
Hari ini Refano pulang ke rumahnya dengan perasaan membuncah bahagia. Meskipun masih banyak permasalahan yang masih menggelayuti jiwa dan raganya, tapi setidaknya penerimaan Alvian yang mau menganggapnya juga Refani sebagai saudara sungguh membuat perasaannya membuncah.
Bik Minah yang melihat Refano pulang dengan terus tersenyum sontak saja penasaran. Entah sudah berapa lama ia tidak melihat senyum di bibir majikan mudanya tersebut. Terlebih masalah yang menghantamnya bertubi-tubi akhir-akhir ini membuat laki-laki itu benar-benar terpuruk. Tak jarang Bik Minah memergoki Refano yang sedang menangis dalam sujudnya. Menumpahkan segala duka laranya pada sang pencipta. Nasihat bik Minah benar-benar ia kerjakan berharap di sisa nafasnya ia masih bisa bertobat dan mendapatkan ampunan atas segala kesalahan serta meraih secercah kebahagiaan. Lalu kini, ia dapat melihat kembali senyum itu, senyum yang telah sekian tahun lenyap bak tertelan bumi.
"Den Refano kayaknya lagi seneng banget nih? Sampai senyum-senyum terus gitu," sapa bik Minah saat melihat Refano yang baru saja keluar dari dalam kamarnya dengan penampilan yang lebih segar karena baru saja mandi dan berganti pakaian.
"Keliatan banget ya, bik?" ucapnya sambil meraba pipinya sendiri.
Bik Minah mengangguk cepat seraya tersenyum lebar, "kelihatan banget lah. Apalagi wajahnya jadi sumringah cerah banget gitu. Bibik sampai pangling liatnya. Ada kabar bahagia kah?"
Refano mengangguk cepat sambil mengembangkan senyum lebarnya, "Refan ketemu adik Refan, bik. Dia anak papa dari mantan kekasihnya dulu. Dan dia menerima Refan sebagai kakaknya. Bahkan dia bantu Refan cari Fani dan Alhamdulillah kami berhasil menemukan Fani. Fano akhirnya bisa kumpul dengan adik-adik Fano, bik. Tapi sayang, Fani sedang tidak baik-baik saja. Kedua ginjalnya rusak jadi Fano dan Alvian sedang berusaha mencari pendonor untuk Fani," ujarnya dengan sumringah membuat Bik Minah terperangah tak percaya dengan apa yang baru saja Refano tuturkan. Refano yang paham kalau bik Minah pasti merasa kebingungan dengan apa yang baru saja ia sampaikan jadi ia pun menceritakan segalanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Masya Allah, tabarakallah, bibik senang sekali dengarnya, den. Kamu memang pantas mendapatkan kebahagiaan itu. Cuma bibik sangat menyayangkan nyonya bisa setega itu. Tapi ya sudahlah, semua telah berlalu. Bibik harap, ke depannya hidup den Refan bisa lebih baik lagi dan den Refan bisa segera menemukan kebahagiaan," doa bik Minah tulus.
"Aamiin ya rabbal alamin. Makasih ya bik udah selalu ada untuk Refan."
"Den Refan itu udah bibik anggap kayak anak bibik sendiri. Apalagi tuan Prambudi pernah menitipkan aden sama bibik. Jadi bibik justru merasa senang aden mau terbuka dengan bibik. Oh ya den, tadi ada yang anterin amplop coklat. Tulisannya sih dari pengadilan agama. Sebentar, bibik ambilkan," ucapnya membuat Refano sedikit terkejut. Ia pikir Saskia tidak serius mengajaknya bercerai. Ia pikir kepergian Saskia hanya untuk menenangkan diri Namun, melihat surat panggilan sidang gugatan perceraian yang sudah berada di tangannya, ternyata Saskia serius dengan niatnya ingin bercerai darinya.
Bukan Refano tidak berusaha ingin mempertahankan rumah tangga mereka, tapi Refano justru khawatir ia tidak bisa membahagiakan Saskia. Terlebih, ia tidak memiliki perasaan sedikitpun padanya. Bila dipertahankan, bukan tidak mungkin hal tersebut hanya akan menorehkan luka yang lebih mendalam. Jadi sebelum segalanya makin kacau balau, lebih baik mereka berpisah baik-baik.
Setelah membuka amplop dan mengetahui isinya, Refano pun segera menghubungi Saskia untuk bertemu di sebuah cafe yang tak jauh dari rumah sakit Cinta Medika.
"Mas," panggil Saskia setibanya di cafe tersebut. "Maaf, aku terlambat ya?" ujarnya sambil menari salah satu kursi dan mendudukinya.
"Nggak kok. Mas juga belum lama sampai. Mau pesan apa?"
