
Keesokan paginya, Alvian yang tertidur lagi setelah melaksanakan shalat subuh tiba-tiba saja terlonjak saat meraba di sisinya tidak ditemukan sang istri. Diliriknya jarum jam baru menunjukkan pukul 5.30. Dengan wajah panik, Alvian pun segera melompat dari tempat tidurnya untuk mencari keberadaan istrinya.
Entahlah, ada perasaan cemas dan was-was setelah menceritakan perihal rahasia mantan suami istrinya tersebut. Perasaan kalut, bagaimana bila tiba-tiba Zafira mengatakan ingin berpisah dengannya agar bisa kembali ke mantan suaminya.
Rasa cemas dan panik mendera saat ia tidak menemukan sang istri baik di kamar mandi, di walk in closet, di dapur, dan di taman belakang. Perasaan Alvian benar-benar gundah gulana. Ia belum sanggup kehilangan istri yang dicintainya.
Mendadak kepalanya berdentam sakit. Rasa sakit yang menjalar-jalar membuat Alvian terduduk di undakan tangga. Matanya sudah memerah. Ia tak peduli akan rasa sakitnya, tapi yang ia pedulikan adalah keberadaan istrinya.
"Kamu dimana sayang? Apa kamu pergi ninggalin aku? Apa kamu hendak kembali padanya?" lirih Alvian sambil menahan nyeri di kepala pun sebak di dadanya.
"Bang, Abang ngapain duduk di sini?"
Terdengar suara seseorang yang sangat familiar ditelinga nya menyapa dirinya membuat Alvian gegas menoleh. Melihat keberadaan seseorang yang dicarinya sejak bermenit-menit yang lalu membuat Alvian sontak berdiri, membalikkan badannya dan memeluk erat wanita yang telah mengisi relung jiwanya itu.
"Bang, aku lagi pegang wadah air! Tuh kan basah," seru Zafira panik saat Alvian memeluknya begitu saja tanpa melihat kalau tangannya tengah memegang baskom berisi waslap dan air.
"Kamu kemana aja? Abang cariin kemana-mana barusan," cecar Alvian membuat Zafira membulatkan matanya. Tak dihiraukannya bajunya yang basah karena terkena tumpahan air dalam baskom yang dipegang Zafira. Kenapa wajah suaminya tampak panik dan tegang? pikirnya.
"Fira dari kamar Regi, bang. Regina demam sejak subuh tadi. Karena itu aku temenin Regina sejak subuh sambil kompres. Abang kok kayak panik gitu sih? Ada apa?" tanya Zafira heran sekaligus penasaran.
__ADS_1
Mendengar penuturan Zafira kalau putri sulungnya demam mendadak membuat Alvian panik. Bahkan ia sampai tak menjawab pertanyaan istrinya itu.
"Regi demam? Kenapa nggak bilang? Mau dibawa ke rumah sakit? Nanti Abang antar," cerca Alvian yang memang mengkhawatirkan keadaan putri sambungnya itu.
Zafira tersenyum lalu mengusap lengan Alvian untuk memenangkannya, "nggak usah panik gitu, bang. Regi demam biasa. Tadi udah Fira kasi parasetamol dan kompres juga. Demamnya udah agak mereda sih. Tapi kalau nanti naik lagi panasnya, baru kita coba bawa ke dokter," ujar Zafira menenangkan membuat Alvian bernafas lega. "Abang belum jawab pertanyaan Fira tadi lho." Zafira kembali menuntut jawaban pertanyaannya tadi.
"Pertanyaan apa? Yang mana?" tanyanya yang benar-benar lupa dengan apa yang istrinya tanyakan tadi.
Zafira mendengkus, "kenapa nggak sekalian bilang, 'kamu nanyeak? Kamu bertanya-tanyeak?" geram Zafira membuat Alvian terkekeh lantas mencuri ciuman di bibir sang istri.
"Bang," protes Zafira. "Kalau dilihat yang lain gimana? Malu tahu," delik Zafira kesal.
"Habisnya kamu gemesin sih. Swear, Abang lupa. Kamu nanya apa sih tadi?" ulangnya bertanya sebab laki-laki itu memang benar-benar lupa. Ia memang tidak bisa fokus karena masih menahan sakit di kepalanya.
