
Karena mengamuk, pihak Luxurious terpaksa memanggil keamanan. Liliana dipaksa masuk ke ruangan keamanan untuk mencegah terjadinya kericuhan. Mereka juga menghubungi pihak keluarga untuk segera menjemput Liliana.
30 menit kemudian, tampak Marwan dan Refano sudah datang ke Luxurious untuk menjemput Liliana pulang. Marwan dan Refano juga meminta maaf karena kekacauan yang telah Liliana buat.
"Pa, mereka bilang berlian mama palsu, pa. Mereka pasti bohong kan? Mana mungkin berlian ini palsu. Mereka itu nggak ngerti tentang berlian tapi sok-sokan paling ngerti. Berlian asli kata mereka palsu, mama nggak mungkin ditipu kan pa? Mereka pasti salah kan, pa? Itu nggak benar kan, pa?" racau Liliana sepanjang perjalanan pulang ke rumah.
"Ma, mereka nggak mungkin salah. Mereka itu ahlinya. Mereka yang paling paham masalah berlian jadi nggak mungkin mereka salah, nggak bisa bedain berlian asli dan tiruan," ketus Marwan kesal karena merasa malu akibat kekacauan yang dibuat Liliana. Mana ia harus turun tangan sendiri untuk membereskan permasalahan yang dibuat istrinya itu. Saat Marwan sedang bersungut-sungut kesal, Refano justru melirik jam di pergelangan tangannya. Ia ada janji siang itu dengan Alvian di sebuah vila milik laki-laki itu. Tentu pertemuan ini diadakan secara rahasia. Ia yakin, karena permasalahan ini, orang tuanya akan sedikit lengah mengawasi dirinya. Untung saja mereka membawa mobil masing-masing jadi Refano bisa langsung memisahkan diri dari sang papa. Ia juga sudah mengatakan kalau ia ada pekerjaan mendesak siang itu jadi tidak bisa ikut pulang mengurus sang mama.
"Pa, jadi papa pikir berlian ini juga palsu?" sentak Liliana dengan suara meninggi.
"Menurutmu apa lagi? Kau masih mau mempermalukan diriku dengan mengamuk mengatakan berlian itu asli di tempat lain? Sekali lagi kau melakukan itu, habis kau!" sentak Marwan yang juga kesal. Sang sopir sampai tersentak mendengar bentakan majikannya itu. Baru kali ini seumur hidupnya selama bekerja dengan keluarga itu melihat majikannya memarahi istrinya.
"Papa, nggak mungkin ini berlian palsu. Uangku ... uangku semuanya sudah aku habiskan untuk membeli berlian ini. Aku ... aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Semua uangku habis. Tidak, aku tidak mau jatuh miskin lagi. Aku tidak mau miskin."
"Memangnya berapa kau beli berlian kw itu?" tanya Marwan menelisik. Wajah Marwan sudah mendadak was-was, berapa mahal uang yang dihabiskan istrinya sampai ia ketakutan menjadi miskin seperti itu.
"Se-seratus ju-ta dollar, pa," cicit Liliana sambil menelan ludahnya. Hidungnya terasa masam. Ia langsung menyudutkan dirinya di pinggir pintu mobil karena khawatir Marwan pasti akan mengamuk setelah ini. Seratus juta dollar bukanlah nominal yang sedikit. Bila dikonversikan ke rupiah bisa mencapai 1,6 triliun rupiah. Bagaimana Liliana tidak panik. Bukan juta, bukan pula milyar, tapi triliun. Semua propertinya telah ia jual hanya demi sebongkah batu moisanit? Bagaimana ia tidak mendadak gila.
"APA? APA KAU SUDAH GILA MEMBELI BERLIAN PALSU ITU DENGAN UANG SEBANYAK ITU, HAH?" bentak Marwan dengan rahang mengeras dan mata melotot tajam. Kepalanya rasa terbakar, di saat ia membutuhkan dana segar istrinya justru membuang-buang uang dengan membeli berlian palsu.
"Kau pikir aku mau membelinya kalau tahu berlian itu palsu? Aku tidak sebodoh itu, mas." sentak Liliana tak kalah kesal. Ia sudah dirugikan, setelahnya malah dimaki-maki dan disalahkan.
"Makanya jadi orang jangan terlalu mudah tergiur. Dari dulu kau selalu saja menghambur-hamburkan uang. Kau pikir cari uang gampang."
"Aku juga tidak memakai uangmu seluruhnya. Aku memakai uang orang tua Ayu yang berhasil aku ambil alih." Ucapnya tanpa sadar membuat mata Marwan KIA melotot tajam. Sorot matanya bahkan sudah setajam busur panah yang siap melesat mengenai targetnya.