"Iced cappucino latte aja, mas."
Refano mengangguk lalu segera memesankan minuman untuk Saskia dan dirinya. Tak butuh waktu lama, pesanan mereka pun akhirnya telah terhidang di meja bundar tersebut.
"Surat panggilan sidangnya sudah sampai di rumah," ucap Refano membuka percakapan sebab sedari tadi Saskia hanya diam sambil mengaduk-aduk minumannya.
"Oh baguslah. Sebenarnya mama nggak setuju, tapi aku berusaha bujuk mama untuk setuju. Aku bilang, nggak ada yang bisa kita pertahankan lagi. Untuk apa bertahan bila hanya untuk saling menyakiti. Mama sampai marah-marah gitu," ujarnya bercerita sambil tertawa sumbang. "Mana ada sih orang tua yang fine-fine aja anaknya mau bercerai. Apalagi mbak Fira waktu itu ya, mas. Aku ... yang mengajukan gugatan cerai sendiri aja merasa sakit banget, apalagi mbak Fira saat itu. Bahkan ... ayahnya sampai meninggal di tempat. Aku ... merasa berdosa banget sama mereka, mas. Kemarin-kemarin aku masih nyalahin mbak Fira atas apa yang menimpaku saat ini, tapi ... setelah dipikir-pikir, ini belumlah seberapa dengan apa yang aku lakukan. Aku benar-benar wanita yang jahat. Pantas rahimku diangkat sebab aku menyebabkan 3 anak tak berdosa kehilangan kasih sayang ayahnya. Aku juga menghina-hina mereka setiap bertemu. Aku ... benar-benar jahat," lirih Saskia. Ia lantas menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menumpahkan tangisnya. Refano bergeming dari tempat duduknya. Ia tak menanggapi. Ia justru diam, membiarkan Saskia menumpahkan tangisnya dengan tujuan agar perasaan wanita itu lebih baik setelahnya.
__ADS_1
Setelah melihat Saskia lebih tenang, barulah Refano kembali berbicara.
"Apa kamu sudah membulatkan tekadmu? Maksudku kau benar-benar menyerah dan ingin melanjutkan perceraian ini?" Refano memang setuju untuk bercerai, tapi bila Saskia ingin mempertahankannya, ia pun tak menolaknya. Walaupun ia tak mencintai Saskia, tapi setidaknya mereka bisa menjadi partner untuk membesarkan anaknya. Ia juga akan berusaha menerima Saskia menjadi istrinya meskipun rasa cinta itu entah bisa tumbuh atau tidak sama sekali.
"Hmmm ... ini yang terbaik untuk kita. Lagipula aku bukan hanya tidak dicintai olehmu, tapi juga sudah tidak sempurna sebagai seorang wanita. Namun satu yang aku minta, tolong serahkan hak asuh Reza padaku," ucapnya seraya memelas.
"Tapi Sas-."
"Aku mohon, mas. Aku sudah tidak bisa memiliki keturunan lagi. Hanya Reza satu-satunya darah dagingku. Aku mohon jangan ambil dia. Tenang saja, aku takkan pernah menghalangimu untuk bertemu dengan Reza."
"Maaf Sas, meskipun saat pembuahan Reza tak ada cinta diantara kita, tapi aku tulus menyayangi Reza. Lagipula ia masih butuh perawatan intensif. Reza sedang tidak baik-baik saja. Kondisi fisiknya tidak sama dengan anak-anak lain. Namun, bila kondisinya lebih baik, aku berjanji tidak akan menghalangimu untuk bertemu dengannya. Aku mohon kau mengerti," ujar Refano menerangkan membuat Saskia tertunduk. Apa yang Refano katakan itu benar. Lagipula ini salahnya. Semua adalah buah dari perbuatannya. Saskia menghela nafas panjang, kemudian mengangguk. Saskia pun tak tega mengambil Reza dari Refano. Ia telah membuat Refano kehilangan anak-anaknya, mungkin ini cara dirinya untuk menebus kesalahannya pada laki-laki yang sebentar lagi menjadi mantan suaminya itu.
"Baiklah, mas. Aku setuju," ucap Saskia dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
...***...
"Bang, makan malam yuk!" ajak Zafira saat memasuki kamar mereka. Tampak Alvian sedang bergelung dalam selimut dengan mata tertutup.
"Kamu makan aja, Ra. Abang lagi males banget ini. Kepala Abang pusing," ucap Alvian tanpa membuka matanya.
"Sebentar. Jangan kemana-mana dulu. Kepala Abang rasanya berat banget. Percuma kalo kamu suruh makan kalo ngangkat kepala aja rasanya susah banget kayak gini," cicit Alvian yang sudah membenamkan wajahnya di perut Zafira.
