
Tampak mobil sport terparkir tak jauh dari sekolah bertaraf internasional tempat dimana Regina bersekolah. Hampir setiap hari sekolah dan di jam yang sama, mobil itu terparkir di sana. Satu tujuannya, hanya agar bisa melihat sosok yang sangat dirindukannya.
Tak ada yang tahu isi hati laki-laki itu sebenarnya. Ia hanyalah sebuah raga yang jiwanya terpasung di tangan orang tuanya. Bahkan untuk menentukan hidupnya sendiri pun, ia tak bisa.
Segurat senyum terukir indah saat sosok yang dirindukannya terlihat keluar dari gerbang sekolah. Tak lama kemudian, ia dan teman-temannya masuk ke dalam sebuah mini bus yang bertugas mengantarkan anak-anak tersebut pulang ke rumah masing-masing. Setelah mobil berjalan, mobil sport berwarna hitam itu pun ikut melaju. Bukan untuk pergi, tapi mengiringi mini bus itu sampai gadis kecil yang menjadi perhatiannya tiba di rumahnya dengan selamat. Setelahnya, ia tak langsung pergi. Apalagi saat melihat dua sosok lainnya yang juga sangat dirindukannya keluar dari pintu rumah minimalis tersebut. Setitik air mata luruh dari pelupuk matanya. Tak ada yang tahu, betapa besar kerinduannya pada ketiga orang tersebut. Hanya dirinya dan yang maha kuasa yang tahu.
Setelah ketiga orang itu menghilang dari balik pintu, lelaki itupun melajukan mobilnya pergi dari tempat yang ia ketahui merupakan kontrakan tempat tinggal orang-orang yang tanpa ia sadari begitu berarti dalam hidupnya.
Saat sedang dalam perjalanan, handphonenya berdering nyaring. Ia pun segera menepikan mobilnya di tempat yang cukup sepi, kemudian segera mengangkat panggilan itu.
"Apa sudah dapat informasi?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Maaf tuan. Dari informasi rumah sakit terakhir, ternyata pasien sudah dipindahkan sejak beberapa bulan yang lalu. Mereka tidak tahu pasien tersebut di bawa kemana. Tapi kami akan terus mengupayakan pencarian kembali," ucap seseorang dari seberang telepon tersebut. Laki-laki itu menghela kasar nafasnya. Ia tak mungkin marah-marah pada orang suruhannya. Setelahnya, laki-laki itu menutup panggilan tersebut, kemudian menyandarkan dahinya pada kemudi mobil.
"Kamu dipindahkan kemana lagi?" desahnya frustasi.
...***...
Dengan dandanan glamor, Liliana melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah restoran mewah. Tak lama kemudian, ia melihat sekumpulan wanita yang dandanannya tak jauh berbeda dengan dirinya sedang asik bercengkrama dan memamerkan barang-barang berharga mereka.
"Eh, itu jeng Liliana. Sini jeng, ayo duduk!" ucap salah satu teman Liliana. Liliana pun segera duduk di kursi yang mengelilingi sebuah meja berbentuk persegi panjang.
"Kamu kok pucetan, jeng? Lagi sakit?" ujar salah seorang temannya.
"Iya, aku sedang nggak enak badan nih." Jawab Liliana mencoba tetap tersenyum dengan anggun.
"Ooh, tapi nggak masalah kan jeng ikut ngumpul gini? Aku nggak mau lho kalo kamu tiba-tiba pingsan terus mati, repot tau jeng," ujar salah seorang dari mereka yang sebenarnya musuh Liliana.
"Tenang aja, aku nggak selemah itu. Biarpun jantungku lemah, aku nggak akan mati secepat itu. Apalagi cucu laki-lakiku belum lahir ke dunia, sampai hari itu tiba, Liliana akan tetap panjang umur," tukasnya penuh kesombongan seolah ia sudah bernegosiasi dengan Tuhan meminta umur yang panjang.
"Baguslah kalau begitu. Eh ngomong-ngomong, gosipnya perusahaan kalian terancam bangkrut ya? Butuh suntikan dana nggak? Kalo iya, aku bisa bicarakan dengan suamiku," tawar wanita bernama Maghdalena tersebut.
"Siapa bilang? Perusahaan kami baik-baik saja. Simpan saja uang-uangmu itu dengan aman, sebelum semua harta suamimu habis di tangan gundik-gundiknya," hina Liliana. Memang Liliana dan Maghdalena telah bermusuhan sejak masa sekolah. Mereka dulu satu sekolah saat SMA. Magdalena benci Liliana karena Liliana pernah merebut kekasihnya. Alhasil kebencian itu masih ada meskipun kejadian itu telah terjadi puluhan tahun yang lalu.
"Gundik? Hahaha ... Yayaya, bukankah suamimu sendiri yang pernah memilikinya? Tapi aku akui, kamu memang hebat, tanpa belas kasihan kau menyingkirkannya berikut anaknya. Ooops ... keceplosan." Maghdalena menutup mulutnya dengan cepat. Namun sudut bibirnya terangkat saat melihat wajah Liliana yang telah memerah. Sedangkan yang lainnya terperangah mendengar penuturan Maghdalena barusan. Mereka sampai menatap horor Liliana.