__ADS_1
"Apa? Apa tadi kau bilang? Kau ... kau memakai uang orang tua Ayu? Bukankah hartanya dihibahkan ke yayasan untuk anak-anak panti asuhan?" cecar Marwan dengan tatapan menelisik. Liliana menelan ludahnya kasar. Ia benar-benar tidak sengaja mengungkapkan rahasianya selama ini.
"Itu ... aku ... anu ... "
"Aku benar-benar tidak menyangka, kau bisa sepicik itu. Mengambil yang bukan hak mu. Ah, tapi memang tak dapat aku ragukan lagi memang seperti itulah sifatmu. Atau jangan-jangan apa yang Ayu katakan tempo hari memang benar. Kau ... apakah kau yang telah mencelakainya? Cepat katakan yang sejujurnya!"
"Tidak, mas. Itu tidak benar sama sekali. Mana mungkin aku bisa melakukan hal sekeji itu. Aku memang mengambil harta peninggalan orang tua Ayu, tapi aku tidak pernah mencelakakannya. Mas jangan percaya begitu saja dengan perempuan itu," kilah Liliana gugup.
"Benar?"
"Benar, mas. Mana mungkin aku berbohong padamu." Ucapnya meyakinkan.
"Baiklah. Aku percaya. Tapi awas, bila sampai aku tahu kaulah dalang dibalik penculikan dan percobaan pembunuhan Ayu, maka aku tidak akan tinggal diam," ucap Marwan penuh ancaman membuat tenggorokan Liliana mendadak terasa kering dan kelat.
...***...
"Selamat siang tuan Refano," ucap Luthfi menyambut kedatangan Refano ke villa pribadi milik Alvian itu.
"Selamat siang juga pak Luthfi. Maaf sedikit terlambat. Tadi ada hal penting yang harus saya urus terlebih dahulu," ucap Refano datar.
"Tidak apa-apa, tuan. Mari, pak bos Alvian sudah menunggu di ruangannya," ucap Luthfi seraya mempersilahkan Refano dan pengacaranya mengikuti langkahnya menuju ruang kerja Alvian di villa tersebut.
Mereka lantas segera melangkahkan kakinya ke dalam ruangan yang cukup besar dengan didominasi warna abu-abu tersebut.
Melihat kedatangan Refano, Alvian segera berdiri dan menyambutnya. Baru saja Alvian mengulurkan tangannya untuk bersalaman, Refano justru menarik tangan tersebut dan memeluknya seraya tersenyum.
__ADS_1
"Senang berjumpa lagi denganmu." Ucap Refano dengan wajah lebih sumringah dari sebelumnya. Alvian jadi kikuk sendiri. Meskipun mereka bersaudara satu ayah, tapi karena ini baru pertemuan kedua mereka, tentu masih ada rasa canggung diantara mereka.
"Ah, i-iya. Saya juga senang bertemu dengan Anda lagi tuan Refano." Sahut Alvian agak kikuk.
Refano sadar, Alvian mungkin masih sedikit canggung dengan dirinya. Ia harap kecanggungan ini akan segera melebur suatu hari nanti sehingga mereka bisa dekat seperti saudara semestinya.
"Baiklah, perkenalkan, dia Kiandra. Pengacara sekaligus temanku." Ucap Refano memperkenalkan pengacaranya. Pihak Alvian pun memperkenalkan pengacara pihak mereka. "Jadi bisa segera kita mulai pengalihan sahamnya?" imbuhnya setelah pengacara mereka saling memperkenalkan diri.
Alvian lantas mengangguk dan mereka pun mulai membahas hal-hal berkaitan dengan pengalihan saham atas nama Refano menjadi milik Regina, Refina, Zafran, dan juga Zafira. Saham yang dimiliki Refano sebesar 20% dibagi untuk keempat orang itu yang masing-masing mendapatkan saham sebesar 5%. Saham sebesar 50% telah berhasil Alvian kuasai tanpa sepengetahuan Marwan. Sisa 30%, milik Marwan 25% dan Liliana 5%.
Setelah selesai, mereka pun berbincang-bincang sejenak. Tiba-tiba ponsel Luthfi berdering. Luthfi pun meminta izin untuk mengangkat panggilan tersebut. Tak lama kemudian, Luthfi pun kembali lagi dengan wajah berseri membuat Alvian penasaran.
"Pak bos, aku dapat kabar baik," ucap Luthfi sumringah.
"Kabar apa?"
" ... "
"Apa? Benarkah?"
"Apa benar yang kau katakan barusan?"
" ... "
Sontak saja raut wajah Alvian dan Refano pun ikut berbinar cerah mendapatkan kabar baik tersebut.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...