Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan

Dibuang Karena Hamil Anak Perempuan
Pencarian


__ADS_3

Seminggu telah berlalu semenjak Marwan meminta bantuan istrinya agar meminjamkan sejumlah dana segar agar perusahaan mereka mampu bertahan, tetapi Liliana tak mau meminjamkan dana sama sekali.


Perusahaan pun makin kacau. Banyak pabrik yang tidak berproduksi karena tidak adanya bahan baku. Penyuplai bahan baku menyetop distribusi karena perusahaan kekurangan modal. Bukan hanya itu, beberapa produk juga terpaksa menumpuk di gudang karena izin edar yang gagal turun. Marwan benar-benar frustasi. Teman-temannya tak ada satupun yang mau meminjamkan dana apalagi berinvestasi dengan perusahaan mereka. Perusahaan mereka kini benar-benar diambang kehancuran.


"Ma, aku mohon pinjamkan aku uang? Kalau tidak, perusahaan kita akan benar-benar gulung tikar. Papa tahu, mama memiliki beberapa properti berupa apartemen dan villa. Nanti bila keuangan perusahaan sudah stabil, papa pasti akan segera mengembalikan uang mama beserta bunganya asalkan mama bisa menyediakan uang dengan segera." Pinta Marwan pada Liliana yang sedang menerapkan beberapa produk kecantikan di wajahnya.


"Mama nggak mau. Bagaimana kalau uang mama nggak balik lagi? Mama nggak mau ya tiba-tiba jadi miskin," tolak Liliana mentah-mentah membuat Marwan kesal.


"Oke, kalau kamu tidak mau meminjamkan uangmu padaku, aku akan menemui Ayu dan meminjam uang darinya. Apalagi sekarang sepertinya Ayu lebih kaya dari kita." Ucap Marwan penuh percaya diri.


"Cih, kau pikir dia mau meminjamkannya dengan cuma-cuma." Ejek Liliana.


"Kemungkinan besar pasti iya. Namun papa yakin dia bersedia apalagi ada anak diantara kami."


Mendengar kata anak membuat Liliana segera memutar lehernya menghadap Marwan yang sudah duduk di sofa single kamar itu.


"Anak? Anak yang mana? Jangan mau dibodohi perempuan iblis itu, mas. Apa dia menemuimu dan mengatakan anak kalian masih hidup? Jangan percaya. Itu pasti bohong. Dia pasti berencana menghancurkan kita, pa," ucap Liliana menggebu-gebu. Ia tiba-tiba merasa kesal saat Marwan mengatakan mereka memiliki anak dengan Ayu. Mana mungkin anak itu berhasil selamat pikirnya. Pasti itu hanya akal-akalan Ayu untuk menipu suaminya agar meninggalkan dirinya.


Marwan tersenyum sinis, "kau pikir aku sebodoh itu bisa ditipu? Tentu aku telah membuktikan kebenarannya kalau anak itu adalah darah daging ku. Ternyata dia selamat dan masih hidup. Bahkan ia kini tumbuh menjadi anak yang hebat. Kau tahu, siapa anakku itu?"

__ADS_1


Degh ...


Liliana terkejut bukan main. Bagaimana bisa anak itu selamat pikirnya. Bagaimana bila Ayu mengajukan syarat agar suaminya meninggalkan dirinya? Tidak. Ini tidak boleh terjadi pikirnya. Ia tidak mau diceraikan suaminya.


'Sialan. Bagaimana bisa anak itu masih hidup? Lalu dimana anak itu? Tidak mungkin kan anak mereka adalah CEO Alta Corp?' batin Liliana bermonolog dengan perasaan yang kacau karena khawatir.


"Si-siapa?"


"Dia adalah CEO Alta Corp. Pria muda, tampan, dan hebat. Papa tak menyangka, putraku bersama Ayu bisa menjadi orang sehebat itu. Papa merasa bangga sekali. Bahkan dia belum lama mendirikan Alta Corp, tapi dia sudah bisa melampaui perusahaan kita. Dia benar-benar hebat bahkan lebih hebat dari Refano. Pasti dia bersedia menyuntikkan dana segar untuk perusahaanku apalagi setelah mengetahui kalau aku adalah papanya." Ucap Marwan penuh percaya diri membuat Liliana sontak berdiri dengan rahang mengeras.