Alvian tersenyum kecil, Sebenarnya ia malu mengatakannya, namun ia pun tak bisa menutupi rasa cemasnya, "iya, Abang tadi panik banget. Semalam kan Abang baru aja menceritakan cerita memilukan. Abang hanya khawatir, bagaimana kalau kamu pergi diam-diam untuk kembali dengan ... dia. Abang benar-benar panik tadi. Abang nggak sanggup bila harus kehilangan kamu, sayang," ucapnya sungguh-sungguh membuat Zafira terharu
"Fira nggak senekat itu, bang. Lagian dia hanyalah bagian dari masa lalu dan Abang lah masa depan Fira. Kami sudah memiliki jalan masing-masing, tak ada lagi jalan untuk kembali. Jadi Abang nggak usah khawatir, Fira akan selalu berada di sisi Abang untuk selamanya," ujar Zafira mencoba menenangkan suaminya yang tadinya tampak panik itu. Mendengar penuturan sang istri, akhirnya Alvian dapat tersenyum dengan lega. "Abang kok pucat gitu? Abang sakit?" tanya Zafira khawatir melihat wajah pucat suaminya. Ia lantas menempelkan punggung telapak tangannya di dahi Alvian. "Nggak panas."
"Aku cuma pusing aja kok, Ra. Mungkin karena tadi pas bangun langsung aja lompat dari ranjang," ujarnya terkekeh tak mau istrinya itu menjadi khawatir.
__ADS_1
"Ya Allah, maafin Fira ya, bang. Kalau gitu Abang istirahat aja di kamar. Untuk sarapan, nanti Fira bawain ke kamar aja. Atau perlu Fira telepon dokter untuk memeriksakan Abang?"
Alvian menggeleng pelan, "nggak perlu. Cukup ada kamu di sisiku, itu adalah obat termujarab untuk penyakit ku," ucapnya membuat Zafira tersipu malu mendengar ucapan yang entah serius atau hanya gombalan. Namun Zafira tak bisa menyembunyikan rona bahagia di pipinya membuat Bu Ayu dan Bu Mayang yang berdiri di bawah sana tersenyum.
"Pagi-pagi udah gombal. Huh, mentang ya, pengantin baru, sampai tangga pun bisa jadi tempat romantis-romantisan," seloroh Bu Ayu membuat pasangan pengantin anyar itu tersipu malu.
"Ah, bunda. Seneng bener godain anaknya," protes Alvian. "Sayang, Abang ke kamar dulu ya mau ganti baju. Oh ya, baju kamu juga basah tuh, Yang. Ganti juga sana, entar masuk angin," ucap Alvian mengingatkan Zafira yang tak sadar kalau bajunya ikut basah karena tumpahan air baskom saat Alvian menubruknya langsung ke dalam pelukannya. Zafira pun mengangguk. Ia lantas segera menuju ke tempat pencucian piring untuk meletakkan baskom bekas air kompresan Regina tadi. Setelahnya ia segera kembali masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
...***...
Pagi-pagi sekali perusahaan YG Group sudah sangat sibuk sekali. Gemparnya berita YG Group mengalami failed sudah tersebar luas hingga kemana-mana. Kacaunya sistem manajemen, vakumnya beberapa pabrik, beberapa produk ditarik dari pasaran, gagal edarnya produk yang baru saja diproduksi membuat perusahaan itu kian kacau. Marwan yang frustasi dengan keadaan Liliana jadi kian frustasi karena keadaan perusahaan yang kian tak terkendali.bDan lebih parahnya lagi, karyawan pabrik di beberapa titik melakukan demonstrasi menuntut gaji yang sudah 3 bulan tidak dibayarkan karena keuangan yang sudah benar-benar kacau.
Beberapa produsen bahan baku pun ikut melayangkan tuntutan untuk melunasi pembayaran biaya bahan baku yang juga terkendala akibat kosongnya kas keuangan perusahaan.
"Pak, karyawan di pabrik Utara, selatan, dan barat menuntut pembayaran gaji mereka. Mereka sudah merobohkan pagar dan memaksa meringsek masuk ke kantor. Bila dalam 1x24 jam gaji mereka tidak dibayarkan, mereka akan mengerahkan massa untuk ke kantor pusat di sini," ujar Afrizal menyampaikan keadaan di pabrik.
Mata Marwan membeliak. Ia meraup wajahnya frustasi. Dadanya seketika sesak. Cepat-cepat ia mengambil obat dan meminumnya tanpa air.
"Mengapa semua investor lepas tangan? Lalu pemegang saham, dimana mereka? Dewan direksi? Kenapa hanya aku di sini yang disuruh berpikir? Aaarghhh ... " Marwan menekan dadanya yang sesak. "Darimana kita bisa membayarkan gaji karyawan, sedangkan keuangan kita benar-benar buruk. Rizal, aku harus apa? Aku harus bagaimana?" Raung Marwan frustasi. Afrizal diam tak bergeming. Ia justru tersenyum dalam hati memandangi Marwan yang frustasi seorang diri.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...