
"Wah, cantiknya anak ibu," puji Bu Mayang saat masuk ke kamar Zafira. Tampak Zafira sedang mematut dirinya di depan cermin sambil memutar-mutar tubuhnya yang telah mengenakan gaun pemberian Alvian. Sadar ibunya telah masuk ke dalam kamarnya, Zafira tertunduk dengan wajah bersemu merah. Malu. Dia sangat malu ketahuan sang ibu sedang beraksi di depan cermin. Wajahnya telah terulas make up minimalis tapi tetap flawless membuat wajahnya tampak lebih bersinar.
Di salon tadi, ia tidak hanya di facial, tapi juga melakukan beberapa perawatan lainnya seperti luluran dan meni pedi agar ia bisa tampil paripurna di hadapan Alvian. Ia juga meminta mereka mendandani dirinya agar ia tidak perlu repot-repot lagi berdandan di rumah nanti. Dan setibanya di rumah, Zafira pun segera mengenakan gaun pemberian Alvian berikut perhiasan yang terdiri atas kalung, gelang, anting, dan sebuah cincin yang terbuat dari emas putih. Ia tak menyangka, pemberian Alvian begitu serasi di tubuhnya. Seumur hidup, Refano mana pernah melakukan seperti apa yang Alvian lakukan. Jangankan membelikan perhiasan, baju selembar pun tidak pernah. Tidak seperti Alvian yang seakan meratukannya. Ia merasa begitu istimewa karenanya.
"Ibu," cicit Zafira sambil tersipu.
"Mama ... " teriak Regina dan Refina.
"Wah, mama cantik banget! Mama kayak orang-orang di tivi, cantik dan keren." Puji Regina dengan mata berbinar.
"Mama kan emang kelen dan cantik, kak." Puji Refina yang ikut muncul sambil memeluk boneka pandanya.
"Kalian bisa aja. Oh ya, mama mau pergi sebentar sama Om papa Al ya. Regi sama Refi tinggal sama nenek dulu ya. Ingat, sebelum tidur, harus ... "
"SST, sikat gigi sebelum tidur," seru keduanya kompak membuat Zafira tak bisa tidak untuk tertawa. Ia bangga pada kedua putrinya yang begitu penurut dan pintar. Bila keluarga Refano menyebutkan anak-anaknya merupakan anak tak berguna, baginya justru sebaliknya. Anak-anaknya adalah anugerah luar biasa. Melihat perkembangan anak-anaknya yang luar biasa, membuatnya amat sangat bangga. Tidak sedikit yang mengagumi anak-anaknya, bahkan banyak para orang tua yang mendatangi dirinya berniat untuk mengadopsi anak-anaknya karena tahu Zafira merupakan single parents. Tentu saja Zafira menolak. Meskipun ia single parents, tapi ia masih mampu untuk membesarkan anak-anaknya. Anak-anak adalah sumber kekuatan dan semangatnya. Ia bisa hidup tanpa seorang laki-laki di sisinya, tapi ia tak bisa bertahan tanpa anak-anaknya.
Selang berapa menit kemudian, terdengar deru suara mobil memasuki pekarangan rumah mereka. Melihat kedatangan Alvian, sontak saja Regina dan Refina berseru girang. Padahal siang tadi mereka telah bertemu saat Alvian mengantarkan kotak berisi gaun, sepatu, dan perhiasan untuknya, tapi sepertinya kedua putrinya itu tak pernah bosan ingin bertemu dengan laki-laki yang masih menjabat sebagai bosnya tersebut.
"Om Papa Al," seru Regina dan Refina girang saat Alvian memasuki rumah setelah Bu Mayang membukakan pintu untuknya. Alvian tampak begitu memesona degan setelah tuxedo berwarna navy dan dasi kupu-kupu yang melingkari lehernya.
"Hai princess-princessnya Om Papa. Lagi ngapain?"
"Tadi Regi sama Refi habis liat mama, Om Papa. Mama cantik banget." Ujar Regina bercerita.
"Oh ya?"
__ADS_1
"Iya Om papa. Mama cantiiiik banget. Lefi juga mau cantik kayak mama," ujar Regina yang sudah bergelayut manja di pangkuan Alvian. Sedangkan Regina ada di samping kanan Alvian.
"Wah, Om papa jadi nggak sabar pingin liat mama jadinya. Oh ya, dedek Zafran udah bobok?"
"Udah Om papa."
"Om papa pinjam dulu sebentar mamanya ya! Nanti setelah acaranya selesai, Om papa balikkin lagi mamanya." Izin Alvian pada Regina dan Refina.
"Iya om papa, nggak papa. Tadi malam mama udah bilang kok. Jagain mama ya Om Papa." Ucap Regina sangat manis membuat Alvian tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya melihat kedua gadis kecil yang bukan hanya cantik, sopan, tapi juga cerdas dan penyayang.
"Pasti dong." Ucap Alvian sambil mengusap puncak kepala Regina gemas membuat gadis itu tersenyum bahagia karena mendapatkan perlakuan penuh kasih dari Alvian. Perlakuan yang tak pernah ia dapatkan dari sang ayah justru ia dapatkan dari Alvian. Ia menemukan sosok sang ayah dari Alvian karena itu tak butuh waktu lama untuk dirinya maupun Refina menyayangi Alvian.