"Tidak. Papa tidak boleh meminta bantuan mereka. Bagaimana kalau mereka justru menghinamu? Papa tidak ingat bagaimana tatapan Ayu saat itu? Dia membenci kita, pa? Ah, jangan-jangan mereka menikahkan laki-laki itu dengan Zafira untuk membalas dendam pada kita? Pasti mereka tahu kalau Zafira mantan istri Refano dan kita sangat menginginkan cucu laki-laki jadi mereka memanfaatkan Zafira untuk membalas dendam pada kita. Bila papa menemui mereka untuk meminta bantuan, pasti mereka akan memanfaatkan itu untuk menghina dan mencaci maki kita," sergah Liliana yang merasa tak rela bila Marwan menemui Ayu. Apalagi sampai meminta bantuan pada mereka. Bisa-bisa mereka menertawakan dirinya. Tidak, ia takkan membiarkan itu terjadi.


"Kau meminjamkan aku uang tidak mau, aku meminta bantuan pada mereka juga tidak boleh, jadi aku harus apa? Kau jangan egois, Ana. Lama-lama aku makin jengah menghadapi sifatmu itu," sentak Marwan kesal.


"Dijual? Maksud mama? Mama tidak memiliki apa-apa lagi?"


"Bukan. Bukan seperti itu. Maksud mama, mama sudah menjualnya untuk membeli berlian pink star. Mama akan menggadaikannya dulu untuk mendapatkan uang segera. Tapi ingat, setelah perusahaan stabil, papa harus menebus berlianku lagi." Putus Liliana.


Marwan tersenyum lebar, "terima kasih, ma. Kau memang selalu bisa aku andalkan."Puji Marwan senang akhirnya masalahnya akan segera teratasi.

__ADS_1


...***...


Seminggu setelah kedatangan Refano ke Alta Corp, Alvian pun langsung menugaskan Luthfi untuk mencari keberadaan adik dari Refano yang bernama Refani. Bagaimana pun, Refani pun juga adiknya. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan gadis tidak berdosa itu dari cengkraman iblis betina seperti Liliput eh maksudnya Liliana.


Di balik sifat tengilnya, Luthfi bukanlah orang sembarangan. Ia memiliki banyak teman yang bekerja di berbagai tempat dan instansi. Bahkan dia pun memiliki teman yang bekerja dengan mafia. Oleh sebab itu, berbekal beberapa informasi mengenai Refani dan fotonya, Alvian menugaskan Luthfi untuk mencari keberadaan Refani yang entah Liliana sembunyikan dimana. Bagi mereka, tak ada yang tak mungkin. Ia yakin, tak butuh waktu lama untuk menemukan gadis itu.


Luthfi pun telah meminta temannya yang bekerja sebagai mata-mata, detektif, dan mafia untuk mencari keberadaan Refani. Mereka sudah memiliki banyak petunjuk. Sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga. Begitu juga sepandai-pandainya Liliana menyembunyikan keberadaan Refani, pasti akan ada celah untuk menemukannya.


"Terakhir Refani di bawa ke sebuah klinik kecil di pinggiran kota S." Ujar Luthfi memberikan informasi pada Alvian.


"Lalu sekarang?" tanya Alvian.


"Mobil yang membawa Refano terakhir terlihat di kota P. Lalu mereka ganti mobil. Sepertinya ada orang suruhan tuan Refano yang berkhianat karena itu setiap baru saja posisi Refani hampir ditemukan, selalu saja berhasil mereka alihkan lagi. Tapi pak bos tenang saja, barusan orang-orangku berhasil meretas CCTV jalanan di sana. Bahkan mereka telah mengetahui mobil yang membawa Refani. Aku yakin tak lama lagi, kita akan segera menemukan keberadaan adikmu, bos." Tutur Luthfi penuh keyakinan.


"Baguslah. Aku tak menyangka, kakakku memiliki ibu seorang iblis," ucap Alvian seraya terkekeh.


"Oh ya bos, tadi tuan Refano telah menghubungi, berkas-berkas pengalihan saham telah rampung. Besok kita bisa segera melakukan pertemuan secara tersembunyi. Beliau meminta pak bos yang menentukan sendiri lokasinya," ujar Luthfi memberitahukan apa yang tadi Refano sampaikan di telepon.


"Baiklah. Kita akan mengadakan pertemuan di vila bundaku saja. Atur segala sesuatunya jangan sampai masalah ini bocor ke telinga siapapun." Ujarnya memberi perintah.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2