
Tampak Alvian sekeluarga tengah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi. Wajah semua orang tampak sumringah. Mereka makan sambil berbincang untuk membangun kehangatan satu sama lain.
"Papa, kemarin om Baron nyetirnya seru banget lho, pa," celetuk Regina tiba-tiba.
"Wah, kak Legi benel. Kita kayak lagi main pilem ya kak," timpal Refina membuat semua orang saling menoleh satu sama lain. Mereka masih belum bisa mencerna apa yang dimaksud Regina dan Refina. Alvian pikir mungkin itu karena Baron menaikkan kecepatan mobilnya. Begitu juga yang Zafira pikirkan sebab Baron menaikkan kecepatan agar lekas sampai di tempat tujuan.
"Maksud kakak apa?" tanya Alvian yang mulai membahasakan Regina sebagai kakak.
"Iya, kemarin Om Baron ngebut banget. Regi pikir kenapa taunya mobil kita ada yang kejar-kejar, pa. Jadi mobil kita saling kebut-kebutan, Pa. Seru banget."
"Iya kak, ngebut kayak di pilem-pilem itu, pa. Seruuuuu banget. Om Balon hebat banget. Udah kayak itu pa pilem yang suka papa tonton yang kepalanya botak," timpal Refina membuat semua orang membeliakkan matanya. Termasuk Alvian. Ia pikir tak ada yang menyadari kalau kemarin mobil yang dikendarai Baron dikejar-kejar orang, tapi nyatanya kedua putri sambungnya menyadarinya.
"Maksud kalian apa? Mobil kita dikejar-kejar?" tanya Bu Ayu yang penasaran.
"Iya. Oma sih sibuk ngobrol aja jadi nggak tau." Celetuk Regina.
"Tapi sayang, kejar-kejarannya nggak lama soalnya pas di jalan pertigaan, ada mobil-mobil hitam nutupin mobil kita. Tapi Regi sempat liat, ada mobil putih kayak mobil kita di belakang."
"Iya kak, Lefi juga liat. Telus mobil olang itu jadinya kejal mobil putih itu ya kak."
Sontak saja apa yang barusan Regina dan Refina sampaikan membuat Bu Ayu memalingkan wajahnya kepada Zafira.
"Zafira juga nggak tau, bun. Fira sempat heran sih kok Baron tiba-tiba ngebut, tapi katanya dia sengaja soalnya jalan di depan itu bakal rame banget jadi dia ngebut supaya nggak terlambat sampai ke tempat tujuan. Fira nggak tau kalau saat itu mobil kita dikejar-kejar," Jelas Zafira.
Lalu Bu Ayu mengalihkan pandangannya pada Alvian, "Al, kamu pasti tau sesuatu kan? Apa benar mobil kita kemarin ada yang kejar? Siapa? Dan kenapa?" cecar Bu Ayu yang tak mampu menahan rasa penasarannya.
Melihat keberadaan kedua putrinya, Alvian pun memberi kode untuk menceritakannya nanti. Ia tak mungkin menceritakan perihal tersebut di depan anak-anaknya.
Setelah memastikan Regina dan Refina telah pergi sekolah, barulah Alvian mengajak Zafira dan Bu Ayu berbicara. Ya, kini Refina telah duduk di bangku taman kanak-kanak. Sedangkan Regina telah naik ke kelas 2. Semenjak menikah dengan Alvian, Regina tidak lagi ikut pulang ke rumah dengan menaiki mobil jemputan sekolah. Tentu saja Alvian telah menyediakan sopir pribadi untuk Regina, pun dengan Refina. Namun tak jarang ia turun tangan sendiri mengantarkan anak-anaknya. Bahkan beberapa kali Refano sengaja datang pagi-pagi sekali untuk mengantarkan anak-anaknya sekolah.
"Jadi Al, jelaskan sama bunda, apa benar mobil mama kemarin dikejar-kejar orang? Siapa orang itu? Dan kenapa mereka kejar kita? Terus kenapa Baron nggak ada bilang apa-apa?" berondong Bu Ayu menuntut jawaban.
"Itu orang-orang suruhan Tante Liliana, Bun. Mereka diperintahkan untuk mencelakai bunda, Fira, dan anak-anak." Jawab Alvian membuat Bu Ayu dan Zafira membelalakkan.
"Liliana? Bukannya dia mengalami gangguan mental dan berada di rumah sakit jiwa?"
__ADS_1
"Tidak, bun. Ternyata dia selama ini hanya berpura-pura gila. Dia membayar seorang perawat untuk memuluskan rencananya."
Lantas Alvian pun menceritakan segalanya dengan Bu Ayu dan Zafira. Mereka sampai speechless karena tak menyangka Liliana sampai bertindak nekat seperti itu.
...***...
"Dek, bagaimana keadaanmu?" tanya Refano pada Refani setibanya di ruangannya.
"Fani udah baikan, kak. Oh ya kak, gimana keadaan papa sekarang? Papa udah baik-baik aja kan? Fani bisa liat papa nggak kak?"