"Duh, Fira panggil dokter aja bang?" tawar Zafira yang mulai panik.
"Ssst ... nggak usah. Abang hanya butuh kamu. Sebentar aja. Ya, usap kepala Abang kayak gitu, sayang. Rasanya nyaman banget," cicitnya saat Zafira mengusap kepalanya.
"Bang, Abang kok tiba-tiba kayak gini sih?"
"Abang juga nggak tahu. Mungkin kecapean aja soalnya berapa hari ini perusahaan sibuk banget. Produk terobosanmu itu benar-benar laku di pasaran. Bahkan belum selesai diproduksi, sudah banyak mall dan swalayan yang ikut pre order. Mereka berlomba-lomba untuk menjadi tangan pertama yang memasarkan produk kita."
"Oh ya?"
"Hmmm ... oh iya, seperti perjanjian kita di awal, kalau kamu berhasil, Abang akan beri kamu bonus. Sebentar," ucapnya lalu ia membuka laci nakas dan mengambil sesuatu di dalamnya.
__ADS_1
"Ini ... "
Mata Zafira terbelalak saat melihat sebuah kunci dan surat-surat kendaraan beroda empat berharga milyaran dan sebuah buku tabungan plus kartu ATM nya. Dibukanya buku tabungan itu dan nominal yang tertera di dalamnya sungguh fantastis. Ini benar-benar di luar ekspektasinya.
"Ya, itu buat kamu." Ucap Alvian santai sambil kembali merebahkan kepalanya di atas pangkuan Zafira.
"Tapi ini ... terlalu banyak, bang," gumamnya sebab nominal yang tertera senilai 100 milyar.
"Itu tabungan untuk kamu, Ra. Kita nggak tahu apa yang akan terjadi ke depannya jadi simpan itu baik-baik ya."
"Tapi kan Abang tiap bulan juga udah kasih. Bahkan gede banget sampai jatah satu bulan bisa untuk satu tahun."
Alvian terkekeh, "jadi kamu mau ditambah lagi?"
"Bang, dibilangin udah kebanyakan, malah mau ditambah."
"Ya udah, kalo nggak mau ditambah uangnya, kita tambah anak aja yuk!" Alvian mengangkat kepalanya dan mengerling genit membuat Zafira melotot.
"Mesyum. Udah ah, kalau udah baikan, yuk kita makan. Bunda dan ibu udah nungguin tuh di bawah," ucap Zafira bersungut-sungut.
"Tapi suapin ya! Abang nggak mau makan kalo nggak disuapin."
"Astaga, kok jadi manja gini sih! Nggak malu sama Regi dan Refi? Mereka aja nggak disuapin lagi kok."
"Ya udah, Abang mau lanjut tidur lagi aja kalo nggak disuapin." Tiba-tiba Alvian merajuk membuat Zafira membulatkan matanya. Kenapa tingkah suaminya makin aneh kayak gini? Ingin Zafira kembali protes, tapi melihat bibir pucat Alvian, membuat Zafira tak tega. Ia menghela nafasnya kemudian mengatakan setuju untuk menyuapi Alvian membuat laki-laki itu tersenyum lebar.
Sementara itu, setelah bertemu dengan Saskia, Refano langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit jiwa. Menurut pihak kepolisian, ibunya benar-benar terkena gangguan mental. Alhasil, ia pun dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Sungguh sebenarnya sangat melelahkan. Sepulang bekerja, bukannya ia beristirahat, tapi justru harus mengurus keluarganya di berbeda tempat. Bila ayah, adik, dan anaknya di rawat di rumah sakit yang sama, maka ibunya justru berada di rumah sakit jiwa.
Setibanya di sana, Refano langsung mencari keberadaan ibunya. Ibunya di isolasi di ruangan khusus karena dikhawatirkan menyerang pasien lain. Menurut dokter yang menangani Liliana, ibunya kerap menyerang pasien lain.
Refano tercenung setibanya di depan ruangan ibunya. Tampak di sana ibunya seperti sedang kebingungan mencari sesuatu.
"Berlianku. Berlianku. Mana berlianku. Heh, perempuan sialan, pasti kau yang mengambil berlianku kan?" tunjuknya pada dinding dengan mata melotot. "Kembalikan berlianku! Mana berlianku? Berlian ... kau dimana?" raungnya sambil menjambak rambutnya sendiri. "Oh, kau di sini rupanya." Tiba-tiba senyum Liliana melebar saat melihat sebongkah batu tergeletak di depannya. Refano hanya bisa menghela nafasnya, ia tak menyangka, ibunya bisa terkena gangguan mental hanya karena perkara berlian. Seolah, ia lebih menyayangi berliannya dari anaknya sendiri.
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...