"Udah ah bercandanya. Oh ya, jeng Kartika, katanya tadi kamu bawa barang baru, apaan tuh jeng?" Safitri mengalihkan perdebatan itu agar tidak makin membesar dan memperunyam keadaan.
"Oh iya, aku bawa ini," seru Kartika sambil membuka kotak berwarna merah muda. Lalu dari dalamnya tampak sebuah berlian super indah yang juga berwarna pink. "The pink star. Kalian tahu kan kalau berlian ini merupakan berlian termahal dan aku berhasil mendapatkannya di pelelangan saat berkunjung ke Hongkong." Ujar Kartika bangga.
__ADS_1
Mata semua orang terpukau dengan mata terbelalak. Sebagai penggila barang mewah, tentu mereka sangat terpukau dengan keindahan berlian yang memiliki berat 59,6 karat tersebut. Harganya pun tak main-main, yaitu $71,2 juta.
"It's so beautiful. Apa kau mau menjualnya?" tanya Sona.
"Bila ada yang bisa membayar lebih, why not?"
"Aku bersedia," ucap Maghdalena sambil tersenyum angkuh. Aku akan membayarnya $80 juta."
"$90 juta," potong Liliana cepat.
"$95 juta," potong Maghdalena lagi.
"$100 juta. Aku akan transfer sebagian siang ini juga. Sisanya akan aku transfer besok," ujar Liliana yang memiliki tingkat arogansi luar biasa. Pantang baginya diremehkan. Meskipun dengan terpaksa ia harus menjual beberapa propertinya yang dibelinya secara diam-diam dari uang peninggalan ayah tirinya. Siapa lagi kalau bukan ayah Ayu. Karena mengira Ayu benar-benar mati, awalnya hartanya akan ayah tirinya donasikan ke beberapa panti, tapi dengan kelicikannya, Liliana berhasil menguasai seluruh harta peninggalan ayah Ayu.
Padahal Liliana memiliki harta yang cukup banyak, tapi ia tak ada inisiatif sedikitpun untuk membantu Marwan sebab memang Marwan tidak tahu kalau seluruh harta peninggalan ayah Ayu telah diambil alih olehnya.
Mendengar hal tersebut, Kartika tanpa ragu langsung menyatakan deal. Lalu diam-diam ia melirik Maghdalena yang menyeringai tipis ke arahnya.
Setelahnya mereka pun kembali berbincang hingga tiba-tiba ponsel Sona berdering lalu sebuah pesan masuk. Sona pun segera membuka pesan dan membalasnya, kemudian kembali meletakkan ponselnya di atas meja. Sebelum layar ponselnya terkunci, Safitri melihat wallpaper ponsel Sona.
"Jeng Sona, bukannya yang berdiri di samping cucumu itu anak yang sedang viral itu? Siapa namanya? Oh ya, Regina. Ya, benar, Regina. Itu benar dia kan?" ucap Safitri dengan mata berbinar.
"Wah, jeng Safitri juga tahu anak ini? Iya, dia satu sekolah dengan cucuku."
"Kamu bawa aja cucumu ke sekolah cucuku, nanti aku minta cucuku ketemuin sama dia. Anaknya baik lho. Nggak ada sombong-sombongnya. Anaknya juga cerdas. Padahal sekarang sedang viral ya nggak. Sampai-sampai semingguan ini sekolahnya rame terus. Wartawan pada sibuk meliputi kegiatan Regina di sekolah. Kalau nggak salah, entar malam dia diundang ke salah satu stasiun televisi. Itu lho untuk memeriahkan acara ajang pencarian bakat gitu."
"Wah, benarkah? Aku juga harus nonton kalau gitu."
"Aku juga jeng. Suaranya itu lho, bagus banget. Keren banget. Mana cantik juga. Jadi penasaran sama orang tuanya ya. Pasti orang tuanya bangga banget punya anak kayak dia."
"Pastilah Jeng. Cuma orang bodoh yang nggak bangga. Anak udah cantik, pintar, baik, ramah, berprestasi juga, berbakat juga iya ... "
Sekarang, meja persegi panjang itu sudah ramai dengan obrolan seputar Regina. Liliana yang sejak tadi mendengar segala pujian dan kekaguman teman-temannya merasa tertohok. Ia tak menyangka, cucu yang tak dianggap dan telah dibuangnya justru mampu mengukir prestasi sebegitu hebat. Bahkan kini ia telah diidolakan banyak orang. Baik tua maupun muda, semua orang tampak mengelu-elukannya. Dadanya serasa panas. Rasanya jantungnya sudah akan meledak. Tak tahan mendengar perbincangan yang hanya membuat dadanya rasa terbakar, Liliana pun segera berpamitan pulang terlebih dahulu dengan alasan ia ada janji dengan orang lain.