"Papa ... papa udah pergi dek," jawab Refano sendu.
"Pergi? Maksudnya papa udah pulang? Atau pergi ke mana?"
"Papa ... udah pergi untuk selamanya," lirih Refano membuat Refani shock. Ia sampai bergeming tak tahu harus merespon apa dan bagaimana. Namun, air mata yang lolos dari pelupuk matanya menjadi bukti kalau ia merasa begitu terkejut juga bersedih. Berbeda dengan Liliana, Refani benar-benar tak peduli dengan wanita itu. Setelah apa yang ia lakukan padanya, ia benar-benar tak peduli. Bahkan saat semalam Luthfi menceritakan perihal penangkapan Liliana, ia tak peduli. Bahkan ia bersyukur, Liliana akhirnya mendapatkan balasan atas segala perbuatannya.
...***...
Bu Ayu yang begitu marah dengan apa yang dilakukan Liliana lantas menemui kedua temannya. Mereka adalah Maghdalena dan Kartika. Berkat mereka berdua lah, Bu Ayu akhirnya bisa mendapatkan hartanya kembali. Meskipun tidak sepenuhnya, tapi berkat itu Liliana sontak jatuh miskin. Uang itu tidak Bu Ayu ambil melainkan ia donasikan ke yayasan yang menaungi beberapa panti asuhan dan panti jompo yang ada di kota itu. Maghdalena dan Kartika pun membantunya dengan senang hati tanpa mengharapkan imbalan apapun.
"Heh, kamu ... kamu yang katanya mau bunuh adik tiri, mantan menantu, dan cucu-cucunya sendiri itu ya?" tanya seorang perempuan bertubuh gempal. Ia sedang bersandar di dinding sambil meluruskan salah satu kakinya, sedangkan kaki yang lain ia tekuk.
Liliana menatap sinis pada perempuan itu, "diam kau. Tak usah banyak bicara. Berisik tau nggak," sentak Liliana merasa jijik melihat perempuan bertubuh gempal dan hitam itu.
"Kau ... ternyata mulutmu berani juga."
"Tentu saja aku berani. Aku tidak takut padamu. Dasar menjijikkan. Sudah gendut, hitam, bau lagi. Cih ... "
"Kurang ajar!" bentak perempuan bernama Markonah itu. "Sepertinya kau harus mendapatkan pelajaran supaya bisa menjaga sikap. Sudah cacat, sombong pula." Mata Markonah sudah melotot. Ia paling benci ada yang menghina fisiknya. Ia masuk penjara pun karena membunuh orang yang kerap menghina fisiknya. Jadi ia tak takut untuk menghabisi siapapun yang menghina fisiknya.
"Kau pikir aku takut!" tantang Liliana.
"Baiklah, bila itu maumu," ucap Markonah yang sudah berdiri sambil menyeringai. Lalu dengan langkah panjang, ia menghampiri Liliana dan menjambak rambutnya dengan kencang sampai kepalanya tertarik ke belakang.
"Kau ... lepaskan rambutku, brengsekkk!" pekik Liliana sambil mendesis menahan sakit.
__ADS_1
Bukannya melepaskan, Markonah justru melepaskan tamparan ke pipi kiri dan kanan Liliana secara kasar hingga sudut bibirnya berdenyut nyeri dan berdarah.
"Aaarghhh ... bajingaan kau. Awas kau, aku akan membalas perbuatanmu!" pekik Liliana dengan tangan berusaha membalas tapi tangannya tak mampu menjangkau Markonah. Tubuhnya pun tak mampu digerakkan karena kedua kakinya yang telah cacat.
Melihat hal tersebut, Markonah tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha ... dasar cacat tak tahu diri. Kau mau membalasku, hah? Ayo, lakukan saja kalau bisa!" Seru Markonah sambil tertawa terbahak-bahak. Dua orang yang ada dalam satu sel yang sama dengan mereka pun ikut tertawa.
"Dia pikir dengan kaki yang cacat itu dia bisa apa? Dari lagaknya kayaknya dia orang kaya. Karena itu, ia masih saja bersikap sombong." Seru salah seorang dari mereka.
"Meskipun dia orang kaya, tapi sekarang dia sama dengan kita, sama-sama narapidana. Hahaha ... "
"Tutup mulut kalian brengsekkk. Kalian lihat saja, aku pasti akan segera keluar dari sini. Setelah aku keluar, akan aku habisi kalian," pekik Liliana masih saja bersikap pongah.
"Sepertinya mulutnya perlu disumpal dengan kaus kakimu itu, Odah," ucap Markonah mata Liliana terbelalak. Sedangkan perempuan bernama Saodah atau yang lebih sering disebut Odah itu langsung melepaskan salah satu kaos kakinya. Saodah memang tidak tahan dingin jadi ia selalu memakai kaos kaki di dalam penjara. Setelahnya, Odah pun langsung membantu Markonah menyumpalkan kaos kaki bekasnya ke dalam mulut Liliana. Liliana mencoba berontak tapi tangannya justru ditahan Markonah. Ia menjerit-jerit meminta mereka melepaskan dirinya, tapi ketiga orang tersebut justru menertawakannya seakan penderitaan Liliana merupakan sebuah kebahagiaan bagi mereka.
