
Di sebuah cafe yang letaknya masih di dalam supermall bernama Angkasa Mall tersebut, tampak Liliana dan Mayra telah duduk di salah satu meja sambil menyebutkan pesanan mereka kepada waiters. Waiters pun mencatat pesanan mereka berdua dengan teliti dan tak sampai 10 menit kemudian, waiters itupun kembali untuk menghidangkan pesanan Liliana dan Mayra.
Setelahnya mereka berbincang sejenak, kemudian mereka mengalihkan perbincangan mereka ke tujuan utama. Apalagi kalau ingin menunjukkan berlian pink star berharap ia bisa mendapatkan penawaran yang cukup tinggi. Apalagi ia tahu, nyonya Mayra merupakan kolektor perhiasan terkenal. Bila ia tertarik, ia takkan segan-segan membayar berapapun demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
Liliana lantas mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah muda. Dengan senyuman lebar, Liliana lantas membuka kotak beludru berwarna merah muda tersebut dan mendorongnya ke arah Mayra.
Mayra mengernyitkan dahinya saat melihat berlian berwarna merah muda yang bersinar indah tersebut. Kemudian ia tersenyum tipis sambil mendekatkan kotak merah muda tersebut dan mengambil isinya.
"The pink star. Sangat indah, bukan? Anda seorang kolektor sejati pasti bisa menilai betapa indahnya berlian tersebut. Anda juga pasti tahu, the pink star hanya ada satu di dunia dan aku berhasil mendapatkannya di pelelangan saat berkunjung ke Hongkong," ucapnya melebih-lebihkan. Tujuannya tentu saja untuk menarik simpati dan rasa kagum Mayra. Berharap Mayra bisa memberikan harga tinggi untuk berlian indahnya tersebut. Bila Mayra berniat membelinya pun asal dengan harga di atas harga beli, tentu ia bersedia. Membeli perhiasan terkadang bukan sekedar untuk memuaskan hasrat akan kecintaan pada benda-benda mewah dan bernilai tinggi, tapi juga bisa sebagai investasi. Benda-benda seperti perhiasan hampir sama seperti tanah yang nilainya bisa meningkat tajam dalam hitungan tahun. Sesuatu yang sangat menguntungkan, bukan.
Liliana tak mau tersenyum lebar. Ia seolah bangga bisa memiliki cincin berharga fantastis tersebut. Apalagi saat melihat Mayra mengenakan cincin itu di jari lentiknya yang indah.
"Sangat cantik dan cocok di jari Anda yang indah," puji Liliana dengan mulut manisnya. Ia memang selalu bersikap manis dan lembut di depan orang lain. Hal inilah yang membuat orang-orang mudah tertipu dengan mulut manisnya. Tak ada yang tahu dibalik manis mulutnya, ada bisa yang mematikan. Ia bagaikan seekor ular viper bulu mata. Salah satu spesies beludak yang memiliki kulit cantik. Siapapun yang melihat akan mengaguminya, tanpa banyak orang ketahui, ular cantik itu ternyata memiliki bisa yang sangat mematikan. Begitu pula dengan Liliana. Bahkan hingga sekarang Marwan pun tidak mengetahui kebusukan yang telah ia lakukan di belakangnya.
Mayra mengerjapkan matanya sambil tersenyum tipis. Namun cenderung lebih seperti menyeringai, tapi Liliana tidak menyadari itu. Ia tetap memasang senyum penuh percaya diri bercampur keangkuhan. Namun senyum itu seketika pudar, saat Mayra meletakkan cincin itu sedikit kasar ke atas meja.
"Apa yang nyonya lakukan? Anda bisa merusak cincinku yang berharga," ketus Liliana dengan mata melotot kesal. Liliana sontak menutup mulutnya karena keceplosan sudah marah-marah pada Mayra. "Duh, maaf nyonya, saya reflek soalnya Anda tahu bukan cincin ini sangat berharga," ucapnya kembali lambut berharap Mayra tidak tiba-tiba kesal padanya dan membatalkan membeli meminjamkan sejumlah dana dengan cincin itu sebagai jaminannya. Syukur-syukur Mayra mau membayar cincin itu dengan harga di atas harga belinya.
"Kau mau menipuku dengan cincin imitasi itu?" sinis Mayra membuat mata Liliana yang tadi menatap ramah kembali melotot.
__ADS_1
"Apa maksudmu, hah? Jangan bicara sembarangan, cincin ini asli, bukan imitasi seperti yang kau ucapkan," sanggah Liliana yang meyakini berlian itu asli, bukan imitasi seperti yang Mayra tuduhkan.
