Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Dorrr 1


__ADS_3

Sebuah mobil hitam terparkir tak jauh dari kediaman Bu Ayu. Mobil itu telah mengawasi keadaan rumah Bu Ayu sejak beberapa hari yang lalu. Mereka tengah menunggu waktu yang pas dan tepat untuk melaksanakan tugas yang diberikan seseorang pada mereka.


Tampak sebuah mobil SUV keluaran terbaru berwarna putih keluar dari gerbang rumah yang cukup tinggi dan besar itu. Mobil itu melaju dengan kecepatan standar karena di dalamnya bukan hanya ada sosok Bu Ayu, tapi juga ada Zafira, Regina, Refina, baby Zafran, Sinta, dan Caca. Mereka akan pergi ke sebuah taman wisata terbesar di kota itu sebab Regina dan Refina diundang untuk mengisi acara di sana.


Dua orang yang sejak berhari-hari yang lalu mengawasi pergerakan anggota keluarga itu pun ikut menyalakan mobilnya kemudian menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang dan tetap menjaga jarak untuk menghindari kecurigaan orang-orang yang diikutinya.


"Halo bos," ucap salah seorang yang ada di dalam mobil setelah melakukan beberapa panggilan ke nomor orang yang membutuhkan bantuan mereka.


"Ya, ada berita bagus?" tanya wanita yang dihubungi itu.


"Target kini sudah berada di dalam sebuah mobil menuju ke suatu tempat. Ia tidak sendirian, tapi beserta anggota keluarganya. Ada 3 orang perempuan dewasa, dua orang anak perempuan, dan seorang bayi." Lapor orang itu membuat wanita yang mereka hubungi itu tersenyum menyeringai.


"Bagus. Sepertinya keberuntungan sedang berpihak padaku. Lakukan tugas kalian dengan baik. Setelah tugas kalian berhasil, aku akan mentransfer sisa bayarannya," ucap wanita itu bersemangat. Setelah mengatakan itu, wanita itu segera menutup panggilan itu.


Setelah panggilan ditutup, ia segera memberikan ponselnya pada seorang perawat yang setia mengikutinya sambil mendorong kursi rodanya. Ia tak henti-hentinya tersenyum bahagia sebab akhirnya ia bisa membalaskan dendamnya.


'Bila aku hancur, maka kau pun harus hancur.'


Awalnya targetnya hanya Ayu, tapi mendengar ada Zafira dan anak-anaknya ikut juga dalam satu mobil dengan Ayu, ia tak dapat membendung rasa senangnya. Ini seperti sebuah kesempatan emas. Ibarat pepatah, sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Ia ingin semua orang merasakan kehancuran seperti yang ia rasakan. Terserah mereka akan mati di tempat atau cacat, ia tak peduli. Hati nuraninya sudah benar-benar mati. Bahkan terhadap cucu-cucunya yang masih kecil ia bisa bersikap sangat tega. Yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana caranya membalas dendam dan menghancurkan mereka semua sampai sehancur-hancurnya.


Sementara itu, mobil SUV keluaran terbaru berwarna putih itu terus melaju. Hingga 25 menit berlalu, sang sopir menyadari kejanggalan di belakang mobil yang ia kendarai. Ia sadar, mobil berwarna hitam tanpa plat di belakangnya telah mulai mengikutinya dari beberapa saat yang lalu. Meskipun jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi mobil itu konstan mengikuti mereka. Merasa curiga, ia pun segera menekan panggilan ke majikannya. Beruntung semua orang tampak sibuk bercanda dengan Regina dan Refina, jadi mereka tidak mendengar sang sopir yang berbicara melalui earphone yang senantiasa terpasang di telinganya setiap ia bertugas.


Sementara itu, Alvian yang sedang membahas mengenai program YG Group dengan Refano untuk kembali membangkitkan perusahaan itu dari keterpurukan tampak mengernyitkan dahi. Tidak biasanya sopir ibundanya menghubunginya seperti ini. Ia pun segera mengangkat panggilan itu khawatir terjadi sesuatu pada sang ibu.


"Ada apa, Ron?" tanya Alvian to the point setelah panggilan itu diangkat.

__ADS_1


"Tuan, ada mobil hitam tanpa plat yang terus mengikuti kami sejak mobil ini masuk ke jalanan." Lapor Baron, sopir pribadi Bu Ayu.