Tak lama kemudian, Zafira pun keluar dari dalam kamarnya. Alvian sampai tertegun dan terperangah melihat kecantikan Zafira yang kian terpancar. Gaun yang ia kenakan begitu pas dan serasi. Ia tidak tahu mengenai fashion perempuan, tapi saat melihat gaun itu di butik teman sang mama, langsung saja Alvian merasa jatuh hati. Ia sudah dapat membayangkan betapa sempurnanya penampilan Zafira malam ini. Namun ternyata, semua di luar ekspektasi. Zafira jauh melampaui ekpektasinya. Alvian sampai menelan ludahnya saat melihat sosok bak Dewi yang sedang tersenyum malu-malu di hadapannya.
"Bu, kira-kira boleh nggak ya aku gotong Zafira ke KUA sekarang juga?" selorohnya dengan sorot mata penuh pemujaan membuat Bu Mayang tergelak kencang, sedangkan Zafira sudah menunduk malu. Tapi tindakannya tetap saja tak mampu menyembunyikan rona merah yang sudah Alvian tangkap terlebih dahulu.
"Serius Bu. Wah, makasih ya Bu dukungannya."
"Ibu, Al, udah deh, kapan perginya kalo becanda melulu," protes Zafira dengan bibir mengerucut membuat Alvian benar-benar gemas. 'Astagfirullah, bibir itu ... Boleh nggak sih nyicipinnya? DP dulu istilahnya,' batin Alvian bermonolog dengan jakun yang naik turun.
...***...
Setelah berpamitan dan menitipkan Baby Zafran beserta kedua putrinya pada Bu Mayang, Zafira dan Alvian pun bergegas menuju mobil yang sudah terparkir. Alvian pun membukakan pintu untuk Zafira, setelahnya ia pun menyusul duduk di kursi pengemudi.
"Cantik," ucap Alvian tiba-tiba membuat Zafira sontak menoleh.
__ADS_1
"Apa Al? Kamu bilang sesuatu tadi? Maaf, aku nggak dengar," ujar Zafira seraya memutar sedikit tubuhnya hingga menghadap ke arah Alvian.
Alvian menoleh sekilas dengan senyum merekah di bibirnya, "kamu cantik. Sangat-sangat cantik," pujinya membuat Zafira tak mampu menyembunyikan senyuman manisnya. Dia sudah seperti ABG yang baru mengenal cinta, sehingga rasa hatinya begitu berbunga-bunga padahal Alvian hanya mengucapkan beberapa patah kata pujian.
"Gombal."
"Aku serius, sayang. Kamu kok selalu ngerasa aku ngegombal sih? Mentang-mentang sering digombalin mantan jadi apa yang aku bilangin selalu dianggap gombal." Wajah cerah itu tiba-tiba tertekuk masam. Ia jujur, ia serius, tapi selalu dianggap gombal. Bagaimana ia bisa gombal,ia saja tidak tahu bagaimana cara menggombal. Yang ia tahu, apa yang ia rasa, ia langsung ungkapkan dengan jujur.
Melihat raut wajah Alvian berubah ditekuk masam, Zafira jadi tak enak hati dan bingung sendiri.
"Al, kamu marah ya? Aku ... aku bukannya nggak percaya sama kata-kata kamu. Aku hanya ... aku ... aku bingung harus mengatakan apa," ucapnya jujur. "Dan jujur, meskipun aku telah lebih dahulu menikah, tapi ... tapi kamu yang pertama bilang kayak gitu ke aku. Dia mana pernah bersikap manis kayak kamu gini." Imbuh Zafira dengan memasang wajah seperti seorang tersangka bersalah.
Tiba-tiba Alvian mengerem mobilnya mendadak di jalanan yang cukup sepi. Dilepaskannya seat belt yang melingkari tubuhnya. Lalu dicondongkannya wajah dan tubuhnya sehingga mereka kini saling berhadapan. Ditatapnya netra Zafira dengan lekat membuat jantung Zafira sontak berlompatan. Jarak mereka yang terlalu dekat membuat mereka bisa saling menghirup aroma parfum masing-masing pun dengan nafas keduanya yang saling menerpa wajah. Zafira menggigit bibirnya dan menundukkan wajahnya dengan wajah yang memanas. Ditatap sedemikian intens oleh laki-laki tampan, siapa sih yang tidak salah tingkah? Othor pun kalo ditatap cowok cakep kayak Alvian ikutan salah tingkah. Padahal tatapan Alvian ke Zafira berbeda dengan tatapan Alvian ke othor. Kalo Alvian menatap Zafira dengan penuh cinta, kalo ke othor Alvian sambil menahan mual. ð
Apalagi Zafira perempuan normal yang tentunya membuat dirinya sampai-sampai kesulitan bernapas. Melihat Zafira justru menundukkan wajahnya, Alvian lantas memegang dagu Zafira dan mengarahkan pandangannya kepada dirinya sehingga kedua pasang netra mereka saling bersirobok.
"Ra, serius deh, aku pingin ... "
"... "
...***...
Pingin apa hayoooo???? ðĪðĪŠðĪĢ
Lanjut malam yeee! Udah panjang ini. FYI, othor ngetik sambil mangku si bocil bobok yang lagi flu batuk jdnya rewel. Nggak tega, tidurnya kebangun mulu gara-gara batuk. ð Alhamdulillah udah dibawa ke Bu bidan, smg aja cepat sembuh. ððð
__ADS_1
...HAPPY READING ðĨ°ðĨ°ðĨ°...