"Kau pikir aku bodoh, hah? Kau lupa siapa aku? Aku bukan sekedar kolektor, tapi pemilik beberapa toko perhiasan cukup terkenal di kota ini. Untuk membedakan berlian asli dan palsu, tak sulit untukku. Hanya dengan melihat sekilas saja, aku langsung bisa mengetahuinya. Apalagi untuk meneliti keaslian sejenis berlian The pink star yang ada hanya satu di dunia ini. Asal kau tahu, berlian the pink star telah laku terjual saat lelang di Sotheby's Hong Kong tiga tahun lalu. Pink Star dilepas melalui Chow Tai Fook kepada seseorang yang dirahasiakan identitasnya. Jadi ... bila tiba-tiba ada orang yang mengaku memiliki the pink star dan baru saja membelinya,-" Mayra menjeda ucapannya, "itu pasti PAL-SU alias I-MI-TA-SI," imbuh Mayra sambil menekan dan menjeda kata-katanya.
Liliana sontak saja shock mendengarnya.
"Nggak, itu nggak mungkin. Kau pasti ... kau pasti bohong. Kau pasti hendak menipuku kan? Kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan ucapanmu," bentak Liliana dengan jantung berdegup kencang. Ia bahkan sudah berdiri dengan kasar, membuat kursi yang ia duduki terpelanting ke belakang.
Mayra berdecak sambil menggelengkan kepalanya, "ya sudah kalau kau tidak percaya. Mari ikut aku ke pusat jual beli perhiasan. Bila itu memang berlian asli, aku berani membayar dua kali lipat dari harga beli. Bagaimana?" tawar Mayra. Bukan tanpa alasan, ia hanya benci merasa diremehkan atau tidak dipercaya. Seakan-akan kemampuannya meneliti perhiasan diragukan. Hal inilah yang membuatnya berani berbuat nekat dengan menawarkan hal gila seperti itu.
"Baik. Aku setuju." Jawab Liliana dengan seringai samar. Dalam hati ia berdoa supaya penilaian Mayra salah dengan begitu, ia akan mendapatkan untung yang super besar.
Karena pusat jual beli perhiasan mewah Luxurious masih satu lantai dengan cafe tempat mereka berbicara, tak butuh waktu lama, mereka pun telah tiba di sana. Oleh karena Mayra telah begitu dikenali di sana, mereka pun bisa langsung melakukan pengecekan. Mayra pun segera meminta ahli perhiasan Luxurious untuk mengecek keaslian berlian yang dimiliki Liliana.
Sang ahli pun segera melakukan sesuai permintaan Mayra, dimulai dari uji panas, uji kombinasi berlian, uji mikroskop, timbang berlian dengan sensitivitas tinggi, memeriksa berlian di bawah sinar ultraviolet, dan melakukan pengujian menggunakan sinar-x Ray. Semua dilakukan tepat di hadapan Mayra dan Liliana.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Mayra saat pengujian selesai.
"Maaf nyonya, ini bukan berlian tetapi batu moisanit. Baru moisanit memang sangat menyerupai berlian, tetapi tetap saja ada bedanya. Dan dari keenam pengujian tadi berujung pada satu kesimpulan bahwa ini merupakan batu moisanit atau lebih sering kita sebut berlian kw," ujar sang pakar tersebut membuat mata Liliana seketika terbelalak dengan degupan jantung yang sudah begitu kencang tak beraturan.
__ADS_1
"Nggak. Ini pasti salah. Kalian ... kalian pasti bekerja sama untuk menipuku, bukan? Baiklah, aku akan langsung menelpon Kartika. Aku membeli darinya. Dia pasti bisa menjelaskan kalau berlian ini asli, bukan kW seperti yang kalian tuduhkan." Serunya dengan suara menggelegar membuat semua orang mengalihkan pandangannya pada Liliana yang wajahnya sudah benar-benar memucat seakan tidak dialiri darah sama sekali.
Lalu dengan tangan bergetar ia merogoh ponsel di dalam tasnya. Tangannya sampai tremor karena terlalu shock. Antara yakin tak yakin, ia bingung sekaligus resah. Bagaimana bila apa yang orang-orang tadi benar kalau berliannya kw?
'Tidak. Tidak mungkin Kartika menipuku. Ini pasti hanya kesalahpahaman. Berlian ini pasti asli.'
Brakkkk ...
Karena tangannya yang gemetaran, handphonenya sampai terjatuh di lantai. Peluh tampak sudah membanjiri dahinya yang putih pucat.
Liliana segera berjongkok untuk mengambil handphonenya. Lalu dengan tangan gemetar ia mendial nomor Kartika tapi sayangnya yang menjawab justru mbak-mbak operator. Bahkan sampai Liliana mencoba menghubungi untuk kesepuluh kalinya jawabannya pun tetap saja sama, yaitu mbak-mbak operator membuat tubuh Liliana sontak saja melemas. Tenggorokannya kering, lidahnya kelu, dan bibirnya bergetar.
"Ini nggak mungkin. Nggak. Aku nggak mungkin ditipu. Ini ... nggak mungkin. Nggak ... ini nggak mungkin. Kalian pasti salah. Aku yakin, berlian ini asli. Ya, berlianku pasti asli."
Liliana menjerit histeris. Ia sampai meraih kerah baju pria yang tadi menguji keaslian berlian dan mengguncang-guncannya kasar membuat mereka terpaksa memanggil petugas keamanan. Liliana mengamuk seperti seseorang yang kehilangan kewarasannya.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1