Alvian yang tahu siang ini ibu, istri, dan anak-anaknya akan pergi ke taman wisata untuk menemani Regina dan Refina mengisi acara di sana sontak saja khawatir.


"Terus hati-hati! Kirimkan lokasi kalian sekarang juga." Titah Alvian pada Baron sebelum menutup panggilannya.


"Ada apa?" tanya Refano khawatir saat melihat raut wajah Alvian yang tiba-tiba menegang.


"Ada mobil mencurigakan yang mengikuti mobil bunda. Rencananya, hari ini Bunda dan Zafira akan menemani Regina dan Refina mengisi acara di taman wisata," tutur Alvian memberitahu membuat Refano sontak panik.


"Lalu kita harus bagaimana? Dan siapa mereka?" cecar Refano yang jantungnya sudah berdebar kencang.


"Sebentar," lalu ia segera memeriksa ponselnya untuk mengecek posisi Baron saat ini sesuai dengan lokasi yang baru saja dikirimkan ke ponselnya.


Setelah ia mengotak-atik ponselnya dan menghubungi seseorang yang entah siapa. Refano pun tak tahu. Entah apa yang direncanakan Alvian, ia hanya bisa mengikuti saja sembari berdoa semoga mereka baik-saja.


"Ron, kenapa kamu naikkin kecepatannya?"


"Itu Bu, sebentar lagi jalanan di depan biasanya jam segini agak padat merayap. Kalo nggak cepat, kita bisa sampai tidak tepat waktu nantinya," kilah Baron. Padahal sebenarnya itu karena mobil di belakangnya tampaknya sudah menambah kecepatannya. Mereka bahkan telah saling kejar-kejaran tanpa yang lain sadari.


"Oh, ya sudah. Tapi hati-hati ya! Saya khawatir. Apalagi ada bunda dan anak-anak." Ujar Zafira memberi peringatan.


"Baik, Bu," jawab Baron singkat. Namun sorot matanya tak henti menatap ke kaca spion. Menyadari jarak mobil itu kian dekat, Baron pun menambah kecepatannya dan mulai masuk ke jalanan yang memang cukup padat sesuai instruksi dari Alvian.


"Kenapa lewat sini? Kenapa tidak lewat tol aja, Ron?" tanya Zafira heran.

__ADS_1


"Oh itu, maaf Bu, saya tadi salah jalur jadi kelewatan. Tapi tenang aja, kita tetap akan sampai tepat waktu," ucap Baron penuh keyakinan.


Sedangkan mobil di belakangnya, sudah terus menaikkan kecepatannya. Mereka sadar kalau mobil yang mereka ikuti telah menyadari keberadaan mereka. Jadi mereka tak perlu lagi menjaga jarak.


"Sial! Kenapa mereka lewat jalan ini. Mana macet parah," kesal salah satu dari mereka yang bagian menyopir.


"Sudah. Terus fokus saja ke mobil di depan. Eh, tapi mobil tadi kemana ya? Kenapa tiba-tiba hilang?"


"Sialan. Jangan sampai kehilangan jejak. Semakin cepat kita menghabisi mereka, semakin cepat selesai tugas kita dan semakin cepat pula kita bisa bersenang-senang."


"Di sana. Mobilnya ada di depan sana! Ayo terus ikuti mumpung ada celah!" titah rekan yang ada di sebelah sang sopir.


Saat melihat celah di depan sana, mereka pun menambah kecepatan mobilnya. Kedua mobil itu kemudian saling berkejar-kejaran. Tak ada yang mau mengalah. Semakin mobil di belakangnya menambah kecepatan, maka mobil di depannya akan melaju semakin kencang. Hingga akhirnya mobil yang dikendarai Baron melewati kawasan yang cukup sepi karena merupakan bekas perkampungan yang telah ditinggal akibat bencana alam yang menimpa beberapa tahun yang lalu. Kawasan itu tampak suram dan mencekam. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Yang hanya tampak adalah puing-puing bangunan yang telah terbenam lumpur kering dan bebatuan.


Melihat mobil target mereka masuk ke kawasan cukup sepi, kedua orang itu tertawa lebar.


"Sepertinya mereka memang sengaja mengantar nyawa," ujarnya merasa senang sebab sebentar lagi tugas mereka akan selesai.


"Kau benar." Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Setelahnya salah satu dari mereka mengeluarkan senjata api dari dalam dashboard dan membuka kaca mobil sambil mengarahkan pistolnya ke ban mobil di depannya.


Dan ...


Dorrrr ...


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2