Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Kelegaan dan sang mantan


__ADS_3

Refano baru saja tiba di depan gedung perusahaan YG Group. Perusahaan peninggalan sang mendiang kakek, tempat dimana menampung ratusan karyawan yang menggantungkan hidupnya. Tempat yang seharusnya tak lama lagi diwariskan kepadanya. Namun, kini perusahaan ini bukan lagi miliknya, tapi milik adiknya. Suami dari mantan istrinya. Sungguh lucu. Kini ia kembali ke sini, untuk menjadi CEO di perusahaan yang bukan lagi milik keluarganya. Aneh. Namun, inilah kenyataannya.


Entah mengapa, sejak tadi perasaan gugup menerpanya. Padahal hampir separuh usianya ia habiskan di perusahaan ini. Bekerja keras tak kenal lelah dari pagi hingga menjelang malam. Lebih dari separuh waktu ia habiskan di tempat itu. Bukan sekedar untuk bekerja, tapi menghindari Zafira dan anak-anaknya. Sebab semakin sering bertemu justru membuat rasa rindu kian membuncah. Terkadang ia ingin menerjang Zafira dan anak-anaknya dengan pelukan hangat, tapi sayang, hal tersebut hanya mampu ia pendam dalam hati. Tak jarang keinginan itu sampai terbawa mimpi.


Refano menarik nafas panjang dan dalam. Lalu ia hembuskan perlahan sebelum benar-benar masuk ke dalam gedung tersebut tersebut. Ia benar-benar gugup. Ia sudah seperti calon pegawai baru yang baru saja akan mulai interview. Begitu gugup. Sampai-sampai tangannya berkeringat dingin.


Berpasang mata pegawai perusahaan yang mengetahui kalau mantan COO perusahaan mereka telah kehilangan jabatannya disana memandangnya penuh arti. Ada yang heran untuk apa Refano kembali ke perusahaan itu? Ada yang merasa iba pemimpin mereka terpaksa mengundurkan diri karena perusahaan yang telah diakuisisi perusahaan lain. Ada pula yang memandang Refano dengan tatapan mengejek karena iri.


Setibanya di depan pintu, Refano menghela nafas terlebih dahulu. Setelahnya, ia baru mengetuk pintu. Dalam hitungan detik, pintu pun dibuka dari dalam. Masih dengan rasa gugupnya, Refano tersenyum ke arah Afrizal yang membukakan pintu lalu melangkahkan kakinya ke dalam.


Namun, baru 2 langkah ia berjalan masuk, kakinya sontak bagai terpaku ke bumi. Tak mampu bergerak. Tak mampu diangkat. Tubuhnya menegang dengan keringat dingin mengalir di pelipis. Jantungnya pun seperti dipompa begitu cepat. Lidahnya kelu. Nafasnya tercekat. Namun, keterpakuan itu seketika berganti derai air mata saat sosok yang begitu dirindukannya memanggil namanya.


"Papa," lirih Regina dengan bibir mengerucut dan mata memerah. Sedangkan di sampingnya, tampak Refina yang menatapnya datar, tapi terlihat ia sedang menahan getaran di bibirnya.


"Re-Regina, Re-fina, putri papa," lirih Refano dengan bulir-bulir kristal yang sudah menganak sungai.


Refano berjongkok kemudian merentangkan kedua tangannya. Entah harapannya akan bersambut atau tidak, ia hanya mencoba membuka kedua lengannya berharap kedua putri yang amat sangat dirindukannya itu segera masuk ke dalam dekapannya.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, dalam hitungan ke tiga, kedua bocah perempuan itu pun segera berlari dan berhambur masuk ke dalam pelukan Refano. Refano sampai hampir saja terjungkal karena dorongan kedua putrinya. Untung saja, ia mampu menahan bobot tubuhnya agar tidak terjungkal ke belakang.


Kedua bocah perempuan itu lantas menangis haru. Untuk pertama kalinya, mereka dapat merasakan pelukan dari ayah kandungnya. Bila Regina selalu menunjukkan rasa rindunya pada sang ayah, maka Refina memiliki sifat tak terbaca. Namun kini, semua terkuak sudah bahwa sebenarnya bocah yang sudah berusia 4 tahun itu ternyata juga merindukan sang ayah. Hanya saja ia tak pernah menunjukkannya. Sifatnya sama seperti Refano, mampu menyembunyikan perasaannya dengan apik sampai tiada seorang pun yang mengetahui. Namun kini, dengan lantang akhirnya ia mengakui kalau ia merindukan sang ayah.


"Papa ... Lefi kangen papa," pekik Refina sambil menangis sesegukan di dekapan Refano.


"Papa, maafin Regi di sekolah. Regi sebenarnya juga kangen papa. Cuma Regi takut. Regi takut tahu kalau papa nggak sayang Regi. Regi kangen papa. Regi sayang papa. Regi ... Regi ... huaaaaa ... " Karena kebingungan harus mengatakan apa lagi, Regina hanya bisa mengungkapkan isi hatinya melalui sebuah tangisan. Refano sudah tak mampu membendung rasa haru yang kian memenuhi rongga dadanya. Ia tak menyangka, diberikan kesempatan untuk merasakan pelukan kedua putrinya. Ia tak menyangka, ia diperbolehkan untuk memeluk buah hatinya.


"Papa juga sayang Regi dan Refi. Maafin papa selama ini ya sayang. Papa udah jahat, kejam, dan buat kalian sedih. Papa emang jahat. Papa ... papa benar-benar jahat," lirih Refano dengan air mata yang tumpah ruah.