"Eh, kok Jeng Liliana tadi kayak nggak senang kita ngobrolin anak yang bernama Regina itu ya?" ujar Safitri merasa heran.
"Jeng Safitri belum tahu ya, sebenarnya Regina itu cucunya yang udah dia buang. Sebenarnya anaknya sebelum menikah dengan sekretarisnya itu, udah nikah. Tapi dengan kejamnya, jeng Liliana dan keluarganya mengusir menantu dan cucu-cucunya. Gila kan!" ujar Magdalena yang sudah tahu segala hal tentang Liliana.
"Seriusan jeng?" Mata Sona sampai melotot tak percaya.
"Aku serius Jeng. Padahal menantunya sedang hamil lho. Kalau nggak percaya, nih aku kirim video pertengkaran istrinya sekarang dengan mantan istrinya yang nggak sengaja bertemu beberapa hari lalu."
__ADS_1
Lalu Maghdalena mengirimkan video saat Zafira berdebat dengan Saskia di depan sebuah salon tempo hari.
"Benar, ini menantunya yang sekarang. Astaga ... ternyata putrinya Merry itu pelakor toh? Padahal cantikkan juga istri pertamanya ya?" seru Sona sambil geleng-geleng kepala.
"Itulah yang membuatku sampai sekarang membenci jeng Liliana jeng, sombongnya itu kebangetan. Padahal apa-apa yang dimilikinya sekarang itu semuanya hasil merebut hak orang lain."
Lagi-lagi semuanya tercengang mendengar penuturan Maghdalena yang sepertinya sangat tahu segala hal tentang Liliana. Lalu Maghdalena pun menceritakan segala hal mengenai Liliana yang nyaris tidak diketahui siapapun kecuali satu orang.
...***...
"Regi gugup?" tanya Zafira pada sang putri yang kini sedang berada di sebuah acara ajang pencarian bakat yang disiarkan langsung secara live di stasiun televisi.
"Iya, ma. Jantung Regi dug dug dug dug terus," ujar Regina dengan memasang wajah polosnya membuat Zafira tersenyum.
"Nggak usah gugup, sayang. Anggap aja semua penonton itu temen sekolah kamu. Masa' nyanyi di mall aja berani, di sini mendadak grogi."
"Kan kalau di sini ditonton lebih banyak orang, ma."
"Ya udah, sekarang tarik nafas dalam-dalam kemudian hembuskan perlahan. Mama yakin, Regi bisa. Regi keren lho bisa diunduh ke tivi kayak gini. Nenek sama Refi pasti sedang nungguin Regina nyanyi sekarang."
"Mama benar, sayang. Ayo, anak mama dan Om papa pasti bisa. Semangat!" seru Alvian ikut menyemangati membuat Regina tersenyum. Ia tak mau membiarkan Zafira pergi berdua saja dengan Regina ke studio malam-malam seperti it, jadi ia pun ikut serta untuk mendampingi dan menjaga kedua perempuan hebat itu.
Kemudian nama Regina dipanggil untuk segera naik ke atas panggung. Regina pun segera menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sesuai perintah sang mama. Lalu dengan percaya diri, Regina pun naik ke atas panggung dengan diiringi musik pembuka lagu yang akan ia nyanyikan. Malam ini ia akan menyanyikan lagu berjudul Ibu yang dinyanyikan dan dipopulerkan oleh Sakha.
Musik mengalun merdu, perlahan suara Regina terdengar. Suasana yang tadinya ramai, seketika hening, hanya ada suara musik dan suara Regina yang mengalun indah menggema di studio tempat Regina bernyanyi.
Sebening tetesan embun pagi
Secerah sinarnya mentari
Bila kutatap wajahmu ibu
Ada kehangatan didalam hatiku ...
Suara yang merdu, artikulasi yang tepat, penghayatan dan ekspresi yang benar-benar menjiwai membuat semua orang terhanyut. Tak sedikit yang ikut meneteskan air mata saat mendengar suara Regina yang begitu menyentuh kalbu. Saat Regina menutup nyanyiannya, tepuk tangan pun menggema. Para dewan juri yang duduk di kursi masing-masing beserta hostnya pun segera menghambur menghampiri Regina dan memeluk serta menciumnya secara bergantian. Zafira yang melihatnya sampai ikut meneteskan air matanya.
'Lihatlah kalian yang telah membuang anak-anakku. Tanpa kalian, aku yakin bisa membesarkan mereka dengan baik. Lihatlah, dia ... anak yang kalian sebut anak tak berguna, ternyata mampu memukau semua orang. Lihatlah, anak yang kalian sebut anak tak berguna ternyata anak yang luar biasa.'
Melihat Zafira meneteskan air matanya, pelan-pelan Alvian mengulurkan tangannya kemudian menggenggam telapak tangan Zafira. Tanpa banyak kata, Alvian ingin menyampaikan pada Zafira melalui genggaman tangan itu bahwa ia sekarang tidak sendiri. Ada dirinya yang akan selalu setia mendampingi dan menjadi pelindungnya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...