu," peringat Alvian membuat Zafira menelan ludah pasrah. Ia pun terpaksa menuruti perintah atasannya itu dengan perasaan tak menentu.
'Dia kenapa sih? Aneh. Kok hari ini dia kayak perhatian banget sih? Apa dia kesambet? Terus ... dia tahu dari mana tentang statusku termasuk kehamilanku ini?' batin Zafira bertanya-tanya. Tapi ia bingung bagaimana cara menanyakan dan mengobati rasa penasarannya itu.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...