...***...
Sesuai rencana, Bu Ayu, Maghdalena, dan Kartika datang ke penjara untuk bertemu Liliana. Liliana akhirnya dapat bernafas lega saat ada sipir penjara mengatakan ada yang ingin bertemu dengannya. Tanpa bertanya siapa yang ingin menemuinya, ia meminta sang sipir penjara untuk melepaskan dirinya dari ketiga orang yang menyiksanya itu. Ia juga meminta bantuannya untuk mendudukkannya di kursi roda miliknya. Setelahnya, ia pun dibawa ke ruang dimana Bu Ayu, Maghdalena, dan Kartika berada. Sesampainya di sana, mata Liliana terbelalak, begitu pula mata Bu Ayu dan kedua temannya. Setelahnya, Bu Ayu dan kedua temannya itu terkekeh melihat penampilan Liliana yang sangat jauh dari kata elegan sebagaimana biasanya.
"Wow, amazing!" celetuk Maghdalena sambil tersenyum geli karena penampilan Liliana yang berantakan. Pipinya juga tampak memar dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah.
"Wah, wah, wah, belum juga 1x24 jam, penampilanmu sudah seperti ini kakak tiriku. Bagaimana kalau 15 tahun? 25 tahun? Kasus pembunuhan berencana gitu lho, tau kan pasti masa tahanannya lama." Seloroh Bu Ayu.
"Jangankan 15 tahun jeng, jangan-jangan belum 1 tahun dia udah koit." Timpal Kartika membuat keduanya terkekeh.
"Jangan dong! Enak aja dia cepat-cepat mati. Aku sampai menderita 30 tahunan lho gara-gara dia, dari terpaksa hidup jauh dari ayahku selama 3 tahun, lalu hamil, melahirkan, dan membesarkan Alvian, sampai ia berusia 27 tahun, enak aja dia cepat mati. Doakan dia panjang umur ya, jeng. Biar adil. Aku kan orangnya adil, jeng. Aku nggak akan nuntut lebih kok buat pembalasannya," ujar bu Ayu. Mereka sibuk berbincang bertiga seolah tak menganggap keberadaan Liliana yang berada di hadapan mereka.
"Tutup mulut kalian. Kau puas kan, Yu! Kau puas menertawakan kehancuran ku. Kau puas menghancurkan hidupku. Kau puas membuatku menderita. Kalian memang bajingaan!" teriak Liliana murka karena ketiga orang itu membicarakan dirinya tepat di depannya.
Mendengar itu, mata Bu Ayu memicing tajam lalu mencondongkan tubuhnya ke depan menghadap Liliana, "apa yang kau katakan barusan? Aku puas menghancurkan mu? Aku puas membuatmu menderita? Begitu? Sekarang aku tanya, apa salahku sebenarnya padamu? Saat ayahku membawamu ke rumahku, apa aku tidak setuju? Apa aku menolakmu? Apa aku membencimu? TIDAK. Aku justru menerima kalian dengan tangan terbuka. Tapi apa yang kau lakukan, hah? Kau merebut kekasihku. Apa aku marah? Ya, aku marah, tapi aku diam dan memilih mengalah. Namun apa balasanmu? Kaubteris menghancurkanku. Kau membuat aku terusir dari rumahku sendiri. Kau bahkan mencoba membunuhku dan calon anakku. Lalu apa yang kau lakukan kemarin? Kau lagi-lagi ingin membunuhku beserta mantan menantu dan cucu-cucumu sendiri. Bahkan setelah kau menyakiti mereka pun mereka tak pernah sekalipun mencoba membalas perbuatanmu, tapi apa yang kau lakukan, hah? KAU INGIN MEMBUNUH MEREKA. DARAH DAGINGMU SENDIRI. JADI SIAPA DISINI YANG MEMBUATMU MENDERITA, HAH? ITU DIRIMU SENDIRI. KAU SENDIRI YANG MENGHANCURKAN HIDUPMU. BUKAN ORANG LAIN. KAU SENDIRILAH BAJINGAAN ITU, KAU TAHU! JADI TERIMALAH KONSEKUENSI DARI SEGALA PERBUATANMU," maki Bu Ayu dengan suara makin meninggi. Bu Ayu heran, Liliana begitu suka playing victim atas apa yang ia alami padahal dirinya sendirilah yang membuatnya hancur. Bukan orang lain.
"Sebaiknya kau renungkan kata-kataku tadi. Bertobatlah sebelum semuanya benar-benar terlambat," imbuh Bu Ayu lagi dengan nada suara yang lebih rendah. Bu Ayu menghela nafas panjang, setelahnya ia pun segera pergi bersama kedua temannya meninggalkan Liliana yang masih bergeming di tempatnya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...