Mata Refano beralih menatap sang mantan istri yang sedang duduk manis di samping Alvian. Alvian tampak merangkul pinggang Zafira posesif seakan takut ada yang merebutnya dari sisinya. Zafira tersenyum tipis membuat perasaan Refano kian campur aduk, namun tak pelak bersyukur dalam hati. Sepertinya mantan istrinya itu sudah mulai mau berdamai dengan dirinya.


Sementara itu, di sebuah ruangan serba putih, tampak seorang pria yang kini terlihat makin tirus tergolek tak berdaya di atas brankar. Alat bantu pernapasan masih melekat di depan mulutnya. Matanya cekung, pipinya tirus, hilang sudah tubuh gagah pria itu berganti dengan tubuh yang ringkih.


Derap suara heels yang beradu dengan lantai terdengar dari depan pintu. Sedetik kemudian, pintu terbuka dari luar. Dari baliknya muncul seorang wanita cantik dengan sebuah kerudung merah muda melingkari kepalanya. Penampilannya sangat anggun dengan sebuah kaca mata yang bertengger di atas hidung bangirnya membuat auranya begitu memesona.


Pria yang berada di atas brankar nanya bisa melirik melalui ekor matanya. Tubuhnya sangat kaku, bibirnya pun sudah tak sanggup mengeluarkan kata-kata. Hanya netranya saja yang menunjukkan sebuah keterkejutan bagaimana bisa wanita yang merupakan mantan kekasihnya itu bisa berada di ruangannya.

__ADS_1


"A-Ayu," ucapnya dengan suara yang tak begitu jelas karena bibirnya yang sudah meliuk berlawanan arah.


"Hai kak, apa kabarmu? Ooops, kenapa mesti ditanya ya? Udah jelas kamu nggak baik-baik aja kok masih nanya." Bukannya menunggu jawaban, ia justru menjawab pertanyaannya sendiri sambil terkekeh.


"Jujur kak, aku kasihan sama kamu. Padahal aku belum juga balas dendam ke kamu, eh kamu malah gini. Punya istri gila, kamu nya kena stroke. Nyusahin Refan aja kamu tuh tahu nggak. Dimana-mana orang tua rela mengorbankan apapun untuk kebahagiaan anak-anaknya, tapi kalian ... justru sebaliknya. Kalian menghancurkan kebahagiaan anak-anak kalian. Refan harus terpisah dari anak dan istrinya, lalu Refani kini harus menderita jadi pesakitan berharap ada yang mau mendonorkan ginjalnya karena kedua ginjalnya rusak setelah bertahun-tahun dicekoki istri kamu dengan obat tidur dosis tinggi. Iblis. Benar-benar manusia berhati iblis," ucap Bu Ayu santai. Mendengar apa yang barusan Bu Ayu katakan membuat mata Marwan terbelalak. Apalagi saat Bu Ayu menyebutkan tentang Refani.


"Kenapa kak? Kau terkejut mengetahui fakta tentang Refani? Kamu nggak tahu anak perempuanmu itu masih hidup? Untung saja ada anakku yang membantu putramu mencari Refani, bila tidak, terlambat sedikit saja, nyawa putrimu akan benar-benar melayang, kau tahu. Kalian memang pasangan yang cocok. Sama-sama berhati iblis. Tak patut untuk dikasihani apalagi diberi maaf. Kau sudah menghancurkan aku dan masa depanku. Kau membuatku harus hamil tanpa seorang suami. Lalu istri biadabmu itu mencoba membunuh ku dan calon anakku. Lalu setelah bertemu lagi, melihat mantan menantumu yang kalian buang melahirkan bayi laki-laki, kalian mencoba untuk merebutnya. Gila. Kalian sadar nggak sih kalau kalian itu gila? Pasangan gila. Nggak ada hari nurani. Bahkan melihatmu lumpuh karena stroke bagiku belum setimpal dengan apa yang aku alami. Begitu pula melihat istrimu itu menggila dengan kaki yang cacat rasanya hukuman itu masih terlalu ringan. Namun yah sudahlah, biar tangan Tuhan yang membalaskan segala perbuatan kalian. Kami tak perlu repot-repot mengotori tangan kami untuk membalas perbuatan kalian. Aku yakin, setiap perbuatan akan ada ganjarannya. So, selamat menikmati kehancuranmu ... mantan kekasihku," ucap Ayu tersenyum menyeringai. Ia merasa lega akhirnya bisa menumpahkan segala uneg-unegnya di depan laki-laki yang merupakan sumber malapetaka dan kehancuran hidupnya. Sementara itu, Marwan tampak tergugu dalam diam. Ia tak mampu menimpali. Hanya mampu mencerna kata demi kata yang Bu Ayu ucapkan. Benar kata Ayu pikirnya, bila orang tua lain akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anak-anaknya, tapi mereka justru sebaliknya. Mereka begitu egois dan justru menjadikan anak-anaknya bidak untuk mencapai tujuan mereka.


Sekeluarnya dari dalam ruangan itu, Bu Ayu menghela nafas panjang. Ia merasa benar-benar lega saat ini.


"Sudah lega?" tanya seseorang yang baru saja berdiri di hadapannya dengan nafas terengah-engah.


Bu Ayu tersenyum tipis, "lumayan," jawabnya singkat membuat laki-laki yang berada di hadapannya itu ikut tersenyum lega dan mengajaknya segera pergi dari sana.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2